Kelas 2F IPS vs Kelas 2A IPA

0 dibaca

A

Aku tiba-tiba terbengong mengingat omongan ku sendiri yang keceplosan seperti orang bego, malah menerima tantangan darinya untuk dikasih kerenggangan waktu cukup singkat.

Tetapi mereka tak mau mendengarkan ku, Linda menyemangatiku secara kasar dari belakang bersama dua teman brengsek tersebut, “Tembak dia kalau bisa.”

Sial—Mereka bertiga mulai mengejekku tak ada dukungan yang bersahabat di sini. Budi mendorong ku untuk segera pergi ke sana, aku serasa diusir dari geng.

Hah … Aku menghela nafas dan berjalan mendekatinya. Rani selaku siswi yang baru berkenalan dan berani menembak perasaannya.

Satu langkah otak ku bergerak begitu cepat mencoba mensimulasi gimana caranya bisa berteman dengan dia terlebih dahulu.

“Rido?” Ia memanggil ku sambil tersenyum dan memegang surat yang ditulis dari orang lain.

Manis sekali cewek ini, ia tidak memakai make up, cara berpakaian nya sesuai standar sekolah, roknya gak terlalu kependekan dan kecantikannya begitu natural.

“Y-Ya...” Aku malah grogi seperti demam panggung, otakku seketika langsung kosong gak memikirkan apa-apa. Mulutku terbata-bata sekali, aku bisa mendengar suara tawa mereka dari belakang untuk menertawai kecupuan ku.

“A-A ... hmm ...”

“Hmm? Ada apa?” Kedua tangannya ke belakang, tubuhnya dan berpose untuk memperlihatkan keimutan nya.

Aku balik dengan tangan kosong karena gak berani menyatakan perasaan ku padanya. Mungkin ia sudah berpacaran dengan cowok yang bernama Aska saat mendekati nya, dan ia lebih keren dari ku. Kemungkinan mereka berdua satu kelas.

Budi tepuk jidat, Linda menyeru ku dengan sebutan payah dan mereka telah menghampiri kita berdua.

“Sudah kuduga, kamu tidak bisa melakukannya, tingkat kesulitannya terlalu tinggi buat mu. Mungkin bisa memulai ke level dasar terlebih dahulu, berkenalan dengan anak-anak kecil mungkin.” Aku merenungi perkataannya Yuda.

Ia menyimpan gawai nya yang siap memfoto momennya dan menghampiri siswi tersebut.

“Terima kasih telah datang ke sini. Surat yang kau pegang, bukan Rido yang menulisnya.” Yuda mengatakan nya secara blak-blakan.

“Terus ini ditulis sama siapa?”

“Hmm ... Siapa ya—“ ia sengaja menunda jawabannya. Dan tinggal pergi, seolah gak peduli.

Gak terlalu lama, Yuda seperti membawanya kemari. Dia sebenarnya menggunakan teknik apa sih? Aku harus belajar darinya cara menggaet cewek.

Kami bertiga diajak berkenalan dengannya. Cewek itu melihatku lagi, aku merasa malu sekali dengan keberanian ku yang telah menciut.

Linda dengan mudahnya langsung mengakrabkan diri dengannya, langsung meminta nomor kontaknya. Cewek itu mau melakukannya juga tanpa sungkan.

“Kalian berdua gak berkenalan?” ujar Linda.

“Apa untungnya berkenalan dengan nya,” balas Budi.

“Aku ke sini cuma melihat, Rido ditolak olehnya,” jawab Yuda.

Kedua cowok kita bersikap jual mahal—sialan kalian berdua di dalam hati ku, gak berani mengungkapkannya.

“Kalau bisa, kita bisa bertukar kontak,” siswi tersebut sudah bermurah hati dan bersabar menghadapi mereka berdua.

“Bertukar kontak?” Yuda malah bertanya kepadanya.

“Menarik sekali,” ucapan Budi ia meniru seiyu kesukaannya di Anime.

Tangannya Yuda menggiring Linda untuk mendekat, karena gawainya yang begitu jadul. Yuda meminjamkan nya.

“Linda, kamu gak punya Smartphone?” tanya Rani.

Ia tertawa merasa gak enak, menunjukkan HP batangannya. “Kalau Rani punya pulsa, kita bisa bertelepon atau SMS-an.”

“Maaf, pulsa itu sejak jaman kapan ya? Kalau kita saling mengobrol lewat daring, caranya gimana?” tanya Rani.

“Aku pinjam gawainya,” sambil mengembalikan ke pemiliknya.

“Anak yang baik,” elus Yuda ke kepalanya Linda.

“Teman satunya gimana?” Yuda memindai Smartphone nya Budi lewat NFC.

Yuda sama Budi terus membuka smartphone dan mengetik sesuatu, “Gimana? Pesan ku sudah masuk?” ia mengirim nya secara bersamaan saling berhadapan satu sama lain tanpa keterlibatan dengan ku.

Rani memeriksa dan langsung mengetik dengan cepat, “Pesan ku sudah masuk?” Gak terdengar suara notifikasi seperti biasanya dari gawai nya Yuda, kalau punya Budi pasti di mode diam.

“Gak ada pesan yang masuk,” ucap Linda meriksa gawai nya Yuda.

Ia mencoba nya berkali-kali dan menunjukkan pada kita cuma centang satu.

“Oi, kalian berdua. Perlihatkan layar nya pada ku.” Sebenarnya apa yang sedang mereka pikirkan sampai-sampai diblokir nomornya.

“Aku gak menginginkan nomornya ataupun bertukar kontak.”

“Aku cuma bilang menarik, bukan berarti menyetujui nya.”

“Terus, kalian tadi ngetik sesuatu kirim ke siapa sih?”

“Dia.” Yuda sama Budi saling menunjuk satu sama lain.

Linda tertawa melihat tingkah laku mereka, karena berhasil mengerjai Rani. Mereka beneran jual mahal dengan leluconnya, siswi tersebut sudah buang-buang waktu dan menyakiti perasaan nya secara langsung.

“Tidak apa, simpan aja dulu. Barang kali, kalian mau menghubungi ku,” ucapannya terdengar seperti sales.

Justru aku yang menginginkan nomor kontaknya bukan kalian. Aku capek sendiri yang terus membatin.

“Maaf, aku buka blokir nya. Tapi gak sengaja nomornya malah ke hapus.” Yuda menarik kembali perkataannya, cara nya itu gak disukai oleh nya.

Aku malu ditemani oleh mereka dan semakin susah apabila meminta nomor nya. Jika ku katakan sekarang seakan-akan terdengar seperti dipaksa, lalu diperlakukan dengan cara yang sama.

Di saat sedang bercanda gurau yang gak lucu begini, pasti ada aja yang mengganggu. “Oi! Apa yang sedang kalian lakukan?”

Sialan, cowok yang ketemu di kantin, memergoki kita. Dan ia langsung tau ... “Yo! Kau yang jatuh di kantin tadi siang, memecahkan piring sama mangkoknya. Mau ngapain dekatin Rani?” ancamnya.

“Kamu siapa? Bocah bandel ya?” ujar Linda sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.

“Kau sendiri siapa? Bocah pendek—“

Yuda menyerahkan gawainya ke Budi. Ia mengangkat Linda dan duduk di pundaknya, “Sekarang siapa yang kau panggil pendek? Bocah ingusan.”

“Kau mengejek ku? Mau adu jotos?” Dia sudah siap memasang kuda-kuda untuk berkelahi.

“Ayok, siapa takut.”

Omongan Linda diladeni oleh nya, Yuda sebatas menghindar cukup lincah sambil memegang kakinya, supaya gak jatuh. Dengan pola serangan tangan kanan terlebih dahulu, lalu tendangan ke bawah untuk menjatuhnya. Terus mengincar titik tengah perutnya, ia memutar tubuh mengayunkan kaki kirinya.

Terlihat begitu atletis dan bertenaga, gerakannya juga begitu cepat. Teman-teman nya mulai berdatangan seperti kelompok geng besar satu jurusan IPA, “Beraninya murid-murid dari jurusan IPS datang kemari. KAU!” Ia menunjuk ke arah ku.

“Bocah yang jatuh di kantin.” Mereka mulai membuli ku dari segi jumlah.

“Apa? Apa? Ada pertengkaran antar jurusan?” Siswa lain mulai berdatangan dan semakin ramai terutama para cewek jurusan IPA.

“Bud, panggil juru kuncinya,” pinta Yuda.

“Juru kunci? Siapa itu? Penguasa di sekolah ini?” ucap salah satu gerombolan tersebut.

“Hah ... Hah ... Berhenti menghin—“ Yuda menahan dengan betis kaki kirinya dan tangannya merasakan kesakitan setelah bernafas melalui mulutnya.

“Yuda balas dia,” perintah Linda sambil tertawa di atas pundaknya, terlihat kegirangan.

Kaki kanannya ia terbang mendarat ke perut bagian kanannya, sampai terpental ke arah rombongan tersebut.

“Kamu terlalu keras menendangnya,” ucap Linda.

“Kau suruh membalasnya, berikan titah mu secara detail.”

Kombinasi macam apa itu? Aku menjauh dari pertengkaran mereka didekat Budi. “Yo, selamat datang kembali.” Ia sedang merekam melalui gawai nya.

Mereka menunjuk jarinya kepada Yuda, “Mau ngajak perang?”

Yuda menjawab pernyataan mereka dengan enteng, “Maju kalian semua.” Namun dibalas lagi oleh Budi dengan gaya bicara khas animenya, “上等だ、かかってこい.”

“Kamu ngutip dari perkataan nya siapa?”

“Yakuza di Jepang, sisanya ku serahkan pada mu.”

Budi gak tanggung jawab sekali dengan perkataannya, siswa yang barusan ditendang berdiri lagi dan batuk-batuk. Ia menendang dengan kaki kanannya untuk menjatuhkannya. Yuda menahannya dengan satu kaki gak bergeming sama sekali dan memutar tubuhnya ke arah berlawanan dengan kaki kiri ia mendaratkan ke pinggang sebelah kanannya dan membuang ke arah kita bertiga, entah kenapa Rani malah pindah ke sisi kami.

“Uhuk ... Uhuk ...” ia mulai terbatuk-batuk lagi dan mencoba berdiri tapi merasa kesakitan. “Aska!” Rani meneriaki namanya dan membuka bajunya ada lebam habis tendangannya kedua kalinya.

“Priiiit—!” Suara peluit cukup panjang, Yuda mau dikepung oleh mereka. Ternyata juru kuncinya adalah dua guru BK.

“Stoop! Bubar! Bubar! Perkelahian nya di sudahi,” teriak Bu Airi.

“Kamu terlambat Hendra-sensei,” ujar Yuda dengan nada yang begitu angkuh.

“Yang terlibat dalam perkelahian semuanya kumpul di lapangan. Jika ada salah satu yang pulang tanpa seizin ku, langsung ku beri surat peringatan,” ucap beliau.

“Kali ini kalian buat keributan apa?” ujar Bu Airi melihat Linda yang duduk di atas pangkuan nya Yuda.

“Selamat sore Bu,” ia menyapa dengan santai dan melambaikan tangan.

“Siapa yang bertanggung jawab di sini?” tanya pak Hendra dengan nada menekan.

“Aku. Jika Pak Guru mau meminta kejelasan, aku akan menceritakan kronologi nya dari awal.” Yuda mengajukan diri nya sendiri.

“Bu Airi, tolong bawa Aska ke UKS,” ucap Rani yang telah berlari ke arahnya dengan raut muka yang panik.

“Kamu juga yang bertanggung jawab atas telah melukainya?” Pak Hendra mengepal tangannya memukul dadanya Yuda.

“Ya. Demi pertahanan diri, ia tidak ragu menyerang Linda.”

“Uhuk ... Uhuk ... Kau yang mulai duluan?” ucapnya yang menahan rasa sakit.

“Budi ... Perlihatkan rekaman videonya.”

Ia menyerahkan gawainya ke guru BK dan melihat sebenarnya yang terjadi sampai selesai dan mengambil kesimpulan. “Haah ... Pak guru gak habis berpikir, jadi begini cara mu membela diri?”

“Gunakanlah otak mu sebelum bertindak,” jelas Yuda.

“Omong-omong rahasianya, ada di alat rekaman yang digantungkan di dasinya Yuda,” Linda menunjukkan nya.

Bu Airi meminta nya untuk turun, karena gak sopan. Ia berada di posisi atas. “Padahal nyaman, aku duduk di pundak lebarnya Yuda.”

“Maaf soal itu,” bales Bu Airi dan memerintahkan gerombolan yang datang barusan untuk berbaris.

Semuanya berkumpul di lapangan waktu sore hari pukul empat kurang lima belas menit yang masih terasa panas suhunya, para siswa/i yang sedang mengadakan kegiatan ekstrakurikuler memperhatikan nya dari kejauhan setelah selesainya pembelajaran di kelas jam setengah tiga siang. Termasuk aku sudah berada di samping dua guru tersebut sebagai pelaku utama—Sialan kalian berdua.

“Yuda! Kamu terlibat dalam perkelahian ini, pak Guru harus memberikan surat peringatan untuk mu.”

“Aku boleh cuti?” Ia merasa senang kegirangan.

“Sebagai bahan renungan mu. Kalau kamu diliburkan malah langsung berubah sikap nya.”

“Pak Hendra, aku juga mau cuti dari sekolah. Kita tinggal datang waktu ujian saja,” teriak Budi dan mengangkat tangannya.

“Pak Guru gak bisa memberikan poin penalti peringatan dari satu pihak. Kepala sekolah harus meninjau perbuatan kalian, termasuk menilai bukti dari rekaman video tersebut. Besok, kalian berdua tetap harus berangkat ke sekolah seperti biasa.”

“Heee~” Mereka berdua mengeluh dan cukup santai menghadapi permasalahan ini.

“Begitukah cara kalian menyikapinya. Mentang-mentang sebagai siswa berprestasi?” ucap Bu Airi dengan tegas.

“Ehem ... Maaf kalau Ibu gak suka sama sikap kami. Pak Hendra tadi mengatakan akan memberikan surat peringatan kepada ku sebagai bentuk peringatan, berarti omongan beliau merupakan perwakilan pihak sekolah dan harus ditepati, meskipun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena kepala sekolah jarang hadir ke sini,” Yuda mulai masuk ke mode berdebat.

“Kami berempat terlibat secara gak langsung, karena gak bisa menghentikan tindakan Yuda sama sikap Linda yang kekanak-kanakan. Seharusnya hal ini gak terjadi, memang terlihat seperti kenakalan remaja. Apalagi masih di area sekolah, apakah Bapak sama Ibu mau mencabut surat peringatan nya?” Budi juga ikutan.

“Pak Guru paham, kalian berdua mengucapkan hal tersebut dan surat peringatan tetap akan ditulis, tapi hukuman kalian gak seberat siswa yang sedang terluka. Terlebih lagi, kalian berdua merupakan siswa berprestasi. Tetap akan diberikan poin penalti,” jelasnya.

“Kalian yang terlibat, seharusnya lebih memperhatikan lagi dan melihat lawan nya siapa.” Bu Airi seolah-olah sedang melindungi Yuda ke para kelompok geng nya bocah bandel tersebut.

“Benar. Jika kami datang terlambat, bukan cuma satu siswa yang terluka. Melainkan kalian semua,” dukung pak Hendra.

“Hendra-sensei, boleh aku ralat.” Beliau menengok ke arah Yuda. “Aku ini sebagai pelaku atau korban?”

“Dua-duanya,” ucap dua guru tersebut. “Kamu seharusnya tidak terpancing?”

“Maksud guru terpancing gimana?” Yuda bersikap sok polos.

Bu Airi mengeraskan suara rekaman videonya, “Yuda balas dia,” terdengar suaranya Linda.

Ia seketika menjadi pusat perhatian dan maju ke depan karena dipanggil sama guru BK. “Jangan salahkan Linda, aku yang mengikuti perintahnya,” Yuda bergerak maju ke depan melindungi dan menutupi tubuh kecilnya Linda dibalik badannya.

“Bu guru tau, kalian berdua sangat akrab. Jadi bingung, mana yang harus disalahkan,” beliau memegang jidat kepalanya.

“Intinya, kejadian ini jangan terulang lagi,” teriak pak Hendra.

“Sebelum kalian boleh pulang ...” Bu Airi berbisik-bisik ke mereka berdua. “Oh ... Jadi itu permasalahan nya.”

Siswa yang bernama Aska ditemani sama Rani, ia memegang es batu mengompres lebam lukanya.

“Kenapa kalian berbisik-bisik?” pak Hendra penasaran dan mendengarkan penjelasan mereka berdua yang ada di depan.

“Budi, kemarilah!” panggil Yuda untuk mendekatinya.

Kenapa ia dipanggil sedangkan aku tidak—AH! Lupa, aku sudah berada di sini ternyata dari tadi.

“Jangan tertawa dulu,” ucap Yuda.

Mereka pasti merencanakan hal yang lain, “Bu Airi gak masalah soal itu kan?”

“Y-Ya. Silahkan kalau mereka berani.”

“Tolong bantuannya Hendra-sen-sei.”

Sesuai permintaan Yuda. “Rido! Rani! Tolong maju ke depan,” nama kami dipanggil diperhatikan siswa jurusan IPA terutama sama siswa yang terluka memantau ku sejak tadi.

“Tuntaskan urusan kalian, untuk menyudahi permasalahan ini.”

Hah? Urusan ku dengan Rani? Aku gak paham sama sekali. “Tunjukkan suratnya dan tolong dibaca,” ujar Yuda kepada perempuan tersebut.

Ia mengikuti apa kata nya, membuka suratnya dan mulai membaca tanpa berpikir panjang. “Oh ... Betapa indahnya kamu ini wahai bidadari kecil ku ...” Intonasi suara nya terdengar cukup puitis.

“Kulit putih mu ... membuat mu menjadi sempurna.”

“Muka mungil mu ... ingin ku cium kedua pipi mu.”

“Hati ku terbuka ... setelah melihat senyuman elok manis mu.”

“Tak lupa dengan keimutan mu, sungguh membuat ku jatuh terpana ... Erwin kelas 2A.”

“Nama mu Erwin atau Rido?” ucap Bu Airi dengan nada heran.

“Rido, Rido Mahfuda. Itu surat sebenarnya buat Linda,” balas ku.

Yuda sama Budi tertawa mendengarkannya, “Hahaha ... Kasihan sekali sih Erwin. Lin, kamu ditembak olehnya. Besok mau dijawab atau tidak?”

“Gak,” tolaknya langsung. “Kirain, Rido mau nembak.”

“Hah? Aku?” bingung ku.

“Kenapa? Gak berani? Minta nomor kontak HP aja, gak bisa,” ejek Yuda.

“Haaa~” Pak Hendra mengeluarkan nafas yang begitu sangat panjang.

“Buruan minta, kami mau pulang,” sial aku ditekan dari dua arah. Kesalahpahaman masih terus berlanjut.

Siswa yang terluka berjalan, maju ke depan tepat menutupi siswi yang berhadapan dengan ku, “Jadi itu permasalahan nya, kenapa aku harus sampai ditendang?”

“Itu adalah kesalahan mu sendiri dan karma yang kau perbuat,” ucap Rani.

Karma? Kesalahannya?

“Rido, Maaf. Aku gak bisa menghentikan nya, Aska menendang tubuh mu saat kau sedang membawa nampan kayu berisikan piring kotor sama mangkoknya. Kamu juga harus ganti rugi dan jari mu sampai tertusuk serpihan kaca.”

Oh, jadi dia pelakunya, “Apakah itu benar?”

“Ya,” jawabnya.

“Maaf, aku tidak ingin mendengarkan jawaban mu. Aku sedang berbicara bocah berandalan tersebut,” ujar ku sambil menahan rasa amarah nya.

“Aku yang nendang? Mana buktinya? Rani, jangan seenaknya kau menjelekkan reputasi ku, itu namanya pencemaran nama baik. Kau mau dituntu—“

Suara cukup keras, ia menggampar pipinya, “Ini adalah buktinya.”

“Wooow ...” Suara siapa itu? Malah memujinya.

“Pak Hendra, Bu Airi. Tolong cabut surat peringatan dan poin penaltinya mereka berempat. Kami di sana sebenarnya ingin berkenalan pada awalnya bukan untuk berkelahi.”

Bu Airi menanyakan hal tersebut kepada ku, “Itu benar. Siang tadi di kantin, kami berkenalan, jadi aku bawa ketiga teman ku untuk bertemu siswi yang telah menolong ku.”

Mereka tidak berbicara, supaya terdengar yakin ceritanya. Padahal mereka baru tau, setelah Rani menceritakan nya.

“Kamu berani menampar ku, sialan.” Kekesalan nya menunjukkan kepadanya namun pergerakan tubuhnya mengarah kepada ku dan siap memukul ku.

Aku mencoba menghindari pukulan pertamanya, namun kaki ku ditendang. Saat sudah siap mau terbentur ke lantai beton lapangan. Yuda menahan lengan kiri ku supaya gak jadi terjatuh, Pak Hendra langsung membawa Aska ke ruang konseling.

“Terima kasih,” ucap ku.

“Bukan masalah.”

Aku dibantu berdiri namun ada gaya dorongan cukup kuat, kaki ku gak bisa ngerem mengarah padanya. Dan aku ditahan kedua kalinya, namun kali ini berbeda. Tubuh ku dipeluk oleh Rani.

“Fiuh ... Fiuh ... Mesra-mesraan nih,” ejek mereka.

“Tembak aja Do, ngapain takut,” ditambah sama teriakan yang gak berguna.

“Maaf Ran, ketiga teman ku memang usil,” aku menjauh darinya.

“Bukan masalah, kalian berempat sangat akrab sekali.”

Aku tertawa saja dibagian itu, gak bisa menyangkalnya. “Terima kasih telah menceritakan yang sebenarnya terjadi.”

“Bukan masalah, aku juga merasa salah dan ikut terjatuh habis didorong oleh Aska waktu itu.”

“Kita berdua sama-sama korban,”

“Yah ... Benar juga.”

Mereka bertiga datang menghampiri ku, “Sudah ditembak?”

“Belum. Kenapa kalian ngotot sekali ke arah situ?” jawab ku.

“Kau di kelas sering mengeluh, cara dapat pacar gimana ya? Tipe pacar ku ini itu ini itu,” ujar Linda.

Rani mendengarkan nya jadi tertawa, mereka tetap berjalan untuk meninggalkan ku. “Kalian mau pulang?”

“Pulang?” tekan Yuda.

“Urusan kita dengan bocah berandalan itu belum selesai,” ucap Linda.

“Mata dibalas Mata. Kamu terkena musibah di kantin, ternyata dari kesengajaan. Setidaknya harus mendengarkan alasan dan tujuan darinya.”

“Apa kata Budi itu benar. Aku belum merasa puas, beruntung tadi menendangnya cukup kuat sampai memar begitu.”

Mereka malah bersikap seperti preman sesungguhnya. “Jika di area sekolah dilarang. Kita bisa selesaikan di luar nanti.”

“Kalian mau bertengkar?” Aku mencoba menghentikan perbuatan mereka.

“Bukan ... Sebagai ganti rugi, uang mu habis semua untuk piring sama mangkok pecahnya kan?”

“Jika dia tidak mau ganti rugi gimana?”

“Itu terserah keputusan mu. Jika kau memaafkan nya, maka kami mengikuti keinginan mu. Mudah kan?” ucap Yuda dengan enteng.

Bu Airi membubarkan siswa yang dihukum, beliau kembali ke ruang BK.

Aku terdiam saja menunduk ke bawah, sedikit merasa ragu. Dia masih ada di samping ku. “Gimana bilangnya, ternyata mereka cukup solid. Kamu beruntung memiliki teman yang pengertian.”

Bukan beruntung lagi, Tuhan seperti menurunkan berkah dan rahmat secara bersamaan dalam perwujudan manusia.

“Ya. Rani, kamu mau ikut menemani ku?”

“Boleh. Aku juga merasa bertanggung jawab dan masalah ini harus dituntaskan.”

Kami berjalan bersama dan ikut masuk ke ruang BK yang kursinya sudah dipenuhi semuanya dengan aura yang mencekam dari berbagai belah pihak. Linda dalam pangkuan Yuda, aku mencoba geser membuat Budi berada di tengah, dan Rani tetap berdiri lalu Bu Airi memberikan kursi yang kosong. Dan Aska bersama pak Hendra.

“Tolong dimulai, Judgement-nya,” ucap Yuda mencoba terdengar serius dan keren namun terhalang sama Linda.

Bersambung

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk