Runa

0 dibaca

A

Belakangan ini, sulit bagiku untuk mengendap-endap naik ke loteng, apalagi setelah Eyang memutuskan untuk menginap di rumah dalam dua minggu terakhir. Meski hubungan beliau dan mendiang Bunda tidak baik, sebagai anak tunggal yang kini yatim piatu, Eyang tidak tega membiarkanku berduka sendirian.

Kepergian Bunda adalah pukulan yang berat bagiku. Ia adalah satu-satunya orang dalam keluarga ini yang bekerja keras mencari uang, meski seringkali aku tidak tahu darimana dia mendapatkannya. Pekerjaannya serabutan. Kadang di rumah, kadang pergi seharian hingga berhari-hari membantu orang. Meski aku tidak tahu detailnya, Bunda selalu mengusahakan ada makanan tersaji di meja, meski dua kali sehari.

Ayah sudah lama pergi dari rumah, tinggal dengan istri barunya. Hubungan beliau dan Bunda yang kurang baik menjadikan Eyang sosok yang dingin kepadaku; karena beliau tidak tahu bagaimana bersikap pada cucu dari mantan menantunya. Mungkin aku mewarisi sifat tidak mau tahu urusan orang dari Eyang. Karena dalam 15 tahun pernikahan antara Ayah dan Bunda, Eyang tidak tahu bahwa Bunda adalah seorang penyihir.

Begitupun aku. Rahasia itu terkuak ketika seekor kucing hitam duduk di kursi teras rumah setelah Bunda dimakamkan. Sosok kucing itu tidaklah asing karena ia mampir ke tempat tinggal kami beberapa kali untuk meminta makan. Bunda memiliki kasih sayang lebih untuk memberikan makanan kepada kucing jalanan di sekitar kompleks.

Si kucing hitam sedang tidur dengan posisi meringkuk. Ketika menyadari kehadiranku, kepalanya yang bulat mendongak. Matanya yang berwarna keemasan bertemu denganku, mengedip beberapa kali sebelum akhirnya bicara dengan bahasa manusia.

Bila aku tidak sedang berduka, mungkin aku sudah terkencing-kencing dalam situasi itu.

“Kamu sudah pulang, Nak?” ucap si kucing dengan nada keibuan. Suaranya begitu familiar. Ekornya yang hitam dan panjang bergoyang-goyang, tegak lurus dan membentuk kait di ujungnya. “Dingin banget di luar. Ayo masuk. Aku lapar.”

Ia melompat turun dari kursi dan mengabaikan tubuhku yang kaku, tertegun pada percakapan tidak biasa ini. Menyadari wajahku yang berubah pucat, si kucing memandangku naik turun dari kepala hingga ujung kaki.

“Oh iya. Wujudku sekarang bukan manusia lagi, ya? Kamu pasti kaget. Ini Bunda, Nak.”

“Hah?!” aku berteriak. Semesta ini sudah gila. Mungkin aku yang sudah hilang akal karena syok baru saja kehilangan Bunda. “Tapi…Bunda…barusan…dari makam…”

Sosok kucing itu mendesah, lalu duduk dengan anggun di lantai. Bulunya yang lebat dan tampak halus berkilau diterpa sinar matahari. Ia membalas, “‘Bunda’ yang itu memang sudah mati. Tapi aku jiwa ibumu juga, hanya dalam tubuh berbeda. Berpindah raga adalah hal yang mudah bagi kami, terutama yang sudah hidup ratusan tahun.”

Melihatku masih berdiri kaku di halaman, kucing itu berkedip pelan. Sikapnya yang tenang memancarkan keanggunan dan kebijaksanaan yang sempat hilang dalam duniaku. Meski ukuran dan bentuk tubuhnya berbeda, ada rasa dalam diriku yang bergetar, seakan-akan menyambut kehadiran sosok yang kurindukan.

Tubuhku merosot ke lantai, duduk dengan kaki bersimpuh. Tanpa terasa, air mata mengalir dan membasahi pipiku. “Bunda…kamu benar-benar Bunda?”

Kucing itu mendekat, menyundul lembut ujung lututku dengan kepalanya. Ia duduk di hadapanku, dua kaki depannya bersandar pada pahaku.

“Iya, Sayang. Ini Bunda,” ia menjawab. Meski air mukanya tidak berubah, aku seperti merasakan limpahan kasih sayang dan kerinduan yang mengalir dari mata emasnya. “Banyak hal yang ingin Bunda ceritakan, tapi hal pertama yang ingin Bunda ucapkan adalah meminta maaf karena meninggalkanmu. Meski wujud ini bukan lagi manusia, Bunda masih ada untukmu. Sayang Bunda untukmu pun tidak berbatas. Kita masih bisa bersama-sama hingga nanti kamu menua.”

Aku mengangkat tubuh si kucing hitam dan memeluknya. Kakinya yang kecil mencoba merengkuh leherku, meski tidak dapat mendekapku sepenuhnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk