Dia Sudah Sadar!

0 dibaca

A

Seumur hidupnya, Ray nggak pernah menyukai aroma rumah sakit.

Ruangan-ruangannya terlalu terang benderang dan steril buat tempat di mana semua orang di dalamnya selalu diliputi rasa takut yang mencekam.

Pas mobil Avanza Kevin mengerem di depan lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD), mamanya Vanessa sudah terlihat berdiri mondar-mandir menunggu di depan pintu kaca otomatis.

Ray langsung membuka pintu mobil dan melangkah cepat menghampirinya.

“Tante...”

Wajah wanita paruh baya itu tampak luar biasa pucat dan letih.

“Vanessa nggak apa-apa, Ray.”

Langkah kaki Ray seketika terhenti.

Empat kata sederhana itu terasa menghantam dadanya jauh lebih kuat dibanding peristiwa apa pun yang terjadi sepanjang malam ini.

“Dia... beneran nggak apa-apa, Tante?”

“Dia udah sadar di dalem.”

Ray mengembuskan napas panjang yang gemetar.

Baru di detik itulah dia menyadari betapa kencangnya dia menahan napas selama perjalanan tadi.

“Sebenernya apa yang terjadi, Tante?”

“Ada pengendara mobil yang nemuin dia lagi jalan linglung di pinggir aspal jalan raya. Nyaris aja keserempet mobil.”

Rasa lega di dada Ray seketika menguap berganti ngeri.

“Hah?!”

“Fisiknya nggak ada luka parah. Tapi orang itu langsung bawa Vanessa ke sini karena omongannya ngelantur dan kelihatan linglung banget.”

“Linglung gimana maksud Tante?”

Mamanya Vanessa tampak ragu-ragu sejenak sebelum menjawab:

“Dia... dia sama sekali nggak bisa ngejelasin dari mana dia datang.”

Ray menundukkan pandangannya menatap kamera tua yang masih digenggamnya erat-erat.

Ray tahu pasti dari mana cewek itu datang.

Setidaknya, sebagian dari kepingan malam gilanya.

Nadia, Aldo, dan Kevin diminta untuk menunggu di ruang tunggu lobi bawah, sementara Ray melangkah mengikuti langkah mamanya Vanessa naik ke lantai dua ruang rawat.

Tepat di depan pintu kamar bernomor 204, wanita itu menahan langkah Ray.

“Ray.”

“Iya, Tante?”

“Tolong jangan bikin dia makin tertekan ya.”

Ray nyaris saja tertawa miris mendengarnya.

Bukan karena lucu, melainkan karena dia sendiri udah bener-bener nggak tahu lagi batasan apa yang bisa bikin cewek itu tertekan atau tidak.

“Iya, Tante. Nggak bakal.”

“Kondisinya lagi capek banget.”

“Baik, Tante.”

“Dan satu lagi...” Mamanya Vanessa tampak menimbang kata-katanya dengan cemas. “Dari tadi dia terus-terusan ngomong hal aneh.”

Ray menatap mata wanita itu lekat-lekat. “Hal aneh apa, Tante?”

Suara mamanya Vanessa turun menjadi bisikan pelan:

“Dia bilang... ada orang yang terus-terusan ngikutin dia jalan kaki dari gedung kosong itu sampai ke jalan raya.”

Jari-jemari Ray seketika mencengkeram tali kamera di tangannya makin erat.

“Dia bilang nggak siapa orangnya?”

“Nggak.” Lalu wanita itu menatap lurus ke dalam bola mata Ray dengan pandangan menuntut kejujuran: “Kamu tahu sesuatu soal apa yang lagi dia bicarakan, Ray?”

Ray sebenarnya bisa saja memilih untuk berbohong dan menggeleng.

Tapi alih-alih menjawab, dia malah melirik kaca intip kecil di daun pintu kamar.

Di dalam sana, Vanessa tampak duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di pergelangan tangannya.

Rambutnya kusut berantakan.

Wajahnya pucat pasi tanpa riasan.

Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu berlalu—

cewek itu bener-bener kelihatan letih layaknya manusia biasa.

“Mungkin, Tante,” jawab Ray pelan.

Vanessa langsung mendongak saat mendengar suara pintu terbuka.

Selama beberapa detik, nggak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.

Sampai akhirnya suara serak Vanessa memecah keheningan:

“Kameraku... kamu yang nemuin ya?”

Ray menunduk melirik kamera di tangannya.

“Iya.”

“Rusak parah nggak?”

Ray melotot menatap cewek di atas ranjang itu dengan tatapan tak habis pikir.

“Kamu sekarang lagi terkapar di ranjang IGD rumah sakit ya, Vanessa Adeline.”

“Aku bisa liat sendiri kok.”

“Dan pertanyaan pertama yang keluar dari mulut kamu itu soal kondisi kamera?!”

“Kamera itu mahal tau belinya!”

Ray melangkah maju dan meletakkan kamera itu di atas meja samping ranjang dengan sedikit membantingnya pelan.

“Layarnya retak.”

Vanessa meringis pelan sambil memejamkan mata. “Aduh... mampus.”

“Vanessa.”

“Apaan?”

Ray sebenarnya ingin sekali meluapkan seluruh emosinya saat itu juga.

Dia pengen berteriak membentak cewek itu sepuasnya.

Dia pengen meluk cewek itu sampai remuk.

Dia pengen nanya apa sebenarnya isi otak cewek itu sampai nekat bertindak seabsurd ini.

Dia pengen ngasih tahu betapa tersiksanya dia membayangkan segala kemungkinan terburuk yang bisa merenggut nyawa cewek itu sepanjang malam tadi.

Tapi pada akhirnya, satu-satunya kalimat yang sanggup meluncur dari bibir Ray yang kelu hanyalah:

“Dasar bodoh.”

Vanessa menatap wajah Ray yang kusut berantakan.

Lalu perlahan-lahan... sebuah senyuman tipis yang sangat manis merekah di bibir pucatnya.

“Hai, Ray.”

Dan sialnya... seluruh kemarahan yang tadi mendidih di dada Ray mendadak lenyap begitu saja tanpa jejak, membuat Ray merasa sangat jengkel pada dirinya sendiri.

“Hai juga,” balas Ray lemas.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk