Janji di Atas Gedung

0 dibaca

A

Suatu sore sepulang sekolah, Vanessa mendadak muncul di samping motor Ray di parkiran.

“Ikut aku yuk.”

“Ogah.”

“Aku bahkan belum ngasih tahu mau ke mana lho!”

“Justru karena kamu belum ngasih tahu mau ke mana, makanya aku langsung nolak.”

“Percaya deh sama aku, kali ini aman.”

“Secara historis, percaya sama kamu selalu berakhir dengan penurunan angka harapan hidup aku, Van.”

“Ray, ayolaaah...”

“Nggak ada acara masuk ke gedung angker lagi ya.”

“Bukan kok.”

“Nggak ada ke kuburan.”

“Bukan.”

“Nggak ada masuk ke dalem hutan kota.”

“Bukan juga.”

“Dan yang paling penting: nggak ada lokasi syuting yang satpamnya ngelarang kita naik ke lantai atas!”

Vanessa langsung menyambar pergelangan tangan Ray dan menariknya paksa.

“Udah, ikut aja!”

Dua puluh menit kemudian, mereka berdua udah duduk berdampingan di dalem bus Transjakarta.

Ray menatap pemandangan jalanan ibukota lewat jendela kaca yang berdebu.

“Sebenernya kita ini mau ke mana sih?”

“Hunting lokasi baru.”

“Di mana lokasinya?”

Vanessa mengecek layar ponselnya.

Lalu melirik ke luar jendela bus.

Lalu mengecek ponselnya lagi dengan kening berkerut.

Ray langsung menyipitkan mata penuh curiga.

“Kamu tahu kita mau ke mana kan, Van?”

“Tahu lah.”

“Vanessa...”

“Tahu secara garis besar.”

“Ya ampun, Gustiii...” Ray menepuk keningnya lemas.

“Kita nggak nyasar ya!”

“Itu barusan kamu nge-zoom out peta Google Maps sampai kelihatan satu pulau Jawa!”

“Aku lagi membangun perspektif spasial secara makro!”

“Kamu fiks nggak tahu kita ada di mana sekarang.”

“Kita lagi mengeksplorasi kota, Ray!”

“Definisi resminya: kita nyasar, Vanessa.”

“Nyasar yang berjiwa seni ya!”

Dan benar saja, petualangan berjiwa seni itu dimulai dengan mereka salah turun halte.

Jalan kaki lima belas menit ke arah yang berlawanan.

Putar balik lagi sambil ngedumel.

Mampir beli es cendol di pinggir jalan buat meredakan emosi.

Sempat terdistraksi sepuluh menit gara-gara Vanessa heboh ngajak ngobrol kucing kampung mujair yang lagi tidur di depan ruko.

Sampai akhirnya...

mereka tiba di sebuah gedung parkiran bertingkat yang sepi.

Ray menengadah menatap deretan lantai beton itu.

“Jadi ini tempat yang dari tadi kamu cari-cari?”

Vanessa udah melangkah riang menuju anak tangga darurat.

“Ayo naik!”

Mereka terus menaiki anak tangga sampai ke lantai paling atas.

Pas kaki Ray menginjak lantai *rooftop* yang terbuka, mulutnya yang udah siap melontarkan omelan pedas mendadak terkunci rapat.

Langit sore Jakarta saat itu... luar biasa indah.

Gradasi jingga keemasan yang pekat menyapu kaki langit.

Matahari yang mulai tergelincir rendah membiaskan cahaya tembaga yang berkilauan di deretan gedung pencakar langit ibu kota.

Di bawah sana, deretan mobil tampak bergerak kecil seperti semut di jalanan protokol.

Untuk pertama kalinya dalam hari itu, Vanessa nggak langsung nyerocos.

Cewek itu melangkah pelan menuju bibir pembatas beton, meletakkan kedua lengannya di sana, dan membiarkan angin sore menerbangkan helai-helai rambutnya yang berantakan.

Ray melangkah mendekat dan berdiri tepat di sampingnya.

Mereka berdua berdiri diam cukup lama dalam keheningan yang syahdu.

Aneh rasanya.

Vanessa jarang banget bisa sediam ini.

“Keren ya,” gumam Ray memecah keheningan.

“Banget,” sahut Vanessa lirih.

“Spot yang bagus buat lokasi syuting.”

Vanessa menoleh menatap Ray dengan tampang polos.

“Lho? Nggak kok.”

Ray mengerutkan kening. “Maksudnya nggak?”

“Kita nggak bakal syuting di sini.”

“Lah?! Terus ngapain kamu nyeret-nyeret aku naik Transjakarta keliling kota sampai nyasar cuma buat ke tempat ini?!”

“Aku cuma pengen liat sunset bareng kamu.”

“Jadi jauh-jauh cuman buat liat sunset doang?!”

“Iya.”

“Tadi kita sempat nyasar lho, Van!”

“Kan nyasarnya itu bagian dari paket kenangan manis kita, Ray.”

Ray cuma bisa menggelengkan kepalanya pasrah sambil tersenyum tipis.

Vanessa membalas senyuman itu, lalu kembali menatap hamparan langit yang perlahan menggelap.

Setelah beberapa saat, terdengar suara Vanessa bertanya pelan:

“Ray...”

“Hm?”

“Nanti kamu bakal dateng kan?”

“Dateng ke mana?”

“Ke acara pemutaran perdana filmku.”

Ray tertawa kecil. “Pemutaran film apaan? Lomba film pendek kita kan belum tentu lolos final, Van.”

“Bukan film lomba ini. Tapi film panjang perdana aku yang beneran.”

Vanessa menggerakkan tangannya ke arah lanskap kota di depan mereka dengan tatapan berbinar.

“Film bioskop sungguhan. Layar lebar yang gede banget. Yang orang-orang antre beli tiketnya di kasir.”

“Aku dapet tiket gratisan nggak nih?” goda Ray.

“Nggak ada gratis-gratisan ya!”

“Wah, kalau bayar mah males dateng.”

Vanessa langsung berbalik menatap Ray dengan tatapan melotot tajam.

“Ray Pratama!”

Ray tertawa lepas melihat ekspresi cemberutnya. “Bercanda, Van, bercanda.”

“Awas aja kalau nggak dateng!”

“Pasti dateng lah.”

“Meskipun filmnya jelek?”

“Pasti dateng.”

“Meskipun semua kritikus film di internet ngehujat?”

“Tetep dateng.”

“Meskipun pas waktu itu aku belum jadi sutradara terkenal?”

Ray menatap manik mata cokelat cewek itu lekat-lekat.

“Vanessa...”

“Apa?”

“Mau gimana pun nasib film kamu nanti, aku pasti bakal selalu dateng buat nonton.”

Vanessa menatap wajah Ray cukup lama, mencari keraguan di sana, tapi yang dia temukan hanyalah ketulusan yang tenang.

“Janji ya?” bisik Vanessa pelan.

Ray tersenyum lembut.

“Janji.”

Wajah Vanessa langsung berseri-seri lega.

Cewek itu memang selalu suka dengan sebuah janji.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk