Pekerjaan pertamaku sebagai programmer datang tiga bulan setelah aku menyelesaikan bootcamp, lewat sebuah lowongan yang kutemukan di grup Facebook alumni bootcamp, startup kecil yang sedang mencari junior frontend developer, tidak mensyaratkan pengalaman bertahun-tahun, hanya portofolio dan kemauan belajar yang tinggi.
Wawancaranya dilakukan lewat panggilan video, dengan Pak Broto pemilik sekaligus satu-satunya manajer di perusahaan itu saat itu, yang tampak lebih tertarik pada semangatku daripada gelar akademis yang tidak kumiliki.
“Kamu dulu kuliah Gizi, terus belajar coding otodidak. Kenapa pindah jalur?” tanyanya, matanya menatap layar dengan rasa penasaran yang tulus.
Aku menceritakan versi singkat dari kisah panjang yang selama ini kusimpan sendirian Ayah yang sakit, kuliah yang terhenti, keputusan yang terpaksa kuambil. Pak Broto mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk, tanpa memberi komentar berlebihan yang biasanya membuatku merasa dikasihani.
“Aku suka orang yang tahu gimana rasanya jatuh dan bangun lagi,” katanya di akhir wawancara. “Kapan bisa mulai kerja?”
Aku diterima. Gaji pertama sebagai programmer, meski tidak besar, terasa seperti kemenangan yang jauh lebih berarti daripada nilai A yang pernah kudapat semasa kuliah dulu, karena kemenangan ini kubangun sendiri, dari nol, tanpa jaminan apa pun selain kegigihan.
Minggu-minggu pertama bekerja penuh dengan rasa minder yang sulit kusembunyikan. Aku sering merasa seperti penipu di tengah rekan-rekan kerja yang lulusan Teknik Informatika, yang paham istilah-istilah yang bahkan belum pernah kudengar sebelumnya. Aku menghabiskan malam-malamku belajar lebih giat dari sebelumnya, berusaha menutup jarak yang kurasakan begitu lebar.
Tania, satu-satunya rekan perempuan di tim saat itu, jadi orang pertama yang membuatku merasa diterima.
“Semua orang di sini juga belajar sambil jalan, kok, Naya. Nggak ada yang sempurna dari awal,” katanya suatu siang, saat melihatku panik karena tidak paham sebuah istilah yang dilontarkan rekan kerja lain dalam rapat.
Perlahan, rasa minder itu berganti jadi kepercayaan diri yang tumbuh dari pencapaian-pencapaian kecil fitur pertama yang berhasil kubuat tanpa bantuan siapa pun, bug pertama yang berhasil kuperbaiki sendiri, pujian pertama dari Pak Broto di depan tim saat presentasi hasil kerja mingguan.
Di sisi lain, hidupku di luar kantor tetap dipenuhi tanggung jawab yang tak pernah benar-benar berhenti. Sebagian besar gajiku kukirim pulang, untuk cicilan obat Ayah yang harus diminum seumur hidup, untuk biaya sekolah Dimas yang makin lama makin banyak kebutuhannya, untuk sedikit tabungan yang selalu terasa tidak pernah cukup.
Aku juga mulai membangun rutinitas baru yang menjadi caraku bertahan menyisihkan waktu setiap Minggu pagi untuk video call dengan keluarga, menuliskan daftar belanja sehat untuk Ayah setiap kali gajian, dan diam-diam, di sela waktu senggang, membaca artikel-artikel kesehatan yang masih membuatku merasa terhubung dengan dunia yang dulu kutinggalkan.
Dua tahun berlalu dengan cepat, dipenuhi kerja keras, pembelajaran yang tak pernah usai, dan kerinduan pada mimpi lama yang sesekali muncul, terutama setiap kali aku melihat unggahan teman kuliah yang kini sudah bekerja sebagai ahli gizi sungguhan.
Tapi aku bertahan. Aku selalu bertahan.
Dan pada suatu pagi di bulan yang sama seperti sekarang, tanpa kutahu, kehidupan akan mempertemukanku dengan seseorang yang, meski awalnya tampak seperti orang asing biasa yang membawa kardus barang pribadinya ke kantor, akan menjadi bagian penting dari babak berikutnya dalam hidupku—babak yang, jujur saja, tidak pernah kuduga akan seindah dan serumit yang akhirnya kujalani.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!