Vanessa yang Asing

0 dibaca

A

Jam pelajaran pertama berlalu begitu saja.

Dan sepanjang jam itu, Vanessa sama sekali nggak pernah mengangkat tangannya sekali pun.

Hal itu saja sudah terasa seperti anomali terbesar dalam sejarah peradaban kelas mereka.

Pas pelajaran Matematika tiba, Bu Guru menuliskan sebuah soal cerita rumit di papan tulis dan bertanya ke seisi ruangan:

“Ada yang bisa menyelesaikan persamaan nomor empat ini?”

Secara refleks, pandangan mata Ray langsung melirik ke arah bangku di sampingnya.

Tapi kedua telapak tangan Vanessa tetap tergeletak diam di atas meja belajarnya.

Seseorang di barisan depan mencoba menjawab.

Jawabannya salah besar.

Ray kembali melirik ke arah Vanessa, berharap cewek itu bakal langsung menyambar kesempatan buat membetulkan jawaban yang keliru seperti biasanya.

Tapi Vanessa hanya menatap hampa ke luar jendela kaca kelas, memperhatikan dahan pohon mangga yang bergoyang ditiup angin.

Bu Guru menjelaskan rumus penyelesaiannya di papan tulis.

Dan Vanessa sama sekali nggak bereaksi apa pun.

Pas jam istirahat makan siang tiba di kantin, Nadia datang bergabung membawa piring gado-gado dan duduk di depan mereka.

“Gimana kabar lo sekarang, Van?” tanya Nadia dengan nada bicara yang sangat berhati-hati.

Vanessa menatap Nadia dengan pandangan dingin yang membuat canggung.

“Kenapa sih semua orang dari tadi pagi terus-terusan nanya kabar gue mulu?”

Nadia seketika membeku kaku di kursinya.

“Ya... gue cuma nanya biasa doang kok, Van.”

“Gue nggak apa-apa.”

“Oke deh kalau gitu...”

Keheningan kaku langsung menyelimuti meja mereka.

Nadia mulai menyuap makanannya dalam diam.

Ray melirik ke arah kotak bekal makan siang milik Vanessa yang masih tertutup rapat di atas meja.

Sama sekali belum disentuh.

“Kamu nggak laper, Van?” tanya Ray pelan.

Vanessa memejamkan matanya rapat-rapat sambil menarik napas dalam-dalam.

“Ray.”

“Iya?”

“Bisa nggak berhenti?”

Ray mengerutkan kening heran. “Berhenti ngapain?”

“Berhenti ngawasin setiap gerak-gerik yang aku lakuin!”

“Aku nggak lagi ngawasin kamu kok!”

“Jelas-jelas dari tadi kamu ngeliatin aku terus!”

“Aku cuma lagi makan siomay, Van!”

“Kamu tuh lagi ngawasin apakah aku makan bekalku atau nggak!”

Ray mendadak terdiam seribu bahasa.

Karena sialnya... tuduhan Vanessa barusan seratus persen tepat sasaran.

“Maaf...” bisik Ray bersalah.

Vanessa mendorong kotak bekalnya menjauh dengan kasar.

“Aku mau ke toilet dulu.”

Cewek itu bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan kantin.

Nadia menatap punggung Vanessa yang menjauh sampai menghilang di balik pintu kantin, lalu menoleh menatap Ray dengan tatapan prihatin.

Ray berbisik putus asa:

“Nad... gue barusan salah ngomong apa lagi sih?”

Nadia menghela napas panjang sambil menggeleng pelan.

“Gue rasa masalahnya bukan ada di elo kok, Ray.”

Seharusnya kalimat itu bisa sedikit meringankan beban di dada Ray.

Tapi kenyataannya, rasa sesak itu justru makin menghimpitnya tanpa ampun.

Vanessa nggak kunjung kembali ke kelas setelah lima belas menit berlalu.

Dua puluh menit.

Bel tanda masuk jam pelajaran berikutnya sudah berbunyi nyaring.

Ray akhirnya bangkit berdiri dan melangkah mencari cewek itu ke seluruh sudut sekolah.

Dia akhirnya menemukan Vanessa sedang duduk menyendiri di anak tangga beton di belakang gedung aula sekolah yang sepi.

Duduk memeluk kedua lututnya rapat-rapat.

Ray melangkah mendekat dengan sangat hati-hati agar tidak mengagetkannya.

“Hei...”

Vanessa bahkan nggak mendongakkan kepalanya sama sekali.

“Aku... boleh duduk di sebelahmu?”

Hanya ada sebuah gerakan mengedikkan bahu samar sebagai jawaban.

Ray perlahan duduk di anak tangga tepat di samping cewek itu.

Untuk beberapa lama, nggak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Situasi hening seperti ini juga terasa sangat asing bagi Ray.

Momen diam bersama Vanessa dulunya adalah hal yang sangat langka.

Bahkan pas mereka berdua berdiri di atas rooftop gedung parkir sore itu, keheningan di antara mereka terasa sangat hangat dan menenangkan jiwa.

Tapi keheningan yang menyelimuti mereka di tangga aula ini... terasa sangat dingin dan menyesakkan dada.

Ray mencoba mencairkan suasana dengan candaan khas tongkrongan mereka:

“Si Kevin tadi koar-koar di grup WA, katanya dia kapok nggak mau kita rekrut lagi jadi kru film.”

Hening. Nggak ada reaksi.

“Katanya posisi Koordinator Transportasi itu bentuk eksploitasi tenaga kerja remaja di bawah umur.”

Vanessa tetap menatap lantai semen di bawah kakinya dengan pandangan kosong.

Ray mencoba melanjutkan leluconnya:

“Dia nuntut kompensasi ganti rugi uang jajan sama kita berdua.”

Tetap nihil.

“Katanya bensin Avanza bapaknya abis banyak gara-gara nganterin kita nyari lokasi syuting.”

Masih nggak ada seulas senyum pun yang terbit di wajah cewek itu.

Ray akhirnya kehabisan bahan obrolan.

Maka dia hanya bisa duduk mematung di sana menatap bayangan mereka berdua di lantai.

Sampai akhirnya... suara serak Vanessa terdengar lirih memecah keheningan:

“Aku... aku nggak mau balik lagi, Ray.”

Ray menoleh cepat menatapnya. “Balik ke dalem kelas maksudnya?”

“Balik ke mana pun.”

Kening Ray berkerut cemas. “Maksudnya gimana, Van?”

Vanessa kembali mengedikkan bahunya dengan pandangan nanar.

“Aku nggak tahu.”

“Nggak mau pulang ke rumah?”

“Aku nggak tahu.”

“Nggak mau ke sekolah?”

“Nggak tahu, Ray...”

“Terus maunya pergi ke mana sekarang?”

Vanessa perlahan mendongakkan kepalanya menatap lurus ke dalam bola mata Ray.

Dan detik itu juga, kedua matanya kembali digenangi air mata yang siap tumpah ruah.

“Aku bener-bener nggak tahu harus ke mana lagi, Ray...” bisiknya parau.

Seketika itu juga, kepanikan langsung menyergap dada Ray kembali untuk kesekian kalinya.

“Oke... oke, tenang dulu ya...”

Vanessa tertawa miris, tawa hampa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga.

“Cuma kalimat itu doang kan yang bisa keluar dari mulut aku sekarang?”

“Kalimat apa?”

“Aku nggak tahu.” Vanessa mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan kasar. “Aku nggak tahu kenapa aku mendadak sedih begini... aku nggak tahu kenapa badanku rasanya lemes dan capek banget tiap detik... aku nggak tahu kenapa aku males banget ngomong sama siapa pun... aku nggak tahu kenapa semua hal di sekitarku mendadak kelihatan sangat memuakkan...”

Suara cewek itu pecah bergetar di ujung kalimatnya.

“Aku bener-bener nggak tahu apa-apa lagi, Ray...”

Ray memilih untuk tetap bungkam seribu bahasa.

Kali ini, dia mengingat betul pelajaran berharga dari kesalahan-kesalahannya yang lalu:

Jangan sok pintar mencoba membenahi masalah perasaannya.

Jangan pernah bilang kalau dia nggak punya alasan logis buat bersedih.

Dan jangan pernah menuntutnya buat menjelaskan sesuatu yang bahkan cewek itu sendiri nggak sanggup memahaminya.

Maka dengan gerakan perlahan, Ray menggeser posisi duduknya makin merapat ke samping Vanessa.

Dan tanpa sepatah kata pun, Vanessa merebahkan kepalanya yang lelah ke atas pundak Ray.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk