Reaksi Vanessa pas memutuskan buat ikutan lomba nasional jelas beda jauh dari reaksi anak SMA normal pada umumnya.
Kalau anak normal biasanya bakal bilang:
*Kita coba yang terbaik aja ya.*
Atau:
*Bisa lolos sepuluh besar aja udah bersyukur banget.*
Atau paling banter:
*Ya iseng-iseng berhadiah lah, nambah pengalaman.*
Tapi Vanessa beda kasta.
Keesokan paginya pas sampai di kelas, dia langsung ngebanting sebuah map tebal bersampul merah ke atas meja Ray dan mendeklarasikan dengan lantang:
“Kita bakal menang juara satu!”
Ray menatap cewek di depannya.
Lalu menatap map merah itu.
Lalu kembali menatap muka ceweknya.
“Pagi juga ya, Vanessa sayang.”
“Pagi. Jangan banyak basa-basi.”
“Kan filmnya aja belum kelar.”
Vanessa menatapnya seolah jawabannya sudah jelas.
“Setelah film ini jadi, pasti bakal diputar di bioskop. Ditonton banyak orang beneran.” Senyumnya melebar. “Terus orang-orang bakal tahu kalau aku bisa jadi sutradara muda terbaik.”
Ray mengangkat alis. “Percaya diri banget.”
“Ini berkas apaan lagi dah?”
“Rencana Operasional Produksi Film kita.”
Ray membuka lembaran pertama map itu dengan rasa penasaran campur ngeri.
Isinya luar biasa lengkap sampai bikin pusing:
Jadwal syuting harian.
Rincian anggaran dana.
Daftar properti adegan.
Daftar shot list kamera.
Daftar lokasi syuting alternatif.
Storyboard revisi jilid tiga.
Daftar alat-alat canggih yang sama sekali nggak mereka punya dan nggak mampu mereka sewa.
Dan yang paling absurd, di lembar paling belakang ada judul berhuruf tebal:
**RENCANA PENANGGULANGAN DARURAT**
Ray mendongak menatap Vanessa tak habis pikir.
“Kondisi darurat apaan yang kamu maksud di sini?”
“Belum tahu.”
“Terus ngapain dibikin rencananya kalau belum tahu daruratnya apaan?!”
“Ya namanya juga rencana darurat, Ray! Kalau udah kejadian namanya penyesalan!”
Ray membalik halaman berikutnya. “Semua lembaran ini kamu ketik dan print tadi malem?”
“Iya lah.”
“Kapan bikinnya?”
“Abis kita selesai chattingan subuh tadi.”
“Kita chattingan sampai jam setengah empat pagi ya, Vanessa!”
“Nah, tepat sekali!”
Ray menatap cewek itu dengan sorot mata khawatir bercampur syok.
“Vanessa...”
“Hm?”
“Semalem kamu tidur nggak sih sebenernya?”
“Tidur kok.”
“Berapa jam merem?”
Vanessa tampak berpikir keras, menghitung di dalam hatinya.
“Secara kumulatif?”
“VANESSAAA!”
Pas jam istirahat siang, Ray baru menyadari fakta baru bahwa perusahaan film fiktif mereka ternyata udah berekspansi secara liar tanpa persetujuan komisaris utama (alias Ray sendiri).
Nadia resmi direkrut buat megang divisi audio.
Aldo ditarik buat ngurusin pencahayaan.
Dan Kevin mendadak masuk tim semata-mata karena cowok itu punya mobil Avanza milik bapaknya yang bisa dipinjam kapan aja.
Kevin tampak sedikit tersinggung pas tahu alasan di balik perekrutannya.
“Gue bisa ngerjain hal lain kok selain nyetir,” protes Kevin.
Vanessa mengangguk-angguk maklum. “Tentu saja bisa.”
“Gue bisa akting.”
“Nggak boleh.”
“Gue bisa bantu ngedit video.”
“Jangan coba-coba.”
“Gue megang kamera kedua deh?”
“Sangat tidak disarankan.”
Kevin langsung cemberut masam. “Berarti gue di sini cuma dijadiin supir travel doang nih?”
Vanessa tersenyum manis penuh diplomasi korporat.
“Bukan supir, Kevin. Jabatan resmi lo adalah Koordinator Logistik dan Transportasi Lapangan.”
Kevin langsung terdiam merenungi gelar barunya itu.
“Kedengerannya keren dan penting banget ya.”
“Luar biasa penting buat kelangsungan hidup kru!” puji Vanessa meyakinkan.
“Oke deh kalau gitu, gue siap.”
Ray cuma bisa menepuk jidat pas ngeliat Vanessa mulai memasukkan kontak Kevin ke dalem grup WhatsApp baru.
“Kamu kasih nama apa itu grup WA-nya?” tanya Ray curiga.
Vanessa memamerkan layar HP-nya dengan bangga.
**OSCAR PRODUCTION**
Ray melongo menatap nama grup itu.
“Kita ini lagi ikutan lomba film pendek antar-SMA se-Indonesia lho ya.”
“Semua sutradara peraih piala Oscar juga memulainya dari langkah kecil, Ray.”
“Itu bahkan bukan judul film kita!”
“Itu namanya doa dan afirmasi positif!”
Tiba-tiba Nadia melirik dari balik pundak Vanessa sambil membaca deskripsi grup.
“Kok nama gue di sini ditulis *Asisten* Penata Suara sih?” protes Nadia datar.
Vanessa menoleh. “Lo maunya jadi Penata Suara Utama?”
“Iya lah. Gengsi gue kalau cuma jadi asisten.”
Vanessa langsung merevisi nama Nadia detik itu juga.
Nadia mengangguk puas. “Nah, gitu dong. Makasih.”
Ray kemudian menunjuk namanya sendiri di daftar anggota.
“Terus kenapa di namaku tulisannya: *Aktor Utama / Pembantu Umum / Seksi Konsumsi*?!”
“Multitalenta,” sahut Vanessa enteng.
“Aku cuma pernah bawa ciki sebungkus pas syuting kemarin ya!”
“Dan cikinya abis dimakan bareng-bareng kan? Berarti posisi ini cocok buat kamu.”
Ray menoleh meminta pertolongan pada Aldo yang lagi asyik minum es teh di sebelah.
“Do, bantuin gue ngomong napa, masa gue dieksploitasi begini!”
Aldo langsung menggeleng tegas dengan gaya sok berwibawa.
“Maaf ya, Ray. Sekarang status gue udah resmi jadi *Lighting Director*. Tanggung jawab gue berat, nggak bisa sembarangan ikut campur urusan dapur katering.”
Ray menghela napas pasrah menatap mereka satu per satu.
Sumpah mati, dia benci banget sama semua temen-temennya di ruangan itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!