Satu Adegan Terakhir

0 dibaca

A

Ray menunggu tawa Vanessa meledak.

Tapi tawa itu nggak kunjung terdengar.

Biasanya, di detik-detik genting seperti ini, pertahanan wajah cewek itu bakal jebol.

Dia bakal nyengir jail, ngaku kalau barusan cuma nge-prank.

Terus Ray bakal ngata-ngatain dia cewek gila.

Dan Vanessa bakal ketawa ngakak sampai sesak napas.

Tapi kali ini... nggak ada apa-apa.

Cewek itu cuma berdiri mematung di sana, menatap lurus ke dalam bola mata Ray.

“Cewek misterius itu... nunjukin adegan endingnya ke kamu?” ulang Ray memastikan.

“Iya.”

“Gimana caranya?”

Raut muka Vanessa tampak frustrasi. “Aku nggak tahu.”

“Dia ngomong sama kamu?”

“Nggak.”

“Terus gimana caranya kamu bisa tahu?!”

“Aku ngeliat sendiri, Ray.”

“Di mana liatnya?”

Vanessa mengarahkan jari telunjuknya ke arah kamera.

“Di dalem hasil rekaman kita.”

Ray memandangi kamera itu dengan helaan napas lelah.

Tentu saja.

Lagi-lagi kamera itu.

Selalu kamera sialan itu.

“Coba tunjukin ke aku sekarang.”

Vanessa langsung membuka file proyek editan terakhir di laptopnya.

Ray menarik kursi plastik dan duduk tepat di sampingnya.

Adegan penutup film mulai berputar di layar.

Di layar itu, karakter cowok yang dimainkan Ray tampak berjalan sendirian menyusuri lorong yang remang.

Langkahnya terhenti.

Dia menoleh ke belakang bahunya.

Kosong.

Lalu dia menatap lurus ke arah lensa kamera.

Tetap kosong.

Suara dengungan sunyi perlahan memudar.

Layar memotong ke warna hitam pekat.

Ray menunggu beberapa detik. “Oke. Itu kan adegan ending versi lama kita.”

“Iya tahu.”

Vanessa menggeser kursornya mundur beberapa detik ke belakang.

“Nih, di sini.”

Dia menekan tombol spasi untuk menjeda gambar pada satu bingkai spesifik.

Lorong berdebu.

Sosok Ray.

Dan sebuah kusen pintu kosong yang menganga gelap di belakangnya.

“Tuh, di situ,” bisik Vanessa.

Ray udah tahu persis ke mana arah telunjuk cewek itu.

Tapi dia tetap memaksakan matanya buat menatap layar itu lekat-lekat.

“Vanessa...”

“Jangan ngomong gitu.”

“Aku beneran nggak liat—“

“Aku bilang jangan diucap!” potong Vanessa tajam.

Ray terdiam seketika.

Vanessa menempelkan ujung kukunya tepat di kusen pintu yang gelap itu.

“Dia lagi berdiri di situ, Ray. Tepat di balik pintu itu.”

Ray menatap area itu sampai matanya pedih.

Tetap kosong melompong.

“Tangannya lagi nunjuk ke arah tangga,” lanjut Vanessa lirih.

Ray mengalihkan pandangannya dari monitor, kini menatap langsung ke wajah ceweknya.

“Terus?”

“Ya makanya kemarin aku langsung pergi ke sana.”

Detik itu juga, lambung Ray serasa merosot jatuh ke lantai.

“Pergi ke mana maksudmu?”

“Ke lantai tiga.”

Punggung Ray seketika tegak sembilan puluh derajat.

“Lantai tiga yang pintu tralisnya digembok rantai itu?!”

“Kemarin kuncinya udah kebuka.”

“Kapan kamu ke sananya?!”

Vanessa nggak langsung menjawab.

“Vanessa, jawab!”

“Pas kalian semua udah pada pulang.”

Ray melongo menatap cewek di depannya dengan tatapan tak percaya campur horor.

“Kamu... beneran nekat naik ke lantai tiga sendirian?!”

“Aku cuma butuh liat apa yang sebenernya pengen dia tunjukin ke aku, Ray.”

“Kamu masuk ke dalem gedung tua terbengkalai, sendirian, tengah malem buta, cuma gara-gara sosok gaib yang bahkan wujudnya aja kagak bisa aku liat?!”

“Dia nggak nyuruh aku kok—“

“BUKAN BAGIAN ITU YANG BIKIN AKU KHAWATIR SETENGAH MATI!” semprot Ray murka.

Vanessa langsung tersentak kaget mendengar bentakan itu.

Melihat bahu ceweknya menciut, Ray langsung buru-buru menurunkan intonasi suaranya.

“Maaf... maaf, aku kelepasan.”

Vanessa membuang muka ke arah jendela, bibirnya terkatup rapat.

Ray mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar.

“Van... gedung itu tuh konstruksinya udah tua banget, rapuh, rawan ambruk. Bahaya banget buat dimasuki sendirian.”

“Aku hati-hati kok.”

“Tindakan kamu barusan itu sama sekali nggak ada unsur hati-hatinya, Vanessa!”

“Aku nggak apa-apa kan buktinya sekarang!”

“Tolong lah, berhenti ngomong ‘aku nggak apa-apa’ seolah-olah kata-kata itu bisa bikin semuanya jadi aman!”

Raut muka Vanessa mendadak mengeras dingin.

Perubahan ekspresi itu muncul lagi.

Pergeseran mikro yang belakangan ini makin sering Ray perhatikan.

Kadang-kadang, Ray bisa melontarkan lelucon receh dan Vanessa bakal ketawa lepas sampai ngik-ngik.

Tapi di waktu lain, kalimat biasa yang Ray ucapkan bisa tiba-tiba mendarat di suatu titik sensitif di kepalanya yang nggak bisa Ray pahami.

Dan kalimat Ray barusan jelas mendarat di tempat yang salah.

“Seharusnya dari awal aku nggak usah cerita” bisik Vanessa dingin.

“Maksudnya apa ngomong gitu?”

“Kamu kan tadi yang maksa nyuruh aku ngejelasin!”

“Ya aku nanya karena aku lagi berusaha mengerti, Vanessa!”

“Nggak. Kamu nanya cuma karena kamu pengen ngebuktiin kalau aku yang salah.”

“Aku ngomong begini demi keselamatan kamu biar kamu nggak celaka, Vanessa!”

“Tapi nyatanya aku nggak celaka kan?!”

“Bukan itu poin intinya!”

“Terus poin intinya apa?!”

“Poin intinya adalah kamu nekat masuk ke gedung kosong sendirian tengah malem!”

Vanessa bangkit berdiri dari kursinya.

“Dan sekarang aku masih berdiri utuh di depan kamu kan?”

“Iya. Buat kali ini kamu emang selamat.”

Begitu kata-kata itu meluncur lepas dari mulutnya, detik itu juga Ray langsung mengutuk kebodohannya sendiri.

Ruangan itu seketika diselimuti keheningan yang mencekam.

“Maksud kamu apa ngomong gitu?” tanya Vanessa dengan nada sangat datar.

“Maksud aku tuh—“

“Nggak usah ngeles. Maksud kamu pake embel-embel ‘buat kali ini’ itu apa?”

Ray menghela napas panjang, pundaknya lunglai ke bawah.

“Nggak ada maksud apa-apa.”

“Kamu selalu begitu ya, Ray.”

“Begitu gimana coba?”

“Kamu ngomong sesuatu yang nyelekit, terus sedetik kemudian kamu langsung mutusin kalau mentalku nggak bakal sanggup nerima arti omongan kamu barusan.”

“Aku nggak mikir kayak gitu, Van...”

“Ya terus kenapa nggak berani lanjutin?!”

Ray menatap cewek itu dengan pandangan nanar.

Dia capek banget.

Vanessa juga kelihatan capek banget.

Setidaknya, Ray mengira cewek itu capek.

Tapi sekarang Ray udah bener-bener kehilangan arah buat menilai apa yang sebenarnya lagi berkecamuk di dalem kepala Vanessa.

“Aku... aku nggak tahu lagi harus ngomong apa biar nggak salah di mata kamu, Van.”

Vanessa tersenyum kecut, tapi sama sekali nggak ada binar ceria di wajahnya.

“Nah, kan. Persis kayak dugaanku.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk