Vanessa Versi Nyata

0 dibaca

A

Gedung SMA mereka terasa sangat akrab buat ukuran tempat yang sebenarnya belum pernah Ray datangi secara langsung.

Dia udah hafal nama guru-gurunya.

Dia udah hafal nama temen-temen sekelasnya.

Dia tahu Nadia punya kucing oren karena ekor kucing itu pernah nongol nutupin layar laptop setidaknya enam kali pas ulangan Bahasa Inggris.

Dia tahu kalau emaknya Aldo punya suara cempreng legendaris yang suka manggil nama lengkap anaknya pas jam makan siang tiba.

Dia bahkan hafal tata letak wallpaper kamar beberapa temen sekelasnya.

Tapi dia belum pernah ngeliat wujud mereka dari pinggang ke bawah.

Dan fakta itulah yang bikin suasana hari pertama sekolah offline jadi super canggung sekaligus kocak.

Di sepanjang koridor, orang-orang pada heboh saling tebak dan nunjuk.

“EH, ALDO YA?!”

“RIZKY, ANJIR?!”

“Woy, kok lo tinggi banget aslinya?!”

“Lah, lo kok aslinya pendek?!”

“Muka lo beda banget sama di kamera!”

“Kalau lo mah sama persis, tetep kayak orang belom mandi!”

Suasananya lebih mirip reuni akbar orang-orang yang secara teknis belum pernah ketemu fisik seumur hidup daripada hari pertama sekolah.

Ray lagi celingukan nyari papan penunjuk kelasnya pas tiba-tiba ada suara cempreng yang sangat dia kenal manggil dari arah belakang:

“RAY!”

Ray langsung berbalik.

Dan di sanalah cewek itu berdiri.

Vanessa.

Bukan di dalem kotak piksel.

Bukan gambar yang nge-freeze gara-gara sinyal wifi ngadat.

Bukan kentang rebus.

Beneran Vanessa seutuhnya.

Cewek itu berdiri beberapa meter di depannya, melambaikan tangan dengan cengiran lebar khasnya.

Kepercayaan diri Ray yang udah dipupuk dari subuh mendadak gugur seketika ke tanah.

Vanessa melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Ray, lalu memiringkan kepalanya.

“Apaan?” tanya Ray salah tingkah.

“Lo beneran nyata ya.”

Ray menatapnya lurus-lurus. “Ya lo juga nyata lah.”

Bukannya nyapa dengan normal, Vanessa malah melangkah ke samping.

Terus dia mulai jalan muter.

Beneran muterin badan Ray 360 derajat sambil merhatiin dari atas sampai bawah kayak inspektur BPOM lagi sidak pabrik kecap.

Ray cuma bisa muter kepala ngikutin gerakannya.

“Ngapain sih lo, Van?”

“Lagi ngecek.”

“Ngecek apaan?”

“Kondisi 3D lo.”

“Vanessa, please deh...”

Vanessa menyelesaikan putarannya dan kembali berdiri tegak di depan Ray.

Dia mengangguk-angguk sok bijak.

“Boleh lah. Lolos sensor.”

“Makasih lho ya atas penilaiannya,” sahut Ray sarkas.

“Di atas ekspektasi gue dikit.”

“Wah, bangga banget gue dengernya.”

“Selamat ya!”

“Baru ketemu semenit aja gue udah nyesel,” gerutu Ray.

Vanessa langsung ketawa renyah.

Dan di detik itulah Ray baru sadar, ternyata layar laptop selama ini menyembunyikan begitu banyak hal dari diri seorang Vanessa.

Dia memang cantik di Google Meet, Ray udah tahu itu.

Tapi kamera laptop nggak pernah bisa nangkep seberapa hebohnya Vanessa pas lagi bergerak di dunia nyata.

Dia kalau ngomong tangannya selalu ikutan heboh ke mana-mana.

Jalan kakinya cepet banget kayak orang lagi dikejar debt collector.

Kakinya nggak bisa diem kalau lagi antusias.

Dan dia hobi banget nyapa orang-orang yang bahkan Ray nggak tahu siapa bapak ibunya.

Belum ada dua puluh menit mereka bareng di koridor, Vanessa udah berhasil ngobrol akrab sama anak kelas sebelah, bantuin adek kelas nyari lab biologi, dan udah hafal nama panggilan Pak Satpam depan gerbang.

Ray yang selama hampir setahun ngerasa udah kenal luar dalem sama Vanessa, mendadak tersadar:

Ternyata selama ini dia cuma kenal Vanessa versi demo.

Vanessa versi offline punya segudang *side quest* yang nggak ada habisnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk