Jackpot dan Musibah (Part 2)

0 dibaca

A

Saat aku pergi untuk membayar makanan mereka dan mendapatkan musibah, ketiga teman ku didatangi lagi oleh siswi dari jurusan IPA. Terlihat begitu heboh dan asyik kedengarannya.

“Beneran kalian mau mentraktir ku?” ucap Yuda setelah aku tiba. Padahal ia sudah makan barusan, apakah perutnya masih lapar?

“Teman mu yang satunya gimana?” ia bertanya kepada Budi.

“Aku pass,” tolaknya.

“Hee, entar jadi gak asik ngobrol nya,” keluh mereka.

Linda diajak juga, ia dipaksa untuk ikut. “Rido, yahoo~,” Yuda menyapa ku saat ia menoleh ke samping dan aku kelupaan belum beli minuman yang mereka pinta.

“Hee~ Dia teman mu?” tanya mereka dengan cara melihat ku begitu aneh.

“Ya. Jika kalian mau mengajak kita, dia harus ikut juga,” jawab nya.

Aku beruntung punya teman yang pengertian, mereka sepertinya sedang berdiskusi dan tidak keberatan untuk bergabung.

Atau jangan-jangan, mereka sudah tau yang telah dialami oleh ku. Waktu itu aku gak memperhatikan sekitar, fokus untuk mengambil serpihan kaca piring dan mangkok pecah yang masih ku pegang.

Mereka berdiri untuk pergi ke kantin, yang di sana sudah gak banyak siswi. Ada satu atau dua tiga kursi dan meja yang kosong, kami bertiga duduk dan berbincang dengan dua siswi jurusan IPA tersebut.

Yuda dan salah satu teman nya pergi ke gerai untuk melihat-lihat makanan yang masih sanggup untuk dikonsumsi.

“Nama mu siapa? Aku Liana dari kelas 2A,” cewek yang modis dengan seragam yang tidak dimasukkan ke dalam rok pendeknya gak seperti Linda yang mengenakan rok agak sedikit panjang menutupi lutut nya.

Ia memperlihatkan kemulusan paha nya yang putih, kuku yang diberi cat warna ada pernak-pernik nya. Bibir yang tipis dengan lipstik yang terang tidak memperlihatkan bibir nya yang pecah.

Teman satunya gak kalah cantik, ia terlihat jago berdandan dan rambut tipisnya dibiarkan terurai sebagai daya tariknya.

“Panggil aku Puput sama dengannya dari kelas 2A,” suaranya ... suaranya begitu tenang dan enak sekali didengar. Ditambah ia tersenyum pada ku, melihat Linda yang malu-malu. Ia memperkenalkan dirinya, dengan suara cukup pelan.

Entah kenapa reaksi mereka seperti baru melihat makhluk yang imut.

“Budi,” ketusnya dan terlihat tidak tertarik.

“Aku Rido dari kelas 2F, sama seperti mereka.”

Mereka berdua kembali begitu cepat, karena sudah ngantri panjang dan menyapa kita. Mejanya maksimal muat untuk 6 orang aja dan kami bertujuh. Seharusnya ada salah satu ada yang duduk di samping gak saling berhadap-hadapan.

Yuda menaruh cemilan sebagai makanan penutup, ia mengangkat tubuhnya Linda yang kecil dan dipangku.

Mereka bertiga terkejut, melihat aksinya begitu santai dan berani di depan nya, siswi yang bernama Liana bertanya. “Kalian berdua berpacaran?”

“Dia maskot kita,” ketus Yuda.

Linda menjadi ngambek dan mencemberutkan mukanya.

“Masa pacaran harus bawa dua teman cowok sih, kan gak afdol cuma bawa satu cewek. Ya kan Lin?” ucap Yuda di samping mukanya sambil tersenyum untuk menenangkan hatinya kembali normal.

Suasana hatinya sedang bagus, pembicaraan ini pasti lancar, kecuali satu orang.

“Ini beneran ditraktir kan? Kalian gak bermaksud yang lain?” tekan Yuda yang masih tersenyum.

“Bawa santai saja, kami cuma ingin berkenalan dengan murid jurusan IPS. Kalian tau sendiri, jurusan kita kebanyakan di dominasi perempuan,” ujar siswi yang belum memperkenalkan diri.

“Tris, tinggal kamu yang belum memperkenalkan diri dan cowok yang ganteng ini. Aku belum tau nama nya,” ujar Liana.

Mereka bertiga berdiri menyuruh untuk mendekatkan mukanya ke lencana namanya, “Hee~ Yuda.” Dengan maksud apa memaksa mereka mengikuti perkataan nya.

“Aku Triska dari kelas 2A jurusan IPA, sering dipanggil Tris.”

“Salam kenal Tris,” Yuda mencoba akrab dengannya. Aku pun mengikuti alurnya.

“Silahkan dimakan, kami bertiga biasa nya memakan makanan yang ringan,” ucap Tris.

Kami mengambil cemilan di atas meja, kecuali Budi sama Linda. Tangan Yuda yang memegang tusuk gigi tertancap bola telur dengan toping nya, diarahkan ke mukanya Linda yang masih dalam mode ngambek. “Ayo, buka mulut mu, aaah ... mm,” ia sedang sengaja menjahili nya atau memamerkan kedekatan kepada mereka.

“Kalian berdua dekat sekali, mana mungkin kalian gak pacaran.”

Berulang kali ia mau memakan dan menggigitnya, Yuda menarik kembali untuk membalas ucapan mereka. “Berpacaran?” Ia melihat ke Linda sambil mendekatkan kali bola telurnya lalu ditarik kembali. “Dengannya?” Ketiga sampai ke lima kalinya, ia sudah merasa bete terus dipermainkan. “Serius?”

Linda memegang tangannya Yuda dan memakan nya penuh dengan emosi, namun mulutnya mengepul mengeluarkan asap. Budi dari samping memperhatikan pola tingkah mereka berdua, ia menahan tawanya, mukanya yang ditutup dengan tangan—senyumannya terlihat mengerikan.

“Fuuah ... Fuuah ... Ini masih panas,” keluh Linda yang barusan masih bete, kembali normal lagi. Ia mengambil bola telur nya dengan dua jari tangannya dan memaksa dimasukkan ke dalam mulut nya juga. Mereka saling membalas, Yuda menutup mulutnya dengan tangan, air mata nya Linda sedikit keluar setelah bola telur tersebut dimasukkan sesi keduanya.

“Beneran masih panas di dalam nya,” keluhnya.

Seharusnya hal tersebut terkesan tidak sopan. Ketiga siswi tersebut melihat kelakuan mereka, sudah dipastikan, “Kalian begitu akrab sekali.”

“Mana mungkin bisa berani mengambil tindakan tersebut, kalau kalian gak dekat.”

“Apakah ini cara kalian berkomunikasi?” tanya Tris.

Mereka berdua menelan bola telurnya terlebih dahulu. Baru disebut begitu, Linda langsung merasa malu dan menutup mukanya dengan cara membalikkan badan.

“Linda, jangan ngelap mulut mu ke seragam ku,” keluh Yuda. Dengan terus menggosokkan bolak-balik, akhirnya kedua pipinya dicubit sampai memerah dan menghadap lagi ke mereka.

Budi ikut tertarik dan mengambil bola telurnya, aku pun sama sebelum kehabisan tapi Yuda mengambil dua biji.

“Aku masih belum kebagian, kamu sudah makan satu,” keluh Budi kepada nya.

“Siapa cepat, dia yang dapat,” Yuda mengejeknya. Aku tarik satu dari tusuk giginya, ia tidak suka makanan nya dicuri.

Linda memukul tangannya sampai bola telur yang dipegang jatuh ke lantai, “jangan buang-buang makanan.”

“Aku gak peduli,” karena ia tau akan dipaksa disuapi lagi.

Yah … Seperti biasa di manapun kita berada, bahkan saat sedang makan dilihat orang lain. Pasti ada keributan kecil.

Tiga siswi tersebut tak membicarakan soal diri mereka, cuma memperhatikan. Kami sedang sibuk berebutan makanan dan memperlihatkan kedok asli kita masing-masing.

Gak tau malu mengambil roti pizza yang seharusnya satu orang dapat bagiannya masing-masing, Yuda sama Linda jadi sedikit serakah.

Mana laki-laki yang bijak seperti kemarin dan tadi siang, Yuda sudah dianggap sangat positif bagi mereka, malah tak sesuai harapan.

Seharusnya Linda yang mulai duluan, terus diikuti Yuda sama Budi. Kini perannya kebalik, “Ka-kalian sudah terbiasa dengan hal ini?” Mereka terlihat risih dengan perilaku ketiga teman ku.

Mencoba menenangkan dan menjelaskan, sebenarnya apa yang terjadi.

“Kamu terlihat tenang sekali, Eeh~” siswi yang bernama Puput dengan cepat melupakan nama ku. Triska membisikkan ke telinganya, baru ia ingat.

“Biarkan sejenak, badai akan reda sendiri.”

“Kamu gak ikut ambil juga?” ucap Liana.

“Bener Do, kamu gak mau makan risolesnya?” Mulut Yuda sudah dipenuhi apa yang sedang ia makan dan masih memegang Risoles satunya, mulut Linda bertindak dan memakan hampir separuh Risoles yang ia pegang. Na’asnya, serasa sedang dibungkam oleh tanah kirinya Yuda. Risoles bekas gigitannya dipaksa masuk ke dalam mulut.

Mereka terlihat panik, melihat sisi liarnya Yuda. Tangan nya ia lepas ada bekas air liur dari Linda, “Kamu sengaja menjilat telapak tangan ku.”

“Salah mu sendiri,” ia mengambil sapu tangan di saku roknya dan mengelap mulutnya lalu dipinjamkan ke Yuda secara diambil paksa sambil meremas-remas kain tersebut.

“Do, mana pesanan minuman kita?” Budi baru mengingatnya dan mengungkitnya. Mereka berdua jadi ikutan untuk menagih pesanan nya.

“Uang ku sudah habis,” jawab ku.

“Tadi patungan berempat, seharusnya ada kembalian nya,” ujar Linda.

Aku menceritakan kronologi nya dan habis mengalami musibah, uang kembalian mereka untuk sebagai biaya ganti rugi.

“Mau bagaimana lagi, musibah emang gak bisa ketebak. Linda, kamu masih punya cash?”

“Ini buat kebutuhan belanja nanti sore, kalian gak mau makan malam?”

“Bud, tolong belikan. Kami pinjam uang mu sebentar, 4 gelas air putih saja,” ia berdiri sesuai permintaan Yuda.

Masih ada sisa makanannya, mereka bertiga sudah enggan mengambil nya.

“Maaf ya atas keributan tadi, apakah kalian terganggu?” ujar Yuda.

“Bukan masalah, cara kalian berteman dan berkomunikasi cukup unik,” ucap Triska.

Linda menyingkirkan tangan kirinya beberapa ke hadapan mukanya. Ia tidak bisa melawan dan hanya menghindar, “Tangan mu bau Yud.”

“Suruh siapa, kamu menjilat telapak tangan ku. Itu bau mulut mu sendiri,” Yuda menampar kenyataan.

Mereka siap-siap mau pergi beranjak dari sini, kami masih belum berbincang, baru berkenalan. “Maaf, kita kembali ke kelas dulu.”

“Ya, terima kasih atas traktir nya.”

Dan beneran pergi, cuma berlangsung sepuluh menit doang. Kelihatannya cukup kecewa, terdengar mereka sedang mendengung ngomongin soal kita barusan.

“Gara-gara kalian, mereka jadi pergi,” keluh ku. “Padahal bisa berkenalan antar jurusan.”

“Kamu suka tiga cewek barusan?” tanya Yuda menghadap ku, kepalanya ia senderkan ke tangannya yang ada di atas meja. Linda dengan susah payah menahan tangan kiri nya yang terus mendorong.

“Tentu sajalah, aura mereka layaknya cewek kota.”

“Lepaskan Yud, aku juga mau berbicara.”

“Bicara soal apa, cewek kampungan seperti mu.”

“Jahat sekali kau ini. Jika aku gak kenal kamu. Pasti sudah jutek, bete dan pergi begitu saja.”

“Aku belum mengenali mu sama sekali.”

Linda berhadapan dengan nya dan mencubit kedua pipinya penuh gemas.

“Jangan mesra-mesraan.”

“Siapa yang mesra-mesraan?” keluh mereka berdua. Aku malah dimarahi.

Setelah ia sudah puas, lalu berbalik menghadap ku. “Aku gimana? Baru dua tahun menjadi cewek kota juga,” Linda mengikuti gaya bicara dan perlakuan mereka bertiga.

“Aura mu masih terkesan kampungan, mana mungkin dengan cepat beradaptasi,” jawab ku yang setuju sama pernyataan nya Yuda.

“Kau juga sama Jahat nya seperti Yuda dari ucapan mu barusan.”

Yuda hanya tersenyum mendengarnya.

“Apa yang kamu tertawaain?” Linda mulai ngambek lagi, ia mau turun tapi terhalang sama dua tangan.

“Gak ada.”

“Beneran gak ada? Emang nya aku ini bodoh?”

Kenyataannya memang begitu.

“Aku gak pernah menyebut mu bodoh, cuma berotak dongkol saja sama seperti Rido.”

“Hoi,” jawab ku yang gak suka.

“Itu sama aja dan lepaskan aku dari sini.”

“Kau lupa sama permintaan ku semalam. Soal memanjakan mu dalam batasan tertentu.”

“Aku masih ingat. Tapi gak gini juga.”

“Terus aku harus gimana? Bilang kepada mu ‘hari ini sangat imut Lin.’ Tanpa berkata itu, kau tetap terlihat imut.”

“Bukan begitu,” ujar Linda mulai merasa malu.

Mereka memang secara sengaja untuk bisa menarik perhatian orang lain.

“Kau sangat imut sekali,” ia menyentuh dagunya dan menggelitik lehernya seperti kucing. “Hari ini seperti biasa sangat imut. Imut imut imut ...”

“Berhenti! Stop sampai situ,” Linda memegang tangan kanan nya Yuda dan melempar nya. “Aku bukan peliharaan mu.”

“The Little girl,” ujar Yuda. Tapi Linda menangkap artinya cukup berbeda. “Jadi, kau menganggap ku sebagai bocah?”

Yuda hanya tersenyum, Linda kembali bete. Tapi, mulai terasa berbeda dari sebelumnya. “Terserah kau saja,” lirih nya dari mimik mulutnya bisa kubaca.

“Tadi, kamu mengatakan apa. Linda yang imut.”

Ia langsung menutup kedua telinga nya, tidak ingin mendengarkan bisikannya. Dan langsung kembali ke topik awal.

“Do, biar aku peringatkan. Padahal si-bodoh ini! bersikap seperti orang bego, untuk menaikkan status mu sebagai cowok yang normal dan tenang menghadapi kita.”

“Aku hanya tertarik soal ditraktir doang, mereka bertiga mendekati kami hanya untuk mengincar ku. Jadi, Budi ikut diajak, supaya lawan berbicara jadi seimbang.”

“Aku gimana Yud?” Tiba-tiba aku merasa terkejut dari belakang ia nongol, baru diomongin. Sudah membawa 4 air gelas yang dingin.

“Sejak kapan kamu berdiri di sana?” tanya ku.

“Ketika Yuda sedang menjahili Linda seperti biasa dan menganggap nya sebagai anak kecil.”

“Aku tau, tapi jangan diperjelas begitu sambil melihat ku,” mewek Linda.

“Sedang bahas tiga cewek barusan, Rido sepertinya tertarik salah satu dari mereka atau ketiga nya?” ujar Yuda.

“Tiga … Kebanyakan gak sih?” ujar ku secara malu-malu.

“Sadar diri,” ketus Budi.

“Ngaca,” ketus Linda.

“Kau masih katro dan berbau anak kampungan,” jelas Yuda.

Mereka gak sungkan langsung mencerca ku, “Aku sudah berpenampilan lebih baik dari sebelum nya. Kalian bilang, aku ini keren.”

“Budi yang bilang, bukan aku,” jawab Yuda.

Langsung melihat kepadanya untuk meminta validasi. “Hoo— Kamu mau ngincar mereka? Lebih baik jangan terlalu gegabah. Tipe cewek yang seperti itu pasti ingin di ratukan dan mengikuti sesuai standar sosial media,” ujar Budi.

Realita ku langsung pecah, “He? Beneran?” ucap ku cukup terkejut dan masih gak percaya.

“Anak SMP zaman sekarang, bahkan terang-terangan meminta pacarnya untuk dibelikan barang yang tidak sanggup ia beli. Kau kira mendapatkan cewek kota dan berpacaran layaknya pasangan zaman dulu, akan sama?” jelas Budi.

“Aku paham. Kamu memang ingin mendapatkan pacar secepatnya. Intinya jangan mereka,” ujar Yuda.

Masukkan dari mereka cukup masuk akal, tapi yah mau sampai kapan aku terus menjomblo. Ketika sedang merenung, Linda mengalihkan perhatian ku lagi.

“Omong-omong, tadi barusan. Kau terus membuli— Ueekh ... Bau! Jauhkan tangan mu dari ku.”

Budi sama Yuda tertawa dengan lepas, melihat reaksi Linda terkena senjata makan tuan nya sendiri.

Dasar mereka bertiga ini, aku jadi ikutan tertawa juga.

...

Kesenangan sederhana yang tak dimiliki geng manapun, tak ada rasa canggung, baper atau marah sama sekali kecuali sedang berdebat, kalau sudah mengenal satu sama lain secara dekat.

Aku membawa mereka ke lingkungan para siswa/i jurusan IPA yang sudah dijanjikan, untuk menghabiskan sisa waktu istirahat kami masih ada sisa 10 menit dan pergi dari kantin.

Istirahat satu jam harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Tidak untuk melihat kelas-kelas, waktunya gak akan cukup. Tujuan ku mencari siswi yang menabrak ku dan menemukan dia berada di lapangan upacara yang ada tempat duduknya, di atasnya ditumbuhi tumbuhan merambat yang berbunga. Pandangan mata mereka Yuda dan Budi melihat secara cepat dan kembali fokus ke layar masing-masing, mode seperti biasa sibuk sama gawai nya sendiri, Yuda menunjukkan layar nya ke Linda. Aku meminta pendapat mereka tentangnya setelah memfoto yang telah aku tunjukkan.

“Menurut kalian gimana?”

Ketiga teman ku melihat dari jarak cukup jauh, Yuda mengambil fotonya dari gawat nya sendiri dengan hasil gambar yang cukup bagus.

Pasti kamera dalamnya jauh lebih bagus dari milikku. Kami melihat bersama dan mereka mulai menilainya.

“Biasa saja,” jawab langsung dari Yuda.

“Perempuan di mana-mana sudah jelas cantik,” imbuh Linda.

“...” Budi no comment.

“Kalian setidaknya memperhatikan sedikit gimana wajahnya,” tanyaku balik.

Aku meminjam gawainya Yuda dan mengambil fotonya lagi.

“Tidak perlu diambil dengan banyak foto, paling ujung-ujungnya yang kamu nilai dari lawan jenis hanya perawakannya saja seperti barusan,” ketus Budi. Dia gak salah sih, aku tertarik pertama kali padanya karena pesonanya dan perhatian mengkhawatirkan ku.

“Dasar jones akut,” ledek Yuda, ia ambil gawainya lagi.

“Kalian berdua sama aja masih jomblo seperti aku, jangan menghina begitu,” rajukku. “Tolong kirimkan semua fotonya.”

Yuda mengirimkan lewat aplikasi obrolan yang hasil gambarnya sudah dikompres. Aku minta lagi dalam bentuk ukuran aslinya.

“Kalau menurut kalian biasa saja, aku gimana?” tanya Linda pada kami.

“Di sini tidak ada meminta pendapat kepada mu,” jawabku. Kita sedang membicarakannya, tetapi kedua temanku menanggapinya.

“Cewek yang satu kontrakan dengan kita sudah jelas jauh lebih cantik dibandingkan dengannya,” jawab Yuda. Budi juga berada dipihak yang sama.

“Kalian pintar sekali memuji perempuan,” Linda sepertinya mencoba memancing mereka. “Tadi barusan, kalian mengerjai ku. Biasanya kalian sering memanggil dengan sebutan bocah.” Akal bulus nya baru dikeluarkan untuk memancing cemoohan mereka.

Yuda sama Budi menahan argumennya untuk tidak menyakiti atau membuat lelucon, ke perempuan satu ini.

“Kalau tidak begitu, kita gak dapat jatah makan malamnya.” Yuda mengatakan yang sebenarnya dan mereka akan mulai ribut lagi.

Untuk mencegah hal itu terjadi, Aku mengeluh pada mereka, “Kalian tuh gimana sih? Kenapa jadi Linda yang dipuji sih.”

Budi tanya balik kepadaku, “Sebenarnya, kamu sedang melihat siapa sih Do? Kukira kita sedang membicarakan Linda.” Dia dari tadi tidak memperhatikan ku atau pura-pura gak peduli sih.

“Sejak kapan kita memulainya?” tanya Yuda seolah-olah sedang kebingungan.

“Sejak masih berada di bawah pohon, kamu belum menutup diskusinya, saat Linda bawa makanan sesuai pesanan kita,” balas Budi yang diperjelas.

Astaga jauh sekali topik pembicaraan mereka berdua ini, kukira kita dari tadi sudah berjalan cukup jauh meninggalkan kantin dengan jalan memutar. Otak pikiran mereka masih di tempat yang sama dalam topiknya. Padahal kita sudah berpindah tempat.

Aku menunjuk-nunjuk jarinya ke layar dan diperbesar sampai mereka paham, “Tadi barusan kamu mengambil gambarnya, ku kira sudah paham apa yang aku maksudkan.”

“Aku sedang memfoto lingkungan dan suasana murid jurusan IPA sedang istirahat, gak secara sengaja ada siswi yang sedang kau maksudkan,” ucap Yuda.

“Ku kira kamu sedang menilai murid di sini secara umum, jadi aku menjawab sesuai fakta. Siswi di sini memang cantik dan modis-modis,” ujar Linda.

Aku melihat ke arah Budi, ia malah mengatakan. “Apa Do?” Seperti sedang memusuhi ku.

Aku menghela nafas gak bisa mengikuti pola kerja otak mereka—Aaah! Pusing ... Beneran.

“Terus, bagian mana yang membuat mu tertarik padanya?” tanya Linda.

“Perlihatkan foto nya, mungkin aku pernah bertemu dengannya.” Yuda memberikan gawainya dan memperbesar gambarnya.

“Oh … Idola sekolah ini, pantas saja kamu tertarik dengannya,” Linda tahu siapa perempuan tersebut.

“Idol?”

“Idol?”

Yuda mengulangi perkataannya Budi.

“Haha~ kamu pasti sudah dibutakan oleh cinta dalam pandangan pertama,” imbuhnya lagi.

“Bud, idol di lingkungan sekolah, sudah lumrah?” Yuda yang baru pertama kali menginjakkan kaki nya untuk bersekolah, ia tidak tau soal konsep tersebut.

“Itu sudah hal yang lumrah,” Ia melihat fotonya dan menilainya. “Menurutku wajar aja, Rido tertarik padanya.”

“Hee~ Soal itu … Monyet aja langsung tahu, ada cowok jones yang kebelet mau pacaran,” Yuda mulai meledekku.

“Terserah apa kata kalian,” rajuk ku. “Kira-kira dia sudah punya gebetan belum? Lin, kalau kau tau soal dia,” tanyaku.

“Hmm ... Menurut rumor beredar dia sudah punya pacar, mungkin. Terlebih lagi pasangnya seorang bocah kaya ingusan, mungkin.” Kenapa ucapan nya kurang meyakinkan begitu, aku rasa ia bermaksud menjelek-jelekan perempuan tersebut.

“Kamu beneran mengenali nya?” tekan ku.

“Barusan lewat foto,” jawabnya dengan polos.

Bodohnya aku mempercayai perkataan nya, dan dikerjai oleh mereka.

“Rumor hanya sebatas rumor, tidak perlu dipercayai. Dan kenapa kamu mendengar ucapannya?” balas Yuda. Ia memainkan kepalanya Linda awal nya mengelus nya dengan lembut secara perlahan seperti analog stik yang sedang mengelus kepalanya sejak berdiri disini.

“Itu bisa dipertimbangkan, melihat fotonya cukup rupawan. Kalau rumor itu berupa kenyataan gimana?” tanyaku balik.

“Itu balik lagi ke kamu,” ujar Budi.

“Tapi Do, biarkan aku beri saran kepada mu yang cukup panjang,” Yuda kembali ke mode serius jika nada berbicara mulai pelan.

“Kau sama saja membenarkan berita hoax cuma melihat dari foto nya saja. Diperlukan lah sebuah riset sana-sini tentang rumor tersebut, dan pendapat orang lain, lalu kau saring dan bandingkan secara aktual. Jangan membodohi dirimu sendiri melalui sugesti perasaan mu.”

Perkataan nya ada benarnya, dia sudah berbaik hati pada ku dan ada cowok yang mendekati nya. Dalam pikiran ku mengira mereka berpacaran, aku masih belum menanyakan hubungan mereka gimana. Aku menelan terlalu mentah, apa yang Linda ucapkan barusan.

“Kamu menyukainya ‘kan? Dalam pandangan pertama?”

Kenapa Yuda bisa tau? Aah ... Aku kelupaan, ia bisa membaca pola pikir ku.

“Apakah kamu gak berharap, ia kelak nanti bisa menjadi pacarmu di masa mendatang?”

Aku diberikan saran secara tegas olehnya dan menumbuhkan sebuah harapan baru muncul. Tetapi, aku merasa insecure dan malu pada penilaian ku sendiri, “Entahlah, aku gak merasa yakin, gimana aku bisa mendapatkan pacar yang memilki spek tinggi seperti dia? Terutama kita beda jurusan dan kepintaran nya jauh melampaui ku.”

“Padahal tadi kamu membicarakan dia. Sekarang kamu tidak percaya diri?” ujar Budi.

“Tau diri merupakan hal yang bagus, masih belum dicoba masa sudah menyerah,” ucap Linda.

“Mereka benar. Dia hanyalah manusia biasa, kenapa kamu sudah putus harapan terlebih dahulu. Menurutku kamu bukanlah laki-laki rendahan seperti kebanyakan cowok lain, kamu memilki kelebihan sendiri. Kenapa gak kenalan dia terlebih dahulu sebagai awal pendekatan?” Yuda mencoba menyemangatiku tapi aku sudah merasa ilfil.

“Yud, kamu ambil kutipan tersebut dari siapa?” balas Budi.

“Jangan merusak momen seriusnya, ini kutipan original ku sendiri.”

Kita tertawa setelah Budi mengacaukan keseriusan nya dari perkataan nya.

“Aku hanya ingin mengatakan, orang bodoh mana yang cuma berangan-angan saja tanpa berusaha. Mendingan kamu tidur saja dan berharap mimpi yang indah,” saran Yuda.

“Perkataanmu nyelekit sekali Yud, kita naik satu perahu denganmu rasanya gak terima mendengarnya. Rido sendiri mungkin tersakiti?” imbuh Budi.

Kami paham dengan perkataan Budi. Ia memiliki beban seperti kita dengan ukuran yang berbeda.

“Aku gak naik perahu denganmu, sekarang aku turun lalu menaiki sebuah sampan dan menuju ke harta karun,” ketus Yuda untuk mencairkan suasana nya dan mengangkat tubuhnya Linda seperti mainan.

Mereka berdua kembali bercanda satu sama lain untuk menyemangatiku. “Akan kubuktikan, aku bisa berpacaran dengannya.” Aku merasakan ada dorongan dari tubuhku namun terhalang oleh bel yang berbunyi dan menyudahi waktu istirahat kita.

“Kalau gitu akan kutunggu kabar bagus darimu, batas waktu mu sore ini sampai jam sekolah berakhir,” perintah Yuda sambil mengeluarkan secarik kertas diberikan kepada ku.

“Heh?”

“Jangan tarik omongan mu Do,” ujar Linda.

“Heeh?”

“Yah ... Hm. Berusahalah,” dukung Budi.

“Heeeeh?!”

Ini surat seharusnya buat Linda, mereka bertiga menarik kedua tangan ku dan satu bocah mendorong punggung ku, sampai ke depan perempuan yang dituju.

“Oh? Kamu yang barusan jatuh di kantin,” matanya melihat ke lencana nama ku. “Rido Rido ... Ya, aku ingat.”

Ia tadi diam sejenak, seolah tidak mengingat ku.

“Bel sudah bunyi, nanti terlambat masuk ke kelas.”

“A-A-Aku ingin menyampaikan surat pada mu, nanti sore bisa ketemuan?”

Ia menerimanya dan menjawabnya, “Boleh,” sambil tersenyum. “Sampai ketemu lagi.”

Mereka berdua menepuk punggung ku cukup keras sampai terjatuh, disebabkan sama Linda menekuk lutut ku yang lemas ini, sudah ku kerah kan semua keberanian ku.

Guru BK yang sedang berpatroli, meneriaki kami masih berada di luar.

“Itu suara pak Hendra.”

“Cabut Yud!” teriak Budi.

Mereka meninggalkan ku yang sedang terjatuh, sebelum beliau sampai mendekati kami. Aku mengejar nya.

“Mantap sekali, kau ternyata sudah kenalan di kantin,” ujar Yuda.

“Palingan entar ditolak,” balas Budi.

“Jangan jahat begitu sama Rido, kalau ditolak terlihat lucu nanti. Aku ingin melihat mukanya,” ejek Linda.

“Kalian tega sekali do’a-in yang jelek-jelek,” sangkal ku.

“Kalian lagi?”

Gawat, kita bertemu dengan Bu Airi berpas-pasan di tengah jalan. “Maaf, numpang lewat dulu Bu,” ujar Linda.

Sampai ke kelas, kami masuk terlebih dahulu bersama dengan guru Sosiologi tadi pagi bertemu.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk