Pemutaran di Layar Lebar

0 dibaca

A

Sesi pemutaran film dijadwalkan mulai tepat pukul dua siang.

Pukul 13:37 WIB, Ray berdiri di depan pintu kaca lobi auditorium, celingukan menatap gerbang masuk.

Sosok Vanessa belum terlihat di mana pun.

Pukul 13:45 WIB, dia mengecek layar ponselnya.

Nggak ada pesan masuk, nggak ada panggilan tak terjawab.

Pukul 13:52 WIB, Nadia menyenggol lengannya dan menyuruhnya berhenti melototin pintu masuk kayak satpam penagih utang.

Pukul 13:56 WIB, Ray tetap nggak bisa menahan diri buat nggak menoleh lagi ke arah pintu.

Tetap kosong.

Dan tepat pukul dua siang, lampu sorot auditorium perlahan meredup padam.

Dan kursi beludru merah di sebelah Ray... tetap kosong tak berpenghuni.

Ada dua belas karya yang ditayangkan siang itu. Hanya lima di antaranya yang masuk kategori lima besar nasional, termasuk Out of Frame.

Sebagian bernuansa komedi segar.

Sebagian bernuansa drama keluarga yang mengharu biru.

Ada satu karya animasi visual yang begitu dahsyat sampai membuat Kevin berbisik panik di samping Ray:

“Fiks tamat riwayat kita, Ray. Lawan kita dewa semua.”

Nadia langsung menyikut rusuk Kevin kencang agar cowok itu diam.

Lalu beberapa menit kemudian...

judul film mereka mendadak terpampang megah di layar bioskop raksasa:

**OUT OF FRAME**

Napas Ray seketika tercekat di tenggorokan untuk beberapa detik.

Dia sudah menonton film ini puluhan kali.

Di layar laptop lecet milik Vanessa.

Di layar ponselnya yang retak tipis.

Di monitor komputer ruang editing sekolah.

Tapi dia belum pernah menyaksikannya seperti ini.

Layar auditorium itu luar biasa raksasa.

Tata suaranya berdegup kencang memenuhi seisi ruangan dari speaker surround.

Lorong gedung tua yang lembap itu tampak jauh lebih gelap di layar perak.

Jauh lebih sunyi.

Jauh lebih mencekam.

Pas wajah Ray sendiri mendadak muncul di layar lebar, Ray langsung berbisik ngeri ke telinga Nadia:

“Sumpah... gue benci banget liat komuk akting gue sendiri di layar segede gaban begini.”

Nadia berbisik mendesis tanpa menoleh:

“Diem lo!”

Penonton sempat tertawa kecil pada satu adegan canggung di awal.

Lalu beberapa menit kemudian, seluruh tawa di ruangan itu mendadak lenyap ditelan kesunyian.

Ray masih merasa aktingnya payah.

Tapi melihat ratusan orang diam terpaku pada layar, untuk pertama kalinya dia menyadari satu hal sederhana. Mungkin sesuatu yang dia lakukan di depan kamera tadi benar-benar sampai ke orang lain.

Menit-menit adegan penutup akhirnya tiba.

Pemandangan lorong semen yang gelap dan hampa.

Lalu suara bisikan lirih Vanessa menggema jernih lewat speaker bioskop:

*”Kamu... kamu ada di situ kan?”*

Seisi ruangan auditorium mendadak hening total tanpa ada suara bisikan sekali pun.

*”Aku bisa liat kamu sekarang...”*

Ray melirik ke arah deretan penonton di sekitarnya.

Nggak ada satu pun orang yang berani bergerak atau berkedip.

Semua mata terpaku lurus menatap layar.

Lalu sosok Vanessa melangkah masuk ke dalam bingkai gambar.

Sendirian.

Menatap lurus ke arah kehampaan yang tak kasat mata.

Satu langkah maju.

Lalu satu langkah lagi mendekati kegelapan.

Layar memotong ke warna hitam pekat.

**OUT OF FRAME**

Hening selama dua detik.

Lalu... gemuruh tepuk tangan meledak riuh memenuhi seisi auditorium.

Tepuk tangan yang tulus dan bergemuruh panjang dari ratusan pasang mata.

Ray menatap layar hitam di depannya dengan dada bergetar hebat.

Seharusnya saat ini dia menoleh menatap para dewan juri.

Atau memeluk Nadia, Aldo, dan Kevin yang lagi heboh bertepuk tangan di sebelahnya.

Namun alih-alih melakukan semua itu, pandangan mata Ray justru beralih menatap kursi kosong di sampingnya.

Karya mereka pada akhirnya memang nggak berhasil menyabet juara pertama.

Vanessa keliru dalam prediksinya.

Ray sempat tersenyum tipis saat menyadari fakta itu.

Cewek itu pasti bakal gondok setengah mati kalau tahu tebakannya meleset.

Tapi film mereka sukses menyabet penghargaan bergengsi: **Kategori Konsep & Ide Cerita Terbaik**.

Ditambah sebuah piagam penghargaan khusus dari dewan juri untuk **Penyutradaraan Terbaik**.

Saat nama Vanessa Adeline dibacakan lantang oleh pembawa acara di atas panggung, Ray spontan bangkit berdiri.

Selama sedetik dia sempat bingung harus melangkah ke mana.

Lalu Nadia langsung mendorong punggungnya sekuat tenaga:

“Maju sana cepetan, Ray!”

“Kok malah gue yang maju?!”

“MAJU SEKARANG JUGA, Ray!”

Ray melangkah ragu menaiki anak tangga panggung yang disorot lampu megah.

Seorang juri wanita paruh baya tersenyum ramah menyerahkan map sertifikat berbingkai emas ke tangannya.

“Apakah Saudari Vanessa Adeline hadir bersama kita sore ini?” tanya pembawa acara lewat mikrofon.

Secara refleks, pandangan mata Ray kembali menyapu deretan kursi penonton di bawah panggung.

Dia tahu betul cewek itu nggak ada di sana.

Namun dia tetap mencari.

“Nggak hadir, Mas,” jawab Ray serak di depan mikrofon.

“Kamu bagian dari tim produksinya?”

“Iya, saya aktor sekaligus kru lapangannya.”

“Bisa tolong diterima mewakili Vanessa?”

Ray menunduk menatap tulisan bertinta emas di atas sertifikat itu:

**VANESSA ADELINE**

*PENGHARGAAN KHUSUS DEWAN JURI — PENYUTRADARAAN TERBAIK*

Ray menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan, matanya terasa panas menahan haru.

“Bisa, Mas,” bisik Ray mantap.

Gemuruh tepuk tangan penonton kembali membahana di sekelilingnya.

Dan Ray memaksakan seulas senyuman tipis saat kilatan lampu kamera wartawan menyala di depannya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk