Rindu yang Mengganjal

0 dibaca

A

Selama seminggu berikutnya, Ray terus-menerus hidup dalam penantian menunggu kembalinya Vanessa yang dulu.

Bukan kepulangan raganya secara fisik.

Vanessa memang masih ada di sana.

Kadang-kadang masuk kelas, kadang-kadang duduk di samping mejanya.

Tapi yang diam-diam Ray tunggu adalah hal-hal yang dulu selalu melekat pada diri cewek itu:

Kertas-kertas memo kuning yang menempel manis di bukunya.

Kado-kado absurd tanpa alasan yang jelas.

Ide-ide film gila di jam dua subuh yang bikin jengkel tapi ngangenin.

Sosok cewek yang kalau ngomong tangannya selalu ikutan heboh ke mana-mana.

Sosok cewek yang kakinya nggak pernah bisa diam di tempat pas lagi antusias.

Dan sosok cewek ajaib yang pernah dengan percaya dirinya nenteng buah kelapa utuh lengkap dengan sabut kasarnya ke sekolah hanya demi memulihkan staminanya.

Tiap pagi pas melangkah masuk ke kelas, pandangan mata Ray selalu tertuju otomatis ke atas meja belajarnya, berharap ada kejutan kecil di sana.

Tapi selalu kosong melompong.

Sampai pada suatu hari Selasa pagi...

secarik warna kuning mencolok tertangkap oleh sudut matanya.

Jantung Ray seketika melonjak girang di dadanya!

Selembar sticky note kuning menempel manis tepat di atas sampul buku catatan fisikanya.

Ray langsung menyambar kertas itu dengan tangan gemetar.

Untuk satu detik yang sangat membahagiakan, sebuah senyuman lebar merekah di wajahnya.

Tapi detik berikutnya pas dia membaca tulisan di atas kertas itu...

senyuman di bibirnya seketika membeku kaku.

*MAAF YA.*

Hanya dua kata itu saja yang tertulis di sana.

Nggak ada coretan gambar alien konyol.

Nggak ada lelucon sarkas khas tongkrongan.

Bahkan nggak ada inisial bertanda tangan: *— V*.

Hanya sebaris kata maaf berhuruf kapital yang terasa sangat dingin dan asing.

Ray mendongak menatap ke seberang deretan bangku kelas.

Kursi tempat duduk Vanessa... kosong tak berpenghuni.

Sepulang sekolah, Ray mencoba menelpon nomor ponselnya berkali-kali.

Nggak diangkat.

Ditelepon lagi. Tetap dialihkan ke kotak suara.

Dia akhirnya memberanikan diri menelpon ke nomor mamanya Vanessa.

Mamanya mengabarkan bahwa Vanessa sedang ada di rumahnya, tertidur pulas di kamarnya sejak pagi tadi.

Mendengar itu, Ray merasa sangat lega karena cewek itu aman di rumah.

Namun sedetik kemudian, rasa bersalah yang teramat dalam langsung menyergap dadanya karena dia merasa berdosa telah merasa lega atas kondisi pasif ceweknya.

Dua minggu kemudian, kabar pengumuman hasil seleksi kompetisi film pendek tingkat nasional itu akhirnya resmi dirilis.

Waktu itu jam istirahat kedua baru saja dimulai, pas tiba-tiba Nadia mencengkeram lengan seragam Ray begitu kencang sampai Ray meringis kesakitan.

“RAY! ANJIR, RAY!”

“Aduh! Apaan sih, Nad?! Sakit tau!”

“RAY, LIAT INI CEPETAN!”

Nadia langsung menyodorkan layar ponselnya tepat beberapa sentimeter di depan hidung Ray.

Sebuah surat elektronik resmi berlogo kementerian.

*Selamat! Film pendek berjudul ‘OUT OF FRAME’ terpilih sebagai salah satu Finalis 5 Besar Tingkat Nasional...*

Ray membaca deretan kalimat itu sekali lagi buat memastikan matanya nggak salah baca.

Lalu membacanya untuk yang ketiga kalinya.

Selama beberapa detik yang hening, Ray benar-benar kehilangan kemampuan buat berbicara.

Sampai akhirnya suara tawa bahagianya meledak lepas memenuhi seisi ruangan kelas:

“NADIA! SUMPAH DEMI APA?!”

“GUE JUGA NGGAK NYANGKA, ANJIIIR!”

“KITA LOLOS KE BABAK FINAL, NAD!”

“KARYA KITA MASUK FINALIS NASIONAL!”

Aldo yang lagi asyik menyalin tugas di bangku belakang langsung melompat girang mendengar kehebohan itu.

Kevin yang baru masuk membawa segelas es teh manis langsung nyaris menjatuhkan minumannya ke lantai.

Dalam hitungan tiga puluh detik, mereka berempat sudah berpelukan heboh di tengah kelas sambil berteriak-teriak tak karuan:

“Film kita bakal diputer di layar bioskop beneran, woy!”

“Gila! Berarti status gue sekarang udah resmi diakui sebagai profesional perfilman dong?!”

“Kagak ya, Kevin, jangan ngelunjak lo!”

“Gue fiks bakal nulis jabatan Koordinator Transportasi di CV lamaran kerja gue besok!”

“Awas aja lo berani nulis gituan!”

“Udah terlambat, formatnya udah gue save di Google Docs!”

Di tengah euforia tawa teman-temannya yang meledak riang, tangan Ray dengan cepat mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Dia menekan nomor kontak Vanessa dengan jantung berdebar kencang.

Panggilan berdering cukup lama... tapi nggak kunjung diangkat.

Ditelepon sekali lagi. Tetap nggak ada sahutan.

Maka dengan jemari yang gemetar karena antusias, Ray langsung mengetik pesan di ruang obrolan mereka:

*Ray: VANESSAAA!*

*Ray: FILM KITA RESMI MASUK FINALIS LOMBA TINGKAT NASIONAL!*

Ray melampirkan foto tangkapan layar email pengumuman resmi itu.

Lalu mengetik kalimat penutup dengan huruf kapital semua:

*Ray: KAMU BERHASIL NGEBUKTIIN SEMUANYA, VAN! KARYA KAMU DIAKUI!*

Ray menatap layar ponselnya tanpa berkedip.

Pesan terkirim. Tanda centang dua abu-abu.

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Lima menit.

Lalu simbol itu mendadak berubah menjadi centang dua biru.

*Dibaca.*

Senyuman lebar spontan merekah di wajah Ray.

Dia menunggu dengan sabar.

Animasi tiga titik mengetik muncul di sudut kiri bawah layarnya.

Lalu menghilang.

Lalu muncul kembali beberapa detik kemudian.

Sampai akhirnya... sebuah pesan balasan singkat masuk ke ruang obrolan mereka:

*Vanessa: oh bagus deh*

Senyuman di wajah Ray perlahan-lahan memudar, membeku di bibirnya.

Dia membaca pesan balasan singkat itu sekali lagi untuk memastikan matanya tidak keliru:

*oh bagus deh.*

Ini adalah cewek yang sama yang beberapa minggu lalu dengan lantang membanting berkas ke mejanya dan mendeklarasikan: *Kita bakal menang juara satu.*

Cewek yang sama yang rela begadang sampai jam empat subuh demi mengejar gradasi warna yang sempurna.

Cewek yang nekat menyeret mereka semua masuk ke gedung tua terbengkalai demi integritas artistik.

Cewek yang berkali-kali merombak naskah karena standar kata “cukup bagus” tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Dan cewek yang selalu membicarakan pemutaran perdana bioskop, karpet merah festival, dan piala penghargaan seolah-olah semua itu sudah berada dalam genggaman tangannya.

Dan sekarang... pas karya filmnya beneran resmi dinobatkan sebagai finalis terbaik tingkat nasional...

satu-satunya reaksi yang meluncur dari ketukan jarinya hanyalah:

*oh bagus deh.*

Ray meletakkan jarinya di atas papan ketik virtual, mulai mengetik serangkaian pertanyaan panjang.

Lalu dihapusnya kembali.

Diketik lagi.

Dihapusnya lagi dengan perasaan campur aduk yang menyesakkan dada.

Sampai pada akhirnya, satu-satunya balasan yang sanggup dia kirimkan hanyalah:

*Ray: iya*

Vanessa hanya membalas dengan memberikan reaksi ikon hati merah pada pesan itu.

Dan percakapan di antara mereka pun berakhir begitu saja.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk