Sepulang sekolah sore itu, mereka berdua berjalan kaki pulang bersama menyusuri trotoar jalanan komplek perumahan.
Di pertengahan jalan yang mulai lengang, Vanessa mendadak menghentikan langkah kakinya.
“Ray.”
“Hm? Kenapa berhenti?”
“Sebenernya... kita berdua ini masih pacaran nggak sih?”
Langkah kaki Ray seketika oleng sampai dia nyaris saja menabrak tiang listrik beton di pinggir jalan.
“Hah?! Pertanyaan macam apa lagi itu barusan?!”
“Ya aku nggak tahu pasti.”
“Aku apalagi! Aku juga nggak tahu!”
“Jawaban kamu sama sekali nggak solutif ya, Ray.”
“Kan dari kemarin-kemarin kamu yang mendadak berhenti nge-chat dan ngobrol sama aku, Vanessa!”
“Kamu juga sama aja berhenti ngajak aku ngobrol ya!”
“Ya aku mikirnya kan kamu lagi butuh ruang dan waktu sendiri buat menenangkan diri!”
“Iya sih, aku emang lagi butuh waktu sendiri.”
“Nah! Terus kan aku udah dengan sangat baik hati ngasih kamu ruang dan waktu sendiri sesuai permintaan!”
“Iya, aku tahu.”
“Terus kenapa sekarang aku yang disalah-salahin gara-gara udah bener ngasih kamu ruang sendiri?!”
“Aku nggak lagi nyalahin kamu kok.”
“Bagus deh kalau gitu.”
Mereka berdua kembali melangkah beberapa meter ke depan dalam diam.
Lalu giliran Ray yang mendadak menghentikan langkah kakinya di trotoar.
“Van...”
“Apa?”
“Kamu sebenernya pengen kita putus nggak?”
Raut muka Vanessa seketika tampak sangat terkejut mendengar pertanyaan itu.
“Nggak lah! Siapa yang pengen putus coba?!”
Rasa lega yang teramat dahsyat seketika menyapu bersih seluruh beban di dada Ray detik itu juga.
“Oke deh kalau gitu.”
“Kamu sendiri pengen putus nggak sama aku?” tanya Vanessa balik dengan nada waspada.
“Nggak sama sekali lah!”
“Oke deh.”
Mereka berdua berdiri mematung berhadapan di atas trotoar jalanan sore itu.
“Ternyata... proses konfirmasi kelanjutan status pacaran kita gampang banget ya,” gumam Vanessa heran.
“Perlu kita bikin surat perjanjian bermeterai sepuluh ribu nggak nih?” canda Ray.
“Kayaknya perlu deh biar ada kekuatan hukum tetap.”
“Nanti aku minta format suratnya ke bagian tata usaha sekolah ya.”
Vanessa tersenyum manis mendengar lelucon itu.
Namun sedetik kemudian, senyuman di bibirnya perlahan memudar kembali berganti ekspresi ragu.
“Tapi, Ray...”
Ray menunggu kelanjutannya dengan sabar.
“Jujur aja... buat saat ini aku bener-bener nggak tahu gimana caranya menjadi sosok pacar yang baik dan menyenangkan buat kamu.”
Kening Ray berkerut pelan. “Maksudnya gimana, Van?”
“Aku lagi nggak pengen pergi jalan-jalan ke mana pun.”
“Iya, nggak apa-apa.”
“Kadang-kadang aku bakal mager banget buat diajak ngobrol atau chattingan.”
“Aman, aku paham.”
“Aku mungkin bakal sering ngebatalin janji ketemuan kita secara mendadak.”
“Nggak masalah.”
“Dan aku nggak pengen kamu terus-terusan nanyain apa yang lagi salah tiap kali mukaku kelihatan murung.”
Ray mengangguk mantap tanpa ragu.
“Oke. Aku nggak bakal maksa kamu jelasin tiap kali kamu kelihatan murung.”
“Aku mungkin bakal...” Vanessa tampak kesulitan mencari kata yang paling pas di kepalanya, “...bakal terus berada dalam kondisi datar dan ngebosenin kayak gini buat waktu yang lumayan lama, Ray.”
Lidah Ray sebenarnya sudah siap menyambar dengan kalimat klise yang biasa diucapkan cowok-cowok romantis di drama televisi:
*Nggak masalah kok, Sayang! Semuanya pasti bakal baik-baik aja!*
Namun Ray buru-buru menahan kalimat palsu itu di dalam hatinya.
Karena kenyataannya... dia sendiri sama sekali tidak tahu apakah semuanya bakal baik-baik saja.
Dia tidak tahu seberapa lama fase pemulihan ini bakal berlangsung.
Dia tidak tahu apakah suatu saat nanti rasa frustrasi di dadanya bakal meledak kembali tanpa terkontrol.
Dia tidak tahu apakah Vanessa bakal kembali menarik diri dan mendorongnya menjauh di masa depan.
Dan dia tidak tahu apakah suatu saat nanti dia bakal kembali melakukan kesalahan fatal dengan melontarkan kalimat bodoh di waktu yang salah.
Maka alih-alih menjanjikan masa depan indah yang belum pasti, Ray memilih untuk menyampaikan sebuah pengakuan yang jauh lebih jujur dan nyata:
“Jujur aja, Van... aku sendiri pun sama sekali nggak tahu gimana caranya ngejalanin hubungan yang kayak gini.”
Vanessa mendongak menatap lurus ke dalam bola mata cowoknya.
“Aku juga sama sekali nggak tahu caranya, Ray.”
“Bagus deh kalau gitu.”
Vanessa mengerutkan kening heran. “Bagus di mananya coba?!”
“Ya setidaknya di antara kita berdua, tingkat ketidak kompeten kita seimbang seratus persen.”
Vanessa memutar bola matanya malas sambil mendengus geli.
Dan dengan gerakan perlahan yang hangat, Ray mengulurkan telapak tangannya meraih jemari tangan Vanessa.
Dan kali ini... Vanessa membiarkan jari-jemarinya digenggam erat di dalam genggaman tangan Ray.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!