Keesokan harinya, mereka lanjut ngecek hasil rekaman syuting di ruang tengah rumah Vanessa.
Ray duduk lesehan di karpet sambil ngunyah ciki kentang, sementara Vanessa sibuk menggeser klip video di software editing laptopnya.
Hampir dua puluh menit berlalu dalam keheningan, hanya diiringi suara ketikan keyboard dan klik mouse.
Sampai tiba-tiba...
“Ray.”
“Nggak.”
Vanessa menoleh ke arahnya. “Aku kan belum ngomong apa-apa ya!”
“Pasti mau bahas soal setan lorong tadi kan?”
Jeda beberapa detik.
“...Iya sih.”
Ray kembali mengunyah cikinya dengan santai.
“Ogah. Nggak mau denger.”
“Liat bentar aja, Ray.”
“Kagak.”
“Ray, sebentar aja ih!”
“Aku lagi asyik makan ciki ini.”
“Dia ada di dalem video ini beneran!”
“Bilangin ke setannya, aku lagi sibuk ngunyah.”
Vanessa langsung menekan tombol spasi di keyboard untuk menghentikan putaran video.
“Ray, seriusan deh, liat dulu sini.”
Ada nada getar yang aneh di suara Vanessa kali ini—bukan nada jahil, melainkan sesuatu yang terdengar mendesak.
Hal itu bikin Ray akhirnya meletakkan bungkus cikinya dan merangkak mendekat ke meja laptop.
Vanessa menunjuk jarinya ke layar monitor.
“Tuh. Liat di situ.”
Ray memicingkan mata menatap bingkai video yang di-pause.
Kosong.
“Van...”
“Liat yang bener dong!”
“Udah melotot ini mataku.”
“Posisi dia makin deket sekarang.”
Kunyahannya Ray mendadak berhenti. “Hah? Maksudnya?”
“Tadi siang kan posisinya masih di deket kursi ujung.”
Vanessa menunjuk ke sudut gambar.
“Sekarang dia udah pindah tepat di belakang punggung kamu.”
Ray menatap layar itu lekat-lekat.
Dia mengklik tombol zoom in sampai dua ratus persen.
Nggak ada siapa-siapa.
Cuma tumpukan piksel kasar, tekstur tembok berlumut, dan sosok Ray yang lagi berdiri menghadap pintu.
“Kagak ada orang di situ, Vanessa.”
“Matamu minus ya?!”
“Mata kamu kali!”
Vanessa langsung masang tampang cemberut yang emosi.
“Jelas-jelas dia lagi berdiri tepat di belakang kamu gitu kok!”
Secara refleks... Ray langsung menolehkan kepalanya ke belakang pundaknya sendiri di kamar itu.
Detik berikutnya, Vanessa langsung menyemburkan tawanya sampai terbahak-bahak.
“TUH KAN! BENERAN NENGOK KE BELAKANG!”
“DASAR CEWEK SINTING!”
Ray langsung menyambar bantal sofa dan melemparnya telak ke muka Vanessa.
Vanessa terguling ke karpet sambil tertawa terpingkal-pingkal tanpa henti.
“Katanya tadi kamu nggak percaya sama hantu!”
“YA MEMANG NGGAK PERCAYA!”
“Terus kenapa barusan nengok ke belakang?!”
“INSTING HEWANI ITU NAMANYA!”
Tawa Vanessa makin meledak lepas sampai mukanya memerah padam.
Melihat tingkah absurd ceweknya itu, Ray akhirnya nggak bisa menahan diri buat nggak ikutan tertawa.
“Beneran udah rada geser ya otaknya.”
“Biarin, yang penting seru.”
Untuk beberapa saat, suasana di kamar itu kembali hangat dan penuh tawa.
Tapi kemudian... tawa Vanessa mereda perlahan.
Dia kembali duduk tegak menghadap laptopnya.
Matanya kembali menatap lurus ke arah garis waktu video editing.
“Tunggu sebentar...” gumam Vanessa pelan.
Ray yang masih tersenyum sisa ketawa bertanya santai, “Apaan lagi sekarang?”
Vanessa mendekatkan wajahnya sangat dekat ke layar kaca.
Sorot matanya mendadak berubah drastis—dingin dan tegang.
“Tadi posisinya nggak di situ.”
Senyum di bibir Ray perlahan memudar. “Apanya?”
“Tadi pas di lorong.”
Vanessa menunjuk ke sudut layar dengan jari yang sedikit gemetar.
“Tadi siang dia masih di dekat kursi. Tapi pas di take yang ini... dia pindah ke sini.”
“Vanessa, udah dong leluconnya...”
“Ray, aku beneran nggak lagi bercanda.”
Ray mengamati kembali bingkai video itu dari dekat.
Sumpah demi apa pun, di matanya tempat itu benar-benar kosong melompong.
“Coba kamu screenshot,” pinta Ray.
“Buat apa?”
“Screenshot layarnya sekarang.”
Vanessa menekan tombol tangkapan layar.
“Masih kelihatan di screenshot-nya?” tanya Ray.
“Masih. Jelas banget.”
“Kirim filenya ke WhatsApp aku sekarang.”
Vanessa mengirimkan gambar itu.
Ponsel di tangan Ray bergetar pelan.
Ray membuka gambar itu di layar ponselnya sendiri.
Bingkai gambar yang sama persis.
Lorong gedung tua yang sama.
Dinding semen yang sama.
Dan sama sekali nggak ada penampakan cewek misterius mana pun.
“Di sebelah mana coba tunjuk?” tanya Ray sambil menyodorkan layar HP-nya ke depan muka Vanessa.
Vanessa mencondongkan badan dan menempelkan ujung jarinya tepat di atas layar HP Ray.
“Di sini. Tepat di samping bahu kamu.”
Ray memandangi titik di bawah jari Vanessa.
“Van... ini jelas-jelas cuma tembok semen ngelupas.”
Vanessa menarik kembali ponselnya dengan raut wajah yang tampak frustrasi luar biasa.
“Aku nggak paham...”
“Nggak paham apanya?”
“Kalau cuma aku yang ngeliat, oke lah.” Vanessa menunjuk layar laptopnya dengan putus asa. “Tapi kamera ini juga nangkep sosok dia, Ray!”
“Kameranya nggak nangkep apa-apa, Van. Kamu yang ngeliat dia di rekamannya.”
Di kepala Vanessa, logikanya sangat runtut dan tak terbantahkan:
Dia melihat sosok itu di lorong secara langsung.
Dia melihat sosok itu di monitor kamera saat syuting.
Dan dia melihat sosok itu terpampang di hasil rekaman video.
Tapi yang bikin situasi ini terasa mengerikan bagi Ray adalah: mereka berdua lagi menatap gambar yang persis sama, di detik yang sama—
dan Ray sama sekali nggak melihat apa-apa.
Sebagai seorang cowok remaja biasa yang otaknya sama sekali nggak dibekali kemampuan menghadapi situasi mistis atau psikologis seperti ini, Ray akhirnya memilih opsi paling aman di dunia:
“Kamu cuma lagi kecapekan, Van.”
Vanessa menatapnya nanar. “Aku nggak capek.”
“Kamu udah mantengin laptop lima jam nonstop dari tadi.”
“Aku masih seger kok.”
“Tidur sana.”
“Aku belum ngantuk sama sekali.”
“Kamu tadi subuh bangun jam enam kan?”
“Terus kenapa emangnya?”
“Sekarang udah hampir jam dua subuh, Vanessa.”
Vanessa melirik jam dinding di kamarnya sejenak.
“Oh...”
“Nah, kan.”
“Aku nggak sadar udah selarut ini.”
Ray mengulurkan tangan dan menutup layar laptop Vanessa.
Tapi belum ada sedetik, Vanessa langsung membuka kembali layarnya.
“Van, please deh...”
“Bentar, tinggal benerin satu transisi klip ini doang!”
“Kalimat itu udah kamu ulangin dari jam satu tadi ya!”
“Yang ini beneran tinggal satu doang, Ray!”
“Kamu tadi juga ngomong gitu!”
Vanessa menatap garis waktu video di layarnya dengan tatapan terpaku.
Dan tiba-tiba saja...
kedua matanya kembali berbinar-binar terang benderang.
“Aku dapet ide gila!”
Ray langsung mengelus dadanya sambil menghela napas panjang. “Aduh... jangan mulai lagi deh...”
“Dengerin dulu, Ray!”
“Nggak ada ide-idean lagi tengah malem begini!”
“Gimana kalau sosok hantunya nggak pernah kita tampilin sama sekali di dalem film?!”
Ray tertegun sejenak.
Vanessa udah keburu menyambar buku catatan cokelatnya dan mulai mencoret-coret dengan kecepatan tinggi.
“Semua karakter di dalem film bakal terus-terusan bilang ke si tokoh utama kalau di situ nggak ada siapa-siapa,” celoteh Vanessa berapi-api.
Tangan cewek itu terus menulis tanpa henti.
“Tapi si tokoh utama ini tahu pasti apa yang dia liat.”
Ray melirik ke arah layar laptop yang masih menyala.
Menatap bingkai video lorong kosong yang membeku.
Vanessa terus nyerocos:
“Terus dia mulai ngerekam semuanya pake kamera video.”
“Buat apaan?” tanya Ray terbawa suasana.
“Buat ngebuktiin ke semua orang kalau dia nggak gila! Kalau dia nggak lagi halusinasi!”
Ray menatap cewek di sampingnya itu lekat-lekat.
“Bentar... itu konsepnya malah jadi serem banget sih aslinya.”
“Kan! Bener kan kata aku!”
Vanessa tersenyum lebar, antusiasmenya meledak kembali seolah kantuknya lenyap tanpa sisa.
“Gimana kalau penontonnya juga nggak pernah dikasih liat wujud hantunya?”
Ray merenungi ide itu di kepalanya.
“Berarti penonton nggak bakal pernah tahu apakah setannya beneran nyata...”
“Tepat sekali!”
“...atau apakah orang itu sebenarnya cuma berhalusinasi dan kehilangan akal sehatnya.”
Ujung pulpen di tangan Vanessa mendadak berhenti mencoret.
Cuma sepersekian detik.
Lalu cewek itu tersenyum sangat manis.
“Tepat sekali, Ray.”
Dan dia kembali menulis dengan liar.
Jam dua lewat tiga belas subuh, Ray akhirnya pamit pulang ke rumahnya.
Jam dua lewat empat puluh tujuh subuh, ponsel di samping bantal Ray bergetar kencang.
*Vanessa: aku ganti endingnya dong*
*Ray: TIDUR SEKARANG JUGA!*
Jam dua lewat lima puluh satu subuh.
*Vanessa: bentar ada ide yg lebih keren lagi nih*
*Ray: TIDUR!*
Jam tiga lewat enam subuh.
*Vanessa: yg ini sumpah lebih dahsyat bgt plot twistnya*
*Ray: VANESSAAA!*
Jam tiga lewat dua puluh dua subuh.
*Vanessa: eh gimana kalau film ini kita daftarin ke lomba?*
Ray melotot menatap pesan terakhir itu.
Detik berikutnya, sebuah tautan meluncur ke ruang obrolan mereka.
Ray mengklik tautan itu dengan mata menyipit karena silau.
**FESTIVAL & LOMBA FILM PENDEK PELAJAR TINGKAT NASIONAL**
Pandangan mata Ray langsung meluncur ke kolom batas akhir pengumpulan karya.
Tiga minggu dari sekarang.
Ray langsung buru-buru mengetik balasan dengan huruf kapital semua:
*Ray: NGGAK USAH ANEH-ANEH.*
*Vanessa: juara satu dapet workshop perfilman intensif lho*
*Ray: kagak mau.*
*Vanessa: terus dapet sesi pemutaran khusus di bioskop juga! Kapan lagi filmku bisa masuk layar lebar*
*Ray: tetep nggak.*
*Vanessa: rayyy pleaseee*
*Ray: MASUK KE SELIMUT DAN TIDUR SEKARANG!*
Animasi tiga titik mengetik muncul di layar.
Lalu menghilang.
Lalu muncul lagi.
Sampai akhirnya:
*Vanessa: yaudah deh met bobo sayang ❤️*
Ray tanpa sadar tersenyum tipis menatap layar ponselnya.
*Ray: met tidur juga ❤️*
Ray meletakkan ponselnya di atas meja nakas dan menarik selimut.
Lima detik kemudian...
Bzzzt.
Ray mengambil kembali ponselnya dengan malas.
*Vanessa: fyi tadi formulirnya udh aku submit ya xixi babay*
Ray menutup matanya rapat-rapat sambil menahan erangan pasrah di bantal.
Tentu saja sudah didaftarkan.
Ngapain juga tadi dia capek-capek berharap cewek itu bakal nurut.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!