“Kenapa?”
Vanessa nggak langsung ngejawab.
Matanya terpaku lurus menatap layar monitor kecil di kameranya.
“Van?”
“Jangan gerak, Ray.”
Tubuh Ray seketika membeku kaku di tempat.
“Kenapa emangnya?”
Vanessa mencondongkan kepalanya lebih dekat ke layar monitor.
Lalu pandangannya terangkat, melewati bahu Ray, menatap lurus ke ujung lorong yang temaram.
Raut mukanya mendadak berubah drastis.
“Aneh banget...”
Ray langsung spontan muterin badannya ke belakang.
Nggak ada apa-apa di sana.
Cuma lorong panjang berdebu yang sepi.
Beberapa kursi kayu reyot yang udah patah kakinya.
Sama kantong kresek hitam yang tergeletak di dekat tembok.
“Ada apaan sih, Van?”
Vanessa kembali melirik monitor kameranya dengan tatapan tegang.
“Ada orang di sana.”
Ray refleks mundur dua langkah menjauhi lorong.
“Di mana?”
“Di ujung lorong itu.”
Ray melotot lagi ke arah lorong.
Tetap kosong melompong.
“Vanessa...”
“Hm?”
“Jangan nakut-nakutin.”
“Serius, Ray.”
“Halah, bohong banget.”
“Ray, suwer deh.”
“Kagak percaya.”
“Cewek itu bener-bener lagi berdiri di sana, Ray!”
Ray menatap lorong hampa itu, lalu menoleh lagi ke arah Vanessa dengan bulu kuduk yang mulai meremang.
“Cewek?”
Vanessa mengangguk pelan dengan wajah tegang.
“Rambutnya panjang sepinggang.”
“Vanessa, stop...”
“Pake baju putih terusan.”
“Udah, Van, jangan diterusin!”
“Dia lagi natap lurus ke arah kita...”
“Vanessa, sumpah ya!”
“Dia mulai melang—“
“VANESSAAA!”
Tiba-tiba...
Vanessa langsung meledak ketawa ngakak sampai badannya bungkuk-bungkuk.
Ray nyaris aja ngelempar dua butir sisa telur rebus di tangannya tepat ke muka cewek itu.
“BENER-BENER YA!”
Vanessa memegangi perutnya yang kram saking gelinya.
“Sumpah... ya ampun... mukamu lucu banget, Ray! Pucet kayak mayat!”
“Aku cabut pulang sekarang juga. Bodo amat!”
“Eh, jangan dong!”
“Aku serius mau pulang!”
“Scene enam kita kan belum kelar syuting, Ray!”
“BODO AMAT!”
“Nanti aku beliin ayam geprek deh!”
Langkah kaki Ray yang baru mau nyamber tas ranselnya langsung terhenti di udara.
Vanessa menegakkan badannya sambil menyeringai licik.
“Ayam geprek cabe lima belas.”
Ray menatapnya dengan pandangan menyipit penuh perhitungan.
“Pake nasi anget?”
“Pake nasi sebakul, es teh manis jumbo sekalian.”
Ray perlahan meletakkan kembali tasnya ke lantai.
“Oke. Deal.”
Vanessa tersenyum penuh kemenangan.
Karya seni agung memang selalu menuntut pengorbanan martabat.
Proses syuting pun berlanjut.
Satu jam kemudian, Ray udah berdiri lagi di ujung lorong sesuai instruksi blocking, sementara Vanessa sibuk mengutak-atik fokus lensa.
“Udah siap?”
“Siap.”
“Action!”
Ray melangkah masuk ke dalam bingkai kamera.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
“Cut!” seru Vanessa.
Ray menghentikan langkahnya, mendesah lelah. “Apaan lagi sekarang?”
Vanessa kembali menatap monitor kameranya dengan kening berkerut dalam.
“Kamu gerak.”
“Ya kan tadi kamu nyuruh aku jalan.”
“Bukan.” Vanessa menggeleng pelan, ekspresinya tampak bingung. “Bukan kamu maksudku.”
Ray terdiam seketika.
Instingnya langsung menangkap ke mana arah drama murahan ini bakal bergulir.
“Jangan mulai lagi ya, Van.”
Vanessa mendongak dari monitor. “Apaan?”
“Jangan pake trik nakut-nakutin setan yang tadi lagi. Nggak mempan dua kali.”
“Aku nggak lagi bercanda, Ray.”
“Tadi kamu juga ngomong gitu!”
“Tadi kan emang sengaja nge-prank!”
“Nah, itu persis kalimat pembelaan orang yang mau ngulangin lelucon garingnya!”
Vanessa memutar layar monitor kecil di samping kameranya ke arah Ray.
“Nih, liat sendiri kalau nggak percaya.”
Dengan rasa malas bercampur sedikit parno, Ray melangkah mendekat.
Vanessa menunjuk jarinya ke layar.
“Tuh, di situ.”
Ray memicingkan matanya menatap layar LCD kamera.
Lorong kosong.
Kursi reyot.
Tembok kusam mengelupas.
Kantong kresek hitam.
Nggak ada benda mencurigakan lain.
“Liat nggak?” tanya Vanessa penasaran.
“Liat apaan coba?”
“Cewek itu.”
“Di sebelah mana?!”
“Tuh, di situ.” Vanessa mengetuk sudut layar dengan ujung kukunya.
Ray mencondongkan kepalanya sampai hidungnya nyaris nempel layar.
“Van, itu kantong kresek sampah.”
“Bukan kreseknya.”
“Kursinya?”
“Di sebelah kursinya.”
“Temboknya?”
“Ceweknya, Ray!”
“Kagak ada cewek di situ, Vanessa!”
Vanessa menoleh menatap wajah Ray lekat-lekat.
Anehnya... kali ini nggak ada senyum jail di bibirnya.
Nggak ada gelagat mau ketawa ngakak kayak tadi.
Ekspresinya cuma... bingung luar biasa.
“Masa kamu beneran nggak bisa liat dia sih, Ray?”
Ray kembali melirik ke layar monitor kamera.
Tetap kosong.
“Ya gimana aku mau liat, orang emang nggak ada siapa-siapa di situ.”
“Jelas-jelas dia lagi berdiri di situ kok.”
“Vanessa, please deh...”
“Rambutnya panjang. Pake baju putih terusan.”
Ray menoleh menatap mata ceweknya dengan tatapan menyelidik.
“Kamu lagi ngerjain aku lagi kan?”
Untuk beberapa detik, Vanessa nggak langsung menjawab.
Lalu ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Mungkin iya, mungkin nggak.”
Ray menghembuskan napas lega.
Nah, kan.
Meski entah kenapa, senyum Vanessa kali ini kelihatan sedikit dipaksakan.
Tapi Ray nggak terlalu memikirkannya.
Jelas banget dia sengaja ngarang cerita setan biar suasana syuting film horornya makin dapet feel-nya.
Ray mendorong pelan monitor kamera itu kembali ke posisi semula.
“Lucu banget. Sangat berjiwa komedian.”
“Emang aku berbakat bikin orang ketawa kok.”
“Bisa kita selesaikan adegan ini sekarang?”
“Bisa banget, Tuan Aktor Utama.”
“Jangan panggil aku pake panggilan itu ya!”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!