Mereka nggak langsung jadian secara resmi waktu itu.
Alasan utamanya adalah karena Ray terlalu lemot buat nyadar kalau arah hubungan mereka sebenarnya udah meluncur deras ke sana.
Mereka belajar bareng tiap hari.
Pulang sekolah bareng.
Vanessa hobi banget nyomot gorengan atau jajanannya Ray tanpa permisi.
Ray hobi bawain tas atau buku-bukunya Vanessa sambil ngedumel sepanjang jalan.
Vanessa rajin ngasih sticky notes kuning.
Dan Ray nyimpen semuanya di dalem kotak khusus di laci kamarnya.
Sampai pada suatu sore yang gerimis, pas mereka lagi nongkrong di tangga darurat samping mushola sekolah, Vanessa mendadak nanya tanpa aba-aba:
“Ray, sebenernya lo tuh pacar gue bukan sih?”
Ponsel di genggaman Ray nyaris aja terjun bebas ke lantai.
“Hah? Apaan?”
“Lo pacar gue bukan?”
“Nggak tahu ya...”
Vanessa langsung cemberut, alisnya bertaut kesal.
“Masa lo nggak tahu?!”
“Ya kan nggak ada yang ngasih tahu gue!”
“Gue kira kan udah jelas dari gelagatnya!”
“HAL-HAL BEGINIAN TUH HARUS DIOMONGIN! NGGAK BISA MAIN TEBAK-TEBAKAN KODE!”
“Ya udah.”
Vanessa langsung menegakkan posisi duduknya di anak tangga.
Dia berdeham pelan dengan gaya sok resmi kayak manajer HRD lagi mau wawancara kerja calon karyawan magang.
“Saudara Ray Pratama.”
“Apaan lagi dah?”
“Apakah Anda berminat untuk melamar pada posisi ini?”
Ray menatapnya dengan tatapan curiga.
“Posisi apaan?”
“Posisi pacar.”
Ray pura-pura menimbang tawaran itu di kepalanya.
“Ada sesi wawancara kerjanya nggak nih?”
“Ini sekarang lagi wawancara.”
“Benefit-nya dapet apa aja?”
“Dapet pasokan ciki sama gorengan gratis tiap istirahat.”
“Gaji pokok?”
“Nol rupiah.”
“Jam kerjanya gimana?”
“Dua puluh empat jam, nggak kenal hari libur, dan siap siaga kalau tiba-tiba dihubungi.”
“Hak cuti tahunan?”
“Bisa dinegosiasikan, tergantung kelakuan.”
“Manajemen perusahaannya gimana? Sehat nggak?”
“Sangat terpercaya dan profesional.”
“Agak mencurigakan ya kalau klaim sepihak begini.”
Plak!
Vanessa langsung menendang ujung sepatu kets Ray dengan gemas.
Ray tertawa puas.
Lalu dengan gerakan santai, Ray mengulurkan telapak tangannya ke depan Vanessa.
“Mulai kerjanya kapan nih, Bos?”
Vanessa menatap telapak tangan itu sejenak.
Lalu beralih menatap mata Ray.
Senyum jail di bibirnya perlahan melembut, berubah jadi binar tulus yang bikin dada Ray berdesir hangat.
“Mulai sekarang.”
Vanessa menyambut tangan Ray dan menggenggamnya erat.
Dan begitu saja... Ray resmi punya pacar.
Tapi pacaran sama Vanessa ternyata jauh dari bayangan drama romantis yang pernah Ray tonton di film-film.
Tadinya Ray mikir kalau cowok yang harus lebih dominan ngasih kejutan-kejutan manis.
Tapi bagi Vanessa, aturan kuno itu nggak berlaku sama sekali.
Pas hari Valentine, Ray datang ke sekolah dengan sekotak kue cokelat kecil yang dia beli dari uang tabungannya.
Di depan gerbang, Vanessa udah nungguin dia.
Sambil megang buket bunga mawar merah yang dibungkus rapi.
Mereka berdua mematung pas saling berhadapan.
Ray melotot natap buket bunga di tangan Vanessa.
Vanessa melirik kotak kue di tangan Ray.
“Lah?” cetus Ray bingung.
Ray menunjuk buket bunga itu. “Itu bunga... buat siapa?”
“Buat kamu lah.”
“Bukannya aturan mainnya cowok yang ngasih bunga ke cewek ya?”
“Emangnya kenapa kalau cewek yang ngasih?”
“Ya kan biasanya gitu di mana-mana...”
“Ray.”
“Apa?”
“Kita ini baru aja selamat dari pandemi global yang bikin seisi bumi kalang kabut.”
Ray diam nungguin kelanjutan argumen absurdnya.
Vanessa menyodorkan buket bunga itu tepat ke pelukan Ray.
“Aku yakin tatanan sosial dunia nggak bakal runtuh cuma gara-gara aku beliin pacarku sebuket bunga.”
Ray menerimanya dengan pasrah. “Masuk akal juga sih.”
Lalu Ray menyodorkan kotak kue cokelatnya. “Nih... buat kamu.”
Detik itu juga, ekspresi muka Vanessa langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
Matanya berbinar-binar kayak anak kecil dapet mainan impian.
“INI BUAT AKU?!”
“Iya lah, masa buat Pak Satpam.”
“Ya ampuuun, Ray!”
Vanessa langsung menyambar kotak itu, ngintip isinya, lalu detik berikutnya melompat memeluk leher Ray erat-erat.
“Kamu romantis banget sih, Ray!”
Ray cuma bisa berdiri kaku sambil meluk buket bunga mawar yang baru aja dikasih cewek itu.
“Van, yang barusan ngasih bunga itu kamu sendiri lho.”
“Itu beda konteks!”
“Beda di mananya coba?”
“Nggak tahu pokoknya beda!”
“Argumen yang sangat luar biasa logis, Saudari Vanessa.”
“Terima kasih atas pujiannya, Saudara Ray.”
Begitulah Vanessa.
Bunga mawar.
Kelapa gluntungan.
Sticky notes kuning.
Ide cerita film di jam dua subuh.
Dan Ray jatuh cinta setengah mati pada ketidakpastian itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!