Sore itu, mereka akhirnya batal syuting.
Untuk pertama kalinya sejak proyek lomba ini dimulai, Vanessa merapikan kabel dan memasukkan kameranya ke dalem ransel tanpa banyak protes atau bantahan.
Seharusnya Ray merasa lega karena akhirnya bisa pulang lebih cepat.
Tapi kenyataannya, dadanya malah terasa sesak luar biasa dipenuhi rasa bersalah.
Dia berjalan menyusul langkah cepat cewek itu keluar dari gerbang gedung.
“Van...”
Vanessa terus melangkah tegap ke depan tanpa menoleh.
“Vanessa, dengerin aku dulu.”
“Apaan?”
“Kamu marah ya sama aku?”
“Nggak.”
“Jelas-jelas kamu lagi marah gitu kok.”
“Aku nggak marah, Ray.”
“Kamu kalau lagi ngambek jalan kakinya selalu dua kali lebih cepet.”
“Dari dulu langkah kakiku emang cepet ya!”
“Tapi langkahmu yang sekarang ini kayak lagi berusaha meloloskan diri dari gravitasi bumi!”
Vanessa mendadak menghentikan langkah kakinya di pinggir trotoar jalan.
Selama sepersekian detik, Ray sempat mengira usahanya buat melucu berhasil meluluhkan ketegangan.
Tapi detik berikutnya...
seluruh pertahanan di wajah Vanessa runtuh total.
Bener-bener hancur lebur tanpa sisa.
Tubuh Ray membeku kaku di tempat.
Vanessa mulai menangis.
Bukan tangisan diam-diam yang anggun.
Bukan sekadar sebulir air mata dramatis yang jatuh di pipi ala film romantis.
Tapi cewek itu bener-bener menangis sesenggukan dengan bahu yang berguncang hebat.
Seketika itu juga, fungsi otak Ray langsung mati total.
“Eh... tunggu... bentar...”
Vanessa menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Bentar, bentar, Van! Kenapa kamu mendadak nangis begini?!”
Luar biasa.
Kalimat pembuka yang sangat jenius dan berfaedah dari seorang Ray Pratama.
Vanessa menggelengkan kepalanya keras-keras di balik telapak tangannya.
“Nggak tahu...” isaknya tersengal-sengal.
“Masa kamu nggak tahu alasan kamu nangis apa?!”
“AKU BENERAN NGGAK TAHU, RAY!”
“Oke, oke, tenang dulu...”
Ray cuma bisa berdiri kaku kayak orang bego di hadapan ceweknya.
Cowok-cowok di film biasanya selalu tahu tindakan tepat yang harus dilakuin pas ceweknya nangis.
Mereka langsung meluk dengan sigap.
Membisikkan kata-kata mutiara penenang jiwa.
Menghapus air mata di waktu yang tepat dengan tatapan teduh.
Sayangnya, Ray nggak punya satu pun dari bakat dewa itu di dunia nyata.
“Aku tadi ada salah ngomong ya?” tanya Ray panik.
Vanessa menggeleng pelan.
“Ada kejadian buruk yang nimpa kamu?”
“Nggak ada...”
“Terus kenapa...”
Ray langsung menyadari kalau kalimat berikutnya yang mau meluncur dari mulutnya ini bakal terdengar super bego.
Tapi sialnya, kesadaran itu datang terlambat dan nggak sanggup menghentikan gerak lidahnya.
“Kalau emang nggak ada masalah apa-apa... mungkin jangan nangis?”
Vanessa perlahan menurunkan kedua tangannya dari wajahnya.
Cewek itu menatap Ray dengan mata merah basah dan ekspresi tak habis pikir.
Ray langsung menepuk jidatnya sendiri.
Gawat. Dia baru saja membuat blunder terbesar abad ini.
“Itu barusan... saran terbaik yang bisa kamu kasih ke aku?” tanya Vanessa dengan suara serak bercampur sinis.
“Bukan... sumpah bukan gitu maksudku!”
“Tapi barusan jelas-jelas kamu ngomong begitu ya!”
“Aku baru nyadar betapa begonya kalimat itu pas suaranya udah terlanjur keluar dari mulut!”
“Wah, hebat banget emang.”
“Aku tahu, aku payah banget.”
“Parah banget sumpah.”
“Aku lagi panik setengah mati ini, Vanessa!”
Pengakuan polos itu mendadak memicu sesuatu di dada Vanessa.
Sebuah suara aneh meluncur dari tenggorokan cewek itu.
Setengah isakan tangis.
Setengah tawa geli yang tertahan.
Melihat celah kecil itu, Ray langsung mengambil kesempatan emas.
“Aku... boleh peluk kamu nggak?”
Vanessa mengangguk pelan.
Ray langsung menarik tubuh cewek itu ke dalam dekapannya, melingkarkan kedua lengannya erat-erat di pundak Vanessa.
Untuk beberapa lama, Vanessa menenggelamkan wajahnya di dada seragam Ray, menangis sampai kemeja putih Ray basah kuyup oleh air mata.
Ray sama sekali nggak paham kenapa cewek itu bisa menangis sehebat itu.
Dan tampaknya, Vanessa sendiri pun nggak paham apa pemicunya.
Maka pada akhirnya, Ray berhenti bertanya dan hanya memilih untuk mendekapnya dalam diam.
Anehnya... keesokan harinya di sekolah, Vanessa bersikap seolah-olah insiden tangisan histeris di trotoar kemarin sore nggak pernah terjadi.
Bahkan bisa dibilang... dia bersikap jauh lebih ceria daripada biasanya.
Dia datang ke kelas paling pagi.
Ngebawain Ray sarapan nasi uduk komplit.
Bisa menyelesaikan tugas presentasi kelompok sebelum jam pelajaran dimulai.
Dan berhasil bikin Nadia tertawa terbahak-bahak sampai ditegur guru piket gara-gara terlalu berisik.
Pas jam istirahat siang, dia udah asyik ngebahas strategi kompetisi film lagi di laptopnya.
Ray menatap cewek itu dengan pandangan waspada dari balik mejanya.
“Kamu... beneran udah nggak apa-apa, Van?”
Vanessa mendongak dengan tampang bingung. “Lho? Emang aku kenapa?”
“Soal yang kemarin sore...”
“Oalah, itu...” Vanessa mengedikkan bahunya santai tanpa beban. “Nggak tahu. Palingan hormon aku lagi labil aja.”
Ray mengernyitkan dahi. “Masa cuma gara-gara hormon?”
“Ya mana ku tahu.”
Nadia yang duduk di bangku seberang meja mereka langsung mengangguk-angguk paham seolah misteri alam semesta baru saja terpecahkan.
“Bisa aja gara-gara PMS.”
Vanessa langsung menunjuk Nadia dengan senyum bangga. “Tuh kan! Dengerin tuh kata ahlinya!”
Ray menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan ragu.
“Tapi gue juga nggak tahu,” lanjut Nadia. “Gue bukan dokter.”
Vanessa menurunkan jarinya perlahan.
Ray mengangguk puas. “Nah, kalimat terakhir itu baru informasi medis yang bisa dipercaya.”
Vanessa langsung melempar gumpalan tisu ke mukanya.
“Udah deh. Jangan sok menganalisis perempuan.”
“Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Vanessa kembali tertawa.
Nadia ikut tertawa.
Ray juga tersenyum.
Tapi entah kenapa, kali ini dia nggak merasa benar-benar lega.
Vanessa memang terlihat baik-baik saja.
Dan mungkin memang semuanya baik-baik saja.
Ray cuma mulai sadar bahwa dua hal itu belum tentu selalu berarti hal yang sama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!