Sticky Notes

0 dibaca

A

Pas jam istirahat pertama, Ray menemukan fakta baru lainnya:

Vanessa itu ternyata tipe anak populer.

Tapi bukan populer modelan antagonis di sinetron remaja yang kalau lewat di koridor langsung diiringi dayang-dayang sok keren dan bikin orang minggir ketakutan.

Bukan gitu.

Orang-orang tuh... tulus suka aja sama dia.

“Vanessa, lo ikut seleksi OSIS nggak?”

“Liat nanti ya!”

“Van, bantuin konsep mading kelas dong!”

“Aman, ntar kabarin aja!”

“Van, nomor lima jawabannya apaan?”

“Tujuh belas koma lima!”

“Van, minta catatan kimia yang kemarin dong!”

“Iya, ntar gue kirim fotonya di WA ya!”

Ray yang duduk di bangku tepat di sebelah Vanessa cuma bisa nyender sambil geleng-geleng kepala.

“Mbak, buka loket pelayanan masyarakat jam berapa aja biasanya?” sindir Ray pelan.

Vanessa menoleh ke arahnya sambil tersenyum jahil.

“Cemburu ya lo?”

“Dih, najis.”

“Mau ambil nomor antrean juga?”

“Nggak minat.”

“Slot kosong terdekat gue adanya hari Kamis lho.”

“Gue bahkan nggak pengen ngomong sama lo.”

“Ya udah, Jumat aja kalau gitu.”

Ray memutar bola matanya malas.

Vanessa tertawa kecil lalu kembali menghabiskan bekal rotinya.

Satu hal yang bikin Ray gondok: ternyata dia jauh lebih suka Vanessa versi nyata ini.

Dan itu jelas kabar buruk buat kestabilan hatinya.

Seminggu kemudian, Ray nemuin selembar kertas memo kuning kecil nempel di sampul buku tulisnya.

*SEMANGAT KUISNYA!*

*JANGAN MAU KALAH SAMA TRIGONOMETRI.*

*— V*

Ray memandangi kertas itu, lalu menoleh ke seberang deretan bangku.

Vanessa lagi sibuk nyatet rumus di mejanya.

“Lo yang nempel ginian di buku gue?”

Vanessa bahkan nggak noleh sedikit pun.

“Bukan.”

“Jelas-jelas ada inisial V-nya begini.”

“Bisa aja Voldemort kan?”

“Sejak kapan Voldemort peduli sama nilai remedial matematika gue?”

“Ya kali aja dia udah tobat terus pengen berbuat baik.”

Ray menatap kertas tempel itu sekali lagi.

Cuma kertas kuning biasa.

Tapi entah dorongan dari mana, Ray melipatnya rapi-rapi lalu menyimpannya dengan hati-hati di dalem tempat pensilnya.

Minggu berikutnya, kertas kuning kedua muncul lagi di sudut mejanya.

*PR HALAMAN 62.*

*AWAS AJA SAMPAI LO BILANG GUE NGGAK PERNAH NYELAMATIN HIDUP LO.*

*— V*

Ray memasukkan kertas demi kertas itu ke tempat pensilnya, menumpuknya rapi di bawah tumpukan pulpen.

Dalam waktu sebulan, jumlahnya udah genap tujuh belas lembar.

Kalau ditanya orang, Ray pasti bakal ngeles dan nyangkal kalau dia sengaja ngitungin.

Padahal kenyataannya, dia beneran ngitungin tiap lembar.

Sampai akhirnya... datanglah insiden kelapa gluntungan.

Hari Selasa pagi, Ray melangkah masuk ke kelasnya dan mendadak mematung tepat di depan mejanya sendiri.

Dia berhenti melangkah.

Di atas mejanya, tepat di tengah-tengah, bertengger sebuah benda bulat besar.

Kelapa.

Beneran buah kelapa utuh.

Lengkap dengan sabut-sabut cokelat kasarnya yang masih berdebu.

Bukan es kelapa muda di kantong plastik.

Bukan kelapa kopyor.

Bukan permen rasa kelapa.

Tapi beneran buah kelapa gluntungan kayak baru metik dari pohonnya langsung.

Dan di batoknya, tertempel selembar sticky note kuning yang sangat familier:

*Semangat ya hari ini!*

*— V*

Ray melotot menatap kelapa itu.

Lalu menatap Vanessa yang lagi duduk anteng dua meja di depannya.

Lalu balik menatap kelapanya lagi.

“Vanessa.”

Vanessa mendongak dari bukunya. “Hm?”

“Kenapa ada kelapa gluntungan di meja gue?”

“Ya buat lo lah.”

“Bagian itu gue juga paham.”

“Terus masalahnya di mana?”

“Kenapa harus KELAPA UTUH begini?!”

“Kan kemarin lo ngeluh lemes dan capek banget.”

“Terus hubungannya apa?!”

“Elektrolit alami, Ray. Bagus buat tubuh.”

Ray menatap Vanessa tanpa berkedip.

Vanessa membalas tatapan itu dengan wajah super polos dan tanpa dosa.

“Kenapa lo nggak beli air kelapa bungkusan aja di warung depan sih, Van?”

Hening.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Vanessa tampak bener-bener merenungi logika sederhana itu.

Dia menatap kelapa di meja Ray.

Lalu menatap Ray.

“Oh iya ya.”

“OH IYA YA GIMANA MAKSUD LO?!”

“Gue nggak kepikiran ke situ.”

“LO NENTENG-NENTENG KELAPA UTUH SEGEDE GINI KE SEKOLAH NAIK OJOL?!”

“Ya kan...” Vanessa kembali melirik kelapa itu sambil nyengir lebar. “Kalau kelapa gluntungan gini kan jauh lebih berkesan, Ray.”

Ray mendengus kesal karena sialnya, omongan cewek itu ada benernya juga.

Hari itu, Ray terpaksa nenteng kelapa gluntungan itu pulang ke rumah.

Besok paginya di sekolah, pertanyaan pertama yang meluncur dari mulut Vanessa adalah:

“Udah lo makan kelapanya?”

“Belom.”

“Kenapa?”

“Gue nggak punya golok di kamar buat mecah kelapa utuh, Vanessa!”

“Kan ada tutorialnya di YouTube, Ray.”

Ray cuma bisa melongo menatap cewek di depannya.

“Sejak kapan nerima kado dari gebetan ada PR tutorialnya segala?!”

Vanessa langsung ngakak guling-guling sampai mukanya merah.

Dan Ray harus mengakui... dia suka banget liat tawa lepas cewek itu.

Meskipun itu artinya, masalah di hatinya bakal makin runyam.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk