Out of Frame

0 dibaca

A

Definisi “aku butuh kamu” menurut kamus bahasa Vanessa ternyata beda seratus delapan puluh derajat dari apa yang ada di otak Ray.

Tadinya Ray mikir tugasnya paling cuma nemenin dia nulis naskah atau dengerin dia curhat soal plot hole.

Ternyata definisi Vanessa mencakup:

Jadi aktor utama.

Jadi kuli angkut barang.

Nyari lokasi syuting.

Megangin lampu reflektor.

Beliin konsumsi.

Dan puncaknya: adegan mati konyol di depan kamera.

“Aku beneran nggak bisa akting, Vanessa.”

“Tapi kamu punya muka kan?”

Ray melongo menatapnya. “Ya punya lah, emangnya aku apa?”

“Nah, aku butuh orang yang punya muka.”

“Semua manusia di muka bumi ini punya muka, Vanessa!”

“Persis! Berarti kualifikasi kamu udah terpenuhi seratus persen.”

“Cara castingmu bener-bener merusak industri perfilman dunia ya.”

“Emangnya kamu pernah ikut casting film beneran?”

“Aku sering nonton film!”

“Nenekku juga sering nonton sinetron Indosiar tuh.”

“Ya udah ajak nenek kamu juga.”

Vanessa pura-pura mikir sejenak. “Nggak bisa. Nenekku jadwal arisannya padat tiap Sabtu.”

Ray memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. “Hebat bener nenekmu.”

Tiga hari kemudian, Vanessa mengirimkan sebuah file gambar ke ponsel Ray.

Poster film.

*OUT OF FRAME*

*Written & Directed by Vanessa Adeline*

*Starring Ray Pratama*

Ray menatap namanya yang terpampang jelas di poster itu selama beberapa detik tanpa kedip.

Lalu dia langsung membuka ruang obrolan mereka dengan emosi membuncah.

*Ray: AKU KAN UDAH BILANG AKU NGGAK MAU IKUTAN!*

*Vanessa: selamat ya atas debut film perdananya ❤️*

*Ray: hapus namaku sekarang juga.*

*Vanessa: gabisa*

*Ray: kenapa ga bisa?!*

*Vanessa: demi integritas seni sutradara.*

*Ray: INTEGRITAS SENI APAAN DAH!*

*Vanessa: jangan lupa hari sabtu pake sepatu kets item ya ganteng 😘*

Ray membanting ponselnya ke kasur.

Dua detik kemudian diambil lagi.

*Ray: aku benci bgt sama kamu.*

Sabtu pagi yang cerah, Vanessa bener-bener menyeret Ray ke sebuah gedung tua terbengkalai di daerah pinggiran kota.

Ray menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang berkarat.

Cat dinding bangunannya udah mengelupas parah di sana-sini.

Sebagian jendelanya bolong dan cuma ditutup triplek lapuk.

Di sisi kanan, lumut dan tanaman rambat liar udah menguasai hampir seluruh tembok, bikin suasananya persis lokasi uji nyali acara televisi misteri.

“Nggak. Aku putar balik sekarang juga,” tolak Ray mutlak.

Vanessa terus melenggang maju tanpa rasa takut.

“Van, kamu ada izin resmi buat masuk ke sini nggak sih?” tanya Ray panik menyusul langkahnya.

Vanessa menoleh ke arahnya.

Ray menatap mata Vanessa penuh selidik.

“Vanessa...”

“Ada izin kok.”

“Izin dari siapa?”

“Dari Pak Satpam yang jaga pos depan.”

Ray mengerjap bingung. “Oh...”

“Kenapa ‘oh’?”

“Aku kira kamu mau ngajak aku nerobos masuk secara ilegal kayak kriminal buronan.”

Vanessa langsung masang tampang tersinggung yang dramatis.

“Aku ini pembuat film profesional ya!”

“Profesional apaan, bikin posternya aja lebih dulu daripada naskahnya!”

“Pemasaran di awal itu penting, Ray!”

Mereka melangkah masuk ke lobi gedung yang remang-remang dan berdebu.

Seorang bapak satpam paruh baya yang lagi ngopi di pos jaga menunjuk ke arah tangga beton.

“Lantai dua aman ya, Dek,” pesan Pak Satpam ramah. “Tapi lantai tiga jangan dinaikin ya. Ditutup.”

Mendengar itu, Ray perlahan menolehkan kepalanya ke arah Vanessa.

“Jangan mulai ya.”

Dan benar saja, kedua mata Vanessa langsung berbinar-binar penuh ambisi terlarang.

“Lantai tiga...” bisiknya penuh minat.

“KAGAK ADA LANTAI TIGA-LANTAI TIGAAN!” sergah Ray cepat.

“Tapi, Ray...”

“Aku bilang nggak ya nggak!”

“Pak Satpam barusan secara spesifik nyebutin lantai tiga lho!”

“ITU PERINGATAN BAHAYA, BUKAN REKOMENDASI LOKASI SYUTING!”

Untung saja buat keselamatan jiwa Ray, pintu akses menuju lantai tiga digembok rantai besi berkarat yang super tebal.

Ray menganggap gembok itu sebagai bentuk perlindungan langsung dari malaikat pencatat nyawa.

Sedangkan Vanessa menganggapnya sebagai hambatan produksi yang sangat tidak berjiwa seni.

Untuk proyek film perdananya ini, logistik bawaan Vanessa bener-bener bikin geleng-geleng kepala.

Dia bawa tas kamera ransel besar.

Tripod besi yang beratnya kayak barbel.

Dua lampu sorot portabel.

Tiga buku catatan bersampul cokelat.

Satu kantong kresek penuh kabel gulung.

Satu botol sirup merah pekat buat darah palsu.

Dan... satu wadah Tupperware berisi enam butir telur rebus.

Ray mengangkat kotak makan plastik itu dengan tatapan tak percaya.

“Maksudnya apa nih?”

“Bekal makan siang. Bagus buat stamina.”

“Cuma ada enam butir?”

“Iya. Kamu boleh makan dua.”

Ray menggeledah sisa kantong belanjaan yang tergeletak di lantai.

“Air minumnya mana?”

Gerakan Vanessa yang lagi masang kamera ke tripod langsung membeku.

“Air apa?”

“Air putih botol kek.”

“Oh iya ya...”

“Kamu bawa sebotol darah palsu tapi lupa bawa air minum?!”

“Darah palsu kan krusial buat adegan klimaks!”

“Bertahan hidup juga krusial!” keluh Ray.

Alur film yang mau mereka bikin sebenarnya sederhana banget.

Ray berperan sebagai anak SMA yang lagi nyari adik perempuannya yang hilang misterius di dalem gedung kosong.

Sepanjang pencarian, karakter yang dimainkan Ray terus-terusan ngeliat ada bayangan cewek misterius berdiri diam di ujung lorong gelap.

Tapi tiap kali dia mau nunjukin ke orang lain, bayangan itu langsung lenyap.

Dan tiap kali dia ngecek rekaman kameranya, bayangan itu nggak pernah tertangkap lensa.

“Oke,” instruksi Vanessa dari balik monitor kamera. “Sekarang kamu jalan pelan-pelan ke arah pintu ujung.”

Ray mulai melangkah.

“Lebih lambat dikit, Ray.”

Ray memperlambat langkah kakinya.

“Terlalu lambat, kayak siput!”

“Yang natural dong jalannya!”

“DARI TADI UDAH JALAN BIASA KAYAK MANUSIA NORMAL!”

“Ray, please deh, kita lagi ngejar cahaya matahari ini!”

Ray melirik jam tangannya. Baru jam sebelas siang. Matahari lagi terik-teriknya di atas ubun-ubun.

Anehnya, Vanessa selalu berubah jadi sosok yang berbeda seratus delapan puluh derajat kalau udah berdiri di balik lensa kamera.

Bukan berarti dia jadi pendiam—sayangnya nggak sama sekali.

Tapi dia jadi luar biasa fokus.

Matanya jeli banget nangkep hal-hal detail terkecil.

Bayangan tiang yang jatuh di sudut yang salah.

Posisi kursi yang bergeser dua sentimeter dari adegan sebelumnya.

Caranya Ray menarik bahunya pas lagi panik.

Sampai suara knalpot brong motor yang lewat di jalan raya nun jauh di sana yang bikin audionya bocor.

Dia cuma butuh ngeliat hasil rekaman sekali buat langsung tahu bagian mana yang harus diulang.

“Cut. Nggak dapet.”

“Kenapa lagi?” keluh Ray lemas.

“Ulangi sekali lagi.”

“Alasannya apaan?”

“Tadi mata kamu ngelirik ke lensa kamera.”

“Mana ada aku ngelirik kamera!”

“Kamu ngelirik, Ray!”

“Aku ngeliat ke kusen pintu di sebelah kamera ya!”

“Sorot mata kamu kelihatan bersalah banget tadi.”

“SOROT MATAKU BERSALAH DARI MANANYA?!”

“Ulangi dari tanda awal, cepet!”

Ray mendengus kesal sambil melangkah gontai kembali ke titik tanda selotip di lantai.

Pada take berikutnya, Ray sengaja memperbaiki tatapannya berdasarkan arahan Vanessa.

“Nah. Yang tadi lebih bagus,” puji Vanessa.

Sepanjang hari itu, mulutnya nggak berhenti ngedumel dan ngeluh pegal.

Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam...

Ray suka banget ngeliat Vanessa pas lagi kerja kayak gini.

Ini bukan lagi Vanessa yang cuma bisa berkhayal soal film absurd di dalem kulkas.

Ini beneran nyata.

Cewek itu berdiri tegap memegang kamera dengan mantap.

Naskah lecek di tangannya penuh dengan coretan tinta stabilo warna-warni.

Dan seorang aktor amatir berwajah tertekan yang berhasil dia bujuk buat kerja keras cuma dengan imbalan dua butir telur rebus.

Tapi senyum di wajah Vanessa...

kelihatan bahagia banget.

Bener-bener bahagia yang memancar dari jiwa.

Mereka baru saja memasuki separuh adegan berikutnya pas tiba-tiba Vanessa menurunkan kameranya perlahan.

“Tunggu bentar...” bisik Vanessa tercekat.

Langkah Ray langsung terhenti di tengah lorong.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk