Obsesi yang Meledak

0 dibaca

A

Selama beberapa hari berikutnya, sosok Vanessa seolah-olah ada di mana-mana secara bersamaan.

Di kelas, dia paling rajin jawab pertanyaan guru.

Pas jam istirahat, dia sibuk ngerjain konsep poster mading OSIS, sementara kotak bekal tetap tertutup sampai bel masuk berbunyi.

Pas pergantian jam pelajaran, dia asyik motong-motong klip video *Out of Frame* di laptopnya.

Sepulang sekolah, dia ngajak muter-muter nyari spot lokasi syuting baru.

Tengah malam buta, dia nelpon Ray cuma buat mendiskusikan adegan yang sebenarnya udah selesai direkam dua hari lalu.

Dan anehnya, tugas sekolahnya selalu beres paling pertama dibanding anak-anak lain.

Awalnya, Ray ngerasa takjub luar biasa. Lalu berubah jadi bingung.

Lalu lama-lama mulai bikin Ray jengkel setengah mati.

Penyebab utamanya tentu saja karena rentetan pesan chat Vanessa yang masuk di jam-jam yang nggak masuk akal buat ukuran manusia bernyawa.

*Vanessa — 01:14 WIB: gimana kalau scene 4 kita tuker tempat sama scene 2?*

*Ray — 02:03 WIB: gimana kalau kamu tidur nyenyak 8 jam?*

*Vanessa: pagi sayangku cinta matiku ❤️*

*Ray: PERTANYAANKU BELUM KAMU JAWAB YA!*

Tapi anehnya pas di sekolah, cewek itu sama sekali nggak kelihatan loyo atau teler.

Itulah misteri terbesar yang bikin Ray geleng-geleng kepala.

Ray tahu banget gimana bentukannya Vanessa kalau lagi capek normal.

Biasanya cewek itu bakal jadi lebih pendiam.

Banyak ngeluh pegal-pegal.

Suka nyenderin kepalanya ke pundak Ray sambil ngerengek dramatis kalau nyawanya udah melayang ke langit.

Tapi Vanessa yang sekarang ini... bener-bener beda kasta.

Dia kelihatan... jauh lebih fit daripada orang normal.

Bicaranya cepet banget.

Ketawanya renyah dan keras.

Kepercayaan dirinya meluap-luap sampai tumpah.

Dia selalu punya jawaban instan buat segala macam pertanyaan.

Seringkali Ray masih sibuk mencerna topik obrolan pertama yang diomongin Vanessa, tapi cewek itu udah melompat jauh ngebahas topik keempat dan kelima.

Dan gilanya... kualitas film mereka memang beneran makin bagus tiap harinya.

“Ulangi sekali lagi!” seru Vanessa di lorong gedung tua.

Ray mendadak berhenti di tengah jalan.

“Kita udah ngulangin adegan jalan kaki ini enam kali, Vanessa!”

“Tadi pencahayaannya kurang dapet gradasinya, Ray.”

“Gradasi apaan, dari tadi cahayanya sama persis kayak gitu!”

Aldo yang lagi megang senter di sudut ruangan langsung tersentak dramatis, menutup mulutnya dengan gaya syok.

Ray menoleh ke arahnya. “Ngapain lo?”

Aldo menunjuk muka Ray dengan tatapan murka.

“Jaga mulut lo ya! Jangan pernah meragukan estetika tata cahaya seorang *Lighting Director*!”

“Diem lo, tukang senter!” semprot Ray kesal.

Vanessa mengecek hasil rekaman di layarnya. “Ulangi sekali lagi ya, Ray.”

Ray mengacak rambutnya frustrasi. “Adegan ini kan kemarin sore udah selesai kita bungkus, Van!”

“Itu kan versi kemarin.”

“Maksudnya versi kemarin apaan?!”

“Artinya, Vanessa versi kemarin standar penilaian seninya masih rendah.”

“Bisa nggak Vanessa yang versi kemarin dipanggil ke sini lagi sekarang?”

“Nggak bisa.”

“Padahal aku lebih suka Vanessa yang kemarin lho.”

“Vanessa yang kemarin itu lemah mentalnya.”

“Tapi Vanessa yang kemarin ngizinin aku pulang jam delapan malem!”

“Nah, itu bukti nyata kalau dia lemah!”

Ray menoleh menatap Nadia yang lagi duduk santai di lantai dengan headphone nempel di telinga.

“Nad, tolong sadarkan temen lo ini, gue mohon...”

Nadia cuma membetulkan posisi kabel miknya tanpa ekspresi.

“Maaf ya, Ray. Tugas gue cuma ngurusin kebocoran audio, bukan kebocoran akal sehat sutradara.”

Pengkhianat.

Semuanya pengkhianat nggak punya hati.

Tapi di balik semua gerutuan dan keluhan Ray...

jujur saja, proses syuting ini beneran seru banget.

Seru yang bikin nagih.

Selama beberapa hari itu, lorong gedung tua yang lembap itu mendadak disulap jadi studio film mini kebanggaan mereka.

Senter tempur punya bapaknya Aldo bertransformasi jadi perlengkapan tata cahaya profesional.

Mobil Avanza punya Kevin resmi jadi kendaraan logistik antar-jemput artis.

Dan sebatang gagang sapu ijuk yang ujungnya dilakban erat ke mikrofon oleh Nadia resmi dinobatkan sebagai *boom pole* tercanggih se-Jabodetabek.

Vanessa menyebutnya sebagai pergerakan sinema independen gerilya.

Ray menyebutnya sebagai kumpulan bocah miskin yang kebanyakan gaya.

Vanessa rajin banget memotret segala momen di balik layar.

Kamera tua yang dipasang di tripod.

Papan *clapperboard* darurat yang dibuat dari potongan kardus mi instan.

Aldo yang megangin senter dengan tampang super tegang kayak tentara lagi mengoperasikan peluncur rudal.

Nadia yang selalu pasang muka lempeng dengan headphone gedenya.

Sampai muka Ray yang berlumuran sirup darah palsu sambil masang ekspresi nelangsa.

Malam itu, Vanessa mengirimkan satu foto ke grup WhatsApp *OSCAR PRODUCTION*.

Foto mereka berlima yang lagi desak-desakan nyengir di depan lensa kamera.

*Vanessa: film perdana kita ❤️*

Ray diam-diam menyimpan foto itu ke galeri pribadinya, memindahkannya ke folder favorit.

Tentu saja, dia nggak bakal pernah sudi ngasih tahu siapa pun soal itu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk