Mereka kembali lagi ke gedung tua itu keesokan harinya.
Nadia lagi sibuk mengecek level audio lewat headphone-nya.
Aldo sibuk mengatur sudut sorot senter tempurnya.
Kevin lagi disuruh keluar buat beli gorengan dan es teh manis di depan gang.
Dan Ray lagi berdiri di tengah lorong, bersiap menunggu aba-aba dari Vanessa buat adegan berikutnya.
Tapi tiba-tiba...
gerakan Vanessa berhenti total.
Kedua tangannya membeku kaku di bodi kamera.
Ray yang berdiri beberapa meter di depannya langsung menyadari perubahan atmosfer itu seketika.
“Van?”
Nggak ada jawaban.
Tatapan mata Vanessa terkunci lurus ke arah ujung lorong yang gelap di belakang Ray.
Ray secara refleks melirik ke belakang bahunya.
Tetap kosong.
Tapi entah kenapa, rasa mual dan dingin mendadak merayap naik di perut Ray.
“Vanessa...” panggil Ray lebih tegas.
“Dia ada di sini lagi...” bisik Vanessa tercekat.
Nadia yang lagi megang boom pole langsung mendongak kaget.
“Siapa yang ada di situ, Van?”
Vanessa mengangkat jari telunjuknya yang gemetar, menunjuk ke depan.
“Di situ.”
Aldo ikutan menoleh panik, mengarahkan senternya ke lorong.
“Di sebelah mana?!”
“Tepat di ujung lorong itu.”
Hening seketika mencekam seisi ruangan.
Ray kembali melotot menatap lorong itu.
Sumpah mati, lorong semen berdebu itu benar-benar sepi tanpa ada bayangan apa pun.
Vanessa melangkah cepat ke arah monitor kecil di samping kameranya.
“Sini kalian liat sendiri!” serunya panik.
Nadia yang pertama kali melangkah maju mendekat ke monitor.
Vanessa menunjuk jarinya ke layar kaca.
“Tuh, tepat di situ!”
Nadia memicingkan matanya, mengamati gambar digital itu dengan saksama.
Aldo ikutan nyempil menatap layar dengan muka tegang.
Sedangkan Ray tetap mematung di tempatnya berdiri.
Dia udah tahu persis apa yang bakal diucapkan kedua temannya itu.
Nadia perlahan menoleh menatap wajah Vanessa dengan pandangan hati-hati.
“Van...”
“Apa? Lo liat kan?!”
“Gue... gue nggak liat ada siapa-siapa di situ, Van.”
Raut muka Vanessa langsung berubah pias.
Hanya sedikit, tapi cukup buat memperlihatkan kepanikan yang mulai merayap di dadanya.
Dia beralih menatap Aldo penuh harap.
Aldo menelan ludahnya dengan canggung, lalu menggeleng pelan.
“Gue juga kagak liat apa-apaan, Van. Beneran sumpah.”
Lalu... pandangan mata Vanessa beralih menatap Ray.
Dan tatapan itulah yang bikin hati Ray berdenyut paling sakit.
Ray kenal luar kepala arti dari tatapan mata itu.
Vanessa memohon padanya.
Cewek itu sangat ingin Ray mengiyakan omongannya.
Dia ingin Ray mengatakan bahwa untuk kali ini saja, Ray akhirnya bisa melihat sosok yang dari tadi terus menghantui kepalanya.
Ray melangkah pelan mendekati monitor kamera.
Dia menatap layar itu lekat-lekat untuk yang kesekian kalinya.
Lorong kosong yang sama.
Dinding semen yang sama.
Nggak ada cewek berbaju putih. Nggak ada siapa-siapa.
“Maafin ya, Van...” bisik Ray pelan dan serak.
Vanessa menatap mata Ray tanpa berkedip, bibirnya bergetar tipis.
“Kamu... tetep nggak liat dia?”
Ray menggeleng lemah.
“Nggak ada siapa-siapa di situ, Van.”
Untuk beberapa detik yang terasa sangat menyiksa, nggak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.
Lalu tiba-tiba... Vanessa mengedikkan bahunya dengan gerakan kaku yang dibuat-buat santai.
“Ya udah lah, bodo amat.”
Cewek itu langsung menyambar kembali bodi kameranya.
“Ayo kita lanjut syuting lagi, buruan!”
Begitu saja. Seolah-olah barusan nggak pernah terjadi apa-apa.
Nadia melirik ke arah Ray dengan tatapan penuh tanda tanya cemas.
Ray cuma bisa buang muka, nggak sanggup membalas tatapan itu.
Malam harinya, Vanessa nelpon Ray.
Panggilan suara biasa, tanpa menyalakan kamera.
“Ray.”
“Iya?”
“Kamu tadi bener-bener nggak liat apa-apa ya di lorong?”
Ray lagi berbaring telentang di kasurnya, menatap langit-langit kamarnya yang temaram.
“Nggak, Van.”
Hening cukup lama di seberang sambungan telepon.
“Masa sedikit pun nggak liat sih, Ray?”
“Ya gimana caranya ngeliat orang yang ‘cuma sedikit’, Vanessa?”
“Kamu paham kan maksudku!”
“Aku beneran nggak liat siapa-siapa tadi.”
Kembali sunyi merayap di antara mereka.
Sampai akhirnya Ray nggak tahan buat nggak bertanya:
“Van... kamu sebenarnya nggak apa-apa kan?”
Terdengar suara tawa kecil yang terdengar garing dan dipaksakan dari bibir Vanessa.
“Kenapa emangnya? Ya aku nggak apa-apa lah!”
“Ya... aku cuma nanya aja.”
“Terus kenapa nanya nanya kayak gitu?”
“Ya karena kamu terus-terusan ngeliat ada sosok orang yang sebenarnya nggak ada di situ, Van.”
Begitu kalimat itu meluncur dari mulutnya, detik itu juga Ray langsung tahu kalau dia udah salah memilih kata.
“Maksudku bukan gitu, Van...”
“Sosok yang *kamu nggak bisa liat* maksudnya?” potong Vanessa cepat.
“Hah?”
“Kamu terus-terusan bilang sosok itu nggak ada.”
“Ya kan karena temen-temen yang lain juga nggak ada yang liat sosok itu!”
“Terus hubungannya apa?!”
“Ya hubungannya...” Ray tercekat, bingung harus menyusun kalimat seperti apa lagi.
Nada bicara Vanessa mendadak berubah tajam, terselip nada terluka di sana.
“Kenapa nada suara kamu kedengeran kayak lagi ngomong sama orang gila sih, Ray?!”
“Aku nggak nganggep kamu gila ya, Vanessa!”
“Tapi omonganmu barusan nunjukin ke arah sana!”
“Sumpah demi Tuhan, aku nggak mikir begitu sama sekali!”
“Ray!”
“Aku cuma mikir mungkin kamu lagi kecapekan banget belakangan ini!”
“Aku udah bilang berkali-kali aku nggak capek!”
“Kamu hampir nggak pernah tidur normal seminggu ini, Vanessa!”
“Aku sehat seratus persen, Ray!”
“Kamu selalu ngomong begitu tiap kali ditanya!”
“Ya karena emang kenyataannya begitu!”
Ray memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pening.
“Oke deh.”
“Oke apanya?!”
“Oke, kamu sehat, kamu nggak capek.”
Sialnya, bahkan kalimat mengalah itu pun terdengar salah dan merendahkan di telinga Vanessa.
Hening lagi. Kali ini lebih panjang.
Ray bahkan nggak yakin Vanessa masih ada di ujung telepon.
Ray baru saja menyadari sebuah kenyataan pahit: ternyata di dunia ini ada jenis obrolan di mana apa pun jawaban yang dipilih, semuanya bakal berakhir makin memperkeruh keadaan.
Tiba-tiba... tawa renyah Vanessa meledak di ujung telepon.
“Santai kali, Ray! Tegang amat hidup kamu!”
Ray mengerutkan kening heran. “Maksud kamu apaan?”
“Aku lagi nge-prank kamu doang tadi.”
Ray langsung bangkit terduduk tegak di kasurnya. “Hah?!”
“Soal cewek misterius tadi tuh.” Vanessa tertawa. “Sekarang ceweknya udah pindah ke dalem kamar tidurku nih, lagi duduk di atas lemari.”
“Vanessa!”
“Ya ampuuun, Ray! Kamu parnoan banget sih jadi cowok!”
“AKU TUTUP NIH YA TELPONNYA!”
“Eh jangan dong, jangan ditutup! Maaf, maaf, sumpah bercanda tadi!”
“Aku sayang banget sama kamu tau, Ray.”
“Nggak mempan ya! Ini manipulasi!”
“Sumpah aku sayang banget sama kamu, Cinta.”
“Manipulasi emosional tingkat dewa.”
“Dadaaah Pacarku yang penakut, mimpi indah ya!”
Bip.
Ray mematikan sambungan teleponnya.
Lalu, tanpa bisa dia cegah... senyum tipis kembali tersungging di bibirnya yang lelah.
Tentu saja.
Vanessa kan memang hobi banget ngerjain dia.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!