Pukul 22:36 WIB, Nadia menelpon nomor Ray.
“Gimana kelanjutannya sekarang, Ray? Kita mau ngapain?”
Ray menatap layar laptopnya yang masih menampilkan laman formulir pendaftaran lomba.
Tombol biru bertuliskan *UPLOAD VIDEO* berkedip-kedip menunggunya di sana.
“Gue nggak tahu, Nad.”
“File ekspor finalnya kan udah ada di laptop lo.”
“Iya, gue tahu.”
“Vanessa jelas-jelas pengen banget film ini di-submit, Ray.”
“Gue tahu.”
“Lo sendiri... sebenernya pengen nge-submit nggak?”
Ray membuka folder proyek film di komputernya.
Di dalamnya ada puluhan file video hasil ekspor dengan nama-nama yang mencerminkan keputusasaan seorang editor:
`OUT_OF_FRAME_FINAL.mp4`
`OUT_OF_FRAME_FINAL2.mp4`
`OUT_OF_FRAME_FINAL_BENERAN.mp4`
`OUT_OF_FRAME_FINAL_BENERAN_ASLI.mp4`
`OUT_OF_FRAME_PAKE_YANG_INI.mp4`
`OUT_OF_FRAME_PAKE_YANG_INI_REVISI_BARU.mp4`
Ray nyaris saja tertawa miris melihat deretan file konyol itu.
Tapi detik berikutnya, matanya menangkap sebuah file baru yang terletak di paling bawah.
Diunggah malam ini pukul 21:47 WIB.
Tepat beberapa saat setelah Vanessa pulang dari rumah sakit.
`OUT_OF_FRAME_TERAKHIR.mp4`
Senyum di bibir Ray langsung lenyap seketika.
“Bentar, Nad...”
“Kenapa?”
“Ada file baru di dalem folder.”
“Vanessa ngedit video lagi?!”
“Gue belum tahu.”
Ray mengklik ganda file tersebut.
Sebagian besar adegan di dalamnya masih sama persis seperti versi kemarin.
Sampai akhirnya... adegan penutup itu tiba.
Karakter yang dimainkan Ray melangkah menyusuri lorong yang sepi.
Langkahnya berhenti.
Dia menoleh ke belakang bahunya.
Kosong.
Tapi kali ini... adegan itu nggak langsung dipotong ke layar hitam.
Kamera tetap merekam lorong kosong itu.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lima belas detik.
Lalu... terdengar suara bisikan Vanessa dari balik rekaman audio:
*”Kamu... kamu ada di situ kan?”*
Napas Ray seketika tercekat di tenggorokan.
Nadia yang mendengar audio itu lewat sambungan telepon langsung memekik kaget:
“Astaga naga... itu suara Vanessa?!”
Rekaman video tadi malam.
Rekaman saat Vanessa berdiri sendirian di lantai tiga gedung tua sebelum dia hilang.
Vanessa memasukkan potongan rekaman horor nyata itu ke dalam film fiksi mereka.
*”Aku bisa liat kamu sekarang...”*
Layar monitor tetap menampilkan pemandangan lorong yang sunyi dan berdebu.
Lalu sosok Vanessa melangkah masuk ke dalam bingkai kamera.
Sendirian.
Menatap lurus ke arah kehampaan tak kasat mata di samping lensa.
Dia melangkah maju satu langkah.
Melangkah satu langkah lagi mendekati kegelapan.
Lalu... blep. Layar memotong ke warna hitam pekat.
Tulisan judul film muncul perlahan di tengah layar:
**OUT OF FRAME**
*A Short Film by Vanessa Adeline*
Ray terpaku menatap layar monitornya tanpa berkedip.
Nadia terdiam seribu bahasa di seberang telepon.
Ray pun nggak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Karena hasil editan penutup itu...
terasa luar biasa mengerikan.
Sekaligus sangat indah.
Sangat menyayat hati.
Dan entah bagaimana caranya...
kualitas filmnya mendadak melompat jauh jadi mahakarya yang dahsyat.
Pukul 23:51 WIB, Ray menelpon nomor ponsel Vanessa.
Nada sambung berbunyi dua kali sebelum akhirnya diangkat.
Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
Sampai akhirnya Ray yang pertama kali memecah keheningan:
“Aku udah nonton adegan ending baru.”
Hening sejenak di seberang sana.
“Kamu... benci ya sama hasilnya?” bisik Vanessa dengan suara sangat kecil dan takut.
“Nggak.”
Sunyi lagi.
“Hasilnya... bagus banget, Van. Merinding nontonnya.”
Terdengar suara helaan napas lega yang sangat panjang dari bibir Vanessa.
Ray melirik jam digital di sudut bawah komputernya.
Tinggal sembilan menit lagi sebelum batas waktu pengumpulan ditutup.
“Ini kan hasil akhir yang beneran kamu mau?” tanya Ray memastikan.
“Iya.”
“Kamu bener-bener yakin seratus persen?”
“Yakin, Ray.”
Ray menggeser kursor mouse-nya tepat di atas tombol biru bertuliskan *UPLOAD*.
Tapi jarinya berhenti sejenak sebelum menekan klik.
“Vanessa.”
“Apa?”
“Janji sama aku satu hal dulu.”
Vanessa nggak langsung menjawab. “Janji apaan?”
“Malam ini nggak ada urusan film-filman lagi.”
Terdengar suara tawa kecil yang sangat manis dari seberang telepon.
“Iya, janji.”
“Nggak ada buka software editing lagi.”
“Iya, janji.”
“Nggak ada aksi nekat nyusup ke gedung kosong tengah malam lagi.”
“Iyaaa, janji.”
“Langsung tidur nyenyak sampai siang besok.”
“Galak banget sih jadi pacar.”
“Van.”
“Iya deh, iya! Janji!”
Ray tersenyum tipis, rasa hangat perlahan kembali merayap di dadanya.
Lalu terdengar bisikan Vanessa yang lembut:
“Ray?”
“Iya?”
“Kita beneran berhasil nyelesaiin ini bareng-bareng ya...”
Ray menatap tombol kirim di layarnya.
“Tinggal selangkah lagi.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!