Begitu Ray tersadar akan kesalahannya, Ray langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Vanessa.
“Kenapa kamu barusan bohong sama suster?!”
Vanessa menatap lurus ke arah pintu yang tertutup dengan pandangan dingin.
“Aku nggak bohong.”
“Vanessa, please lah!”
“Aku lagi nggak pengen ngebahas soal itu sekarang, Ray.”
“Kamu masuk ke rumah sakit ini gara-gara itu ya, Vanessa!”
“Kamu nggak bisa menyimpulkan sembarangan kayak gitu!”
“Kamu barusan ngikutin sosok cewek gaib yang sebenarnya nggak ada di dunia nyata!”
Vanessa langsung menolehkan kepalanya menatap Ray dengan mata berapi-api.
“Dia ADA di sana, Ray!”
“Nggak ada satu pun orang lain yang bisa liat wujud dia selain kamu!”
“Fakta bahwa orang lain nggak bisa liat bukan berarti sosok dia nggak nyata di dunia ini!”
“Terus artinya apa, Vanessa?!”
“AKU JUGA NGGAK TAHU!”
Suara Vanessa mendadak pecah melengking di akhir kalimatnya.
Napas Ray seketika tercekat.
Kedua pelupuk mata Vanessa kembali digenangi air mata yang siap tumpah ruah untuk kesekian kalinya.
Dan detik itu juga, rasa sesal langsung menghantam dada Ray bertubi-tubi.
“Oke... oke, maaf...” bisik Ray lemas.
“Nggak usah.”
“Van...”
“Berhenti ngomong ‘oke’ pake nada pasrah merendahkan kayak gitu!”
“Aku cuma lagi berusaha biar situasinya nggak makin runyam, Van!”
“Tapi cara kamu tuh bener-bener payah banget!”
“Iya, aku tahu, aku payah.”
Pengakuan itu hampir saja membuat ujung bibir Vanessa tersenyum tipis.
Hampir.
Ray menarik kursinya mendekat lagi ke bibir ranjang.
“Aku... aku nggak pernah nganggep kamu gila kok, Van. Sumpah.”
Vanessa mengusap sudut matanya dengan punggung tangannya yang bebas infus.
“Aku nggak pernah nanya pendapat kamu soal itu.”
“Iya, aku tahu.”
“Ya terus ngapain kamu pake ngomong segala?”
Ray terdiam seribu bahasa.
Vanessa menundukkan pandangannya menatap jemari tangannya sendiri yang kurus.
“Karena biasanya... tiap kali ada orang yang bilang ‘aku nggak nganggep kamu gila’...” Vanessa menelan ludahnya yang pahit, “...itu artinya di dalem kepala mereka, mereka udah lebih dulu mikir ke arah sana.”
Dan untuk tuduhan yang satu itu, Ray sama sekali nggak punya bantahan untuk membela dirinya sendiri.
Siang harinya, seorang dokter spesialis masuk dan berbicara empat mata cukup lama dengan Vanessa dan mamanya di dalam kamar.
Ray nggak diizinkan masuk ke dalam ruangan.
Dia menunggu di lorong luar bersama Nadia yang setia menemani.
Nadia menyodorkan segelas kopi kaleng dari mesin penjual otomatis yang rasanya hambar dan manis berlebihan.
Ray tetap meneguknya sampai habis demi menahan kantuknya yang menyiksa.
“Menurut lo... sebenernya apa sih yang lagi terjadi sama Vanessa belakangan ini, Ray?” tanya Nadia pelan memecah keheningan lorong.
Ray menatap lantai keramik putih di bawah kakinya dengan pandangan kosong.
“Gue beneran nggak tahu, Nad.”
“Sebelum-sebelumnya dia pernah ngalamin hal aneh kayak gini nggak?”
“Maksud lo ngeliat bayangan orang?”
“Ya hal aneh apa pun itu lah.”
Ray terdiam, memutar kembali memorinya selama setahun terakhir mengenal cewek itu:
Tangisan tiba-tiba tanpa sebab.
Pasokan energi tanpa batas yang nggak masuk akal.
Rentetan ide film di jam-jam keramat subuh.
Pesan chat bertubi-tubi di tengah malam.
Tingkat kepercayaan diri yang luar biasa meluap-luap.
Dan kemampuannya buat bertahan hidup hampir tanpa tidur tapi tetap bisa tampil paling ceria di sekolah.
Tapi di sisi lain... bukankah sejak awal Vanessa memang selalu menjadi sosok yang intens?
Seorang cewek yang kreatif, impulsif, dan penuh kejutan?
Sosok yang pernah dengan entengnya nenteng kelapa gluntungan ke kelas cuma gara-gara dia ngeluh lemas?
Lantas... di titik manakah batas pemisah antara “Vanessa yang unik dan eksentrik” dengan “Vanessa yang jiwanya sedang sakit”?
Ray nggak tahu jawabannya.
Dan fakta bahwa dia nggak tahu jawaban itulah yang paling dia benci di dunia ini.
“Gue bener-bener nggak tahu, Nad,” ulang Ray lirih.
Sore harinya, Vanessa akhirnya diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit setelah kondisinya dinyatakan stabil.
Mamanya membawanya pulang ke rumah dengan taksi online.
Dan batas akhir pengumpulan karya lomba film pendek tingkat nasional itu... jatuh tepat pukul 23:59 WIB tengah malam ini.
Nggak ada satu pun dari mereka yang berani menyinggung topik itu.
Nadia nggak ngomong apa-apa.
Aldo nggak berani bersuara.
Kevin memilih diam.
Dan Ray pun berusaha mengubur topik itu dalam-dalam.
Sampai pada pukul 19:42 WIB malam, ponsel Ray di meja belajarnya berdering nyaring.
Nama kontak Vanessa berkedip di layar.
Ray langsung menyambarnya seketika.
“Halo, Van?”
“Kamu... kamu udah submit filmnya ke website lombanya belum, Ray?”
Dada Ray mendadak berdenyut nyeri mendengarnya.
“Apaan?”
“File film pendek kita.”
“Vanessa...”
“Batas waktunya malam ini jam dua belas kan?”
“Iya, aku tahu.”
“Terus kenapa belum kamu kirim?”
Ray sampai nggak habis pikir mendengar pertanyaan itu.
“Ya gimana aku mau ngirim, Vanessa... kamu baru aja keluar dari IGD enam jam yang lalu!”
“Kan yang masuk rumah sakit badan aku, bukan file filmnya!”
Ray memejamkan matanya rapat-rapat, menahan emosi yang mulai memuncak di ubun-ubun.
“Van, please deh...”
“Aku serius, Ray!”
“Aku juga serius!”
“Kita udah kerja keras syuting berminggu-minggu buat proyek ini!”
“Aku nggak peduli sama lomba sialan itu lagi sekarang!”
Hening seketika tercipta di seberang sambungan telepon.
Tapi Ray tahu, kalimatnya barusan bukanlah kebenaran yang sesungguhnya.
Tentu saja dia peduli.
Dia peduli setengah mati pada film itu.
Dia peduli pada kompetisinya.
Dia peduli pada papan clapperboard kardus buatan mereka.
Dia peduli pada bekal enam butir telur rebus yang konyol.
Dia peduli pada pemandangan matahari terbenam keemasan di atas gedung parkir.
Dan dia peduli pada janji jari kelingking mereka.
Tapi di detik ini... dia jauh lebih memedulikan keselamatan nyawa dan kewarasan Vanessa dibanding selembar piagam penghargaan apa pun.
Sayangnya bagi Vanessa, kalimat Ray barusan adalah sebuah pengkhianatan telak.
“Kamu... kamu nggak peduli?” bisik Vanessa dengan suara yang mulai bergetar hebat.
“Bukan gitu maksudku, Van...”
“Barusan jelas-jelas kamu sendiri yang ngomong kalau kamu nggak peduli!”
“Maksud aku tuh, aku nggak peduli kalaupun kita harus ngelewatin lomba kali ini!”
“Tapi aku peduli, Ray!”
“Kan kita masih bisa ikutan festival film lain di kesempatan berikutnya!”
“Nggak mau!”
“Vanessa...”
“Aku maunya kompetisi yang ini!” Nada suara Vanessa mendadak berubah tajam dan meninggi drastis.
“Kenapa harus selalu yang ini sih?!”
“Karena kita udah janjian buat nyelesaiin film ini bareng-bareng sampai tuntas!”
“Kita kan udah nyelesaiin filmnya, Vanessa!”
“Belum selesai!”
Ray melotot menatap layar laptopnya yang masih menampilkan file video yang sudah di-render rapi.
`OUT_OF_FRAME_FINAL.mp4`
Dua belas menit empat puluh tujuh detik.
Sudah selesai seratus persen.
“Vanessa, menurut kamus bahasa kamu tuh definisi ‘selesai’ itu yang kayak gimana lagi coba?!”
Nggak ada jawaban dari seberang sana.
“Van?!”
“Adegan endingnya masih salah, Ray,” bisik Vanessa lirih.
Detik itu juga, ada satu ikatan kesabaran di dalam dada Ray yang putus tanpa bisa dicegah lagi.
“Adegan endingnya tuh UDAH BAGUS BANGET, Vanessa!”
“Nggak.”
“Kamu mulai kumat lagi kan penyakitnya?!”
“Kumat apanya maksudmu?!”
“Penyakit hobi ngerombak total segala hal yang udah jadi!”
“Aku ngerombak karena aku tahu aku bisa bikin hasilnya jauh lebih dahsyat, Ray!”
“Karya kamu tuh NGGAK HARUS SELALU JAUH LEBIH SEMPURNA, Vanessa!”
“HARUS!”
“KENAPA HARUS COBA?!” bentak Ray frustrasi.
Hening seketika merayap panjang.
Dari ujung sambungan telepon, terdengar napas Vanessa mulai bergetar.
“Karena aku nggak tahu apa aku bakal bisa nyelesaiin film berikutnya.”
Ray mengerutkan kening.
Kalimat itu terdengar aneh keluar dari mulut Vanessa.
Cewek yang biasanya bicara seolah-olah film berikutnya, festival berikutnya, sampai piala berikutnya cuma tinggal menunggu waktu.
“Kok sekarang jadi ngomong kayak gitu?”
Hening kembali terdengar dari seberang.
“Nggak tahu,” jawab Vanessa akhirnya, suaranya jauh lebih kecil.
Dan untuk pertama kalinya, Ray mendengar keraguan sungguhan di suara Vanessa.
Lalu terdengar satu isakan pendek.
Disusul isakan kedua.
Ray langsung bangkit berdiri dari kursi belajarnya dengan panik campur lelah.
“Aduh... ya ampun, Van, jangan nangis lagi...”
Dan tepat di detik saat kalimat itu meluncur lepas dari mulutnya—
Ray langsung menyadari fatalnya kesalahan bicaranya barusan.
Terlambat.
Isakan tangis Vanessa di seberang telepon mendadak terhenti seketika, berganti menjadi kesunyian yang dingin dan membekukan jiwa.
Ray memejamkan matanya rapat-rapat sambil menahan sesak di dada.
“Vanessa... sumpah maaf, tadi aku nggak bermaksud—“
Tut... tut... tut...
Panggilan telepon itu diputus secara sepihak.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!