DARAH UNGU

0 dibaca

A

Cahaya matahari yang pucat menembus jendela pecah The Blind Crow, Bau arang dan logam yang ditempa dari distrik bawah tercium hingga ke dalam kamar. Suara roda kereta monster yang berat melindas batu jalanan beradu dengan teriakan para pedagang yang mulai membuka lapak di trotoar berlumpur.

Di dalam kamar, Wesi terbungkus selimut kusam dan bau apek. Satu kakinya menjuntai ke lantai, masih lengkap dengan sepatu bot yang penuh sisa tanah kering. Tangannya mendekap kantong emas hasil jual Darah kemarin di depan dada.. Di ranjang seberang, Nila duduk bersandar pada dinding kayu yang dingin. Wajahnya masih pucat, ia menyesap air dari gelas kayu, tangannya tidak lagi gemeta.

Srek Srek Srek

Suara gesekan logam dan batu asahan terdengar dari sudut kamar. Arkan mengusap bilah logam itu dengan kain, memastikan tidak ada sisa cairan abu-abu monster yang tertinggal di sela-sela ukiran kasarnya.

Kael berdiri di dekat jendela sejak fajar menyingsing. Mantelnya yang robek tersampir di bahu, matanya mengawasi barisan zirah putih Detasemen yang melintas di persimpangan jalan di bawah sana. Uap tipis keluar dari sela bibirnya setiap kali ia mengembuskan napas.

“Kau mengasah kapak itu seolah kau akan membelah gunung,” gumam Kael tanpa menoleh ke arah Arkan.

“Hanya memastikan kapaknya tidak tumpul saat kepalamu yang dibelah monster nanti,” jawab Arkan datar.

Wesi melenguh, membuka satu matanya yang masih lengket. “Berisik banget sih... orang lagi mimpi mandi emas juga.”

“Aku akan kembali ke Rusty Marrow.” Kael menoleh ke dalam kamar, matanya berpindah dari Wesi, ke Nila lalu beralih ke Arkan. “Wesi, kamu ke pasar. Lakukan yang biasa kamu lakukan.” Matanya menatap tangan Nila yang sudah tidak gemetar. “Nila, kamu...”

“Aku tau. Ke Apotek.” Nila menatap air di dalam gelasnya.

“Aku akan ke pandai besi.” Arkan menggeser kapaknya ke pundak. Serpihan kering darah monster masih menempel di sela ukiran bilahnya. “Aku butuh kapak lebih kuat.”

“Kapak hanya alat, Arkan.” Kael maju satu langkah. Lantai kayu berderit pelan di bawah sepatu botnya. “Yang kau butuhkan itu kekuatan untuk dirimu sendiri.”

Arkan menyelipkan kapaknya di balik punggungnya. “Aku duluan.” Ia berdiri, melangkah keluar kamar.

“Sudahlah, kapten.” Wesi menarik tali rambutnya dengan gigi sebelum mengikat rambut kusutnya ke belakang. “Saat ini dia belum butuh.”

Wesi berdiri, mengikat kantung emas di pinggangnya. “Baiklah, aku akan ke pasar, dan kamu Nila.” Ia menoleh ke Nila. “Setelah dari apotek, kita bertemu di pemandian dekat pasar. Kita perlu mandi.”

Nila meletakkan gelas ke atas meja, lalu ikut berdiri. “Iya, aku akan kesana.”

Wesi dan Nila berjalan keluar kamar berdampingan, meninggalkan Kael yang masih berdiri menatap tempat yang tadi diduduki Arkan.

Kael melangkah keluar dari penginapan, Matanya menatap Wesi dan Nila berpisah di persimpangan jalan. Ia menarik tudung jubahnya, berjalan pelan menuju The Rusty Marrow.

Pintu kayu terbuka pelan saat Kael melewatinya. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah puntu, menyinari debu berterbangan di udara. Lantai bar masih lengket sisa tumpahan bir semalam. Pemilik bar mengelap gelas dengan kain kusam.

Kael duduk di depan meja bar. “Apa yang baru, Klev?”

Pemilik bar meletakkan segelas air, lalu membungkuk sedikit ke depan. “Jangan panggil nama itu disini.”

Kael memutar gelas kosong di atas meja. “Sebelas tahun, dan kau masih menyembunyikan nama itu.” Kael meraih gelas, lalu meneguk airnya hingga habis.

“Yah, kehidupan sebagai Jon lebih tenang daripada harus diburu Pemerintah.”

“Kekuatanmu itu langka, cukup kuat untuk meratakan kota ini.”

Jon tertawa, perut besarnya bergetar dibalik pakaiannya. “Dengan tubuhku yang sekarang, aku hanya bisa menerbangkan satu orang. Tidak lebih.”

“Setidaknya, kau harus mencari pengganti untuk kekuatanmu.”

“Merawat orang lain seperti yang kamu lakukan pada bocah itu?.” Jon mencodongkan tubuhnya. “Aku bukan vessel yang meminum Darah seperti mu Kael. Dan aku juga belum menemukan manusia yang pantas untuk kekuatan ini.”

“Yah, ini hanya saran dari kawan lama. Keputusan tetap ada di tangan mu.” Ia menggeser gelasnya ke arah Jon. “Bisa tambahkan lagi, Klev? Maksudku Jon.”

Jon menuangkan air berwarna kuning ke dalam gelas.

“Jadi, ada berita apa?” Kael menatap air yang mengisi gelasnya.

“Sayembara besar. Kerajaan baru saja menaikkan taruhannya pagi ini. Hutan Kabut mulai bergerak ke arah jalur dagang selatan. Tiga rombongan pedagang besar hilang minggu ini, dan satu detasemen kecil ditemukan tinggal zirah kosong.”

Kael mengerutkan kening. “Zirah kosong?”

“Tidak ada mayat. Tidak ada darah. Cuma besi yang penyok,” Jon menatap Kael. “Hadiahnya emas dalam jumlah gila, izin jalur berburu resmi. Target utamanya monster abnormal. Ada rumor kalau monster itu punya kesadaran.”

Kael mendengus kecil. Uap napasnya memudar di atas gelas kuning keruh. “Monster yang berpikir adalah mimpi buruk bagi pemburu liar.”

“Setengah pemburu di kota ini sudah mulai mengemasi barang mereka,” Jon memperingatkan. “Kalau kau mau ikut, sebaiknya jangan jadi yang terakhir sampai di sana.”

Di bagian lain kota, Arkan berdiri di depan sebuah bengkel pandai besi, panasnya terasa membakar pori-pori. Bau belerang dan besi cair menyesakkan dada. Seorang pandai besi veteran dengan lengan sebesar paha sapi menatap kapak Arkan.

“Kapakmu lebih mirip alat jagal babi di desa daripada senjata pemburu liar,” ejek si pandai besi, meludah ke samping perapian.

Arkan meletakkan dua keping perak di atas meja kayu yang menghitam. “Perbaiki gagangnya, ganti tali kulit pengikatnya dengan yang paling kuat yang kau punya. Aku tidak butuh kapak yang cantik, aku butuh yang tidak patah saat menghantam tulang.”

Pandai besi itu mendengus, ia mengambil kepingan perak di atas meja. Arkan menoleh ke sekelompok pemburu di pojokan yang sedang berbisik, lalu berjalan mendekati mereka.

“Kalian bukan Vessel?” Arkan menarik kursi.

“Kalau kami Vessel, kami tidak akan ada disini untuk memperbaiki senjata.” Salah satu pemburu menoleh ke Arkan.

“Walaupun kami ingin. Mendapatkan Darah yang memiliki kekuatan tempur itu lebih sulit daripada membunuh monster Darah itu sendiri.” Pemburu lain menambahkan.

“Jadi kalian tetap ingin kekuatan Darah.” Arkan menoleh ke kapaknya yang sedang diperbaiki.

“Siapa yang akan menolak anak muda? Senjata terkuat pun tidak akan memberi kerusakan jika bertemu dengan monster Darah ungu.”

“Darah ungu?”

“Ah, sepertinya kamu masih baru sebagai pemburu ya, anak muda.”

“Dua tahun,” jawba Arkan pendek.

“Ah baiklah, sepertinya kaptenmu belum menjelaskan. Baiklah, dengarkan baik-baik.” Salah satu pemburu mencodongkan tubuhnya.

“Monster liar yang biasa meneror, hanyalah hewan yang terinfeksi Darah. Kita tidak akan mendapatkan apapun jika membunuhnya.”

“Monster Darah Merah sudah menjadi pengetahuan umum bagi para pemburu.”

“Karena Darah itu terlalu lama tanpa Vessel, kan?” sahut Arkan.

“Betul, tapi Vessel yang gagal mengendalikan kekuatannya akan menjadi Monster Darah, Darahnya berwarna Merah Marun, lebih kuat dari Monster Darah Merah.”

Arkan menelan ludah, jakunnya naik turun. Panas tungku pandai besi terasa makin menyengat di tengkuknya.

“Jika monster itu hidup terlalu lama, dia akan mempelajari dan menyerap kehidupan alam. Akan menjadi lebih kuat dan Darahnya menjadi lebih pekat.”

“Menjadi Darah Ungu?”

“Tepat. Dan senjata murahan, bahkan tidak bisa menggores kulitnya.”

Arkan menoleh kembali ke kapaknya, rahangnya mengeras, tangannya mengepal di bawah meja, uratnya menonjol.

Sementara itu, Nila melangkah masuk ke Distrik Apotek. Bau herbal segar bercampur dengan aroma amis dari berbagai organ monster yang diawetkan dalam botol kaca memenuhi udara. Seorang apoteker tua memeriksa botol ramuan stamina yang diminta Nila, jari-jarinya ungu kehitaman

“Ini botol ketiga dalam sebulan, kan?” tanya si apoteker, suaranya parau. “Kau tahu risikonya. Manipulasi itu bukan kekuatan gratis. Ia memakan esensi hidupmu sebagai bahan bakar. Semakin kuat kau memaksa elemenmu keluar, semakin dekat tubuhmu dengan kehancuran.”

Nila menatap cairan ungu di dalam botol kecil itu. Jemarinya gemetar tipis saat memutarnya. “Aku hanya butuh ini agar tidak menjadi beban.”

“Vessel yang kuat bisa menciptakan badai tanpa mengedipkan mata, Nak. Tapi mereka yang tubuhnya lemah... mereka hanya wadah yang menunggu untuk retak,” si apoteker menyerahkan botol itu.

Di sudut pasar, Wesi menyerahkan dua keping perak, lalu meraih kantong berisi daging kering dari tangan pedagang. Ia berpindah ke toko roti, menyerahkan tiga keping tembaga lalu memasukkan roti ke dalam tasnya.

Wesi berjalan menuju pemandian umum, matanya menatap Nila sudah berdiri di depan bangunan, melambaikan tangan ke arahnya. Mereka masuk ke dalam, Wesi menyerahkan dua keping tembaga, lalu mengambil handuk. Nila mengikuti dari belakang.

Wesi masuk ke dalam kolam air hangat, menyandarkan punggungnya ke tepi kolam, matanya terpejam. Nila mengikuti gerakan Wesi. Suara derap langkah terdengar mendekat, tiga pasang kaki masuk ke dalam kolam.

“Wah, Wesi. Kita bertemu lagi,” sapa pemburu lain melihat Wesi.

Wesi membuka satu matanya. Uap air hangat bergeser pelan di permukaan kolam.

“Isti? Kau masih hidup rupayanya.”

“Hampir mati tepatnya.”

Wesi menegakkan tubuhnya. Air hangat di kolam bergoyang kecil saat lututnya bergerak.

“Aku bertemu Monster. dan aku melihatnya sendiri. Temanku dipenggal, dan monster itu tidak memakan dagingnya. Dia hanya menatap kepala temanku seolah sedang... mempelajari sesuatu.”

Wesi mengerutkan kening, jari-jarinya mencengkeram tepi kolam. “Mempelajari apa?”

“Kemanusiaan,” jawab Isti pendek, suaranya gemetar.

Pupil mata Wesi melebar. Nila merendahkan tubuhnya hingga air menenggelamkan mulutnya.


Matahari mulai turun di balik tembok batu Kruispunt, menyisakan langit berwarna jingga yang tampak kotor karena asap pabrik. Satu per satu anggota tim kembali ke kamar sempit di The Blind Crow.

Arkan masuk membawa kapaknya yang kini memiliki gagang kayu ek baru yang lebih tebal, dibungkus lilitan kulit hitam, berbau minyak samak. Di belakangnya, Wesi masuk, tangannya menjinjing kantong berisi roti keras dan dendeng kering.

“Lihat ini,” gumam Kael melemparkan sebuah kain mantel tebal berwarna abu-abu kusam ke arah Arkan. “Tiga perak. Harganya gila karena semua orang mendadak butuh perlengkapan ke Hutan Kabut.”

Arkan menangkap kain itu, meraba teksturnya yang kasar. “Kau marah soal harga tapi tetap membelinya?”

“Daripada aku harus menyeret mayatmu yang mati kedinginan,” sahut Kael pendek.

Wesi melemparkan kantong makanannya ke atas meja, lalu menoleh ke Nila menuang ramuan stamina ke dalam botol minumnya. “Eh, Nila, botol ramuan itu baunya kayak bangkai anjing hutan yang direbus. Kau yakin mau meminumnya?”

Nila merengut, menutup hidungnya, lalu menenggak cairan berwarna ungu pekat itu dalam satu kali teguk. Wajahnya mengkerut, matanya berair. “Rasanya... jauh lebih buruk dari baunya, Wesi.”

Wesi tertawa kecil.

“Hutan Kabut. Kerajaan buka sayembara besar,” Kael menatap mereka satu per satu. “Emas dan izin resmi. Targetnya monster abnormal. Setengah pemburu di kota ini akan berangkat besok fajar.”

Wesi mengangguk pelan. “Aku dengar rumornya di pemandian. Mereka bilang monster di sana tidak membusuk. Mereka tidak sekadar berburu... mereka menunggu.”

Arkan berhenti memeriksa ikatan tali sepatunya. “Kalau semua pemburu di kota ini pergi ke sana, kenapa kita ikut? Bukannya itu hanya akan jadi perebutan mangsa yang kacau?”

Kael berdiri, berjalan ke arah jendela menatap barisan kereta pemburu yang mulai berkumpul di gerbang selatan. Cahaya jingga senja memantul redup di matanya.

“Karena pemburu miskin seperti kita tidak punya pilihan lain, Arkan. Kita butuh uang untuk ramuan Nila, peralatanmu, dan informasi Wesi. Dan di dunia ini, emas terbesar selalu berada di tempat yang paling dekat dengan kematian.”

“Tapi. Jarak Hutan kabut itu satu bulan perjalanan berkuda. Dan kita berjalan kaki.” sahut Arkan.

“Karena itu, sebelum sampai Hutan Kabut. Kau bisa memikirkan kembali keras kepalamu soal kekuatan Darah.”

Arkan menatap kapaknya, tangannya menggenggam lebih erat.


Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk