Rencana Bikin Film

0 dibaca

A

“Aku punya ide film baru,” celetuk Vanessa di suatu siang di kantin sekolah.

Ray bahkan nggak repot-repot ngalihin pandangan dari layar ponselnya yang lagi nampilin game Mobile Legends.

“Kabar film romantis di dalem lift gimana nasibnya?”

“Udah wafat.”

“Film sudut pandang dari dalem kulkas?”

“Tewas mengenaskan.”

“Yang cewek dapet telepon dari dirinya sendiri di masa depan?”

“Mati suri sementara.”

“Jawaban kamu sama sekali nggak meyakinkan ya.”

“Tapi yang kali ini beneran beda, Ray!”

“Kamu selalu ngomong gitu tiap kali dapet wangsit.”

“Nggak, kali ini serius!”

Vanessa menarik kursi plastik dan duduk tepat di sebelah Ray, mencondongkan badannya ke depan.

“Temanya horor.”

Jari Ray yang lagi asyik mencet tombol game langsung berhenti.

Dia mendongak menatap Vanessa dengan tatapan horor yang sesungguhnya.

“Nggak. Titik. Gak pake tawar.”

“Dengerin dulu sinopsisnya!”

“Nggak mau.”

“Jadi ada cewek SMA...”

“Aku bilang nggak, Van.”

“...dia terus-terusan ngeliat ada sosok misterius yang ngikutin dia...”

“Nggak mau denger.”

“...tapi anehnya, nggak ada satu orang pun selain dia yang bisa ngeliat sosok itu.”

Ray terdiam sejenak.

Dan Vanessa yang peka banget langsung menangkap perubahan ekspresi di mata Ray.

Senyum licik perlahan merekah di bibir cewek itu.

“Mulai penasaran kan?”

Ray berdeham canggung. “...Lanjutin dikit coba.”

Vanessa makin mendekat, nada suaranya berbisik dramatis.

“Semua temen dan keluarganya ngira kalau cewek ini cuma halu atau stres kebanyakan tugas.”

“Aslinya emang halu?”

Entah kenapa, kali ini jedanya sedikit lebih lama daripada biasanya.

“Nah, itu dia! Aku sendiri belum nentuin!”

“Heh! Kamu kan yang nulis ceritanya masa kamu sendiri nggak tahu?!”

“Ya kan proses kreatif emang begitu, belum dapet hidayah akhirnya!”

“Mencurigakan banget naskahnya.”

“Bisa jadi setannya emang beneran nyata...”

“Oke...”

“...atau bisa jadi si cewek ini perlahan mulai kehilangan akal sehatnya.”

“Makin serem arahnya.”

“Atau dua-duanya sekaligus!”

Ray menatap cewek di depannya lurus-lurus.

Mata Vanessa memancarkan binar lapar yang udah sangat Ray kenal luar kepala.

Tatapannya berapi-api tiap kali ada konsep film baru yang mulai meletup-letup di kepalanya.

Dan biasanya, tatapan modelan begini adalah tanda bahaya bahwa Ray bakal kehilangan waktu akhir pekannya secara cuma-cuma.

Ray menghela napas panjang tanda pasrah.

“Kamu butuh apa kali ini?”

Vanessa tersenyum super manis. “Butuh kamu.”

Detik itu juga, Ray langsung menyesali keputusannya buat nanya.

“Maksudnya butuh aku apaan nih? Firasatku mendadak nggak enak.”

“Kamu yang jadi pemeran utamanya.”

“OGAH!”

“Kamu bahkan belum baca naskahnya ya, Ray!”

“Nggak perlu baca, aku udah tahu kapasitas aktingku setara kanebo kering.”

“Muka kamu tuh pas banget buat peran ini!”

Ray mengerutkan kening. “Mukaku pas buat film horor?”

“Bukan. Mukamu pas banget buat karakter orang yang lagi menderita dan tertekan batin.”

“Makasih banyak lho atas pujiannya.”

“Sama-sama, Sayang.”

“Pokoknya tetep nggak mau akting.”

“Oke deh.”

Ray menyipitkan mata penuh selidik.

“Kok tumben langsung nyerah secepet itu? Nggak biasanya.”

“Ya aku kan menghargai keputusan pribadi kamu sebagai pasangan yang baik.”

“Vanessa... jangan bikin parno.”

Vanessa tersenyum tanpa dosa. “Sabtu ini ada acara nggak?”

“Ada. Aku sibuk.”

“Bagus deh. Nanti titik lokasinya aku share di WhatsApp ya.”

“VANESSAAA!”

Tapi cewek itu udah keburu ngacir sambil melambaikan tangan ke belakang.

Ray cuma bisa menatap punggung cewek itu sambil geleng-geleng kepala pasrah.

“Paling dua minggu lagi proyek filmnya juga dianggurin kayak yang udah-udah!” teriak Ray dari kejauhan.

Vanessa berbalik dan berjalan mundur sambil menyahut riang:

“Nggak bakal ya! Yang ini pasti kelar!”

“Dulu pas film kulkas kamu juga ngomong begitu!”

“Film kulkas itu idenya terlalu visioner, zamannya aja yang belum siap!”

Lalu dia berbelok di koridor dan lenyap dari pandangan.

Ray mendesah pelan.

Satu lagi proyek film khayalan Vanessa.

Satu lagi ide ambisius yang mustahil diwujudkan.

Satu lagi file yang kemungkinan besar cuma bakal menuh-menuhin memori laptopnya tanpa pernah terealisasi.

Setidaknya, itulah yang dipikirkan Ray siang itu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk