Bulan demi bulan berlalu.
Mereka belajar bareng tiap minggu.
Saling kirim chat pas jam pelajaran berlangsung.
Saling oper kunci jawaban ujian yang seharusnya mereka cari sendiri.
Dan kadang-kadang, video call sampai jam dua pagi.
Vanessa lagi asyik ngoceh soal alur film dari dalam kulkas.
“Jadi awalnya si tokoh utama buka kulkas buat ngambil makan malamnya. Tapi ternyata makanannya hilang.”
Vanessa berhenti bicara.
Di layar laptopnya, Ray ternyata udah ketiduran di kursi dengan kepala mendongak ke belakang dalam posisi yang kelihatan luar biasa nggak nyaman.
“Ray?”
Nggak ada jawaban.
“Ray!”
Ray tersentak bangun. “Hah?”
Vanessa melongo. “Kok lo bisa tidur kayak gitu sih? Gue lagi ceritain alur film kulkas!”
Ray mengucek matanya. “Kan itu udah pernah lo ceritain.”
“Nggak, ini beda.”
Ray menatap layar dengan mata setengah terbuka. “Kayaknya lo punya ide film baru tiap empat hari kerja.”
Vanessa tersenyum bangga. “Produktif dong.”
Ray cuma menghela napas.
Meskipun begitu, malam demi malam, dia tetap mendengarkan semua ide film Vanessa sampai selesai.
Mereka jadi temen.
Terus jadi temen deket.
Terus berlanjut jadi hubungan apa pun itu namanya yang berada di atas temen deket, tapi belum ada yang punya nyali buat ngasih label resmi.
Dan semua itu terjadi hanya lewat perantara selembar layar kaca.
Sampai di suatu siang, sebuah pengumuman mendadak meledak di grup WhatsApp kelas.
Sekolah tatap muka bakal dibuka kembali.
Ray membaca pesan itu dua kali buat mastiin dia nggak salah baca.
Untuk pertama kalinya sejak mereka resmi jadi anak putih abu-abu, mereka beneran bakal menginjakkan kaki di gedung sekolah sungguhan.
Nggak ada lagi drama Google Meet.
Nggak ada lagi kotak-kotak hitam misterius.
Dan nggak ada lagi akun legendaris Samsung Galaxy A51.
Mungkin.
Malam itu, Vanessa langsung nelpon Ray.
“Ray.”
“Apaan?”
“Gimana kalau aslinya lo burik?”
Ray melongo natap layar ponselnya. “Hah?”
“Iya. Selama ini kan gue cuma ngeliat lo lewat kamera depan laptop.”
“Kan lo udah liat muka gue, Van!”
“Ya iya, tapi siapa tahu lo diam-diam zonk versi 3D?”
“Sembarangan banget lo, Vanessa.”
“Gue serius tau!”
“Gimana kalau kebalikannya? Gimana kalau justru LO yang aslinya burik versi 3D?”
Vanessa langsung tersentak dramatis, menutup mulutnya dengan gaya kaget dibuat-buat.
“Mustahil!”
“Dih, percaya diri banget.”
“Gue punya data ya!”
“Data apaan?”
“Kaca rias di kamar gue.”
Ray nggak tahan buat nggak ketawa. “Terserah lo deh. Ketemu hari Senin ya.”
“Oke, sampai ketemu hari Senin.”
Vanessa tersenyum manis.
Lalu layar menghitam.
Panggilan berakhir.
Ray terdiam cukup lama di kursinya, memandangi pantulan wajahnya sendiri di layar laptop yang padam.
Hampir setahun penuh, Vanessa cuma eksis di dalem kotak digital.
Sebuah wajah.
Sebuah suara renyah.
Kumpulan pesan tengah malam.
Seorang cewek yang nggak pernah kehabisan pertanyaan, nggak pernah kehabisan jawaban, dan selalu punya segudang draf film yang pengen dia bikin.
Hari Senin besok, kotak pembatas itu bakal lenyap.
Untuk pertama kalinya, Ray bakal ketemu Vanessa di dunia nyata yang bernyawa.
Dan kekhawatiran terbesar Ray malam itu terdengar sangat memalukan buat diakui:
Dia bener-bener berharap cewek itu nggak bakal nganggep dia jelek.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!