Vanessa Menghilang

0 dibaca

A

Kevin menjemput Ray sepuluh menit kemudian dengan mobil Avanza peraknya.

Malam itu, nggak ada satu pun dari mereka yang berani melempar lelucon soal jabatan “Koordinator Transportasi”.

Sama sekali nggak ada suasana bercanda.

Nadia duduk di kursi penumpang depan dengan wajah tegang menatap jalanan yang sepi.

Aldo duduk di samping Ray di kursi belakang.

Hampir nggak ada obrolan di antara mereka berempat di sepanjang perjalanan menembus keheningan malam kota.

Jari-jemari Ray terus-menerus menekan tombol panggil ulang ke nomor ponsel Vanessa.

Lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Setiap panggilan hanya dijawab oleh nada sibuk dan suara operator otomatis yang dingin.

Ray membuka ruang obrolan mereka, men-scroll ke atas melewati ratusan riwayat pesan selama berminggu-minggu terakhir:

Ide cerita film absurd.

Debat naskah yang konyol.

Meme-meme receh.

Foto-foto di balik layar.

*pagi sayangku cinta matiku ❤️*

*jangan lupa pake sepatu kets item ya ganteng 😘*

*fyi tadi formulirnya udh aku submit ya xixi*

*aku sayang banget sama kamu tau, Ray.*

Sampai pesan terakhir malam ini yang terputus di udara:

*satu shot terakhir aja janji*

Aldo melirik ke arah Ray dengan tatapan cemas.

“Palingan dia aman-aman aja kok, Ray,” bisik Aldo mencoba menenangkan.

Ray mengangguk kaku. “Iya.”

“Kan Vanessa emang dari dulu kelakuannya suka random di luar nalar.”

“Iya.”

“Siapa tahu baterai HP-nya emang beneran drop abis.”

“Iya.”

Tapi nggak ada satu pun dari mereka yang benar-benar percaya pada kata-kata penenang itu.

Mobil Kevin melaju secepat mungkin melewati perempatan jalan raya besar dan deretan pertokoan.

Beberapa ratus meter kemudian, gedung tua terbengkalai itu mulai terlihat.

Bangunan itu tampak gelap gulita dan menyeramkan saat mobil Kevin berbelok memasuki area halamannya.

Pos satpam di depan gerbang kosong melompong tak berpenghuni.

Kevin menginjak rem.

Bahkan sebelum mesin mobil sempat dimatikan, Ray sudah lebih dulu membuka pintu dan melompat keluar menerobos kegelapan malam.

“Ray, tungguin kita!” teriak Kevin panik.

Ray berlari kencang menuju pintu masuk lobi utama.

Pintu kaca berdebu itu tidak terkunci sama sekali, sedikit menganga tertiup angin malam.

Dan fakta bahwa pintu itu terbuka justru membuat firasat buruk di dada Ray meledak makin liar.

Mereka berempat menyalakan senter dari ponsel masing-masing, menembus pekatnya kegelapan lobi yang berdebu tebal.

“VANESSA!” teriak Nadia lantang.

Suara teriakannya memantul bergema di sepanjang dinding beton yang sunyi.

Nggak ada jawaban apa pun selain deru angin malam.

Mereka memeriksa lantai satu dengan tergesa-gesa.

Kosong.

Naik ke lantai dua.

Tetap kosong melompong.

Lalu langkah kaki Ray tiba di depan tangga beton menuju lantai atas.

Pintu tralis besi berkarat yang menjadi akses menuju lantai tiga... terbuka lebar.

Gembok rantai besinya tergeletak begitu saja di atas anak tangga.

Ray menghentikan langkahnya, napasnya memburu cepat.

Aldo berbisik dengan suara gemetar dari belakang pundaknya:

“Bukannya... kemarin pintu ini digembok rantai ya, Ray?”

“Iya,” bisik Ray serak.

Dan tanpa menunggu sedetik pun lagi, Ray langsung memacu kakinya menaiki anak tangga menuju lantai tiga.

Udara di lantai tiga terasa sangat pengap dan berbau debu lapuk yang menyengat hidung.

Tumpukan meja dan lemari kayu tua yang rusak berjejer di sepanjang koridor sempit.

Sebagian pintu ruangan tampak menganga gelap, sebagian lagi terkunci rapat.

“VANESSA!” teriak Ray sekuat tenaga.

Hening.

Ray menerobos masuk ke ruangan pertama di sebelah kiri.

Kosong.

Ruangan kedua.

Hanya ada puing-puing plafon yang runtuh ke lantai.

Ruangan ketiga.

Nihil.

Tiba-tiba terdengar teriakan panik Nadia dari arah lorong belakang:

“RAY! SINI CEPETAN!”

Ray langsung berputar arah dan berlari menghampiri Nadia.

Sorot senter ponsel Nadia terarah lurus ke sebuah benda yang tergeletak di atas lantai semen yang kotor.

Sebuah tas ransel kamera berwarna hitam.

Tas milik Vanessa.

Mata Ray seketika mengenali gantungan kunci kecil yang tergantung di resleting tas itu: miniatur kamera film plastik berwarna kuning yang dipasang Vanessa beberapa bulan lalu.

Jantung Ray berdegup kencang seperti mau copot menembus rusuknya.

Dia berlutut menyambar tas itu ke pelukannya.

“VANESSA! KAMU DI MANA?!”

Nggak ada sahutan.

“VANESSA, JAWAB!” teriak Ray putus asa.

Kevin langsung berlari memeriksa ujung lorong yang lain, sementara Aldo sibuk menyenter ke dalem celah-celah ruangan kosong.

Nadia dengan tangan gemetar mengeluarkan ponselnya. “Gue... gue telpon mamanya sekarang.”

Ray membuka resleting tas kamera itu dengan terburu-buru.

Di dalamnya hanya ada:

Satu baterai cadangan.

Gulungan kabel data.

Buku catatan bersampul cokelat milik Vanessa.

Tapi kameranya... lenyap.

Dan tepat di atas sampul buku catatan itu, tertempel selembar kertas memo kuning kecil yang familier.

Selama sepersekian detik yang naif, Ray masih sempat berharap bakal membaca lelucon garing Vanessa:

*JANGAN LUPA MINUM AIR PUTIH YA!*

Atau:

*AWAS AJA SAMPAI LO MATI!*

Atau coretan gambar alien konyol buatannya.

Tapi kenyataannya... di atas kertas tempel itu hanya tertulis empat kata berhuruf kapital yang digoreskan dengan tinta hitam yang tebal dan bergetar:

**AKHIRNYA AKU LIAT DIA.**

Detik itu juga, pasokan oksigen di paru-paru Ray seolah terputus total.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk