Rutinitas yang Menenangkan dan Menyakitkan

3 dibaca

A

Rutinitasku sederhana, hampir monoton bangun jam enam, menyeduh kopi sachet, membuka laptop sebelum benar-benar sadar aku sudah bangun. Stand-up meeting jam sembilan, membedah task di papan Trello, lalu tenggelam dalam dunia komponen React dan pesan error yang kadang terasa seperti teka-teki yang sengaja dibuat untuk membuatku gila.

Aku menyukainya, sejujurnya. Ada kepuasan tersendiri saat sebuah bug yang membuatku pusing tiga jam akhirnya menyerah pada satu baris perbaikan sederhana. Tapi kepuasan itu berbeda jenis dengan kerinduan—dan kerinduan itu masih sering datang tanpa diundang.

Seperti sore ini, ketika linimasaku menampilkan unggahan seorang teman kuliah lama foto wisuda profesi, toga hijau muda, senyum lebar di depan gedung fakultas yang dulu juga jadi tempatku berjalan dengan mimpi yang sama.

Aku menutup aplikasi itu lebih cepat dari yang biasa kulakukan.

Bukan karena aku iri pada dia. Aku hanya iri pada versi diriku yang tidak pernah sempat menyelesaikan jalan itu.

Di laci mejaku, tersembunyi di bawah tumpukan kabel USB dan stiker-stiker lucu bertema developer, ada satu buku catatan lusuh bersampul hijau. Aku menuliskannya semasa kuliah dulu, rangkuman menu sehat untuk pasien jantung, lengkap dengan porsi dan kandungan lemak jenuhnya. Aku menulisnya awalnya untuk tugas kuliah. Tapi setelah Ayah sakit, buku itu berubah fungsi jadi panduan nyata aku membacanya berulang-ulang setiap kali menyusun menu makan Ayah dari jauh, mendiktekannya lewat telepon ke Ibu yang kadang bingung membedakan minyak kelapa dan minyak zaitun.

Aku tidak pernah menunjukkan buku itu ke siapa pun di kantor. Rasanya seperti membuka luka yang sudah kupaksa sembuh dengan perban yang terlalu rapat.

“Naya, tolong cek punya gue, ya. Katanya ada bug di halaman checkout,” suara Tania, teman satu tim yang duduk di sebelahku, membuyarkan lamunan.

Aku mengangguk, menutup laci dengan pelan, lalu kembali menatap layar—dunia yang lebih bisa kukendalikan daripada masa laluku sendiri.

Malamnya, seperti biasa, aku menelepon rumah.

“Dimas gimana, Bu? Persiapan ujiannya lancar?” tanyaku, sambil menyusun laundry yang menumpuk sejak akhir pekan lalu.

“Lancar, cuma kemarin dia minta uang buat study tour sekolah. Ibu bilang nanti dulu, tunggu kiriman kamu,” jawab Ibu, nadanya berusaha ringan meski aku tahu di baliknya ada beban yang tak pernah benar-benar ia utarakan.

“Iya, Bu, nanti aku transfer minggu ini,” jawabku cepat, meski aku tahu tabunganku sendiri sedang menipis karena cicilan laptop baru yang kubeli demi pekerjaan.

Begitulah hidupku sekarang menghitung dua kali sebelum membeli sesuatu untuk diriku sendiri, tapi tak pernah menghitung untuk keluarga.

Aku tidak menyesal. Sekali lagi, sungguh tidak menyesal. Tapi ada malam-malam ketika aku duduk sendirian, menatap langit-langit kos, dan bertanya pada diri sendiri kalau saja bendungan itu tidak jebol, akan jadi apa aku sekarang?

Pertanyaan itu tidak pernah punya jawaban. Ia hanya mengendap, seperti sedimen di dasar sungai yang airnya sudah lama berbelok arah.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk