Selesai acara sore itu, Ray langsung meluncur pergi ke rumah Vanessa.
Dia sengaja nggak mengabari cewek itu terlebih dahulu.
Mamanya Vanessa membukakan pintu depan dengan wajah terkejut bercampur lelah.
“Vanessa ada di dalem kamarnya, Ray.”
“Saya boleh ketemu dia sebentar, Tante?”
Wanita itu tampak ragu-ragu sejenak.
Lalu akhirnya mengangguk pelan memberi izin.
“Mungkin... kamu bisa bujuk dia biar mau makan malam sedikit ya, Ray.”
Ray membenci betapa akrab dan seringnya kalimat itu meluncur di telinganya belakangan ini.
Vanessa sedang berbaring telentang di atas kasurnya saat Ray melangkah masuk.
Tirai jendela kamarnya tertutup rapat.
Ruangan itu gelap gulita dan pengap, hanya diterangi seberkas cahaya temaram dari celah pintu.
Laptopnya tergeletak membisu di atas meja belajar tanpa pernah disentuh.
Ray mengingat betul bagaimana wujud kamar ini beberapa minggu yang lalu:
Kertas storyboard berceceran di mana-mana.
Sticky notes kuning nempel di lemari dan cermin rias.
Poster-poster film indie.
Kabel charger yang melintang di lantai.
Draf naskah yang belum selesai ditulis.
Dan sosok Vanessa yang selalu nyerocos terlalu heboh di jam dua subuh.
Tapi sekarang... kamar ini terasa sangat mati dan sunyi.
“Hei,” sapa Ray pelan dari ambang pintu.
Vanessa membuka kedua kelopak matanya perlahan.
“Hei, Ray.”
Ray mengangkat map sertifikat emas di tangannya.
“Film kita dapet penghargaan.”
Vanessa perlahan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di bantal.
“Dapet juara apa?”
“Kategori Ide Cerita dan Konsep Terbaik.”
Jeda sejenak.
“Oh...”
“Terus kamu pribadi dapet penghargaan khusus dewan juri.”
“Buat apaan?”
“Penyutradaraan Terbaik.”
Vanessa menatap map sertifikat itu dengan pandangan kosong.
Ray melangkah mendekat dan menyodorkan map itu ke pangkuan ceweknya.
Vanessa membaca namanya sendiri yang tertera di sana.
Ray menunggu reaksi meledak dari cewek itu.
Tapi detik demi detik berlalu dalam keheningan.
Nggak ada tawa.
Nggak ada lompatan girang.
“Bagus deh kalau gitu,” gumam Vanessa pelan sambil meletakkan sertifikat itu ke samping kasurnya.
Rasa jengkel dan sesak yang familier seketika menyengat kembali dada Ray.
Dan dia sangat membenci dirinya sendiri karena merasakan hal itu.
“Cuma ‘bagus deh’ doang reaksi kamu?” tanya Ray getir.
Vanessa mendongak menatap wajah cowoknya. “Terus aku harus ngapain lagi, Ray?”
“Nggak tahu ya.”
“Tuh kan, mulai lagi.”
“Apanya yang mulai?!”
“Mukamu tuh masang ekspresi kesel begitu lagi!”
Seharusnya Ray menahan diri.
Dia tahu betul dia harus sabar dan mengalah.
Tapi energi Ray hari ini juga sudah benar-benar terkuras habis.
“Aku cuma ngira kamu bakal bahagia dapet penghargaan itu, Vanessa!”
Vanessa kembali menunduk menatap selimutnya. “Maaf ya, Ray.”
“Bisa nggak sih kamu berhenti minta maaf mulu tiap detik?!”
“Terus kamu maunya aku bersikap kayak gimana lagi coba?!”
“Aku nggak tahu!”
“Hebat banget ya jawabannya.”
“Nah, kesel kan kamu denger jawaban kayak gitu? Persis kayak apa yang aku rasain tiap hari!” semprot Ray lepas kontrol.
Dan sedetik setelah kata-kata pedas itu meluncur dari mulutnya, Ray langsung mengutuk dirinya sendiri.
Vanessa menatap Ray dengan tatapan nanar yang luar biasa terluka.
“Wah... luar biasa banget kata-kata kamu barusan, Ray.”
“Van... maaf, sumpah aku nggak sengaja—“
“Nggak usah minta maaf.”
“Vanessa...”
“Mendingan sekarang kamu pulang aja deh, Ray.”
Ray melongo menatap cewek di depannya. “Kamu ngusir aku beneran nih?”
“Iya. Aku lagi pengen sendiri.”
Ada sesuatu di dalam dada Ray yang retak berkeping-keping detik itu juga.
“Oke. Fine.”
Ray berbalik melangkah dengan napas memburu menuju pintu kamar.
Namun tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu... langkahnya terhenti kaku.
Karena ada satu unek-unek busuk yang sudah mengendap di kepalanya selama berminggu-minggu terakhir.
Sesuatu yang sangat egois.
Sesuatu yang dia tahu pasti nggak boleh diucapkan.
Namun dengan bodohnya, Ray justru berbalik dan melontarkannya:
“Aku kangen sama kamu, Vanessa.”
Vanessa mendongak menatap Ray dengan kening berkerut bingung.
“Aku kan ada di sini.”
“Bukan kamu yang ini!” potong Ray terlalu cepat dan tajam.
Raut muka Vanessa seketika berubah pias seolah ditampar telak.
Ray yang gelagapan mencoba meluruskan maksudnya dengan menggerakkan tangannya ke udara:
“Maksud aku tuh... aku kangen sama kamu yang dulu...”
“Aku nggak paham maksud kamu.”
“Maksud aku tuh Vanessa yang...” Ray tercekat, menyadari kalimatnya sudah terlanjur meluncur terlalu jauh.
Tapi Vanessa kini menatapnya lurus-lurus tanpa berkedip, matanya mulai memerah basah.
“Vanessa yang mana? Lanjutin coba!”
Ray menelan ludahnya yang pahit dengan susah payah.
“Vanessa yang suka ketawa lepas...” bisik Ray serak.
Hening seketika mencekam.
“Vanessa yang semangat bikin karya...” lanjut Ray dengan suara makin memelan. “Yang selalu heboh pas punya ide baru... yang... yang punya impian besar di hidupnya...”
Vanessa menatap wajah cowoknya dengan pandangan hancur berkeping-keping seolah baru saja dihantam palu godam.
“Vanessa yang MANA yang kamu kangenin sebenernya, Ray?!”
“Van...”
“Vanessa yang nggak tidur berhari-hari?!” Suara Vanessa mulai bergetar hebat diiringi air mata yang tumpah ruah membasahi pipinya.
Ray seketika membeku di tempat.
“Vanessa yang ngeliat penampakan sosok cewek gaib yang nggak bisa diliat sama orang lain?!”
“Bukan itu yang aku maksud, Vanessa!”
“Vanessa yang nekat kabur dan menghilang di tengah malam buta sampai nyaris mati ketabrak mobil?!”
“Nggak! Bukan itu!”
“Vanessa yang bikin semua orang di sekitarnya ketakutan setengah mati?!”
“Vanessa, berhenti, aku mohon!”
“NGGAK MAU!” Vanessa bangkit berdiri dari kasurnya dengan tubuh bergetar hebat, air matanya membanjiri wajahnya yang pucat pasi. “Kamu tuh sebenernya cuma kangen sama Vanessa versi asyik dan ceria doang kan?!”
“Aku cuma pengen ngeliat kamu bahagia lagi kayak dulu, Vanessa!”
“Tapi kenyataannya aku sekarang NGGAK BAHAGIA, Ray!”
“YA AKU TAHU BANGET SOAL ITU!”
“TERUS NGAPAIN KAMU MASIH TERUS-TERUSAN NUNTUT AKU BUAT PURA-PURA BAHAGIA?!” jerit Vanessa putus asa.
“Aku nggak pernah nuntut kamu—“
“Jelas-jelas kamu nuntut ya, Ray!” bentak Vanessa memotong kalimatnya.
Ray seketika terdiam seribu bahasa, napasnya tercekat di tenggorokan.
Vanessa mengusap air matanya dengan kasar, dadanya naik turun dengan napas tersengal-sengal:
“Tiap kali kamu natap mata aku belakangan ini, Ray... kamu tuh selalu masang tampang nungguin.”
Kening Ray berkerut bingung bercampur perih. “Nungguin apa maksudnya?”
“Nungguin kapan aku bakal balik lagi jadi dia.”
Dan untuk tuduhan yang satu itu... Ray benar-benar nggak punya jawaban apa pun untuk membela dirinya sendiri.
Dan Vanessa yang melihat kebisuan itu, tersenyum sangat miris dengan tatapan paling terluka yang pernah Ray lihat seumur hidupnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!