Pas jam istirahat makan siang tiba, Vanessa sendiri yang berinisiatif mencari keberadaan Ray di area belakang gedung aula sekolah.
Di deretan anak tangga beton yang sama persis di mana cewek itu pernah menangis tersedu-sedu beberapa minggu yang lalu.
Ray buru-buru menggeser tas ranselnya ke samping agar Vanessa bisa duduk di sana.
Vanessa memilih duduk di anak tangga satu tingkat tepat di bawah posisi duduk Ray.
Untuk beberapa saat, nggak ada obrolan di antara mereka selain semilir angin sepoi-sepoi yang menyapu dedaunan pohon.
Sampai akhirnya suara Vanessa memecah keheningan:
“Mamaku nyaranin... kayaknya aku butuh ngambil cuti sekolah beberapa waktu, Ray.”
Ray mengangguk pelan. “Oke.”
“Mungkin aku bakal beneran ambil cuti itu.”
“Oke.”
Vanessa mendongakkan kepalanya menatap wajah cowoknya dengan kening berkerut.
“Kosakata kamu sekarang beneran cuma sisa kata ‘oke’ doang ya?”
Ray tersenyum kecut. “Ada banyak kosakata lain kok di kepala. Cuma aku lagi parno setengah mati takut salah pilih kata lagi.”
Celetukan polos itu berhasil memancing tawa kecil yang renyah dari bibir Vanessa.
Ray ikut tersenyum hangat melihatnya.
Lalu detik berikutnya dia buru-buru mengontrol ekspresi mukanya karena sadar dia baru saja tersenyum gara-gara cewek itu tertawa.
Ya Tuhan... menjalin hubungan yang sehat ternyata memang luar biasa rumit dan penuh ranjau emosional.
Vanessa menundukkan pandangannya menatap jemari tangannya sendiri.
“Kemarin aku udah mulai rutin ketemu dokter.”
Ray mengangguk dengan pandangan teduh. “Dokternya ngomong apa aja pas sesi kemarin?”
“Banyak banget hal yang dibahas.”
“Sangat informatif ya penjelasannya.”
“Kan aku nggak nyimak semuanya pas dokternya ngomong panjang lebar,” gerutu Vanessa polos.
“Nah, itu jauh lebih informatif lagi.”
Vanessa menghela napas panjang menatap ke arah lapangan rumput yang luas di depan mereka.
“Dokternya banyak nanya soal pola tidur selama beberapa bulan terakhir ini.”
“Oke.”
“Nanya berapa jam aku tidur dalam semalam... seberapa meluap-luapnya energi di dalem tubuhku pas lagi ngerjain proyek film... gimana pola konsentrasi di sekolah... seberapa cepet kalau lagi ngomong... rentetan ide cerita yang mendadak nongol di kepala... dan soal tangisan tiba-tiba tanpa sebab.” Vanessa terdiam sejenak, suaranya mengecil: “Terus nanya soal sosok cewek misterius di lorong itu juga.”
Ray memilih untuk tetap diam mendengarkan dengan sabar.
“Mamaku juga ditanya-tanyain banyak hal sama dokternya.”
“Kamu ngerasa cocok nggak sama dokternya?” tanya Ray hati-hati.
Vanessa mengedikkan bahunya samar. “Nggak tahu ya, biasa aja kayaknya.”
“Wajar sih.”
“Kata dokternya...” Vanessa menggantung kalimatnya di udara.
Ray menunggu kelanjutannya dengan dada berdebar cemas.
“Kata dokter... apa yang nimpa diri aku pas sebelum masuk rumah sakit kemarin itu... bukan sekadar kondisi anak remaja yang lagi kelewat antusias ngerjain hobi.”
Dada Ray seketika berdenyut ngilu mendengarnya. “Terus apa hasilnya?”
“Masih dalam proses observasi dan evaluasi mendalam sih.”
“Oh...”
“Dokternya sempat nyebut beberapa istilah medis dan psikologis berbahasa Inggris yang ribet.” Vanessa tertawa kecil dengan nada getir. “Dan sumpah, aku benci banget sama semua istilah itu.”
Dan Ray memutuskan buat nggak bertanya apa saja istilah-istilah medis yang dimaksud.
Belum saatnya sekarang.
Vanessa melanjutkan ceritanya:
“Dan sekarang... kata dokternya kondisiku lagi berada di sisi satunya.”
Ray mengerutkan kening heran. “Sisi satunya?”
“Aku nggak tahu.”
Dan kata keramat itu muncul kembali.
Namun anehnya, untuk kali ini Ray sama sekali nggak merasa jengkel atau frustrasi mendengarnya.
Karena dia tahu betul kalau Vanessa memang benar-benar tidak mengetahuinya secara medis.
Dan Ray pun sama-sama tidak mengetahuinya.
Maka Ray hanya mengangguk tenang menatap cewek itu.
“Oke deh.”
Vanessa mendongak menatap Ray dengan senyuman tipis.
“Jawaban ‘oke’ yang barusan itu... lulus standar kelayakan.”
“Terima kasih banyak atas penilaiannya, Yang Mulia.”
“Sekarang aku lagi menyusun rubrik penilaian resmi buat respon kamu kok.”
“Tolong rubrik penilaiannya dipublikasikan secara transparan ya biar aku nggak remedial mulu.”
Setelah beberapa saat hening menyelimuti mereka, Ray memberanikan diri bertanya pelan:
“Van... kamu sebenernya ngerasa takut nggak sih ngadepin ini semua?”
Vanessa tampak merenungi pertanyaan itu cukup lama di kepalanya.
“Takut banget, Ray.”
Akhirnya, sebuah jawaban jujur yang bukan kata *nggak tahu*.
“Hal apa yang paling kamu takutin sekarang?”
Dan sialnya, jawaban yang meluncur berikutnya justru:
“Aku nggak tahu.”
Ray spontan tersenyum tipis mendengar inkonsistensi itu.
Vanessa langsung menyikut paha celana seragam Ray dengan gemas.
“Jangan ngetawain!”
“Mana ada aku ngomong apa-apaan dari tadi!”
“Tapi ekspresi muka kamu tuh jelas-jelas lagi ngetawain aku ya!”
“Kayaknya sekarang semua orang di muka bumi beneran udah jadi cenayang pembaca ekspresi mukaku deh.”
Vanessa kembali menatap lurus ke hamparan lapangan rumput hijau yang luas di depan mereka.
Lalu dengan suara yang sangat pelan dan terdengar sangat rapuh, cewek itu berbisik:
“Gimana... gimana kalau seumur hidupku... aku nggak bakal pernah bisa bikin karya film lagi, Ray?”
Secara refleks, lidah Ray sebenarnya sudah siap menyambar dengan kalimat penenang instan yang klise:
*Pasti bisa lah! Kamu kan berbakat banget!*
Kalimat yang sangat mudah diucapkan.
Terdengar sangat manis dan menenangkan.
Namun kenyataannya sama sekali tidak berguna dan tidak menyelesaikan akar kecemasannya.
Maka alih-alih melontarkan janji palsu itu, Ray justru bertanya dengan sangat lembut:
“Kamu sendiri... masih punya keinginan buat bikin film lagi nggak?”
Detik itu juga, pelupuk mata Vanessa kembali digenangi air mata yang berkilauan ditimpa cahaya siang.
“Aku pengen banget punya *keinginan* itu lagi, Ray...”
Dada Ray serasa dihantam palu godam mendengar kejujuran yang teramat pedih itu.
Itu adalah dua hal yang sangat berbeda.
Cewek itu sama sekali tidak membenci dunia perfilman.
Impian masa depannya sama sekali tidak pernah mati atau lenyap ditelan bumi.
Cewek itu masih mengingat betul bagaimana dahsyatnya rasa cinta dan gairah saat dia menginginkan impian itu dulu.
Hanya saja untuk saat ini... jiwanya sedang tidak mampu menjangkau kembali getaran rasa itu di dalam dadanya.
Ray mengangguk-angguk pelan dengan tatapan penuh kehangatan.
“Kalau gitu... mungkin buat saat ini, punya keinginan buat *pengen memiliki keinginan* itu lagi aja udah lebih dari cukup, Van.”
Vanessa mengusap sudut matanya yang basah dengan punggung tangannya.
“Sejak kapan kamu mendadak jadi cowok bijak yang jago merangkai kata begini sih, Ray?”
“Dari dulu aku emang bijak kali, kamunya aja yang nggak nyadar.”
“Kalimat kamu barusan tuh kedengeran sangat mencurigakan lho tingkat kematangannya.”
“Kan selama ini aku udah bikin terlalu banyak kesalahan fatal pas ngomong sama kamu. Secara probabilitas statistik matematika, cepat atau lambat pasti ada satu kalimat yang bener secara kebetulan dong.”
Vanessa langsung meledak tertawa lepas mendengarnya.
Sebuah tawa yang benar-benar nyata dan tulus.
Terdengar kecil dan rapuh.
Namun seratus persen nyata keluar dari lubuk hatinya.
Dan untuk kali ini... Ray membiarkan dirinya menikmati hangatnya suara tawa itu tanpa menuntut cewek itu untuk tertawa lagi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!