Jackpot dan Musibah (Part 1)

0 dibaca

A

“Aaa ... Seperti biasa jam segini kantin selalu ramai,” keluh Linda.

Di sekolah kami cuma memiliki satu kantin, area nya cukup luas banyak sekali penjual makanan yang berbagai variasi, termasuk sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa, kami sering sekali duduk di bawah pohon-pohon yang tertanam di bawah paving.

Beberapa murid pasti ada yang mencurangi pembayarannya, apa yang ia makan tidak sesuai dengan bayarannya, itu merupakan hal umum yang terjadi, melihat padatnya dua jurusan murid saling berkumpul di satu tempat, terlebih cuacanya juga cukup panas.

Kejujuran merupakan hal yang penting, mereka setuju soal itu, apa yang kita konsumsi akan menyatu ke darah kita. Jika ada kebohongan kecil di antara kita, akan langsung tahu dikelak nanti, terutama mendengarkan ceramah Yuda seperti di jam istirahat pertama. Bisa-bisa dimusuhi olehnya.

“Sekarang giliran siapa yang mau mesan dan mengantarkan makanannya?” usul Linda.

Ini merupakan kebiasaan kami, jika berempat berbarengan akan menyita waktu cukup lama. Tidak efisien sama sekali, apa kata Yuda.

“Lakukan seperti biasa, yang kalah yang bawa. Sekalian sama yang bayar,” pinta Yuda yang masih sibuk dengan gawai nya.

Aku menghentikan mereka berdua terlebih dalu dari kesibukannya. Kami melakukan Hom pim pa, setelah nya Yuda melakukan suit sama Linda.

Dia yang ngasih saran dia pula yang kena batunya.

Yuda membiarkan permainannya untuk ditinggalkan sejenak, namun Linda ingin meminjam gawainya selagi pemilik nya pergi ke kantin, “Jangan buka permainan yang aku mainkan.” Itu titip pesan darinya.

Kami melihat sebentar yang ia mainkan ternyata sedang AFK dan ikut bergabung dengan grupnya Budi yang sedang bermain juga dari tadi.

“Kamu tidak akan dapat hadiah sama bonusnya, jika ditinggalkan?” tanyaku.

“Yah. Itu memang benar, cuma akun utama ku yang dimainkan sama Budi akan dapat,” jawab nya.

“Misal kamu dapat item yang sedang dicari, entar akan hangus sendiri gimana?” tanya ku lagi.

“Itu bisa dicari lagi, sekarang prioritas ku yang kalah membawa pesanan ke kalian, jadi aku harus melakukannya. Kalau mau bertukar tugas, gak masalah. Tapi, aku sudah menyuruh mu di istirahat pertama, rasanya gak enak. Aku malahan terlihat seperti bos yang bisanya menyuruh-nyuruh.”

Itu alasan kita bertiga masih mau berteman dengan Yuda sampai saat ini. Melihat sikap nya terkadang kurang ajar, keras kepala, gak mau ngalah. Di satu sisi ia pandai melihat sekeliling, termasuk menjaga perasaan kita masing-masing terkesan omongan seperti sedang merayu. Dia begitu jujur pada dirinya sendiri.

Sungguh besar hati sekali nih cowok dan bertanggung jawab, Linda mengalah dan menggantikan tugasnya dan mengembalikan gawai nya ke pemilik aslinya.

“Kalau dipikir-pikir semalam aku berhutang pada mu.”

“Benarkah?” Yuda sengaja menanyakan hal tersebut.

“Apa itu mimpi ya?” Linda bertanya pada dirinya sendiri.

“Sudah sana pergi, kau ketiduran semalaman. Baru mau diajari,” usir Yuda.

“Ya maaf, aku ketiduran,” jawab Linda.

Budi menunggu dan terlihat bete melihat tingkah laku mereka lama kelamaan buka suara, “Jadi sampai kapan yang mau antarkan pesanan kita?”

“Ya, Ya. Aku yang pergi nih,” Linda selama satu tahun ada perkembangan, ia memberanikan diri untuk lebih dekat dengan Yuda dan jadi lebih pengertian.

Ia kembali duduk setelah mengambil kembali gawai nya. Kami memesan apa yang kita inginkan, Yuda menginginkan hal yang sama, apa yang dipesan sama Linda. Perutku sama si-Budi sudah gak tahan lagi, padahal sudah makan cemilan, kalau belum makan nasi rasanya gak kenyang, aku mengalihkan ini dengan memulai topik pembicaraan. Terutama saat cuma tiga cowok doang di sini, tentu saja membahas cewek lain selain Linda.

“Kalian pernah kepikiran enggak, untuk punya pacar?”

“Tidak terlalu tertarik,” jawab Yuda secara langsung.

“Diajaran mu berpacaran merupakan hal yang haram kan?” jawab Budi dan kembali menanyakan kepada ku.

Gak asik sekali ia bawa-bawa agama.

“Hidup kalian gak ada romannya, sekali-kalilah merasakan jatuh cinta, banyak cewek di jurusan kita siswi nya cantik-cantik. Termasuk juga kau Yud, mereka selalu menanyai kabar soal kamu di grup kelas yang berbeda,” godaku.

“Entar juga dapat, kalau dah waktunya,” jawab Budi.

“Aku juga sama.” Mereka berdua kembali setuju, mungkin aku salah memilih topik pembicaraannya.

“Kamu suka sekali basa-basi dengan mereka, kenapa kamu gak cari pacar buat diri mu sendiri,” ujar Yuda.

“Penampilan mu menurut ku keren, kenapa gak ada cewek yang tertarik pada mu?” tanya Budi

Aku akan memberikan fun fact pada diri ku sendiri saat di kelas satu sebelum. mereka terlihat mencolok seperti sekarang. Siswi yang bernama Yuli tadi bertemu dengannya di kelas A merupakan mantan ku atau bisa disebut cinta monyetlah, ditembak ketika selesai ujian tengah semester dan di masa bodohnya aku ini gampang sekali dipermainkan perasaan yang polos ini.

Setelah berbenah menginjak di kelas dua dan mengikuti saran dari mereka berdua. Benar juga, kenapa aku tidak ditembak oleh cewek kelas lain lagi. Bahkan sesama satu kelas, perlakukan mereka kepada ku, gak ada bedanya dengan cowok pada umumnya.

Bicara soal ditembak, aku belum menyerahkan surat yang titipkan kepada Linda. Yuda melihatnya ia bertanya, “Itu surat buat siapa?”

“Ada cowok kelas lain yang mau nembak Linda.” Gak kasih tau siapa namanya, termasuk ... “Kau juga dapat surat Bud,” serah ku padanya. Tanpa dibaca ataupun dibuka langsung diselipkan ke alas sepatu, bukan di saku celananya.

“Ia ditembak lagi kah?” tanya Yuda dan langsung meminta suratnya, aku berikan saja dan dimasukkan ke dalam sakunya. Gini cara yang benar untuk menghargai perasaan si penulis.

“Kamu yang mau ngasih?” tanya ku.

“Gak. Jika Linda berpacaran, itu akan mempengaruhi kehidupan kita di kontrakan nanti. Aku tidak masalah, jika dia masih mau memasak buat kita. Ada kemungkinan ia akan keluar dari rumah kontrakan dan pindah ke kost khusus perempuan demi pacar nya.”

“Ucapan Yuda ada benarnya, kamu tau sendiri. Linda mudah terpengaruh dengan hal yang sekitar, melihat mentalnya juga yang masih labil,” ucap Budi.

“Setidaknya aku tanya ke Linda terlebih dahulu, ini adalah hak nya harus menjawab perasaan cowok yang mau menembaknya. Jika ia beneran berpacaran, berarti itu adalah pilihan nya sendiri,” ujar Yuda.

Apa kata dia benar, dikerumuni tiga cowok berbadan lebih besar darinya merupakan bukan hal yang wajar. Para siswi juga selalu penasaran sama hubungan kita kepada nya, dan kami sepakat. Linda merupakan gadis yang perlu dilindungi.

Dia mau tinggal rumah kontrakan yang bobrok tersebut, juga termasuk pilihan nya sendiri dan berteman dengan kita bertiga.

Aku melihat sekitar, selagi mereka sedang fokus sama layarnya masing-masing. Ternyata kami cukup diperhatikan oleh siswa-siswi yang berlalu-lalang, kebanyakan siswi yang berhenti dari jurusan IPA, memperhatikan dari kejauhan dan gak berani mendekat.

Apakah mereka sedang membicarakan kita atau sedang menjelekkan? Terlihat saling tertawa seperti sedang menggubris.

Berprasangka buruk bukan hal yang baik dan Linda cukup lama. Apakah antriannya cukup panjang?

“Permisi, bisa minta waktu nya sebentar?” Salah satu siswi jurusan IPA yang tadi aku perhatikan ternyata mendekat kemari.

“Boleh, ada apa? Mau berkenalan?” jawab ku.

“Budi, buruan backup HP ku kritis, potion nya sudah habis semua.”

“Sabarlah, healer sudah mati. Aku sedang nge-damage sendirian. Kamu ngetaunt aja.”

Mereka malah asik sendiri, di mana ada siswi yang sudah memberanikan diri. Temannya dari belakang juga ikut datang, belum lama mereka berdebat malah berakhir berteriak.

“Yosha Boss-nya telah dikalahkan,” teriak Yuda. Budi menunjukkan layar gawainya kepada nya. Teriakan mereka berdua semakin heboh, “Ooooo! Kita mendapatkan item yang dicari. Langsung taruh dilelang dengan harga 10 Juta, sekarang sudah naik gila-gilaan.”

“Yud ... Yud ... Banyak yang nge-chat dan tawaran nya semakin meningkat,” gelisah Budi.

“Tahan dulu ... Tahan dulu ... Perkiraan ku akan naik 13 juta.”

“Sudah mencapai 13 Juta, ada yang udah nawar. Mau disetujui atau tidak?”

Yuda terlihat ragu-ragu dan siswi yang melihat nya nampaknya ingin menjauh, gak mau ganggu mereka.

“Li ... Lima belas juta, kita akan jual.”

“Itu batas akhirnya?”

“Ya. Percaya pada ku,” sambil memegang pundaknya.

“Kalian bertiga makanannya sudah tiba, maaf menunggu terlalu la—“

“20 Juta Yud, naik dua kali lipat!” Budi tiba-tiba berdiri

“Gas kan Buuuud!” Yuda jadi ikut bersemangat.

Mereka heboh sendiri, Linda sampai terkejut mendengarnya.

“Kedua teman mu kenapa? Sedang berjudi?” tanya salah satu perempuan dari jurusan IPA tersebut .

“Gak gak gak. Masa seorang pelajar berjudi, mereka sedang berlelang.”

Saat aku sedang menjelaskan, mereka sedang berpose kemenangan. “Keberuntungan mu gak ada yang mengalahkan nya,” ujar Yuda dengan bangga.

“Sudah jelas, jadi pembagiannya...”

“6 Juta, 14 Juta.”

Mereka berdua setuju tanpa basa-basi. “Tapi ada pajaknya, gimana cara menarik nya secara utuh?”

“Aku punya caranya lewat jalur belakang, kamu mau secara cash atau digital?”

“Digital aja.”

“Ok.”

Mereka baru sadar ada dua perempuan asing yang datang kemari, selagi aku menurunkan mangkok dan piring nya ke bawah yang ditaruh di atas nampan kayu.

“Maaf, kami datang di waktu yang kurang tepat.”

“Maaf telah mengganggu.”

Mereka datang dengan sopan dan pergi dengan sopan juga, sayang sekali padahal aku belum memperkenalkan diri.

“Mereka berdua dari jurusan IPA kan? Kamu kenal Do?” tanya Yuda.

“Malah mau kenalan, gara-gara kalian heboh sendiri,” ujar ku penuh rasa kekecewaan.

“Hahaha ... Maaf maaf, kami kegirangan,” suara notifikasi terdengar dari gawainya Yuda yang dipegang oleh Budi.

“Transaksi nya masuk dalam bentuk uang.”

“Sepertinya, script nya berjalan dengan baik,” Budi memindai gawainya Yuda dengan teknologi bernama NFC.

“Terima kasih atas kerja samanya,” ucap Budi.

“Bukan masalah. Item tersebut cuma muncul satu kali di event tersebut. Aku yang malah berterima kasih.”

Namun Yuda memeluk Linda dan diikuti sama Budi, ia kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. “He? He? Kalian berdua tiba-tiba kenapa?”

“Linda, bau badan mu enak sekali dicium,” ujar Yuda yang terkesan seperti orang mesum.

Ia terasa terganggu dan memberontak. “Lepaskan, kalian berdua,” ia tidak bisa melepaskan cengkraman mereka berdua dan lalu secara tiba-tiba berpisah, Linda mau minta kejelasan.

“Kami berdua menang,” ucap Yuda yang masih tersenyum dengan muka yang ceria.

“Menang? Menang dari apa?”

“Soal item yang aku barusan bahas.”

“Ooh,” Linda coba mengerti. “Aku gak paham, intinya dapat uang kan?”

“Benar sekali, waktu dan usaha yang ku habiskan setimpal harganya. Lalu Budi yang mewujudkan nya.” Ia bangga dengan atas kontribusi yang sudah diberikan.

Linda menghela nafas dan ikut bersyukur juga, “Haa ... Terserah kalian dan jangan lupa membayar makanan yang kalian pesan.”

“Siap!” balas mereka secara bersamaan.

Setelah heboh barusan, mereka kembali ke semula. Terlihat gak tertarik dengan kedua siswi jurusan IPA barusan.

Yuda punya rencana sendiri, Budi mendapatkan pemasukan uang yang cukup besar.

“Tadi, cewek yang pergi dari sini mau menyapa kalian?” ucap Linda.

“Ya. Itu kesempatan yang jarang terjadi, malah diabaikan oleh mereka,” keluh ku.

“Maaf soal itu,” sambil menelan makanannya. “Glup, kami terlalu fokus sama game nya,” ucap Yuda.

“Kesempatan pasti akan datang lagi,” Budi juga ikutan menjawab sambil makanan. “Banyak siswi di sekolah ini ketimbang siswa nya,” balas Budi.

“Jangan berbicara sambil makan,” tegur Linda.

Itu memang benar, rasio nya 6 banding 4 jika satu grup terdiri dari 10 orang. Terutama siswi di jurusan IPA jauh lebih banyak 7 banding 3.

Di dalam kantin kebanyakan di dominasi oleh perempuan, setiap kursi dan meja yang ditempati. Para laki-laki pasti akan berkumpul dalam satu kelompok yang sama, meskipun beda jurusan. Supaya gak ada perasaan canggung satu sama lain, kecuali para cowok ganteng atau percaya diri bisa bergerombol dengan perempuan. Bukan berarti dia adalah seorang penyimpang jenis kelamin.

Beberapa memilih memesan makanan di tempat yang berbeda seperti kami berempat, menghindari kerumunan yang ada di dalam kantin. Lebih memilih menyejukkan di bawah pohon.

Tapi yah, kebanyakan cewek di jurusan ku ada beberapa yang tertarik sama cowok jurusan IPA juga. Melihat biaya bulanan SPP cukup jomplang, karena satu bulan nya bisa memakan 800K sampai Dua juta. Mereka pasti tergolong orang-orang yang mampu dan cukup kaya dalam segi finansial.

Kedua siswi tersebut, mendengar teriakan Yuda sama Budi soal perolehan uang yang mereka dapatkan, terdengar biasa saja di kedua telinga mereka. Berarti dua siswi tersebut keluarganya berkecukupan.

“Omong-omong menurut kalian, tadi ada dua cewek cantik ke sini, menurut mu gimana?”

“Aku tak tahu, tidak memperhatikan nya cukup baik,” jawab Budi.

Aku melihat Yuda menunggu jawabannya. “Ada satu, ia lebih dekat dari yang kita kira.”

“Siapa itu?” tanyaku penasaran.

“Dia berada di dekat mu,” ketusnya.

“Ada apa melihat ku?”

Oh … Ternyata si-Linda, bukan itu jawaban yang kuinginkan. Orangnya malah terlihat cuek juga dan fokus sama makanan nya.

“Pertanyaan ku mengacu cewek yang dari jurusan IPA.”

Linda melihat ke arah mereka, dengan muka yang penasaran dan ingin tau apa yang dimaksud. Ia menjawab secara tidak langsung.

“Aku gak tahu, lagian kita jarang main kesana. Beberapa murid IPA sering memandang kita dengan rendah, yang berasal dari jurusan IPS. Meskipun kita mengakui sebagai siswa berprestasi, mata pelajaran kita tidak sebanyak dari jurusan mereka ,” jawab Yuda.

“Habis ini, kalian tertarik gak ikut ke sana,” usulku.

“Kemana? Kemana?” girang Linda.

“Berkeliling melihat murid jurusan IPA sama kelasnya.”

“Jalan-jalan setelah makan, tidak buruk juga. Aku juga ingin bersantai, pikiran ku cukup penat sama game dan tugas khusus nya.”

Yuda sepertinya setuju, Budi hanya diam saja, karena memesan dua makanan sekaligus untuk balas dendam rasa laparnya. Ia kekenyangan malas buat berbicara, jadi aku anggap ia juga setuju.

Secara otomatis Linda ikutan juga, ia pasti penasaran ingin menjelajahi area yang belum pernah di jamah.

Kami selesai makan siangnya tetapi gak mau bergerak terlebih dahulu untuk mencerna makanan nya turun ke usus.

Tiupan angin yang jatuh ke bawah terasa semilir sekali, bisa mengurangi rasa panas di sekitar kita. Andaikan saja kita duduk berada di kursi kantin yang sudah padat tersebut, pasti panasnya berdembetan dengan air keringatnya.

Aku membayangkannya saja sepertinya rasa jijik ku keluar. Linda menaruh piring dan mangkok kotornya ke nampan kayu lagi, Yuda telah selesai bermain gamenya, ia menaruh kembali ke saku celananya.

Salah satu dari kami harus mengembalikan papan kayu tersebut, kami melakukan hom pim pa tetapi Budi menolaknya, ia ingin bermalas-malasan sejenak, jadi aku adu suit dengan Yuda.

“Kamu yang kalah.”

Malangnya keberuntungan ku ini tidak memihak, sekarang giliranku harus berjalan ke kantin.

“Rido, selagi kamu membayar sekalian beli minuman nya juga,” usul dari Yuda diikuti oleh mereka berdua. Aku juga ingin meminum sesuatu setelah makan siang.

Setelah mendengarkan permintaan mereka, aku berjalan di keramaian kantin seperti tak ada kemajuan di antrian yang begitu panjang ini. Aku harus berdesak-desakan melewati beberapa murid yang keluar masuk, gimana Linda dengan tubuh sekecil itu bisa keluar dengan kondisi yang padat begini.

Kakiku tak sengaja tersandung dengan yang lainnya, membuatku harus menahan tetap kokoh supaya tidak terjatuh dan terbentur ke salah satu meja yang ada di sana, karena membawa piring sama mangkok di atas nampan.

Beruntungnya keseimbangan ku terjaga dan berhati-hati di sekeliling, namun ada siswi yang menabrak ku dari belakang dengan tekanan arus cukup kuat. Menyeimbangkan dua hal, kedua tanganku sedang memegang nampan kayunya, mencoba gak menyenggol dan menjatuhkan makanan mereka, piring sama mangkok yang terbuat dari kaca terpecah di atas lantai dengan bunyi cukup keras.

Mereka mulai memperhatikan ku yang jatuh ke bawah, seragam ku juga ikutan kotor. Langkah kaki mereka berbunyi telah menginjak serpihan kaca dari piring tersebut.

Dalam hati ku malu dan sudah mengacaukan nya, apalagi menanggung biaya tambahan dari benda yang sudah jadi bubur, aaah ... aku jadi pusat perhatian.

“Maafkan aku. Aku telah mendorong mu,” siswi yang jatuh dibelakang ku. Ia bertanya pada ku, “Apakah kamu terluka?”

Mencoba berdiri secara pelan dan hati-hati, terutama memungut kembali piring sama mangkok yang pecah. Tak ada siswa/i yang secara inisiatif membantu ku, karena ini merupakan kecerobohan ku yang tidak bisa diputar ulang waktunya.

Melihat ikat lengan yang ada di atas, menunjukkan siswi yang mendorong ku dari jurusan IPA dan teman salah satu di antara mereka ikut mengkhawatirkan ku dan menanyai kondisiku, ada yang terluka atau tidak.

Mereka mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan serpihan kaca nya. Salah satu jemari ku ada serpihan kaca yang menancap dan meneteskan darah.

Kejadian barusan membuat ku diberikan jalan terbuka, aku membayar makanan dari uang mereka, sekaligus ganti rugi sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahan ku sendiri.

Membeli plester luka dan menarik keluar serpihan kacanya, lalu dicuci dengan air yang mengalir.

“Kamu sampai terluka, mau dibawa ke UKS?” ucap siswi yang telah membantu ku penuh dengan khawatir.

“Tidak perlu,” ucap ku untuk menenangkan nya.

“Seragam mu juga kotor sekali.”

Tinggal aku kebas-kebaskan dengan tangan, bagian yang kotor sudah hilang. Nanti pulang langsung dicuci aja di dalam benak ku.

“Rido Mahfuda,” ia membaca lencana nama ku. “Saya Rani Pangestu dari kelas 2A. Rido dari kelas mana?”

“Aku dari kelas 2F,” kelas urutan paling terakhir.

Bersikap tenang, supaya ia tidak khawatir pada ku dan tersenyum seolah baik-baik saja.

“Selain jari mu, ada bagian lain yang terluka?”

Aku memeriksa secara keseluruhan cuma jari ku saja terluka, “Semuanya aman.”

“Benarkah?”

Aku memastikan nya dan menjawabnya.

“Maafkan aku, dari belakang-belakang ku terus berdesekan. Jadi, kamu ikut terdorong ke depan dan jatuh.”

“Mau bagaimana lagi, memang sangat ramai kantin nya,” ucap ku untuk memaklumi nya.

Senyuman manis nya meninggalkan ku dari seorang perempuan tak membuatku lupa, ternyata ia adalah siswi berasal dari jurusan IPA kelas A, terlihat dari seragam dasi yang ia pakai memang tidak berbohong.

Jika ia berasal dari kelas tersebut, berarti akademik nya tidak perlu diragukan lagi. Pasti siswi yang cukup pintar, berbeda dengan jurusan IPS yang tidak digolongkan menurut nilai.

Aku menghampirinya lagi, jadi malu sendiri dan meminta maaf juga. Melihat ada cowok mendekati nya dan merangkul pundak siswi tersebut, tetapi tangannya terus disingkirkan dan ditepuk ke belakang.

Mereka terlihat seperti orang pacaran satu pihak, tapi dari pandanganku, cowok tersebut seorang pengganggu.

“Apa yang kau lihat? Tadi kau cowok yang jatuh barusan kan?”

Tidak ku jawab, kenyataan nya memang begitu. Siswi tersebut mencoba menghentikan cowok tersebut, sepertinya aku dibenci olehnya tanpa alasan yang jelas.

“Gak ada. Aku pamit pergi dulu,” tidak ingin menarik perhatian lebih dari ini dan mencari keributan lagi yang sudah aku lakukan barusan. Sungguh memalukan sekali diriku ini.

Saat melewati mereka, mata ku mencuri pandangan menuju lencana namanya, ternyata ia adalah bernama Aska, nama panjangnya belum sempat kulihat.

Jika satu sekolah satu kantin, pasti akan bertemu dengan mereka lagi.

Mungkin ini suatu keberuntungan kecil bagiku mengalami musibah seperti ini, bisa berkenalan dengan salah satu siswi dari jurusan IPA, nanti akan kuceritakan kepada mereka.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk