Sticky Notes Baru

0 dibaca

A

Keesokan paginya di kelas, selembar kertas memo kuning kecil udah nempel manis di atas buku tulis Ray.

*MAAF YA UDAH BIKIN KAGET SEMALEM 👻*

*JANGAN PUTUSIN AKU YA SAYANG.*

*— V*

Seharusnya kertas kuning seperti itu cukup bikin Ray berhenti memikirkan kejadian semalam. Kali ini nggak sepenuhnya.

Ray membalik kertas itu ke sisi belakang.

Ada tulisan cakar ayam kecil-kecil yang menyempil di sudutnya:

*KITA MASIH BUTUH KAMU BANGET BUAT RETAKE SCENE 11 SIANG INI.*

Ray menoleh ke deretan bangku depan.

Vanessa lagi melambaikan tangan sambil tersenyum super manis tanpa rasa berdosa.

Ray beranjak dari kursinya dan melangkah menghampiri meja cewek itu.

“Ini surat permintaan maaf atau pengumuman penindasan tenaga kerja?” sindir Ray datar.

“Dua-duanya sekaligus dong.”

“Kamu pacaran sama aku sebenernya cuma gara-gara butuh kuli panggul gratisan kan?”

“Ih, fitnah banget! Nggak bener itu!”

“Masa sih?”

“Kan selain scene sebelas, kita juga masih butuh kamu buat aktor scene empat belas!”

Ray cuma bisa mendesah pasrah sambil melipat kertas tempel itu dan memasukkannya ke saku seragamnya.

Bergabung dengan puluhan lembar kertas kuning lainnya.

Empat belas hari menuju batas akhir pengumpulan lomba.

Lalu menyusut jadi sepuluh hari.

Lalu tinggal tujuh hari lagi.

Film mereka sebenarnya udah hampir selesai seratus persen.

Bagi Ray, fakta itu berarti siksaan fisik dan batinnya bakal segera berakhir.

Tapi bagi Vanessa, sisa waktu itu berarti: masih ada kesempatan emas buat merombak total seluruh jalan cerita dari awal.

“Kita harus ganti adegan pembukanya, Ray.”

“Nggak boleh.”

“Shot pertamanya tuh tempo ritmenya terlalu lambat!”

“Nggak.”

“Menurut aku penonton tuh butuh kejutan yang lebih—“

“Nggak.”

“Bisa nggak sih berhenti bilang ‘nggak’ sebelum aku selesai ngomong?!”

“Nggak bisa.”

Vanessa melotot sebal ke arahnya.

Ray membalas tatapan itu dengan senyuman paling puas di dunia.

H-6 sebelum deadline, Vanessa beneran merombak total adegan pembuka film.

H-5 sebelum deadline, cewek itu menulis ulang seluruh naskah adegan penutup.

H-4 sebelum deadline, Ray terbangun di subuh hari dan mendapati ada notifikasi file video baru yang diunggah ke Google Drive grup mereka.

File itu diunggah tepat pukul 04:18 subuh.

Sambil menyeruput teh hangat sebelum berangkat sekolah, Ray memutar video hasil editan terbaru itu di laptopnya.

Dan sialnya... ada satu hal yang bikin Ray gondok setengah mati begitu selesai nonton:

Hasil editan baru itu jauh lebih bagus.

Jauh, jauh lebih dahsyat daripada versi sebelumnya.

Vanessa merombak tata suaranya jadi lebih sunyi dan mencekam.

Memotong beberapa adegan yang nggak penting.

Memindahkan satu adegan kunci ke pertengahan.

Dan entah pake ilmu sihir apa, lorong kosong yang dari kemarin cuma kelihatan berdebu dan kumuh, mendadak terasa luar biasa mengerikan di layar tanpa perlu memunculkan penampakan setan sekali pun.

Pagi itu di kelas, Ray langsung menghampiri meja Vanessa.

“Kamu ngedit ulang semuanya semalem ya?”

Vanessa mendongak dari bukunya, senyum bangganya langsung merekah.

“Udah nonton?”

“Udah.”

“Terus gimana menurut kamu?”

“Sebel banget ngakuin ini...” Ray mendesah pelan. “...tapi editan barusan beneran keren abis.”

Senyum di bibir Vanessa makin mengembang lebar.

“Bagus banget kan?”

“Iya, parah, bikin merinding.”

“Tahu kok.”

Ray menarik kursi dan duduk di sebelah ceweknya. Entah kenapa, dia mulai ragu Vanessa beneran baik-baik aja.

“Kamu semalem tidur jam berapa coba?”

“Tidur kok tadi.”

“Jam berapa tidurnya, Vanessa?”

“Baru-baru aja tadi pas mau subuh.”

“Vanessa...”

“Aku sehat walafiat, Ray, sumpah deh!”

Ray mengamati wajah cewek itu lekat-lekat dari jarak dekat.

Kelopak matanya tampak agak kemerahan dan sayu.

Rambut yang dicepol lebih berantakan dari biasanya.

Tapi senyum di wajahnya... masih secerah mentari pagi.

Bicaranya masih secepat kereta cepat.

Rencana-rencana barunya masih terus mengalir tanpa henti.

Dan energinya seolah-olah nggak pernah kenal kata habis dibanding orang-orang di sekitarnya.

“Kita bisa menangin lomba ini, Ray,” bisik Vanessa penuh keyakinan.

Ray tersenyum tipis menatapnya. “Beneran seyakin itu?”

Raut muka Vanessa mendadak berubah tersinggung.

“Bukan ‘yakin’ lagi.”

Ray mengerutkan kening heran. “Terus apa dong?”

Vanessa mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik tepat di depan wajah Ray dengan tatapan yang sangat tajam:

“Kita PASTI menang.”

Nggak ada nada bercanda di suaranya.

Nggak ada kata *mungkin*.

Nggak ada kata *semoga*.

Cuma kepastian mutlak yang tak tergoyahkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk