Mimpi Vanessa

0 dibaca

A

Sejak hari itu, obrolan Vanessa selalu berputar di masa depan yang megah tanpa jeda.

Abis lomba ini kelar, mereka berdua harus langsung bikin proyek film baru lagi.

Terus bikin film yang kualitasnya jauh lebih gila.

Terus dia bakal kuliah di Institut Kesenian Jakarta atau sekolah film di luar negeri.

Terus karyanya bakal masuk seleksi festival film bergengsi di Cannes atau Busan.

Terus dia bakal nyutradarain film panjang pertamanya sebelum umur dua puluh lima tahun.

Eh, jangan dua puluh lima deh—dua puluh tiga tahun kayaknya lebih pas!

Ah, nggak jadi, umur dua puluh empat tahun aja biar lebih realistis dikit.

Dia bakal mendirikan rumah produksi sendiri.

Bikin studio syuting raksasa.

Bikin film kolaborasi internasional.

Beliin rumah mewah bertingkat buat orang tuanya.

Keliling dunia ke festival-festival sinema.

Bawa pulang segudang piala penghargaan bergengsi.

“Piala penghargaan apaan aja emangnya yang mau disikat?” goda Ray suatu hari.

“Semuanya lah! Dari FFI sampai piala Oscar!”

“Spesifik banget ya targetnya.”

“Daftar list-nya masih aku susun di buku catatan nih!”

Ray tertawa geli mendengarnya.

Jujur saja, Ray selalu suka mendengarkan Vanessa berceloteh soal impian-impian besarnya itu.

Dari dulu dia selalu kagum.

Tapi bedanya... kalau dulu impian Vanessa terdengar seperti angan-angan manis anak SMA yang lagi berkhayal,

sekarang...

cewek itu berbicara seolah-olah semua pencapaian raksasa itu bakal terjadi sekaligus besok pagi.

Dan seolah-olah nggak ada satu pun kekuatan di alam semesta ini yang sanggup menghentikan langkah kakinya.

H-3 sebelum deadline lomba, Vanessa mulai berhenti pulang tepat waktu.

H-2 sebelum deadline lomba, cewek itu mendadak memutuskan bahwa mereka harus mengambil satu adegan syuting terakhir.

Dan untuk kali ini, Ray dengan tegas menolak.

Anehnya... Vanessa nggak tertawa menanggapi penolakan itu.

Dan ketiadaan tawa itulah yang jadi tanda bahaya pertama bagi Ray.

“Kita butuh adegan penutup yang baru, Ray,” kata Vanessa datar.

“Nggak butuh, Van.”

“Adegan ending yang kemarin rasanya hambar!”

“Ending yang kemarin itu kan murni ide brilian kamu sendiri!”

“Ternyata konsepnya salah.”

“Kemarin kamu sendiri yang koar-koar bilang kalau ending itu udah sempurna banget!”

“Ya kemarin aku khilaf, sekarang aku sadar itu salah!”

“Ya udah, berarti hari ini kamu yang salah mikir!”

Vanessa memelototi Ray tanpa berkedip.

Ray mencoba tersenyum santai buat mencairkan suasana tegang di antara mereka.

Biasanya trik itu selalu ampuh meredam emosi Vanessa.

Tapi kali ini... sama sekali nggak berhasil.

“Kita harus syuting ulang adegan itu sore ini juga, Ray.”

“Aku bilang nggak ya nggak.”

Rahang Vanessa tampak mengeras kencang.

“Ray Pratama.”

“Film kita udah selesai seratus persen, Vanessa!”

“Belum selesai!”

“Udah kelar!”

“Kamu tuh nggak paham esensi ceritanya!”

“Ya makanya jelasin ke aku biar aku paham!”

Vanessa berdiri tegak di seberang meja ruang editing sekolah.

Rambutnya kusut masai tak beraturan.

Kedua matanya merah menyala karena kelelahan kronis.

Wajahnya tampak letih luar biasa.

Seharusnya tubuhnya udah tumbang sejak tiga hari yang lalu.

Tapi entah dapet dorongan energi gaib dari mana, staminanya saat itu justru jauh melampaui Ray.

Jauh melampaui Nadia.

Jauh melampaui semua orang normal di sekolah itu.

“Kita cuma butuh satu kali retake adegan terakhir, Ray,” desak Vanessa dengan napas memburu.

“Yang kita butuhin sekarang itu mencet tombol submit lomba, bukan syuting lagi!”

“Abis retake selesai, langsung aku submit!”

“Deadline lombanya itu udah mepet, Vanessa!”

“Nah, tepat sekali! Berarti masih ada waktu!”

“Itu bukan argumen yang masuk akal, Van!”

“Ray, dengerin aku—“

“Kamu udah nggak tidur beneran berhari-hari, Vanessa!”

“Aku sehat seratus persen!”

“Berhenti ngomong ‘aku sehat’ tiap kali kamu mau pingsan begini!” bentak Ray akhirnya terpancing emosi.

Seketika itu juga, Vanessa mematung kaku.

Keheningan dingin mendadak membekukan udara di antara mereka berdua.

Ray langsung menyesali nada bicaranya yang terlalu membentak barusan.

“Van... maaf, maksud aku bukan—“

“Nggak usah dilanjutin,” potong Vanessa dingin sambil membuang muka ke arah jendela. “Ternyata kamu sama aja kayak orang-orang lain.”

Ray mengerutkan kening bingung. “Sama apanya maksudmu?”

Vanessa nggak langsung menjawab.

“Vanessa...”

Cewek itu perlahan menolehkan kepalanya kembali menatap Ray.

Dan sorot mata yang terpancar di sana seketika membuat napas Ray tercekat di tenggorokan.

Bukan tatapan marah.

Bukan itu.

Raut mukanya memancarkan rasa sakit yang teramat dalam.

Seolah-olah dia baru saja dikhianati oleh satu-satunya orang yang paling dia percaya di dunia ini.

“Kamu bener-bener nggak ngerti apa yang lagi terjadi sama aku ya, Ray,” bisik Vanessa lirih, suaranya tercekat di ujung lidah.

“Ya makanya bantu aku buat ngerti, Van...” pinta Ray memelas.

Pandangan Vanessa perlahan beralih menatap bodi kamera yang tergeletak bisu di atas meja kerja.

Lalu kembali menatap lurus ke dalam bola mata Ray.

Suaranya mendadak berubah sangat pelan, nyaris seperti bisikan gaib yang membuat bulu kuduk berdiri:

“Aku udah ngeliat adegan endingnya, Ray.”

Ray terdiam menunggu, dadanya berdegup kencang tak beraturan.

“Maksudnya apa?”

Vanessa menatap kamera di atas meja.

“Aku bisa bayangin sekarang. Shot terakhirnya harus kayak gimana. Semuanya udah jelas banget di kepala aku.”

“Dari mana?”

Vanessa menelan ludah.

“Cewek itu yang nunjukin.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk