Beliau menghela nafas saja untuk kita yang telah bersabar beberapa kali menghadapi keterlambatan nya, yang bernama bu guru Latifa.
Yuda hanya tersenyum serasa sudah lolos kali ini sambil memperlihatkan kertas izin masuk dan ditaruh atas meja, hukumannya tidak dijatuhi cukup berat seperti di kelas satu.
“Duduklah kalian berempat, bu guru akan memberikan tugas khusus buat kalian.”
Yuda memutar suara rekaman dari guru BK soal mengerjakan tugas mereka, langsung di sekolah.
“Bukan masalah, asal jangan terlambat lagi. Kamu siswa berprestasi jangan memberikan contoh yang buruk bagi yang lainnya,” Ibu Latifa langsung setuju.
“Terima kasih banyak,” ucap Yuda.
Kami kembali ke tempat duduk masing-masing. Pelajaran pertama adalah geografi dunia, namanya juga jurusan IPS gak jauh-jauh tentang sosilogi, geografi itu sendiri, ekonomi, sejarah sudah pasti, matematika tak serumit di jurusan IPA, bahasa nasional sudah hal yang wajib, bahasa internasional sebagai pertimbangan, hanya delapan mata pelajaran saja bisa berlangsung selama dua jam sendiri duduk mendengarkan guru menjelaskan materinya.
Aku duduk bersebelahan dengan Budi, Yuda terpisah sendiri diletakkan di belakang kelas, karena tubuhnya cukup besar dan tinggi, menghalangi siswa/i yang fokus melihat ke papan tulis. Namun ia memanfaatkan celah tersebut agar bisa menutupi atau menghalangi perhatian dari guru, kembali bermain permainan lewat gawainya.
Linda sendiri, ia menyalonkan lagi menjadi ketua kelas sama seperti di kelas satu yang diwakili oleh Yuda, seharusnya ketua kelas menjadi penanggung jawab kelas, malah ikutan terlambat. Dia duduk di tengah-tengah bangku murid lainnya.
Linda adalah seorang primadona bagi cowok di kelasku, tubuhnya cukup kecil 148 cm tinggal dua centi lagi akan genap jadi 150, kulitnya yang cerah dan bersih, mereka sering bertanya tentang keseharian ku bersama dia, di rumah kontrakan.
Tak heran ia begitu cepat populer di kalangan siswa-siswi manapun, meskipun pemalu si-Linda pada awalnya, ia mudah sekali bergaul dengan siapa saja termasuk kita yang hanya orang biasa.
Mungkin gegaranya, ia seorang gadis asli dari suku Dayak, mukanya agak sedikit berbeda dan mencolok. Linda juga murah senyum sekali dan pendengar yang baik, tapi entah kenapa di antara kita bertiga tak ada yang naksir sama sekali. Para cowok di kelas kita yang mau menembak perasaannya, tapi takut ditolak olehnya.
...
Aku membuka buku tulis dan mencatat apa yang ada di papan abu-abu tersebut menggunakan kapur, Budi sedang sibuk melihat anime lewat gawai kecilnya dan telinga sebelah kanan ditutupi oleh headset tanpa kabel.
Di sisi lain, Yuda sudah memegang gawainya di atas meja secara terang-terangan dengan posisi landskap. Meskipun ditanya sama guru langsung bisa menjawab.
Budi pun sama, meskipun pendengar nya cuma satu arah. Ia bisa menjelaskan seluruh pelajaran guru lewat sekilas catatan ku dalam sekali melihat.
Otak mereka berdua sebenarnya terbuat dari apa sih? Makanan dan minuman yang kita konsumsi selalu sama.
“Tolong kurangi aktivitas gadget kalian di kelas pembelajaran sedang berlangsung,” peringat bu guru Latifa. Yang memaklumi mereka berdua terbiasa hal begini.
“Maaf Bu, kalau perkataan ku tidak menghormati cara ibu mengajar. Kami berempat setiap malam belajar mandiri dan materi pembelajaran sudah selesai, di kelas kami hanya mengulas kembali apa yang sudah ibu jelaskan kepada siswa/i yang belum mendapatkan ilmu tersebut. Kalau mau lempar pertanyaan atau penjelasan langsung ke Linda atau Rido. Mereka pasti bisa menjawabnya, jangan ke kami,” ucap Yuda yang masih fokus ke layar gawainya.
“Linda, apakah itu benar?” tanya bu Guru Latifa.
“Benar Bu, aku gak punya bukti cukup kuat seperti rekaman video atau rekaman suara. Misal guru lain memberikan pertanyaan kepada kita, sepengetahuan saya akan menjawab sebisa mungkin,” jelas Linda yang seharusnya menjadi beban tambahan baginya.
“Rido, kamu gimana? Dengan kedua teman mu tersebut?”
Yah, ini cuma masalah guru-guru ingin dihormati saat sedang dijelaskan. Ucapan Yuda ada benarnya, tapi terkesan angkuh kedengaran nya. Melemparkan masalah mereka berdua ke kami, terdengar gak adil sama sekali.
“Jika bu Latifa gak menyukai ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan anda. Silahkan usir saja dari kelas,” ucap salah satu siswi di kelas menyampaikan pendapat nya.
“Aku setuju dengan perkataan nya, dari pada mempengaruhi ke fokusan murid lainnya yang benar-benar ingin belajar,” imbuh siswa lainnya hanya untuk memperkeruh keadaan.
Meskipun berprestasi sekaligus bermasalah dan mereka berdua penerima beasiswa yang diukur lewat nilai akademis nya. Yang seharusnya cocok untuk masuk ke jurusan IPA bukan IPS dan gak terlalu disukai oleh teman sekelas ku.
“Bu guru gak setuju soal itu, kalian berdua entar datang ke meja saya waktu istirahat pertama nanti.”
“Ya,” jawab Budi secara lirih yang hanya terdengar oleh ku.
“Ya Bu,” jawab Yuda. “Tapi secara terpisah dan pribadi. Untuk menjaga privasi kami,” imbuhnya.
“Baiklah, nanti kamu datang ke ruang BK lagi. Bu guru akan menemaninya, soal masalah mu di kelas,” bu Latifa malah menggiring nya ke sana. Yuda sudah menjadi langganan, karena selalu membantah omongan para orang dewasa yang telah memberikan pendidikan. Namun tidak ada yang bisa menghentikan perlakukan nya. Cerdas saja gak cukup, apabila gak diseimbangkan dengan tata krama dan sopan santun.
Jika bekerja secara tim atau bermasyarakat, Yuda pasti gak akan cocok soal itu dan selalu menyelesaikan masalahnya secara mandiri.
...
Di pelajaran kedua yang merupakan matematika lanjut, perilaku Budi sama Yuda tidak ada perubahan, gak menunjukkan rasa hormat sama sekali.
Mereka berdiri di depan kelas, tidak diperbolehkan bermain gawai nya masing-masing. Tetap aja ada celah nya, Budi bersandaran dipunggung Yuda. Ia pun sama, gak boleh mepet sama tembok, mereka secara sengaja gak memperhatikan.
Pertanyaan sesulit apapun, bisa mereka jawab cukup mudah. Karena mereka sudah memilki mental aritmatika, termasuk pertanyaan beda jurusan yang tak ada di buku paket sedang kami pegang. Apakah matematika memilki huruf sama simbol? Kukira angka saja.
“Bu Guru, itu pertanyaan seharusnya untuk kelas tiga jurusan IPA. Para murid gak paham soal pertanyaan tersebut,” ujar Yuda.
“Kalian bisa menyelesaikan nya atau tidak?” ucap guru matematika yang gak suka sama sikap mereka. Dengan soal yang bertuliskan begini ... Integral, bisa dibilang begitu dengan huruf S yang panjang dan terbalik ada kuadratnya.
“Itu tantangan buat kami?” Yuda menyenggol Budi yang sedang bersandar di punggungnya, ia melihat ke papan tulis.
“Bu guru, aku tidak bisa menyelesaikan, Yuda pasti bisa,” ucap Budi sambil mengangkat tangan dan membelakangi nya.
“Merendah sekali kau ini Bud ...,” Yuda membisikkan sesuatu padanya. Dia berjalan mendekati papan tulis dan mengambil kapurnya. Secara perlahan dijawab dan menulis cukup rapih. “Apakah ini sudah cukup?”
Bu guru yang menyaksikan jawaban tersebut, apakah itu benar atau tidak. Karena beliau belum menyelesaikan pertanyaan yang ia berikan sendiri, masih mencoba menghitungnya, mungkin di dalam benak pikirannya secara menggamblang bukan di atas kertas.
Yuda memberikan kapur kepada Budi, ia menjawab kelanjutannya dengan metode yang berbeda namun hasil jawaban nya tetap sama. Akan tetapi caranya Budi jauh lebih panjang dan lama, seluruh papan tulis semuanya tertutup sama jawaban nya yang begitu kompleks.
“Kau malah memakai metode matematika komputasi.” Yuda menghitung kembali dengan metode yang berbeda hasilnya tetap sama, “Pakai rumus praktis menghilangkan integral sama variabel nya dengan cara luas daerah antara parabola jauh lebih gampang.”
“Kau hanya malas berpikir saja,” Budi membalasnya dengan metode jauh lebih simpel lagi. “Dengan metode tabel seharusnya sudah cukup,” jelasnya.
“Kau sedang pamer kah?”
Budi hanya bisa tersenyum gak membalasnya.
Mereka kembali berdiri di depan kelas, tak terlihat sedang dipermalukan. Bu Guru malah merajuk ke mereka berdua.
“Seharusnya kalian mengambil beasiswa jurusan IPA bukan jurusan IPS. Apakah kalian gak peduli masa depan sendiri, tidak ingin menjadi kebanggaan orang tua?”
“Ya suka-suka akulah, di dunia nyata sama di dunia game, bisa bebas memilih. Anggap saja aku dan Budi mengambil tingkat kesulitan normal. Jurusan IPS kebanyakan memakai hafalan sama ingatan, bukan pemahaman seperti jurusan IPA,” sergah Yuda.
“Apakah bu guru sudah menyelesaikan persamaan dengan cara metode ku?” ucap Budi yang seolah sedang merendahkan nya.
“Palingan memakai artificial untuk mendapatkan jawabannya,” ujar Yuda terkesan sedang mengejeknya.
“Apa masalah nya memanfaatkan nya, itu bukan jadi alasan bahwa pengajar tersebut kompeten dalam ketergantungan teknologi,” Budi menyinggung perasaan guru matematika secara tersirat.
Beliau gak terima sama ucapan mereka yang bisa bermakna merendahkan profesinya ditambah kepintaran mereka telah melampaui guru tersebut, “Keluar dari kelas ku.”
Itu malah jadi bumerang mental guru tersebut. “Hore!” teriak kencang Yuda dan berjalan santai.
“Padahal pertanyaan tersebut sangat mudah,” dumel Budi yang cuma memberi jawaban dan masukkan.
Mereka berdua suka sekali dikeluarkan di mata pelajaran matematika. Terasa bebas di luar, gak banyak murid yang berlalu-lalang, karena belum waktunya istirahat.
Kami para murid melihat nya berjalan keluar dari kelas dan secara kebetulan kepergok sama guru BK lagi. Kini yang perempuan, “Kalian dikeluarkan lagi? Sekarang apa mata pelajaran nya?”
“Matematika,” ucap Budi.
Beliau mengetuk pintu untuk meminta kedua siswa tersebut diizinkan kembali untuk masuk ke dalam kelas. Tapi, Bu guru matematika yang masih belum bisa menjawab pertanyaan di papan tulis atau merasa sakit hati, karena ucapan Yuda telah dibandingkan sama dunia game yang ia katakan. Tetap tak diberikan izin untuk masuk ke kelas.
Bu guru BK mendengarkan penolakan darinya, mereka berdua dibawa lagi untuk sementara waktu ke ruang bimbingan konseling lagi.
Gak ada bosannya diomelin oleh tiga orang dewasa, Yuda masih sempat bertanya cukup keras soal makanan dan minuman, karena belum sarapan.
“Kamu harusnya bersikap lebih sopan lagi kepada orang yang lebih tua,” ucap guru BK tersebut.
Pelajaran dilanjutkan, papan tulis dihapus semuanya sama ketua kelas. Karena gak ada yang berani maju ke depan, mendekati wanita tua yang mudah tantrum tersebut. Kami juga gak terlalu menyukai metode pelajaran yang ia berikan.
“Pekerjaan rumahnya, harus bikin 50 soal secara mandiri dan dijawab sendiri.”
Semua murid komplain dari tugas yang diberikan sudah cukup banyak. Linda berani mengangkat tangan, “Harus ditulis tangan atau dicetak?”
“Semuanya tulis tangan, tidak ada boleh soal yang sama. Jika ketahuan, nilainya akan dikurangi.”
Itu yang membuat guru matematika dibenci. Ia masih belum selesai ngomong, “soalnya sesuai papan tulis yang sudah diajarkan. Jika gak ada yang mengerjakan, nilai UTS kalian akan dipotong setengah.”
“Eeeh?!”
Semuanya semakin mengeluh dan dua jam pelajaran matematika selesai dipertengah, karena sudah gak kondusif profesionalitas guru tersebut. Gak ada yang suka tugas yang ia berikan oleh kita semua. Belum lagi tugas khusus dari wali kelas untuk kami, semakin bertambah berat nantinya.
Mereka berdua kembali dari ruang BK tanpa rasa bersalah sama sekali dan membawa cemilan yang entah darimana didapatkan. Linda langsung menyamperi nya dan mengeluh.
“Gegara kalian, guru matematika tersebut memberikan tugas cukup banyak dan berat kepada kita.”
“Bagus tuh, untuk mengasah logika,” jawab Yuda yang mengambil cemilan lagi dari kantong plastik dan Budi ikutan ngambil karena merasa lapar.
“Gimana cara kalian bertanggung jawab?” para murid yang gak suka dengan jawabannya dilempar ke mereka.
“Benar, kami harus bikin 50 soal secara mandiri tidak boleh menyontek, apalagi sama dan dijawab sendiri.”
“50 soal? Cukup banyak,” jawab Yuda.
“Kalau gitu aku beri usul,” ucap Budi.
Linda penasaran dan mengambil cemilan dari kantong plastik, lalu ikut makan.
“Apa usulan mu? Jangan menambah beban tugasnya.”
“Kalau gak dikumpulkan, nilai kita akan dipotong menjadi setengah nanti.”
“Kan KKM nya 40, kalian tinggal mendapatkan nilai 80 lebih di UAS nanti,” ucap Yuda dengan santai dan menawari ku cemilan yang sedang ia makan. Aku tolak, karena ada bekas gigitannya.
“Bagi kalian dapat nilai 80 cukup mudah, apalagi seratus,” keluh mereka lagi.
“Bud, apa usulan dari mu tadi?”
“Yud, kamu harus bertanggung jawab kepada mereka dan berikan solusi juga,” singgung Budi.
“Solusi kah? Aku masih lapar, otak ku masih belum encer. Tunggu sebentar berikan aku waktu sejenak, kita bahas di dalam kelas saja, kalau ketahuan sama Killer Queen itu lagi. Habislah sudah,” sindir Yuda menyebut guru wanita tua itu dengan julukan tersebut.
Memang benar, beliau ingin selalu diperhatikan dalam mata pembelajaran dan matematika merupakan pelajaran yang penting baginya.
“Rido minta kertas HVS ke ruang BK. Pak Hendra pasti ngerti dan jelasin aja kertas tersebut untuk guru matematika,” pinta Yuda.
Kenapa harus aku? Linda malah ikut gabung sama mereka, menikmati cemilan nya. “Nanti aku traktir makan siang, Bu Airi sudah paham soal Killer Queen tersebut. Dan juga, aku sama Budi harus menemui wali kelas terlebih dahulu.”
Aku lupa mereka disuruh menghadap beliau di istirahat pertama nanti.
Nama yang ia sebutkan merupakan guru BK perempuan yang mereka temui tadi. Aku terpaksa berjalan ke sana, bukan tergiur karena mau ditraktir. Yuda memang ber-uang setelah melihat lembaran merah kemarin.
...
Jika masuk ke dalam sana, sudah hal yang lumrah bagi kita. Bu Airi menyapa ku, kenapa datang ke ruang BK.
“Sebenarnya, kelas kami mendapatkan tugas cukup berat. Budi memberikan usulan untuk menenangkan siswa/i tapi dilempar ke Yuda—“
“Terus ia lempar tanggung jawab kepada mu?” potong beliau.
Yah, kurang lebih begitu. Aku jelaskan kronologi nya dan menulis pertanyaan di atas kertas yang mereka jawab namun aku perlihatkan fotonya secara langsung, melalui ponsel ku biar langsung jelas.
“Pertanyaan integral, apalagi ini soal integral aljabar. Yang menjawab sampai penuh tersebut itu siapa?”
Aku tidak tau apa itu integral, apalagi sudah mendengar kata aljabar. Membuat kepala ku merasa pusing, mengingat materi hari ini membahas hal tersebut.
“Budi,” ucap ku singkat. Lalu menunjukkan jawaban Yuda yang secara ringkas. “Mereka sengaja mengompori emosi nya dan menginjak-injak martabat nya,” imbuh ku.
“Apakah mereka berdua tidak menghormati beliau? Sampai marah begitu? Dan memberikan tugas kepada kalian yang cukup berat.”
Bu Airi menjelaskan dan menceramahi mereka berdua. Karena ada bentuk penghormatan cukup besar, jadi semua mata pelajaran kelas dua sudah dipelajari semua sampai melewati pelajaran kelas tiga dan menyebrangi antar jurusan.
Ada sebuah kertas yang dilingkari di atas meja nya dengan pensil, aku bertanya apa isinya tersebut.
“Ini soal replika ujian Nasional tahun kemarin. Gak kusangka dalam satu jam bisa menyelesaikan 8 mata pelajaran secara langsung.”
“Ada berapa soal?” tanya ku.
“50 soal, tiap satu soalnya beda mata pelajaran yang tertulis secara acak. Mereka bisa mendapatkan inti paragraf dan informasi nya, secara singkat untuk menghemat waktu.”
Mendengarkan hal itu merupakan sudah begitu hebat, berarti mereka berdua memiliki pemahaman bahasa yang cukup tinggi dan kuat.
“Gimana dengan nilainya?” tanya ku
“Belum diperiksa lembar jawaban milik Budi, sekarang sedang—“ suara notifikasi terdengar dari alat pemindai dan mencetak. Aku pindah ke sebelah melihat apa yang ditampilkan di sana, Yuda mendapatkan nilai sempurna kalau soal pilihan ganda.
Bu Airi menyamakan dengan cara menjiplak di atas kertas jawabannya Budi dan diberikan cahaya lewat belakang, aku disuruh menyinari tak ada lingkaran hitam yang melenceng dan jawabannya sama persis.
“Jadi punya Budi, nilainya juga sama?”
“Yah. Mereka berdua sama-sama mendapatkan nilai sempurna. Kamu ke sini bukan disuruh untuk menanyakan hasilnya kan?”
“Jika aku kasih tau, mereka sudah memperkirakan dan gak tertarik sama hasilnya.”
Bu Airi sudah menebak isi pikiran mereka, “Jawaban mu benar sekali. Terus, kamu mau ngapain?”
“Bisa minta satu rim kertas HVS nya,” pinta ku.
“Itu semua buat apa?”
“Yuda cuma menyuruh ku begitu. Nanti ibu akan langsung paham dengan yang ia maksudkan.”
“Begitu,” beliau langsung paham dan berdiri. “Ibu akan menjelaskan langsung ke Bu Sumarti, soal tugas berat kelas kalian. Rido, terima kasih sudah menjelaskan kepada Ibu.”
“Terus aku jelasin nya gimana? Karena gak bawa ke mereka apa-apa?” bingung ku.
“Dua lembar jawaban ini, akan jadi pertimbangan. Dan kirim juga foto jawaban di papan tulis ke smartphone nya Ibu.”
Aku melakukan apa yang beliau suruh dan kembali ke ruang kelas tanpa membawa satu lembar kertas pun.
...
“Mana kertas nya Do?” ucap Yuda dan Linda sedang menunggu kepastian ku, Budi mungkin sudah pergi ke ruang guru.
“Kata Bu Airi gak perlu, beliau mau berbicara langsung ke Bu Sumarti soal tugas yang diberikan kelas ini,” jawab ku.
“Benarkah? Padahal kami sudah membahasnya dan memberikan solusi cukup bagus,” ucap Yuda.
“Dia pasti cukup kecewa padahal tawarannya begitu menggiurkan bagi Budi, kalau dia mendapatkan kabar buruk ...,” sengaja Linda tidak menyelesaikan ucapannya..
Tawaran apa yang diberikan pada Yuda ke Budi kali ini. Jika itu bisa membuat nya depresi, suasana hatinya langsung turun parah. Yaaah ... Atau mungkin reaksi nya biasa aja, dia memang gak terlalu semangat orangnya dalam menjalankan keseharian nya, pada awalnya ia orang yang pemurung.
“Solusi? Aku ingin tau juga,” tagih ku.
“Yuda, aku gak setuju soal itu. Budi memang merasa senang ia mendapatkan bayaran dari kau. Apakah kau ingin kelas ini ditelantarkan semua guru sekolah ini?” cerca Linda.
Oi oi oi, solusi apa yang ia berikan. Aku semakin penasaran saat tidak ada di sini dan mereka gak menjawab pertanyaan ku.
“Bukankah kalian merasa senang, setiap jam mata pelajaran matematika akan menjadi jam kosong? Setuju tidak?” seru Yuda kepada mereka.
“Setuju!” teriak seisi kelas yang menarik perhatian murid diluar dan kelas lain telah mendengar seruan tersebut.
“Tapi, Bu Airi sudah turun tangan. Solusi yang kau berikan sudah gak ada gunanya,” ucap Linda setelah mendapatkan kabar dari ku.
“Tunggu sebentar, aku ingin dengar solusi yang kau katakan barusan,” sergah ku kembali.
“Nanti aku jelaskan waktu makan siang, jadi ... traktir nya dibatalkan,” ucap Yuda.
Dan semua nya bubar, menikmati sisa waktu istirahat yang ada karena diberikan 15 menit doang. Setelah selesai masuk ke pembelajaran kedua, istirahat ini palingan buat beli cemilan ke kantin atau memakan makanan ringan.
Yuda berdiri dan mau beranjak pergi ke ruang guru, mereka sibuk sekali mondar-mandir nemui guru. Linda yang sudah makan sebagian cemilan, yang dibawa olehnya dari ruang BK. Ia mengajakku untuk pergi ke sana.
“Kalian mau pergi ke kantin? Titip belikan tiga minuman agar-agar untuk kami,” pinta Yuda.
Aku mengulurkan tangan untuk meminta uang nya, hanya Yuda yang memberikan nya, “Ini untuk bertiga?”
“Ya, buat akulah. Nanti berikan kembaliannya.” Apa maksud dari ucapan kami barusan, dia ngerjain kita lagi kah?
“Pelit,” ketus aku dan Linda. “Gunakan uang kalian sendiri,” tegasnya. Saat itu juga Budi kembali ke kelas dan memperingati sesuatu, “Yud ... Jangan pergi ke ruang guru. Mereka sedang berdiskusi tentang kita.”
“Aku gak jadi pergi nemui Bu Latifa?”
“Bu Airi sedang angkat berbicara, pasti kita diberikan perlindungan dari nya ... Lagi.”
Yuda hanya tersenyum saja, seperti pelaku kejahatan. “Apa ini? Kita mendapatkan plot armor di sekolah kah?”
“Jangan sombong gitu, anggap saja kita sedang beruntung. Bu Latifa hanya menitip pesan, jika kita buat masalah lagi, wakil kepala sekolah akan turun tangan.”
“Ngeri,” Yuda tidak mengindahkan peringatan nya. “Omong-omong kau gak titip juga ke Rido?”
“Titip apa?”
“Jajan lah, mereka berdua mau ke kantin.”
“Aku gak terlalu lapar,” jawab Budi secara langsung.
“Bohong tuh. Kau dari tadi melihat ke arah makanan mulu saat mengerjakan soal nya kan di sana?”
“Kau duluan ingin makan sendirian, jadi aku rebut terlebih dahulu.”
Hah ... Mereka malah bertengkar lagi soal makanan. Linda jadi ikut menemani ku pergi ke kantin. Ia tidak memiliki energi yang cukup untuk memisahkan mereka dan gak mau menghabiskan waktu istirahat berharga buat meladeni nya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!