Di suasan yang mencekam sore hari ini, seharusnya di luar sedang bagus cuacanya. Udara dingin dari AC menambahkan ketegangannya. Yuda tak takut sedikit pun, jika harus bermusuhan dengannya dan menghajarnya, telah melukai temannya.
Mereka berdua datang ke mari bukan untuk menghakimi satu orang, melainkan membatasi tindakan nekatnya bisa merugikan orang lain. Linda hanya pasrah saja duduk di atas pangkuannya dan menahan rasa malu, pak Hendra terus melihat ke arahnya layaknya sebuah boneka kecil.
Budi gak akan tinggal diam, jika kepalan tangannya terbang. Tubuhnya langsung mendorong mereka berdua untuk jatuh ke bawah dari tempat duduk.
Rido yang cuma mengetahui situasinya, mereka peduli dengannya. Termasuk dengan Rani, apakah pelaku tersebut berani mengatakan yang sebenarnya terjadi atau berusaha menutupinya lewat kecerdasan yang dimiliki.
“Jelaskan, apa landasan mu menyerang seseorang dari belakang?” ujar Yuda dengan suara penuh tekanan. Potensi amarhnya gak bisa keluar semua.
“Seseorang? Siapa yang kau maksudkan? Mana sudi ku beritahu ke orang yang menendang ku?” Pelaku masih berlagak sombong tetapi Yuda menyerang psikologisnya lewat kondisi tubuhnya yang memar. “Lemah begitu, sikap mu sangat belagu.”
Siswa yang terluka menjadi marah dikatain demikian, namun ia membalasnya dengan ancaman yang mengerikan. “Kau mau membunuh ku waktu pulang nanti?” Yuda merasa tertantang, tak ada ketakutan sedikit pun. Linda mencoba menenangkan nya memegang tanganya yang sudah mengepal.
“Di ruangan ini gak boleh umbar saling benci,” ucap Guru BK di samping nya, menenangkan tensi mereka berdua.
“Aku hanya bertanya dan menyampaikan fakta,” Yuda mengkomporinya lagi.
“Kau mau duel dengan ku?!” tantangnya.
“Cukup! Pembicaraan ini gak ada selesainya kalau adu mulut,” ucap guru BK perempuan. “Salah satunya harus mengalah,” jelasnya. “Aska, ceritakan yang sebenarnya terjadi. Supaya urusan ini selesai.”
“Urusan apa yang pak guru katakan, gak ada bukti yang terlihat. Bisa saja perempuan itu berbohong tersebut dan melindungi korbannya,” jelasnya sambil melihat ke arah Rani yang sedang duduk.
“Biar ku perjelas, aku tidak menyalahkan siapapun di sini dan maaf telah menendang mu sampai lebam begitu. Jika kalian berdua memiliki rencana merendahkan sahabat ku di sini. Rido pantas mendengarkan nya sebagai korban,” jelas Yuda.
Guru BK perempuan membujuk siswi tersebut yang diberikan kursi duduk olehnya. Akan tetapi, ia merasa takut diperhatikan oleh siswa yang terluka tersebut.
‘Jika kau ceritakan akan aku bongkar kelakuan buruk mu,’ di dalam pikirannya yang telah menyimpan rahasia gelapnya.
Rani mengetahui konsekuensi tersebut, meskipun ia bisa melindungi laki-laki yang ada di sebelahnya. Tetapi bayarannya tidak setimpal dengan kerugian yang dialami ke depannya.
“Maafkan aku Do,” ia menunduk minta maaf sambil duduk ke hadapannya. “Kejadian sebenarnya, aku yang mendorong mu terjatuh. Waktu di keramaian tersebut terbesit untuk mencelakai seseorang dampak nya gak sesuai seperti efek domino.”
Siswa yang menjadi korban tersebut, melihat penyesalan dari orang yang sudah membantunya ternyata pelakunya juga. si pelaku sesungguhnya tersenyum picik dihadapannya.
“Sialan bocah kurang ajar itu,” bisik Linda terdengar suaranya Yuda. “Tahan dulu, biarkan mereka berbicara,” bujuk Yuda untuk menenangkannya kembali.
Yang ada dihadapannya korban, sudah diberikan harapan bahwa ia merupakan orang yang baik. Kenyataannya berbanding terbalik dan merasa sudah dikecewakan. Rido tau Rani mengungkapkan hal itu karena paksaan, ia jadi mengikuti alur pembicaraannya.
“Rani ... Apakah itu benar dari cerita mu?” ujar siswi yang sedang duduk di atas pangkuan biar kecurigaan Rido menghilang.
“Aku sangat minta maaf,” permintaan maaf yang begitu tulus dari hatinya. Tak berani melawan pemerasan yang disimpan olehnya.
Kedua teman korban nya merasa gak puas, setelah mendengarkan cerita nya. Budi buka suara, “Ia barusan mengatakan di sana dan menampar mu sebagai bukti nya, itu maksudnya apa?”
“Katakan sejujurnya, jangan terbiasa berbohong untuk melindungi orang lain,” ucap Yuda.
Siswa terluka angkat berbicara, “Dia berbohong? Itu adalah kenyataan yang terjadi. Muka ku ditampar olehnya, karena sikap peduli nya begitu tinggi pada ku.”
“Kau, siapa nya dia?” tanya Rido.
“Maafkan aku terlalu lambat memperkenalkan diri, kalian belum tau hubungan kami berdua. Aku adalah pacarnya dan mendengar kabar ia mau ditembak oleh orang lain. Sebagai pasangannya seharusnya melindungi dan tidak ingin direbut,” congkaknya.
Alasannya terdengar logis tapi masih ada cela, Yuda mengetahui hal tersebut. “Cium dia di sini, kalau siswi tersebut merupakan pacar mu.”
Pelaku berdiri sambil menahan rasa sakit, ke hadapan siswi yang menunduk. Situasi tersebut dilakukan secara paksa, untuk terkesan natural. Air mata yang ditahan jatuh ke pipi. Mereka menyaksikan bukti tersebut dan beralih ke topik lainnya.
“Rido, sekarang keputusan mu. Mau ganti rugi atau memaafkan nya?”
Dalam hatinya, ia menginginkan siswi dihadapan nya menjadi pacar nya, secara perlahan bertukar kontak, mengobrol santai dan saling bertukar pikiran untuk menjadi teman terlebih dahulu.
Cowok yang ia lihat dan merangkul di kantin, membuat nya semakin yakin. Mereka memang berpacaran, meskipun terlihat agak toksik hubungan dari kedua belah pihak. Rido mempercayai dari saksi tersebut.
Perasaan hatinya merelakan tak akan mengejar dia sebagai pasangan yang ideal, “Maaf Rani. Padahal aku mempercayai perkataan mu.” Ia mengatakan dalam bentuk kekecewaan, padahal baru berkenalan gak sampai satu hari, “Aku memaafkannya.” Sambil menunduk ke bawah.
Siswi yang duduk di dalam pangkuan nya berdiri terlebih dahulu, kedua temannya ikut juga. Kedua guru BK mengira, mereka akan adu mulut di sini dan mencari pembenaran seperti biasanya.
“Terima kasih atas waktunya,” pamit mereka. Yang bersikap lebih dewasa setelah mendengarkan keputusan dari Rido.
Ia masih duduk termenung dan dipanggil namanya, “Rido, ayo pulang.”
“Kau hari ini kebagian tugas belanja nya.”
“Aku ingin makanan yang enak untuk menghilangkan ingatan muka berandalan tersebut.”
Ia berdiri tanpa menoleh sedikitpun ke belakang tanpa berpamitan.
“Bu Latifa sudah pulang belum ya?”
“Mau ngapain ketemu beliau?”
“Kangen?” Rido tiba-tiba ikutan nimbrung.
Mereka mencairkan suasana untuk mengalihkan ke topik yang lain.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!