Sosok Cewek Itu

0 dibaca

A

Ray menarik kursi besi di samping ranjang dan duduk di sana.

Selama beberapa detik berikutnya, mereka berdua kembali terdiam dalam keheningan.

Lalu Ray perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh dan menggenggam jemari Vanessa yang dingin.

Vanessa membiarkannya, bahkan sedikit meremas balik jari Ray.

“Sebenernya apa yang terjadi, Van?” tanya Ray pelan.

Senyuman tipis di wajah Vanessa seketika menghilang tanpa bekas.

“Aku nggak tahu, Ray.”

“Vanessa, please deh...”

“Aku serius, sumpah!”

“Kamu balik lagi ke gedung tua itu kan?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Iya.”

“Tengah malem buta?”

“Kamu bikin suasananya kedengeran makin serem tau nggak pake diabsenin satu-satu kayak gitu!”

“Ya kenyataannya emang makin serem tiap kali aku runut kronologinya!”

Vanessa memalingkan wajahnya ke arah lain.

Ray berusaha keras mengatur ritme napasnya agar suaranya tetap terdengar tenang.

“Kenapa kamu nekat balik ke sana, Van?”

“Kan aku udah pernah bilang...”

“Gara-gara sosok cewek itu lagi?”

Vanessa mengangguk pelan.

Ray melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat sebelum kembali bertanya:

“Kamu liat dia lagi pas di sana?”

“Iya.”

“Di dalem gedung itu?”

“Iya.”

“Pas abis rekaman video di kamera itu selesai?”

Vanessa nggak langsung menjawab.

Ray menunggu dengan sabar.

“Vanessa...”

“Dia... dia jalan pergi ngejauh, Ray.”

“Siapa yang jalan pergi?”

“Cewek misterius itu.”

Hawa dingin kembali merayap di tengkuk Ray.

“Pergi ke mana?”

“Turun ke tangga belakang gedung.”

“Terus kamu ngikutin langkah dia?”

“Aku cuma butuh kepastian, Ray.”

“Kepastian soal apa?!”

“Soal kenapa dia selalu nongol terus-terusan di hidupku!”

Ray menatap cewek di depannya lekat-lekat.

“Terus? Apa yang kamu temuin di bawah?”

Raut muka Vanessa mendadak berubah bingung bercampur cemas.

“Maksud kamu gimana?”

“Ya pas kamu ngikutin dia ke bawah, apa yang terjadi?”

Vanessa menatap selimut putih yang menutupi kedua kakinya dengan pandangan nanar.

“Aku... aku nggak inget apa-apa lagi, Ray.”

Ray mengira cewek itu salah menangkap pertanyaannya. “Maksud kamu nggak inget gimana?”

“Aku inget pas aku melangkah turun ke tangga belakang,” bisik Vanessa pelan. “Terus aku inget pas kakiku udah napak di tanah luar gedung...”

“Terus abis itu?”

“Abis itu... semuanya gelap, Ray. Aku beneran nggak inget.”

“Masa kamu nggak inget sama sekali pas kamu jalan kaki sendirian ke arah jalan raya besar?!”

“Nggak inget sama sekali.”

“Pas diangkut ke rumah sakit ini?”

“Nggak inget juga.”

“Orang baik yang nemuin kamu dan nolongin kamu di aspal?”

“Sumpah demi Tuhan aku nggak inget siapa orangnya, Ray.”

Ray menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan perasaan kacau.

Ada lubang hitam besar di ingatan cewek itu.

Satu kepingan waktu yang hilang tak berjejak dari malam gilanya.

“Hal terakhir yang bener-bener bisa kamu inget di kepala kamu apaan, Van?”

Vanessa terdiam sangat lama sebelum akhirnya berbisik dengan suara tercekat:

“Wajah cewek itu.”

Dan mendengar jawaban itu, Ray memutuskan buat nggak bertanya lagi seperti apa rupa wajah sosok misterius itu.

Dia beneran nggak sanggup buat mengetahuinya.

Pintu kamar mendadak terbuka dan seorang perawat perempuan berseragam putih melangkah masuk.

Suster itu mulai mengecek tensi darah Vanessa dengan stetoskopnya.

Lalu mulai melontarkan beberapa pertanyaan standar evaluasi kesadaran pasien:

Hari ini hari apa?

Sekarang lagi ada di mana?

Nama lengkapnya siapa?

Apakah dia tahu siapa sosok cowok yang lagi duduk di samping ranjangnya?

Vanessa langsung menunjuk hidung Ray dengan muka datar:

“Sayangnya kenal banget, Sus.”

Ray melirik ke arah suster sambil mendengus pelan. “Tuh liat kan, Sus? Otak jailnya masih berfungsi normal seratus persen.”

Vanessa tersenyum kecil.

Tapi suster itu sama sekali nggak ikut tersenyum.

Lalu suster itu melontarkan pertanyaan berikutnya yang langsung membekukan atmosfer ruangan:

“Belakangan ini... pola tidur adek gimana ya?”

Senyuman di bibir Vanessa langsung lenyap seketika.

“Tidur kok, Sus.”

“Berapa jam tidurnya dalam semalam?”

Vanessa mengedikkan bahu samar. “Ya... tergantung tugas sekolah, Sus.”

“Tadi malam tidurnya berapa jam?”

“Lupa, Sus.”

“Malam sebelumnya?”

Vanessa kembali mengedikkan bahunya tanpa beban.

Melihat gelagat itu, Ray langsung menyambar jawaban tanpa ragu:

“Paling banter cuma dua jam, Sus. Itu pun kalau merem.”

Vanessa seketika melotot tajam menatap Ray. “Ray!”

“Apaan?! Kan ngomong fakta!”

Suster itu menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan serius.

“Dan malam-malam sebelum itu gimana pola tidurnya?”

Di kepala Ray, deretan waktu pesan chat yang masuk di ponselnya mendadak berputar otomatis:

Pukul 01:14 subuh.

Pukul 02:47 subuh.

Pukul 03:06 subuh.

Pukul 04:18 subuh.

Selalu Vanessa.

Selalu terjaga dengan segudang ide gila.

“Hampir nggak pernah tidur normal seminggu ini, Sus,” jawab Ray jujur tanpa tedeng aling-aling.

Suster itu mengangguk-angguk sambil mencatat di papan berkasnya.

“Belakangan ini merasa energik banget nggak secara berlebihan?”

Vanessa mengerutkan kening sebal. “Nggak tuh, biasa aja.”

Ray menoleh menatap ceweknya dengan tatapan menyindir.

Vanessa langsung menangkap lirikan itu. “Ngapain natap aku kayak gitu?!”

Ray memilih diam.

“Ray, jangan mulai ya!”

“Aku nggak ngomong apa-apa lho.”

“Tapi muka kamu ngeselin banget!”

“Muka aku emang dari lahir begini bentukannya.”

“Muka kamu tuh masang ekspresi ‘aku-tahu-sesuatu-yang-kamu-nggak-tahu’!”

“Perasaan kamu doang itu mah.”

“Jelas-jelas muka kamu masang tampang nyebelin begitu kok!”

Suster itu berdeham pelan memotong perdebatan kecil mereka.

“Sering merasa susah fokus nggak belakangan ini?”

“Nggak, Sus.”

“Merasa jauh lebih aktif dibanding biasanya?”

“Biasa aja, Sus.”

“Pola bicaranya jadi jauh lebih banyak dan cepat?”

Vanessa langsung memasang wajah tersinggung yang dramatis.

“Dari orok saya emang hobi ngomong ya, Suster!”

Ray nyaris saja tertawa mendengar pembelaan itu, karena sialnya bagian itu memang benar adanya.

Lalu... suster itu melontarkan satu pertanyaan pamungkas yang membuat udara di kamar itu serasa tersedot habis:

“Pernah mengalami hal-hal yang nggak biasa nggak? Misalnya... melihat bayangan atau mendengar bisikan suara yang orang lain di sekitar nggak bisa lihat atau dengar?”

Hening seketika mencekam seisi ruangan.

Vanessa berhenti tersenyum total.

Ray menoleh menatap wajah ceweknya dengan dada bergemuruh kencang.

Vanessa menatap suster itu beberapa detik.

Lalu tatapannya beralih menatap lurus ke dalam mata Ray.

Dan dengan nada suara yang sangat tenang dan mantap, cewek itu menjawab:

“Nggak pernah sama sekali, Sus.”

Jantung Ray seketika mencelos jatuh ke dasar perutnya.

Suster itu mengangguk puas lalu mencatat jawaban itu di lembar observasinya.

Di bawah selimut rumah sakit, jemari tangan Vanessa mendadak meremas telapak tangan Ray dengan cengkeraman yang sangat kuat dan menyakitkan.

Sebuah isyarat tanpa kata yang sangat jelas bagi Ray:

*Jangan berani-berani buka mulut.*

Dan karena kebodohan atau rasa sayangnya yang terlalu dalam... Ray akhirnya memilih untuk tetap bungkam seribu bahasa.

Pintu kamar menutup di belakang suster.

Ray menatap pintu itu beberapa detik lebih lama.

Entah kenapa, baru sekarang dia sadar. Barusan dia bukan cuma memilih untuk tidak membantah Vanessa.

Dia ikut membantu Vanessa menyembunyikan sesuatu dari orang yang sedang berusaha menolongnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk