Janji Jari Kelingking

0 dibaca

A

Batas akhir pengumpulan karya tinggal besok malam.

Dan kabar baiknya: film mereka akhirnya beneran selesai seratus persen.

Bener-bener selesai secara paripurna tanpa ada utang adegan apa pun lagi.

Ray mengecek sendiri hasil file ekspor finalnya di laptop.

`OUT_OF_FRAME_FINAL.mp4`

Durasi: 12 menit 47 detik.

Ray menatap nama file itu lekat-lekat seolah lagi memandangi sertifikat tanah warisan.

“Final,” ucap Ray tegas.

Vanessa yang duduk di sebelahnya mengangguk patuh. “Iya, final.”

“Ucapin sekali lagi biar mantap.”

“Final, Ray Pratama.”

“Nggak ada acara syuting ulang lagi ya.”

Vanessa mendesah panjang. “Iyaaa, nggak ada syuting ulang.”

“Nggak ada adegan ending baru.”

“Nggak ada ending baru.”

“Nggak ada perombakan adegan pembuka.”

“Ray...”

“Ucapin dulu!”

“Iya, nggak ada perombakan adegan pembuka!”

“Nggak ada revisi kecil-kecilan di jam tiga subuh nanti.”

“Kamu puas banget ya nindas sutradara kamu sendiri?”

“Luar biasa puas lahir dan batin.”

Vanessa tersenyum manis lalu mengulurkan jari kelingking kanannya ke depan wajah Ray.

Ray melirik jari mungil itu dengan tatapan heran. “Maksudnya apaan nih?”

“Kita selesaikan proyek film ini bareng-bareng.”

Ray mendadak teringat memori beberapa bulan lalu saat semuanya baru dimulai.

Ide film di dalem kulkas.

Ide film romantis di dalem lift macet.

Ide film cewek yang nerima telepon dari dirinya sendiri di masa depan.

Puluhan folder ide cerita di laptop Vanessa yang cuma sempat diketik judulnya lalu ditinggalkan begitu saja, ditulis ulang, lalu dilupakan ditelan waktu.

Tapi film yang satu ini...

karya yang berdurasi dua belas menit empat puluh tujuh detik ini...

beneran eksis dan nyata di depan mata mereka.

Ray mengaitkan jari kelingkingnya erat-erat ke jari kelingking Vanessa.

“Kita selesaikan ini bareng-bareng.”

Vanessa tersenyum sangat tulus, binar matanya berbinar hangat.

“Berdua ya?”

“Iya. Berdua.”

Malam harinya, tepat pukul 20:16 WIB, sebuah pesan singkat dari Vanessa mendarat di layar ponsel Ray.

*Vanessa: ray aku butuh benerin satu shot kecil bgt nih*

Mata Ray langsung melotot membaca pesan itu.

*Ray: kagak.*

*Vanessa: beneran cuma secuil bgt kok sumpah*

*Ray: AKU BILANG NGGAK YA NGGAK!*

*Vanessa: kamu pasti bakal suka bgt sama hasilnya*

*Ray: aku udah suka bgt sama film yg sekarang, ga usah aneh2!*

Nggak ada balasan lagi.

Ray menunggu selama beberapa menit.

*Ray: Van?*

Tetap sunyi.

Ray mencoba menelpon nomornya.

Panggilan berdering, tapi nggak kunjung diangkat.

Lima menit kemudian, sebuah pesan singkat meluncur masuk:

*Vanessa: satu shot terakhir aja janji*

Ray langsung bangkit terduduk tegak di kasurnya, emosinya mulai tersulut naik.

*Ray: KITA KAN TADI SORE UDAH JANJI KELINGKING!*

Nggak ada balasan lagi.

Ray menekan tombol panggil sekali lagi.

Tetap nggak diangkat.

Dicoba sekali lagi.

Terdengar suara operator otomatis: *Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan...*

Rasa jengkel langsung membuncah di dada Ray mendahului rasa cemas.

Tentu saja.

Pasti cewek itu berulah lagi kayak biasanya.

Waktu mereka tinggal tersisa kurang dari dua puluh empat jam dan Vanessa masih aja keras kepala nggak bisa membiarkan film itu tenang tanpa diotak-atik.

Dengan kesal, Ray mengetik pesan panjang:

*Ray: Aku serius ya, Van. Berhenti sekarang juga. Pulang ke rumah dan tidur.*

Terkirim. Tanda centang dua abu-abu. Nggak ada balasan.

Pukul 22:42 WIB, Ray mengecek ponselnya lagi. Masih nihil.

Pukul 23:07 WIB, dia mencoba menelpon lagi. Tetap tidak aktif.

Pukul 23:31 WIB, dia mengirim pesan lagi:

*Ray: kamu udah di rumah belom?*

Tetap centang abu-abu.

Tengah malam tepat pukul 00:00 WIB. Masih hening tak berjejak.

Rasa kesal dan jengkel yang tadi mendominasi dada Ray mendadak lenyap tanpa sisa, digantikan oleh hawa dingin yang perlahan mencengkeram ulu hatinya.

Pukul 00:18 tengah malam, Ray akhirnya memutuskan buat menelpon nomor Nadia.

Nadia mengangkatnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

“Kalau yang nelpon bukan malaikat maut, mending lo tutup sekarang juga.”

“Nad, lo ada kontak-kontakan sama Vanessa nggak malam ini?”

Hening sejenak di seberang sana.

“Hah? Apaan?”

“Lo ada komunikasi sama dia nggak dari tadi sore?”

“Nggak ada tuh abis pulang sekolah tadi. Emangnya kenapa?”

“Chat gue nggak dibales sama sekali, telponnya dialihkan ke kotak suara.”

“Paling dia lagi ketiduran pas ngedit video.”

“Iya sih... kayaknya...” sahut Ray terlalu cepat.

Dan nada panik di suara Ray langsung tertangkap oleh kepekaan Nadia seketika.

“Emangnya ada apaan sih, Ray? Jangan bikin gue parno napa.”

“Nggak ada apa-apa kok.”

“Jujur sama gue!”

“Tadi jam delapan malam dia nge-chat gue, bilang kalau dia butuh ngambil satu shot terakhir.”

Nadia mendadak terdiam di seberang sana.

Lalu suaranya terdengar sangat tegang:

“Dia... balik lagi ke gedung tua itu?”

Ray menatap kembali pesan terakhir dari Vanessa di layar ponselnya.

*satu shot terakhir aja janji*

Perut Ray seketika melilit hebat seperti diremas es batu.

“Gue... gue nggak tahu, Nad.”

Pukul 00:26 subuh, Ray menelpon nomor Vanessa lagi. Kotak suara.

Pukul 00:27 subuh. Kotak suara lagi.

Pukul 00:29 subuh. Tetap mati.

Dan di detik itulah, sebuah ingatan mengerikan mendadak terlintas di benak Ray:

*Lantai tiga... aku ke sana pas kalian semua udah pada pulang.*

Ray langsung melompat dari kasurnya dan menyambar jaketnya dengan tangan gemetar.

Tepat saat itu juga, ponsel di genggamannya mendadak bergetar kencang menandakan ada panggilan masuk.

Selama sepersekian detik, rasa lega yang luar biasa dahsyat menyapu dada Ray sampai dia nyaris tertawa saking bersyukurnya.

Tapi detik berikutnya, rasa lega itu langsung menguap tak berbekas begitu dia membaca nama kontak yang tertera di layar:

**Mamanya Vanessa**

Jantung Ray berdegup kencang saat dia menggeser tombol hijau ke telinganya.

“Halo, Tante?”

“Ray?” Suara di ujung telepon terdengar bergetar panik.

“Iya, Tante, ini Ray.”

“Vanessa lagi sama kamu ya sekarang?”

Langkah kaki Ray seketika membeku kaku di depan pintu kamarnya.

“Nggak, Tante...”

Hening sejenak yang terasa sangat menyiksa.

“Vanessa... Vanessa belum pulang dari tadi sore, Ray.”

Seluruh persendian di tubuh Ray mendadak lemas tanpa daya.

“Gimana, Tante?”

“Tadi sore dia pamit katanya mau ketemu kamu buat urusan film sekolah.”

“Nggak... kita nggak ada janjian ketemuan malam ini, Tante...”

Ray melirik jam dinding di kamarnya dengan napas tercekat.

Pukul 00:34 subuh.

“Dari tadi sore saya di rumah terus, Tante.”

Suara tangisan tertahan mulai terdengar dari ibu Vanessa di seberang sana.

“Ponselnya dihubungi nggak aktif dari tadi jam sepuluh malam...”

Ray langsung bergerak cepat memakai sepatu ketsnya dengan satu tangan.

“Tante tenang dulu ya. Saya bakal hubungi Nadia sama anak-anak yang lain sekarang juga.”

“Ray, tolong cariin Vanessa...”

“Iya, Tante. Saya rasa... saya tahu di mana dia sekarang.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk