“RAY! KELUAR SINI CEPETAN!”
Suara teriakan Kevin terdengar melengking dari ujung lorong paling belakang.
Ray langsung bangkit berdiri dan berlari secepat kilat menyusul suara itu.
Di ujung lorong, ada sebuah pintu darurat kecil yang mengarah ke tangga besi di bagian belakang luar gedung.
Pintu itu terbuka lebar.
Tangga besi itu mengarah langsung ke sebuah jalan setapak sempit berkerikil di belakang gedung yang berbatasan langsung dengan semak-semak liar.
Sosok Vanessa tetap tidak terlihat di mana pun.
Tapi Nadia yang berlari di samping Ray langsung mengarahkan sorot senternya ke tanah.
“Liat itu, Ray!”
Sebuah tripod kamera tergeletak roboh di atas tanah becek.
Dan tepat di samping kakinya...
kamera digital milik Vanessa tergeletak membisu.
Ray langsung berlutut menyambar kamera itu ke tangannya.
Layar LCD kecilnya tampak retak seribu akibat terbentur batu karang.
Tapi dengan tangan yang gemetar hebat, Ray menekan tombol power.
Lampu indikatornya berkedip hijau. Kamera itu masih menyala.
Dan di kartu memorinya, ada satu file video baru yang baru saja terekam.
Tercatat pukul 23:48 WIB malam tadi.
Dengan jari-jemari yang basah oleh keringat dingin, Ray menekan tombol putar.
Video itu dimulai dengan rekaman pemandangan lorong gelap lantai tiga gedung tua.
Nggak ada alunan musik latar.
Nggak ada aktor yang berakting.
Nggak ada lampu sorot penerangan.
Hanya kamera yang diletakkan diam tak bergerak di atas tripod.
Selama beberapa detik awal, nggak ada peristiwa apa pun yang terjadi selain suara desau angin malam yang tertangkap mikrofon.
Sampai akhirnya... terdengar suara bisikan Vanessa dari balik kamera:
“Kamu... kamu ada di situ kan?”
Napas Ray tercekat seketika di tenggorokan.
Nadia dan yang lainnya melangkah merapat ke belakang bahu Ray, menatap layar yang retak itu dengan mata membelalak tegang.
Di layar video: tetap nggak ada siapa-siapa.
Hanya lorong kosong yang gelap gulita.
Lalu suara Vanessa terdengar lagi, kali ini dengan nada bicara yang bergetar aneh:
“Aku bisa liat kamu sekarang...”
Hening yang sangat panjang merayap di rekaman itu.
Lalu terdengar bisikan Vanessa lagi, suaranya sangat lirih dan terdengar sedih:
“Tapi kenapa Ray nggak bisa liat kamu sama sekali ya...?”
Dada Ray serasa dihantam palu godam mendengar pertanyaan itu.
Tiba-tiba sudut pandang kamera bergoyang pelan—tampaknya Vanessa baru saja mengangkat kamera itu dari tripodnya.
Gambar di layar berguncang-guncang mengikuti ayunan langkah kakinya menyusuri lorong.
Lalu langkahnya berhenti mendadak.
Terdengar suara helaan napas pendek dari bibir cewek itu:
“Oh...”
Sunyi sejenak.
“Aku paham sekarang.”
Ray mencondongkan wajahnya makin dekat ke layar monitor yang retak.
Di rekaman itu, terdengar suara tawa kecil Vanessa yang lirih.
Bukan suara tawa riangnya yang biasa.
Melainkan tawa kecil yang terdengar sangat rapuh, seolah-olah dia baru saja menemukan sebuah kepasrahan yang melegakan.
“Aku akhirnya tahu... alasan kenapa Ray nggak pernah bisa liat kamu.”
Detik berikutnya, sosok Vanessa melangkah masuk ke dalam bingkai kamera.
Untuk pertama kalinya di video itu, Ray bisa melihat wujud ceweknya.
Vanessa berdiri diam di tengah lorong yang temaram.
Sendirian.
Pandangan matanya sama sekali nggak tertuju ke arah lensa kamera.
Melainkan menatap lurus ke sebuah ruang kosong di sebelah kanan kamera.
Menatap sosok tak kasat mata yang sama sekali nggak bisa dilihat oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
Vanessa melangkah maju satu langkah ke depan.
Lalu melangkah satu langkah lagi mendekati kehampaan itu.
Dan detik berikutnya... rekaman video itu terputus menjadi layar hitam pekat.
Nggak ada satu pun dari mereka yang sanggup membuka suara.
Ray menatap layar hitam yang membeku itu dengan pandangan kosong.
Dengan tangan gemetar, dia memutar ulang lima detik terakhir dari video itu.
Diputar lagi.
Sosok Vanessa melangkah masuk ke bingkai gambar.
Menatap ke arah kehampaan.
Melangkah maju.
Lalu rekaman mati.
Ray memutarnya sekali lagi.
Tangan Nadia perlahan mendarat di pundak Ray yang bergetar.
“Ray...”
Ray mengabaikannya dan hendak menekan tombol putar untuk yang keempat kalinya.
“Ray, udah...” bisik Nadia dengan mata berkaca-kaca.
“Gue butuh liat lagi, Nad!”
“Berhenti, Ray! Cukup!”
Ray perlahan menurunkan tangannya, membiarkan kamera itu terkulai di pangkuannya.
Tepat di saat keputusasaan mulai menenggelamkan jiwanya, ponsel di saku celana Ray mendadak berdering nyaring memecah keheningan malam.
Semua orang seketika tersentak kaget.
Ray menyambar ponselnya dengan kecepatan kilat.
Mamanya Vanessa.
Dengan napas memburu, Ray langsung menggeser tombol hijau ke telinganya.
“Halo, Tante?!”
Ray mendengarkan suara di ujung telepon dengan saksama.
Raut mukanya yang tadi tegang perlahan berubah drastis, matanya membelalak lebar.
“Rumah sakit mana, Tante?!”
Nadia langsung mencengkeram lengan jaket Ray dengan panik.
Ray mengangkat satu jarinya ke udara memberi isyarat diam.
“Vanessa... Vanessa udah sadar, Tante?”
Jeda beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
Kedua lutut Ray mendadak lemas sampai dia harus berpegangan pada tiang besi di sampingnya agar tidak ambruk ke tanah.
“Baik, Tante... kami langsung ke sana sekarang juga.”
Bip.
Panggilan ditutup.
Nadia, Aldo, dan Kevin menatap wajah Ray dengan tatapan menuntut penjelasan.
“Gimana, Ray?! Apa yang terjadi?!” desak Nadia panik.
Ray menelan ludahnya yang terasa sangat pahit di tenggorokan.
“Vanessa... udah ditemuin.”
“Di mana ditemuinnya?!”
“Di pinggir jalan raya besar dekat perempatan lampu merah.”
“Kondisinya gimana, Ray?! Dia nggak apa-apa kan?!”
Ray menatap kamera tua dengan layar retak di genggamannya.
Menatap layar hitam di mana jejak langkah terakhir Vanessa terekam di dunia digital.
“Dia masih hidup,” bisik Ray serak dengan air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya.
Dan untuk detik itu... hanya jawaban itulah satu-satunya hal yang paling mereka butuhkan di dunia ini.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!