Silas

0 dibaca

A

Tidak seperti namanya, Detektif Surya paling enggan menerima kabar di pagi hari.

Jika ia bisa berkhianat dari menjalani hidup yang mengharuskannya untuk menyibak tirai, membuat sarapan dan menggiring anak-anaknya mandi, Surya akan melakukannya tanpa pikir panjang.

Ia begitu membenci nama yang diberikan oleh mendiang ayahnya, yang berharap pada terbentuknya seorang manusia cemerlang. Sang ayah berharap ia dapat menginspirasi para pemuda yang bekerja untuknya.

Kebalikannya, Surya hanyalah matahari musim kemarau yang menyengat, tanpa angin, tanpa hujan, menyiksa ubun-ubun siapapun yang berani menantangnya. Setidaknya, Surya menjadi sosok yang disegani (baca: ditakuti) di tempat kerja dan memastikan sabun terbilas bersih dari tubuh anak-anaknya.

Pagi ini telepon genggamnya sudah berdering lima kali. Semuanya panggilan dari Beni, si anak buah yang ditugaskan untuk memberitakan apapun yang sifatnya mendesak.

Surya pernah berpesan, seburuk apapun sumpah serapah yang keluar dari mulutnya untuk Beni, pria muda itu harus mengabarkan perkembangan setiap kasus yang sedang mereka tangani.

Hari ini ada berita baru.

Seorang perempuan ditemukan tak bernyawa di rumahnya dengan kepala nyaris putus. Mati. Tidak ada satupun saksi mata kecuali seekor kucing hitam putih yang menjadi saksi kunci.

Setelah mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, Surya segera pergi ke TKP yang alamatnya dikirimkan oleh Beni. Lokasinya tidak begitu jauh, namun perlu jalan memutar karena kesibukan lalu lintas telah memenuhi setiap sudut kota. Ketika sampai di titik tujuan, bulu kuduk Surya langsung berdiri. Ada suasana suram yang meliputi rumah dua tingkat itu.

Saat sampai di pagar depan, garis polisi telah dipasang menyilang. Surya membungkuk, mengambil langkah lebar untuk masuk ke pekarangan rumah yang tertata rapi. Sekilas dari luar, tidak ada yang terlihat salah dari rumah ini. Kebunnya terurus rapi, lantai terasnya bersih. Ia memeriksa lubang kunci dan memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan.

Di ruang tamu, seorang pria yang beberapa tahun lebih muda dari Surya telah menunggu. Kantung matanya bergantungan hebat dan kelam, perutnya yang dulu ramping telah mulai membuncit.

“Jadi, di mana saksinya, Ben?” tanya Surya, menerima berkas dan sejumlah foto yang telah diambil oleh para bawahannya.

“Sudah diamankan, Pak,” jawab Beni. Ia menunjuk dengan dagunya, pada sebuah kotak plastik dengan dinding dan pintu berkerangka besi. Seekor kucing hitam putih duduk tenang, menjilati kaki depan dan telinganya. Matanya yang bulat dan besar menangkap sosok Surya. Ia mengeong. “Maksud saya, sudah dikandangkan.”

Surya mendekati kotak itu, menatap kembali si kucing. Sang makhluk berbulu itu mengendus di sekitar wajah Surya, menggeliat, mencoba menggosokkan wajahnya pada tangan si detektif. Suara gemerincing dari kalung yang melingkari leher si kucing memperlihatkan label nama berwarna perak dengan nama terpatri: Silas.

Lelaki itu mendesah. “Tidak ada tanda-tanda bongkar paksa di pintu depan. Bisa jadi, pelakunya adalah orang yang kenal dekat dengan korban. Tapi, kucing ini ramah pada orang asing. Tetap ada kemungkinan pelaku adalah pembunuh berantai atau maling yang kepergok tuan rumah,” Surya menjelaskan sudut pandangnya pada Beni yang dengan hati-hati mencatat setiap kata. “Sepertinya kasus ini akan lebih rumit dari perkiraan kita.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk