Gedoran di pintu depan The Rusty Marrow terdengar keras. Suara teriakan prajurit Detasemen memerintahkan semua orang tiarap mulai menembus dinding kayu ek yang tebal. Beberapa pemburu liar bergerak ke balik bayangan pilar, pemburu lain menenggak habis bir mereka lalu melompat lewat jendela samping.
Pemilik bar menarik tuas di bawah meja kasir. Rak botol minuman yang berdebu bergeser perlahan, menyingkap sebuah lorong gelap yang sempit.
“Cepat masuk,” Matanya melirik ke arah pintu depan. “Kalau mereka menemukan pemburu tanpa izin di sini, tempatku akan dibakar habis.”
Kael mengangguk. Ia menarik bahu Arkan, mereka masuk ke dalam lorong, bau limbamb dan darah lama bercampur di udara lorong.
Mereka keluar ke gang belakang distrik pemburu, gerimis tipis membahasi rambut mereka. Obor-obor di dinding luar sudah dipadamkan para penghuni gang.
Arkan berjalan paling belakang, tangannya menggenggam gagang kapak. Belasan kepala pemburu liar bergerak cepat di depan mereka, Kepala tertunduk, jubah kotor mereka menyapu lumpur.
Arkan menatap seorang Vessel tua bersandar di dinding lembap, memuntahkan darah ke dalam parit. Di sampingnya, seorang perempuan mengikat pembalit di bahu dengan gigi, satu lengannya terpotong bersih hingga bahu. Seorang anak kecil berlari melewati mereka, mendekap dua botol penyegel kosong.
Langkah mereka terhenti di bangunan kayu tiga lantai. Wesi menatap papan nama The Blind Crow, senyum lebar menampakkan barisan giginya. Bau kayu lembap dan obat luka yang tajam menusuk hidung saat mereka melangkah masuk. Suara tikus mencicit terdengar di balik sudut dinding kayu lobi.
Kael melempar tiga keping perak ke atas meja kayu yang lengket. Pria bungkuk dengan mata keruh melirik sekilas ke arah Arkan yang berlumuran darah, lalu menyerahkan kunci besi berkarat.
Kael meraih kunci, lalu berjalan menuju tangga ke lantai dua. Mereka berhenti di depan kamar tanpa nomor.
Wesi berlari ke arah ranjang tua. “Akhirnya bisa tidur dalam kamar lagi.” Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang tampa melepas sepatu bootnya.
Nila berjalan pelan ke ranjang dekat dinding, ia merebahkan diri, meringkuk memeluk mantelnya erat-erat, tubuhnya sedikit gemetar.
Arkan berjalan ke sudut kamar, meraih ember air keruh lalu membuang isinya lewat jendela kamar yang pecah. Ia meletakkan kembali ember di sudut kamar, lalu duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang Nila. Ia mengambil sepotong kain kasar, mulai menggosok sisa cairan abu-abu dari mata kapaknya
Kael menarik satu-satunya kursi kayu di kamar, meletakkannya tepat di depan pintu yang terkunci, lalu duduk diam menatap kegelapan.
Kesunyian mengisi kamar. Kelopak mata mereka perlahan turun, hingga menutup sepenuhnya.
Lilin di atas meja kecil mulai meleleh, cahayanya bergoyang tertiup angin yang masuk lewat celah jendela. Suara petir memyambar menyentak Kael dari tidurnya. Pupil matanya menyempit, kukunya memanjang. Ia menatap ketiga anggota kelompoknya dalam diam. Pupil matanya perlahan membulat, kuku tajamnya kembali normal.
Kael merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan botol kaca berisi Darah merah hasil buruan semalam. Matanya menatap cairan itu berdenyut pelan di dalam botol.
Derap kaki kuda di depan penginapan menggetarkan bangunan. Arkan, Nila dan Wesi terbangun, meraih senjata mereka.
Kael menoleh ke Arkan yang baru terbangun, menyodorkan botol itu ke depan wajahnya. “Kesempatanmu masih ada. Kau melihat sendiri apa yang terjadi di jalan tadi. Manusia biasa hanyalah mangsa.”
Arkan meletakkan kapaknya di samping tubuhnya. Ia menatap denyutan merah di dalam botol itu. “Aku masih manusia.”
“Kau manusia yang bisa mati hanya karena satu kesalahan kecil,” balas Kael. “Dan saat itu terjadi, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.”
Suara air hujan di atas atap kayu terdengar samar. Kael menoleh ke arah Wesi yang terbaring menatap langit-langit.
“Kau mau ini?” tanya Kael.
Wesi menyeringai tipis tanpa menoleh. “Bukan itu yang kuincar, Kapten. Darah rendahan begitu cuma bikin perut mulas.”
Wesi bangun dari tidurnya, lalu merogoh tas besarnya. Ia mengeluarkan buku tebal, sampulnya terbuat dari kulit monster yang sudah mengelupas. Jemarinya membuka kancing buku itu perlahan, mengelus sampul lalu membaliknga. Bau kertas tua yang lembap memenuhi ruang kamar, bercampur dengan aroma amis samar dari bercak darah kering yang menempel di pinggiran halaman.
“Darah tanpa bentuk itu kualitas rendah.” Jari telunjuknya yang kasar menelusuri sketsa tinta hitam tentang gumpalan cairan yang memiliki serabut-serabut halus seperti saraf. “Catatan veteran bilang, semakin hidup sebuah Darah, semakin ia memiliki struktur. Lihat ini.”
Arkan mencodongkan tubuhnya ke depan, menatap gambar sebuah jantung yang dibungkus oleh akar-akar hitam.
“Darah bukan sekadar cairan bertenaga,” lanjut Wesi. “Darah Merah tanpa bentuk biasanya kekuatannya lemah. Kita juga tidak tahu kekuatan darah itu.
Wesi menoleh ke Kael. “Kau masih ingat saat kita melawan monster Direwolf?”
Kael berdiri. Wajahnya yang pucat tampak kaku di bawah bayangan lilin. Matanya menatap dela kecil menghadap ke gang belakang.
“Saat monster itu mati. Darahnya berubah menjadi bentuk taring, dan kau menelannya,” lanjut Wesi.
Mata Arkan membesar. “Kalian pernah melawan Direwolf?”
Wesi mengangkat kepala. “Pernah, tapi hampir mati.”
Arkan menoleh ke Kael, lalu kembali ke Wesi.
Nila mendesah pelan dari sudut ranjang. “Masih belum menyerah mencari Darah itu, Wesi?”
“Kekuatan itu berguna untuk berpindah cepat. Tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh yang melelahkan.” Wesi menatap satu gambar darah berbentuk kabut.
“Simpan buku sialanmu itu,” potong Kael. Ia menyambar botol Darah merah dari atas meja. “Arkan menolak, dan kau hanya bermimpi soal Darah yang tidak ada. Kita butuh emas untuk ramuan stamina Nila dan perbaikan zirah kita yang hancur.”
Kael menarik tudung jubahnya rendah, menutupi wajahnya. Ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Arkan dan yang lainnya.
“Kalian sudah bersama bahkan sebelum tim ini ada?” Arkan menatap pintu yang baru menutup.
“Yah, begitulah.” Wesi merebahkan kembali tubuhnya, menatap garis panjang di kayu langit-langit kamar.
Kael melangkah keluar penginapan, pupil matanya menyempit, kuku tajamnya ia masukkan ke dalam jubah.
Ia berjalan ke area utara Kruispunt. Matanya menelusuri jalanan batu granit yang tertutup salju di depannya. Sigil beruang berdiri di bendera hitam berkibar pelan. Penjaga berzirah putih menggenggam tombak berkilau berdiri dengan jarak beberapa meter.
Kael berhenti di depan Apotek Militer III. Bangunan batu putih tersusun rapi mejulang melebihi pohon cemara. Seorang pria berdiri bersandar pada pilar, mengenakan zirah perak ringan yang pas di tubuh, bekas luka sayatan melintang di pipi kirinya.
“Masih hidup, Kael?” pria itu menyapa, suaranya datar.
“Cuma keberuntungan, Zura” jawab Kael pendek. Ia berdiri di bawah bayangan pilar.
Mata miring Zura menatap penampilan Kael. “Kau sebenarnya punya pangkat di Detasemen kalau mau kembali. Kau masih menyeret manusia normal itu bersamamu? Siapa namanya? Arkan?”
Kael mengeluarkan botol Darahnya. “Dia lebih manusia daripada kebanyakan Vessel yang kalian pelihara di kerajaan.”
Zura mendengus, lalu mengambil botol dari tangan Kael. Ia mengangkat botol Darah ke arah cahaya lampu, memutarnya perlahan. “Beast Blood murni. Darah Merah. Masih segar,” gumamnya. “Aku bisa memberimu sepuluh keping emas untuk ini. Harga standar militer.”
Mata Kael bergerak mengawasi sekitar.
“Kau tahu, kalau saja ini Darah Marun, aku berani bayar tiga puluh,” lanjut Zura, merogoh kantong kecil di pinggangnya.
“Darah Ungu?” tanya Kael menoleh ke arah Zura.
“Darah dari Vessel Expert? Lima puluh emas. Itu pun kalau kau bisa membunuh mereka tanpa merusak jantungnya.” Zura menatap Kael. “Dan kalau kau punya Darah Hitam Pekat dari keturunan murni atau entitas purba...” Ia menjeda. “...aku bisa memberikanmu seratus emas tanpa banyak tanya. Tapi tentu saja, pemburu liar sepertimu hanya sanggup menangkap anjing hutan.”
Kael menatap lurus ke mata Zura. “Siapa pun yang bisa membunuh pemilik Darah hitam pekat, dia bukan pemburu lagi. Dia kiamat.”
Zura berhenti memeriksa botol, menurunkan tangannya perlahan, menatap Kael. Ia meletakkan kepingan emas pertama ke telapak tangan Kael.
Kael memasukkan sepuluh keping emas ke dalam kantong kulit, lalu mengikatnya. Ia berbalik, berjalan menjauh.
“Hey, Kael,” teriak Zura. “Jangan sampai mati karena melindungi manusia itu.”
Kael terus berjalan, menarik tudung jubahnya, mengabaikan ucapan Zura.
Pintu kamar tebuka perlahan, Kael menatap sumbu lilin tenggelam cairan panasnya. Ia melempar satu keping emas ke perut Wesi yang setengah mengantuk, satu ke tangan Nila yang langsung terjaga, dan satu ke arah Arkan.
Logam kuning itu berdenting di lantai kayu, kilaunya terpantul dari cahaya lilin. Wesi menyeringai lebar, menggigit kepingan itu dengan giginya. Nila menatap koin di telapak tangannya.
Kael melempar satu keping emas tambahan ke pangkuan Nila. “Beli ramuan stamina besok di distrik apotek. Kau tidak bisa terus-terusan pingsan dan menjadi beban setiap kali kita harus menggeser batu atau lari dari monster.”
Nila mengangguk pelan, jemarinya menggenggam dua koin itu erat-erat hingga buku jarinya memutih.
“Harga Darah sedang naik di pasar pusat,” Kael duduk kembali di kursinya, menyandarkan kepala pada dinding kayu yang dingin. “Militer sengaja membiarkan beberapa wilayah di selatan menjadi sarang monster. Mereka butuh pasokan Darah yang lebih pekat, lebih tua.”
Wesi menutup buku ensiklopedianya. “Berarti kita bukan satu-satunya yang mencari sesuatu yang besar.”
Gerimis berubah menjadi hujan lebat yang menghantam atap kayu penginapan, suara gaduh atap kayu meredam suara-suara lain. Api obor menyala satu persatu di tiang-tiang bangunan. Kael berdiri di dekat jendela, ia menatap ke bayangan patroli Detasemen yang bergerak teratur di bawah cahaya obor yang terlindung tudung besi.
Dua orang pemburu liar berhenti tepat di bawah jendela kamar mereka untuk berteduh dari hujan yang makin deras.
“Kau lihat monster yang mati di lembah itu?” suara pertama terdengar gemetar, hampir tercekik.
“Bangkainya beda,” sahut suara kedua, lebih rendah. “Tubuhnya tidak membusuk seperti monster biasa. Tidak ada bau amis Darah yang menyengat. Dan matanya... aku berani sumpah, matanya jernih seperti manusia sebelum kepalanya dipenggal.”
Arkan membuka matanya perlahan. Ia menatap langit-langit kayu yang berjamur, mendengarkan detak jantungnya sendiri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!