Vanessa baru membalas pesannya pada pukul 15:17 WIB sore.
*Vanessa: hai*
Ray langsung menyambar ponselnya dengan kecepatan refleks kilat.
*Ray: WAAA HAI*
*Ray: gila ya kamu tidur molor 15 jam nonstop kayak simulasi hibernasi beruang kutub*
Satu menit berlalu tanpa balasan.
*Vanessa: iya hehe*
Ray tersenyum lega menatap layar ponselnya.
Bagus lah. Akhirnya cewek itu bisa istirahat beneran.
*Ray: udah enakan badannya?*
Animasi tiga titik mengetik muncul di sudut layar.
Lalu menghilang.
Lalu muncul lagi.
*Vanessa: gatau deh*
Kening Ray berkerut membaca jawaban mengambang itu.
*Ray: mau aku bawain makanan ke rumah kamu sekarang?*
Dan kali ini, balasannya datang sangat cepat:
*Vanessa: gausah ray*
Ray menatap kata penolakan itu dengan rasa heran yang janggal.
Biasanya Vanessa bakal heboh nodong minta dibawain martabak manis atau seblak pedas level lima.
Sikap menolak seperti ini terasa sangat bukan Vanessa.
*Ray: yaudah deh*
Ray sempat ingin menambahkan emoji hati merah di belakang pesannya.
Tapi entah kenapa jarinya ragu.
Lalu dia mikir kalau nggak ngirim emoji hati malah bakal kelihatan aneh.
Maka dia mengirimkannya di pesan terpisah:
*Ray: ❤️*
Vanessa hanya membalas dengan memberikan reaksi ikon hati pada pesan itu.
Tanpa ketikan kata-kata apa pun lagi.
Ray mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
Hari Senin berikutnya, Vanessa nggak masuk sekolah.
Ray langsung menyadari bangku kosong di samping mejanya bahkan sebelum dia sempat meletakkan tas ranselnya ke kursi.
Nadia yang duduk di seberang lorong kelas memperhatikan tatapan mata Ray yang terpaku.
“Palingan dia masih disuruh istirahat di rumah sama mamanya, Ray,” ujar Nadia pelan.
“Iya, gue tahu kok.”
Pas jam istirahat makan siang, Ray mencoba mengirimkan pesan santai ke WhatsApp Vanessa:
*Ray: sekolah sepi bgt gaada kamu, hambar kayak sayur kurang garem*
Nggak ada balasan.
*Ray: barusan si aldo nyaris ngebakar lab kimia pas praktikum kimia wkwk*
Aldo yang lagi asyik makan batagor di sebelah meja langsung melotot tersedak.
“Fitnah lo kejam banget ya, Ray! Gue cuma nyenggol kaki pembakar spirtus dikit doang tadi!”
*Ray: andai kamu ada di sini buat ngetawain komuknya dia*
Terkirim. Centang dua abu-abu.
Tetap nggak ada balasan.
Ray meletakkan ponselnya kembali ke saku seragamnya dengan helaan napas berat.
“Dia cuma lagi butuh istirahat panjang aja kan, Nad?”
“Mungkin.”
Sialnya, kata *mungkin* itu terasa sangat mengganjal di telinga Ray.
Vanessa baru kembali masuk sekolah pada hari Kamis pagi.
Ray yang lagi asyik membaca komik di mejanya mendengar suara langkah kaki pelan melangkah masuk melewati pintu depan kelas.
Dia langsung menoleh dengan cepat.
“Van—“
Sisa kata dari nama cewek itu mendadak tercekat di tenggorokan Ray.
Vanessa tampak... berbeda.
Bukan perubahan drastis yang mencolok seperti di sinetron.
Kalau orang yang berpapasan di koridor nggak kenal dekat dengannya, mungkin mereka nggak bakal menyadari ada keanehan apa pun.
Seragam putih abu-abunya terpasang rapi seperti biasa.
Rambut panjangnya yang dicepol seperti biasa.
Tas ranselnya tergantung manis di pundaknya.
Secara fisik, dia tetaplah sosok Vanessa yang sama.
Tapi... cewek itu berjalan dengan sangat lambat.
Seumur-umur Ray mengenal Vanessa, cewek itu nggak pernah berjalan selambat itu.
Langkahnya yang biasa cepat dan tergesa-gesa kayak orang dikejar utang, kini tampak sangat berat dan lunglai seolah kakinya terikat bandul timah.
“Hai, Van,” sapa Ray bangkit dari kursinya.
“Hai, Ray,” sahut Vanessa pelan.
Ray menunggu cewek itu melontarkan celetukan jailnya yang biasa.
Tapi nggak ada apa-apa yang menyusul.
“Kamu... kamu udah masuk sekolah lagi sekarang?”
“Iya.”
“Gimana kondisi badan kamu sekarang? Udah enakan?”
“Udah baikan kok.”
Ray nyaris saja tertawa miris. Tentu saja, kata ajaib itu lagi yang keluar dari mulutnya.
“Beneran udah baikan?”
Vanessa mengedikkan bahunya samar. “Kayaknya sih gitu.”
Ray melangkah maju dan memeluk tubuh ceweknya dengan hangat.
Selama satu detik yang janggal, tubuh Vanessa terasa kaku tak bergerak di dekapannya.
Baru sedetik kemudian kedua tangannya membalas pelukan Ray.
Lemah. Sangat lemah tanpa tenaga.
Ray melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata cewek itu lekat-lekat.
“Udah sarapan belum tadi pagi?”
“Udah kok.”
“Sarapan nasi apa roti?”
“Kayaknya... roti deh.”
“Kok ‘kayaknya’ sih jawabnya?”
Raut muka Vanessa mendadak tampak sangat letih dan enggan ditanya-tanya.
“Ray, please...”
Ray langsung terdiam seribu bahasa. “Maaf... maaf, nggak bermaksud nginterogasi kamu.”
Vanessa menarik kursinya dan duduk di sebelah Ray.
Ray ikut duduk di sampingnya.
Dia menunggu cewek itu membuka obrolan soal kelanjutan film mereka atau apa pun.
Tapi sampai bel masuk berbunyi nyaring, Vanessa hanya duduk mematung menatap lurus ke papan tulis yang kosong.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!