Kursus Tiga Bulan

3 dibaca

A

Tiga bulan setelah aku resmi mengundurkan diri dari kampus, aku duduk di kamar kos kecil yang sekarang kubagi dengan sepi, menatap layar laptop bekas yang kubeli dari uang hasil menjual sepeda motor kesayanganku. Di layar itu, terpampang video tutorial pemrograman dasar berjudul “Belajar HTML dan CSS untuk Pemula,” diunggah oleh seseorang yang suaranya terlalu bersemangat untuk jam sebelas malam.

Aku tidak memilih coding karena cinta pada pandangan pertama. Aku memilihnya karena seorang teman SMA, yang kini bekerja sebagai admin sistem di sebuah kantor kecamatan, bilang bahwa dunia IT sedang banyak dicari, gajinya lumayan, dan yang terpenting bisa dipelajari secara otodidak tanpa harus kembali membayar kuliah yang sudah jelas tak mungkin kuulangi dalam waktu dekat.

Hari-hariku terbagi jadi dua dunia yang bertolak belakang. Pagi hingga sore, aku menjaga toko kelontong Ibu, melayani pembeli yang membeli sabun cuci, minyak goreng, dan jajanan anak-anak, sambil sesekali mencatat pesanan di buku tulis usang. Malam hingga dini hari, aku berubah jadi murid daring yang gigih, menonton video demi video, mencatat sintaks yang asing di telinga, mencoba menuliskan ulang kode yang kutonton meski sering kali hasilnya hanya berupa halaman kosong dengan pesan error berwarna merah.

Aku ingat malam pertama kali aku berhasil membuat sebuah tombol berubah warna saat disentuh kursor hal sesederhana itu membuatku menangis haru, seperti anak kecil yang baru berhasil mengikat tali sepatu sendiri untuk pertama kalinya.

“Kenapa nangis, Naya?” tanya Dimas, yang saat itu masih SMP, mengintip dari pintu kamarku yang sengaja kubiarkan terbuka agar udara malam tidak terlalu pengap.

“Nggak apa-apa, Dek. Kakak cuma... seneng aja,” jawabku, sambil buru-buru menghapus air mata dengan lengan baju.

Dimas mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti, tapi cukup dewasa untuk tidak bertanya lebih jauh. Sejak Ayah sakit, Dimas juga berubah lebih pendiam, lebih sering membantu Ibu tanpa diminta, seolah ikut menanggung beban yang seharusnya tidak perlu ditanggung anak seusianya.

Belajar otodidak bukan perkara mudah. Tidak ada dosen yang bisa kutanyai langsung, tidak ada teman sekelas yang bisa diajak berdiskusi di sela jam kuliah. Yang kupunya hanyalah forum-forum daring berisi orang asing yang kadang baik hati menjelaskan, kadang ketus membalas pertanyaan yang menurut mereka “terlalu dasar untuk ditanyakan.”

Aku menangis lebih dari sekali karena kode yang tak kunjung berjalan sesuai harapan. Ada satu malam, sekitar minggu keenam belajar, ketika aku menghabiskan lebih dari empat jam hanya untuk mencari satu tanda kurung kurawal yang lupa kutulis dan ketika akhirnya menemukannya, aku tertawa dan menangis bersamaan, campuran emosi yang aneh namun terasa begitu jujur.

Aku juga mulai membangun kebiasaan baru menuliskan setiap kemajuan kecil di buku catatan hijau yang sama, buku yang dulu berisi rangkuman diet gizi. Halaman-halaman baru itu kini berisi sintaks JavaScript, diagram alur logika sederhana, dan di sela-selanya, sesekali masih terselip catatan lama tentang nutrisi seolah dua duniaku, tanpa sengaja, mulai berbagi ruang yang sama.

Menjelang akhir bulan ketiga, aku memberanikan diri mengikuti sebuah bootcamp coding singkat yang biayanya kudapat dari menjual perhiasan pemberian Nenek satu-satunya barang berharga yang masih tersisa dariku. Bootcamp itu berlangsung sebulan penuh secara daring, dengan mentor sungguhan yang, meski hanya bertemu lewat layar, memberiku sesuatu yang selama ini kurindukan, validasi bahwa aku sedang berada di jalur yang benar.

“Progress kamu bagus banget, Naya, buat orang yang belajar otodidak,” puji mentorku suatu hari, setelah aku menyelesaikan proyek akhir berupa sebuah situs sederhana untuk toko kelontong Ibu, situs pertama yang benar-benar kubuat dari nol, lengkap dengan daftar harga dan nomor kontak.

Ibu menangis haru saat aku menunjukkan situs itu padanya, meski jujur saja, ia tidak sepenuhnya paham apa yang sedang ia lihat.

“Kamu hebat, Naya,” katanya, memelukku erat. “Ibu bangga, meski Ibu tahu ini bukan mimpi yang dulu kamu pengen.”

Aku memeluknya balik, menahan diri untuk tidak mengoreksi kalimatnya, bahwa ini memang bukan mimpi yang dulu kuinginkan, tapi mungkin, hanya mungkin, ini adalah mimpi baru yang perlahan mulai kubangun dari reruntuhan yang lama.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk