“Sosok cewek misterius itu... kabarnya gimana sekarang, Van?” tanya Ray hati-hati setelah keheningan panjang menyelimuti mereka.
Tubuh Vanessa seketika menegang kaku di pundak Ray.
Ray langsung buru-buru mengutuk pertanyaannya sendiri. “Maaf... maaf, kamu nggak harus jawab kalau nggak mau—“
“Aku nggak pernah liat dia lagi sekarang, Ray.”
Langkah pikiran Ray seketika terhenti mendengarnya.
“Beneran udah nggak liat sama sekali?”
“Iya. Nggak pernah lagi.”
Rasa lega yang teramat besar spontan menyapu dada Ray tanpa bisa dicegah.
“Syukurlah kalau gitu...”
Vanessa perlahan mengangkat kepalanya dari pundak Ray, menatap wajah cowoknya dengan pandangan dingin.
“Kenapa?”
“Hah? Apanya yang kenapa?”
“Kamu kelihatan bahagia banget denger kabar itu.”
Ray mendadak gelagapan serba salah. “Ya... maksudku kan... wajar dong kalau aku ngerasa lega?”
Vanessa memalingkan wajahnya kembali ke arah dinding aula.
Ray mencoba meluruskan maksud omongannya:
“Kan sosok cewek itu selama ini selalu bikin kamu parno dan ketakutan setengah mati, Van.”
“Aku nggak pernah takut sama dia ya!”
“Tapi dia yang bikin kamu nekat masuk ke dalem gedung kosong tengah malam buta!”
“Aku ke sana atas kemauanku sendiri, bukan gara-gara dia!”
“Iya deh, iya...”
Vanessa kembali terdiam membisu cukup lama.
Ray menatap profil samping wajah ceweknya yang tampak sayu.
“Van... jangan bilang kalau kamu... kangen sama cewek itu?” tanya Ray dengan nada setengah bercanda, berharap Vanessa bakal mencibirnya.
Tapi alih-alih tertawa mengejek, Vanessa justru berbisik sangat pelan dengan tatapan kosong:
“Mungkin iya, Ray.”
Ray sama sekali nggak sanggup mencerna logika di balik jawaban itu.
“Kenapa bisa kangen sama dia, Van?”
Vanessa menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang dingin di atas paha seragamnya.
“Karena setidaknya... pas sosok cewek itu masih ada...” Vanessa berhenti sejenak, menelan ludahnya yang tercekat.
Ray menunggu kelanjutan kalimatnya dengan dada berdebar cemas.
“Setidaknya pas waktu itu... aku masih bisa ngerasain sesuatu.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang-ngiang menghantui kepala Ray di sepanjang sisa hari itu.
*Setidaknya pas waktu itu... aku masih bisa ngerasain sesuatu.*
Ray benar-benar nggak tahu harus bersikap seperti apa lagi dalam merespons keputusasaan itu.
Vanessa di minggu-minggu kemarin adalah sosok manusia yang merasakan segala spektrum emosi dengan volume paling maksimal.
Antusiasmenya meledak-ledak.
Kepercayaan dirinya meluap-luap.
Kemarahannya menyala-nyala.
Ide-idenya mengalir liar tanpa henti.
Rasa sayangnya membanjiri relung hati.
Rasa takutnya mencekam nyata.
Apa pun emosi yang dirasakan Vanessa saat itu, dia merasakannya dengan intensitas seratus persen tanpa filter.
Tapi sosok Vanessa yang duduk di sampingnya saat ini... bahkan hampir nggak menunjukkan reaksi apa pun saat orang lain melempar lelucon paling lucu di depannya.
Dia nggak pernah lagi menjawab pertanyaan guru di kelas.
Nggak menyentuh bekal makan siangnya.
Nggak pernah lagi membicarakan impian film masa depannya.
Bahkan dia nggak pernah lagi ngedumel atau mengeluhkan hal-hal kecil di sekitarnya.
Dan Ray sangat membenci dirinya sendiri karena diam-diam terlintas sebuah pemikiran terlarang di benaknya:
Bahwa di lubuk hatinya yang terdalam... dia sangat merindukan sosok Vanessa yang dulu.
Bukan malam-malam tanpa tidurnya. Bukan gedung kosong atau segala tindakan nekatnya.
Ray cuma merindukan suara tawanya. Celotehannya. Cara matanya berbinar setiap kali sebuah ide baru muncul di kepalanya.
Sepulang sekolah sore itu, Ray berjalan kaki mengantarkan Vanessa pulang ke rumahnya.
Biasanya, sepanjang trotoar jalan pulang selalu dipenuhi oleh celotehan heboh Vanessa yang nggak ada habisnya.
Tapi kali ini, Ray lah yang harus pontang-panting mengambil alih sebagian besar porsi obrolan agar keheningan canggung tidak menelan mereka berdua.
Dia menceritakan kejadian konyol di kelas tadi siang.
Tingkah absurd Aldo yang dihukum guru piket.
Kucing oren Nadia yang kabur dari rumah.
Sampai video TikTok receh yang sempat lewat di beranda ponselnya.
Dan sepanjang jalan itu, Vanessa hanya sesekali menanggapi dengan gumaman singkat:
“Hm...”
Atau:
“Oh iya ya...”
Pas tiba di depan pagar rumah Vanessa, langkah kaki Ray terhenti.
“Besok sepulang sekolah mau jalan-jalan cari angin bareng nggak?” tawar Ray penuh harap.
“Nggak usah deh, Ray.”
“Pas akhir pekan nanti gimana?”
“Belum tahu ya.”
“Mau nonton film di bioskop?”
“Lagi males nonton.”
“Mau jajan seblak langganan kita di depan stasiun?”
“Nggak nafsu makan.”
“Atau mau jalan santai aja keliling komplek sore-sore?”
“Ray...” panggil Vanessa pelan dengan nada memohon.
Ray seketika menghentikan tawarannya yang bertubi-tubi.
Sorot mata Vanessa tampak sangat letih menatapnya.
“Aku... aku cuma pengen tidur di kamar aja sekarang, Ray.”
“Oh... oke deh kalau gitu...”
Ray berusaha mati-matian menyembunyikan nada kecewa di suaranya.
Tapi sayangnya, usahanya gagal total.
Vanessa yang peka langsung menangkap gurat kekecewaan di wajah cowoknya seketika.
“Maafin aku ya, Ray...” bisik Vanessa bersalah.
“Lho? Kenapa pake minta maaf segala? Kan nggak salah apa-apa!”
“Aku tahu kok... aku yang sekarang ini pasti ngebosenin banget pasti.”
“Vanessa, kamu sama sekali nggak ngebosenin ya!”
“Jelas-jelas emang lagi ngebosenin banget kok.”
“Vanessa, dengerin aku—“
“Nggak apa-apa kok, Ray, kamu nggak usah pura-pura.”
“Aku nggak lagi pura-pura!”
Vanessa menatap mata cowoknya dengan senyuman tipis yang sangat dipaksakan.
Ray mencoba membalas senyuman itu dengan memamerkan deretan giginya, berusaha sekuat tenaga terlihat optimis dan ceria.
“Kamu tuh cuma lagi butuh waktu buat istirahat panjang aja, Van.”
Dan di situlah kata keramat itu muncul kembali.
*Istirahat.*
Satu-satunya alasan klise yang terus-menerus digunakan Ray karena dia memang nggak punya penjelasan medis atau psikologis lain yang sanggup dia pahami.
Vanessa hanya mengangguk pelan tanpa membantah.
“Iya kayaknya, Ray.”
Ray mendekat lalu mengecup kening cewek itu dengan lembut.
“Tidur yang nyenyak ya di kamar.”
Vanessa berbalik melangkah masuk melewati pintu pagar rumahnya yang berderit pelan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!