Ray akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Dia berjalan kaki tanpa arah selama hampir dua puluh menit di sepanjang trotoar jalanan komplek, sebelum akhirnya tersadar kalau dia masih mendekap map sertifikat juara di bawah ketiaknya.
Setidaknya sertifikat atas nama Vanessa sudah dia tinggalkan di kamar cewek itu tadi.
Ponsel di saku celananya bergetar pelan.
Pesan masuk dari Nadia.
*Nadia: gimana kondisi vanessa di rumahnya, ray?*
Ray menatap pertanyaan sederhana itu cukup lama di layar ponselnya.
Dia beneran nggak tahu harus merangkai kata-kata seperti apa lagi untuk menjawabnya.
Maka pada akhirnya dia hanya mengetik balasan singkat:
*Ray: kacau balau nad*
Ray kemudian menyeret langkah kakinya menuju sebuah halte bus yang sepi dan duduk di bangku kayunya yang dingin.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sebuah pertanyaan terlarang yang sangat menakutkan mendadak terlintas di benak Ray:
*Bagaimana kalau sosok Vanessa yang dulu... memang tidak akan pernah kembali lagi untuk selamanya?*
Bukan kembali dalam artian fisik.
Bukan soal apakah cewek itu bakal pulih atau tidak.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar dari itu:
*Bagaimana jika sosok Vanessa yang selama ini dia tunggu-tunggu—*
cewek yang lucu dan cerewet,
cewek yang luar biasa cerdas dan visioner,
cewek yang hobi membawakannya bunga mawar dan kelapa gluntungan,
dan cewek yang selalu membombardirnya dengan ide film di jam tiga subuh—
sebenarnya bukanlah versi yang seharusnya dia tunggu?
Mungkin selama ini Ray begitu sibuk menunggu Vanessa yang dulu kembali bukan cuma karena dia merindukannya.
Mungkin dia takut.
Takut kalau Vanessa berubah terlalu jauh, hubungan mereka ikut berubah bersamanya.
Takut kalau cara mereka bercanda, ngobrol, jatuh cinta, dan menjalani hari-hari bersama nggak akan pernah terasa sama lagi.
Dan tanpa sadar, demi mempertahankan hubungan yang dia kenal, Ray justru terus menunggu Vanessa menjadi seseorang yang sudah dikenalnya.
Ponsel di genggamannya bergetar kembali.
Kali ini... sebuah pesan masuk dari Vanessa.
Jantung Ray seketika mencelos saat dia buru-buru membuka layar obrolan mereka.
Hanya ada satu kalimat tanya singkat yang tertera di sana:
*Vanessa: gimana kalau dua-duanya itu emang beneran aku, ray?*
Ray terpaku kaku menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Pikirannya mendadak melayang jauh ke masa lalu, ke momen pertama kali dia mengenal sosok cewek itu lewat layar Google Meet di era pandemi:
Sebuah kotak persegi panjang digital kecil.
Sebuah wajah.
Sebuah suara renyah.
Sebuah bingkai yang dengan sangat rapi hanya menampilkan apa yang sanggup ditangkap oleh lensa kamera.
Dulu Ray mengira, saat mereka akhirnya bertemu secara tatap muka di dunia nyata, bingkai pembatas itu telah hancur lebur untuk selamanya.
Namun detik ini Ray baru tersadar betapa bodohnya dia:
Ternyata selama ini dia hanya mengganti bingkai digital itu dengan sebuah bingkai baru di kepalanya sendiri.
Dan tanpa sadar, sepanjang waktu ini dia selalu berusaha memaksa dan memangkas sosok Vanessa agar selalu pas masuk ke dalam bingkai ideal yang dia ciptakan sendiri.
Ray nggak langsung membalas pesan itu.
Dia membaca kembali ketikan Vanessa berulang kali:
*gimana kalau dua-duanya itu emang beneran aku, ray?*
Jemari Ray mulai mengetik:
*Ray: aku ngerti kok*
Lalu dihapusnya kembali.
Karena jelas-jelas dari kemarin dia sama sekali nggak ngerti apa-apa.
Dia mencoba mengetik kalimat lain:
*Ray: ya emang dua-duanya kamu lah*
Dihapus lagi dengan cepat.
Kalimat itu terdengar sangat munafik, seperti ucapan orang yang cuma pengen dapet pujian sok bijak atas sesuatu yang baru saja dia pahami tiga puluh detik yang lalu.
Akhirnya Ray mencoba mengetik dengan kejujuran yang paling telanjang:
*Ray: aku gatau van*
Dia menatap kalimat itu sejenak, lalu menambahkan kelanjutannya:
*Ray: tapi kayaknya selama ini perlakuanku emang bikin kamu ngerasa kayak gitu ya. maaf.*
Terkirim.
Tanda centang dua biru seketika muncul di layarnya.
Vanessa sudah membaca pesan itu.
Nggak ada balasan kata-kata yang menyusul selama beberapa menit.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Sampai akhirnya sebuah pesan satu kata masuk ke layarnya:
*Vanessa: iya*
Dan satu kata balasan itu... terasa menghantam dada Ray jauh lebih perih daripada caci maki apa pun di dunia ini.
Mereka berdua sama sekali tidak saling menghubungi di keesokan harinya.
Maupun di hari setelahnya.
Ray benar-benar nggak tahu lagi apa status resmi hubungan mereka saat ini:
Apakah mereka berdua lagi perang dingin?
Apakah mereka lagi saling memberikan jeda waktu istirahat?
Apakah mereka sebenarnya sudah putus tanpa kata resmi?
Atau apakah mereka masih berstatus pacaran?
Rasanya dunia ini butuh formulir Google Form khusus buat memperjelas situasi hubungan mereka:
**STATUS HUBUNGAN SAAT INI:**
☐ Masih Pacaran
☐ Lagi Musuhan
☐ Lagi Butuh Waktu Sendiri
☐ Udah Putus
☑ Nggak Ada Satu Pun Manusia di Bumi Ini yang Tahu Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi
Dan kalau formulir itu beneran ada, Ray pasti bakal mencentang opsi terakhir sebanyak dua kali tanpa ragu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!