Malam yang Basah oleh Hujan

3 dibaca

A

Hujan November itu turun sejak sore, deras dan tak kunjung reda, membuat jalanan di depan kos becek dan lampu-lampu jalan berkedip pias di balik tirai air. Aku sedang mengerjakan tugas praktikum. Ketika ponselku bergetar, layar menampilkan nama “Ibu” yang biasanya hanya muncul di akhir pekan.

Firasat buruk selalu datang lebih dulu daripada kabar buruk itu sendiri. Aku merasakannya bahkan sebelum mengangkat telepon jantungku berdebar aneh, tanganku sedikit gemetar saat menekan tombol hijau.

“Halo, Bu?”

“Naya...” suara Ibu terdengar aneh, dipaksa tenang tapi bergetar di ujung-ujungnya, seperti kertas basah yang mencoba tetap berdiri tegak. “Ayahmu... tadi sore tiba-tiba nyeri dada, keringat dingin. Ibu langsung bawa ke IGD. Kata dokter, jantungnya, Naya. Harus operasi secepatnya.”

Aku terdiam, jemariku membeku di atas keyboard laptop, kursor berkedip-kedip di layar seolah dunia masih berjalan seperti biasa padahal dadaku terasa seperti diremas.

“Operasi apa, Bu? Serius banget?”

“Pemasangan ring, kata dokter. Biayanya... Ibu belum tahu pasti, tapi kata perawat bisa puluhan juta, Naya.”

Puluhan juta. Angka itu terasa begitu abstrak sekaligus begitu nyata, seperti melihat bilangan tak terhingga dalam soal matematika yang tiba-tiba harus kau hitung dengan uang sungguhan yang tidak kau miliki.

“Aku pulang sekarang, Bu. Tunggu aku.”

Aku mengemasi ransel dengan tangan gemetar, memasukkan diktat kuliah tanpa berpikir jernih refleks lama seorang mahasiswa yang masih percaya bahwa besok ia akan kembali ke rutinitas normalnya. Sinta membantuku memesan tiket bus malam, wajahnya penuh kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kabari aku terus, ya, Naya. Apa pun yang kamu butuhin, bilang aja,” katanya, memelukku erat sebelum aku berlari menembus hujan menuju terminal.

Perjalanan bus malam dari Surabaya ke kampung terasa seperti waktu yang berjalan dalam dua kecepatan berbeda terlalu lambat karena aku ingin segera sampai, tapi juga terlalu cepat karena aku belum siap menghadapi apa pun yang menungguku di ujung perjalanan.

Aku sampai di rumah sakit kampung menjelang subuh, bajuku masih basah oleh hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan. Ibu duduk di lorong ICU dengan mata sembab, Dimas adikku yang saat itu masih SMP tertidur di kursi tunggu dengan kepala bersandar di bahu Ibu.

“Ayah gimana, Bu?” bisikku, duduk di samping mereka.

“Masih di ruang operasi. Dokter bilang kondisinya kritis, pembuluh darahnya banyak yang tersumbat.”

Kami menunggu berjam-jam dalam diam yang mencekam, hanya diselingi suara pengumuman rumah sakit dan langkah kaki perawat yang berlalu-lalang. Aku menghitung, dalam kepala, berapa banyak uang yang tersisa di rekeningku, berapa banyak yang bisa kupinjam dari teman-teman kos, berapa lama aku bisa bertahan tanpa uang kiriman dari Ibu untuk biaya hidup di Surabaya.

Ayah keluar dari ruang operasi menjelang siang, wajahnya pucat tapi masih bernapas, masih hidup dan untuk beberapa saat, itu saja sudah cukup membuat kami semua menangis lega di lorong rumah sakit yang dingin.

Tapi kelegaan itu berumur pendek. Sore harinya, seorang petugas administrasi memanggil Ibu dan aku ke ruangannya, menjelaskan rincian biaya yang harus dilunasi biaya yang, setelah dijumlahkan dengan tabungan keluarga dan bantuan dari saudara-saudara, masih menyisakan kekurangan yang cukup besar.

“Gimana, Bu?” tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Ibu menjawab.

Ibu menatapku lama, matanya penuh permintaan maaf yang tak pernah benar-benar terucap.

“Ibu nggak tahu, Naya. Mungkin... mungkin kamu harus berhenti kuliah dulu sebentar. Uang semester depan, biar dipakai buat nutupin kekurangan ini dulu.”

Kalimat itu, sesederhana apa pun cara Ibu mengucapkannya, terasa seperti pintu yang tertutup pelan-pelan di depan wajahku bukan dibanting, hanya ditutup dengan berat, dengan permintaan maaf yang tak pernah cukup untuk menggantikan apa yang hilang.

Aku mengangguk. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Malam itu, di kamar kos kecil yang sudah kupesan lebih dulu untuk terakhir kalinya, aku menelepon Sinta, memberitahu keputusanku untuk mengambil cuti kuliah cuti yang, jauh di dalam hati, sudah kutahu kemungkinan besar akan menjadi permanen.

“Kamu yakin, Naya?” tanya Sinta, suaranya bergetar menahan tangis yang bahkan bukan miliknya sendiri.

“Aku nggak yakin,” jawabku jujur. “Tapi aku juga nggak punya pilihan lain.”

Malam itu aku menangis sampai tertidur, memeluk buku catatan hijau berisi rangkuman diet jantung yang baru saja kupelajari minggu lalu ronisnya, ilmu yang kini justru harus kupakai untuk merawat ayahku sendiri, bukan sebagai tugas kuliah, melainkan sebagai kenyataan hidup yang tak bisa kutinggalkan begitu saja.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk