Ray menekan tombol *UPLOAD*.
Bilah proses pengunggahan file langsung muncul di layar.
10%.
27%.
46%.
Ray melirik cemas ke arah jarum jam di dinding kamarnya.
Pukul 23:55 WIB.
68%.
Pukul 23:57 WIB.
91%.
Pukul 23:58 WIB.
Dan tepat saat jarum jam menyentuh angka 23:59...
kotak hijau besar muncul di tengah layar:
**SUBMISSION SUCCESSFUL**
*Terima kasih! Karya film pendek Anda telah resmi terdaftar dalam kompetisi.*
Ray mengembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya.
“Udah beres, Van. Berhasil terkirim.”
Nggak ada sahutan kata-kata dari seberang sambungan telepon.
“Van? Kamu masih di situ kan?”
Lalu Ray mendengar sebuah suara kecil yang familier lewat speaker ponselnya.
Vanessa menangis lagi.
Tapi kali ini, Ray nggak panik mencari tahu apa penyebabnya.
Dia nggak menyuruh Vanessa berhenti sedih.
Nggak mencoba mencari kalimat ajaib yang bisa memperbaiki semuanya.
Ray hanya tetap diam di ujung telepon, mendengarkan napas cewek itu.
“Kita beneran berhasil, Ray...” bisik Vanessa tersedu-sedu di balik bantalnya.
Ray menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi belajarnya yang dingin.
“Iya, Van. Kita berhasil.”
Untuk pertama kalinya sejak proyek gila ini dimulai berminggu-minggu yang lalu, nggak ada lagi adegan syuting yang harus dikejar.
Nggak ada lagi klip video yang harus dipotong.
Nggak ada lagi formulir administrasi yang harus dikirim.
Kamera telah dimatikan.
Film telah resmi selesai.
Namun anehnya... di lubuk hatinya yang paling dalam, Ray mendadak dihinggapi firasat ganjil yang dingin:
Bahwa badai ujian terberat dalam hubungan mereka... sebenarnya baru saja akan dimulai.
Keesokan paginya, Ray terbangun pada pukul 09:43 WIB dengan ponsel yang masih tergenggam erat di telapak tangannya.
Selama beberapa detik awal, kepalanya terasa pening dan bingung.
Lalu pandangannya menangkap layar laptop yang masih menyala di atas meja:
*SUBMISSION SUCCESSFUL.*
Sebuah senyuman lega spontan terbit di wajah Ray.
Mereka beneran berhasil membuktikannya.
Mereka berhasil menuntaskan salah satu mimpi film khayalan Vanessa sampai ke garis finis.
Namun sedetik kemudian, ingatan soal malam kemarin mendadak menghantam kepalanya kembali:
Ruang IGD rumah sakit.
Gedung tua yang gelap gulita.
Lorong lantai tiga yang berdebu.
Dan sosok cewek misterius yang sama sekali nggak bisa dilihat oleh siapa pun.
Senyuman di bibir Ray seketika lenyap tak berbekas.
Dia menyalakan layar ponselnya.
Nggak ada satu pun notifikasi pesan masuk dari Vanessa.
Sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim.
Ray membuka ruang obrolan mereka dan mengetik pesan singkat:
*Ray: pagi sayang*
Terkirim. Centang dua abu-abu.
Ray menunggu beberapa menit. Masih hening.
Lima menit kemudian dia mengetik lagi:
*Ray: kamu masih idup kan*
Tapi sedetik kemudian, Ray langsung mengutuk pilihan katanya sendiri.
Mengingat peristiwa mengerikan kemarin malam di rumah sakit, lelucon sarkas barusan jelas terdengar sangat tidak pantas.
Ray buru-buru menekan tombol *Hapus untuk Semua Orang*.
Lalu mengetik kalimat pengganti yang lebih sopan:
*Ray: semalem tidurnya nyenyak ga?*
Terkirim. Tetap centang dua abu-abu.
Ray mencoba menenangkan debaran cemas di dadanya.
Kan Vanessa memang disuruh buat tidur seharian.
Tidur pulas adalah satu-satunya hal yang dari kemarin dimohon-mohon oleh semua orang buat dilakuin cewek itu.
Ini kabar baik.
Lantas kenapa Ray malah menatap tanda centang abu-abu di layarnya seolah-olah simbol itu baru saja menghina harga dirinya?
Ray meletakkan ponselnya di atas kasur.
Tiga puluh detik kemudian, tangannya udah gatal mengambil ponsel itu lagi.
Tetap nggak ada balasan.
“Dia lagi tidur pulas,” gumam Ray meyakinkan dirinya sendiri dengan suara keras.
Lalu karena dia butuh validasi eksternal buat menenangkan hatinya yang parno:
“Manusia normal emang butuh tidur.”
Tepat saat itu juga, nyokapnya yang lagi lewat di depan pintu kamar melongokkan kepala dengan kening berkerut:
“Kamu ngomong sendirian sama siapa sih?”
“Nggak sama siapa-siapa, Ma...” sahut Ray salah tingkah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!