Ray meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya dengan gerakan pelan.
Di sekelilingnya di dalam kelas, Nadia, Aldo, dan Kevin masih larut dalam perayaan kecil mereka yang heboh.
Mereka asyik memperdebatkan baju apa yang paling pantas mereka kenakan pas menghadiri acara pemutaran film di gedung festival nanti.
Apakah mereka harus menyewa jas formal atau cukup memakai kemeja batik yang rapi.
Dan apakah sebagai finalis resmi, mereka bakal mendapatkan jatah konsumsi makanan dan snack gratis di ruang VIP.
Kevin tampak menjadi orang yang paling vokal dan sangat mencemaskan ketersediaan pasokan makanan gratisan tersebut.
Ray mendengarkan segala celotehan itu dalam diam.
Dia ikut tersenyum tipis saat teman-temannya melempar tatapan bangga ke arahnya.
Dia sempat tertawa kecil satu kali pas Aldo memperagakan gaya berjalannya di karpet merah fiktif.
Tapi di lubuk hatinya yang terdalam... ada sesuatu yang terasa sangat perih dan berdenyut ngilu.
Karena selama berminggu-minggu kemarin, hal yang paling Ray inginkan di dunia ini sebenarnya adalah melihat Vanessa mengerem ambisi liarnya:
Dia ingin Vanessa bisa tidur normal delapan jam sehari.
Dia ingin Vanessa berhenti merombak total segala adegan yang sudah selesai.
Dia ingin Vanessa berhenti mengejar ide-ide film absurd yang mustahil diwujudkan.
Dia ingin sosok cewek misterius itu lenyap dari pandangan matanya.
Dan dia ingin Vanessa berhenti bersikap terlalu berapi-api yang menguras seluruh tenaganya.
Dan sekarang...
semua permohonan itu telah dikabulkan secara mutlak.
Vanessa telah berhenti total dari segala kegilaannya.
Seharusnya Ray merasa sangat bersyukur dan lega luar biasa.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ray justru mendapati dirinya menangis di dalam hati, merindukan sosok cewek keras kepala yang dulu selalu menolak untuk berhenti.
Acara penganugerahan dan pemutaran film finalis dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu siang di sebuah auditorium pusat kebudayaan kota.
Tapi pas Ray memberitahukan jadwal tersebut sepulang sekolah, jawaban yang meluncur dari mulut Vanessa seketika membuat Ray mengira telinganya sedang bermasalah:
“Aku... aku nggak mau dateng ke acara itu, Ray.”
Ray melongo menatap cewek di hadapannya dengan tatapan tak percaya.
“Gimana, Van? Kamu nggak mau dateng?!”
“Iya. Aku nggak mau hadir.”
Mereka berdua saat itu sedang duduk berdua di bangku taman depan lobi sekolah yang mulai sepi.
Belakangan ini Vanessa memang sudah mulai rutin masuk sekolah kembali setiap hari.
Namun cewek itu menjalani rutinitas hari-harinya layaknya sebuah mesin otomatis yang kehabisan baterai—bergerak lambat dan seolah-olah membutuhkan energi sepuluh kali lipat lebih besar hanya untuk melakukan hal-hal sepele.
Ray menatap mata ceweknya lekat-lekat.
“Vanessa, itu film buatan kamu sendiri lho!”
“Iya, aku tahu kok.”
“Film perdana yang kamu sutradarai sendiri dari nol!”
“Aku tahu, Ray.”
“Film pertama kamu yang beneran sukses menembus kompetisi resmi nasional!”
Vanessa mendongak menatap Ray dengan sorot mata yang tampak terluka.
“Makasih banyak ya, Ray, karena kamu udah dengan sangat jelas menekankan kegagalan proyek-proyek filmku yang sebelum-sebelumnya.”
Ray seketika gelagapan serba salah. “Maksud aku bukan nyindir ke situ, Vanessa!”
“Tapi intonasi omongan kamu barusan kedengeran persis ke arah sana.”
“Nggak, sumpah! Maksud aku tuh...” Ray menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur kembali susunan kalimatnya dari awal. “Ini kan impian terbesar yang dari dulu selalu kamu dambakan, Van...”
Vanessa menundukkan pandangannya menatap kedua telapak tangannya yang bertaut di pangkuan seragamnya.
“Sekarang aku udah nggak menginginkan hal itu lagi, Ray.”
Ray sama sekali nggak paham bagaimana caranya rangkaian kata sesederhana itu bisa memicu rasa marah yang begitu membuncah di dalam dadanya.
“Maksud kamu ‘nggak menginginkan hal itu lagi’ tuh gimana coba?!”
“Ya aku emang lagi nggak pengen aja.”
“Vanessa, kamu tuh nyaris kecelakaan sampai masuk rumah sakit demi nyelesain proyek film ini ya!”
Mendengar kalimat itu, kepala Vanessa langsung tersentak mendongak menatap Ray dengan mata membelalak tajam.
Ray seketika membeku kaku di tempat.
Pilihan kata yang sangat salah.
Bahkan luar biasa keliru dan fatal untuk diucapkan.
“Maksud aku tadi bukan secara harfiah begitu, Van...” bisik Ray panik mencoba meralat.
“Bagus deh kalau gitu,” sahut Vanessa sangat dingin.
“Van, dengerin penjelasan aku dulu...”
“Bisa nggak kita nggak usah ngebahas soal ini lagi sekarang?”
“Tapi acara pemutaran filmnya itu hari Sabtu besok, Vanessa!”
“Ray!”
Suara panggilan Vanessa terdengar sangat pelan, namun bergetar hebat menahan sesuatu yang siap meledak di dadanya.
“Tolong... aku mohon banget sama kamu...”
Ray terdiam menatap kerapuhan di manik mata cewek itu, lidahnya mendadak kelu tak berdaya.
“Oke...” bisik Ray mengalah pada akhirnya.
Vanessa langsung bangkit berdiri dari bangku taman.
“Aku mau langsung pulang ke rumah sekarang.”
Ray hanya bisa duduk membisu menatap langkah kaki cewek itu yang melenggang pergi meninggalkan area sekolah.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran...
Ray sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya untuk menyusul langkah cewek itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!