AC&ML Bab 3.

1 dibaca

A

Begitu sampai di depan pintu ruang pengurus, Zea mengucap salam, seraya melepas sendal. Saat itu matanya tak sengaja bersitatap dengan mata Arka. Mata mereka terkunci satu sama lain hingga beberapa saat.


“Mba Ze,” tegur Mba Ina, menyadarkan Zea.


“Astaghfirullah hal adzim.” Zea mengalihkan pamdangan. Tubuhnua seketika lemas dan detak jantungnya tak beraturan. Mba Ina segera mengambil alih Aira yang ada di gendongan Zea. Takut Aira terjatuh.


“Maaf.” Zea tak enak hati kepada Mba Ina. Ini bukan keinginannya. Setiap ia bertemu tatap dengan lelaki, tubuhnya akan merasa lemas, dan detak jantungnya tak beraturan. Maka dari itu Zea selalu menunduk saat diajak lawan jenis berbicara.


“Ngga papa, Mbak.” Mbak Ina yang sudah tau kebiasaan Zea memaklumi.


 Zea melangkah masuk. Ia menyalami satu per satu keluarga Arka. Selesai saling salam-menyalami mereka berbincang sebentar, sebelum Arka pamit karena harus pulang.




Sudah tiga hari sejak pertemuan pertama Zea dengan Aira. Selama itu pula Zea disibukan dengan kegiatannya yang ikut membantu memasak di dapur pesantren untuk acara MOS bagi santri baru.


Karena kesibukannya itulah, Zea sama sekali tidak memikirkan Aira. Namun, hari ini perasaannya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada bocah itu. Sejak pagi, Zea sama sekali tidak bisa fokus dalam mengerjakan apapun. Sebab raganya memang berada di sini tetapi pikirannya melayang jauh ke Aira.


“Mbak Ze kenapa sih, kaya gelisah banget gitu, apa sedang tidak enak badan?” tanya Mba Erni, sealku ketua dapur. Zea yang ditegur, hanya bisa tersenyum canggung.


“Nggak papa, Mbak.”


“Ya sudah kalo Mbak Ze ga mau cerita, Mbak istirahat aja, daripada ga fokus,” usul Mbak Erni.


“Iya mba Zea, mending Mba istirahat aja,” timpal Mas Bilal.


“Baiklah, saya ke kamar dulu.” Akhirnya Zea memilih untuk kembali ke kamarnya. Takut membahayakan diri sendiri, karena ketidak fokusannya. Semua orang yang berada di dapur pun mengijinkan Zea untuk beristirahat.


Di kamar, Zea langsung membersihkan dirinya dan berganti baju. Baru saja Zea mendaratkan pantatnya di lantai, sudah ada yang mencarinya.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumus salam, masuk Nia, jangan di pintu!” tegur Zea.


“Hehe iya, Mba.” Nia melangkah masuk.


“Ada apa?”


“Mbak Zea dipanggil umi di ruang tamu,” jelas anak itu.


“Baiklah, terima kasih.”


“Sama-sama Mbak, saya permisi.”


Zea mengangguk, menyilakan Nia pergi. Dia lantas menyambar jilbab, bergegas memakainya, lalu ke ndalem. Sesampainya di tempat tujuan, matanya menangkap sosok Arka, yang tengah berbincang bersama Umi Hindun.


“Sayang, sini.” Umi Hindun menyadari kehadiran Zea. Beliau melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Zea mendekat.


Dengan ragu, Zea berjalan mendekat. Kemudian duduk disamping sang Umi.


“Kemaren masmu udah cerita sama umi, sekarang umi juga yakin kalo kamu sudah tau kenapa umi panggil, tapi biar lebih jelas silahkan Mas Arka,” ujar Umi Hindun. Beliau mengalihkan tatapannya pada Arka, agar lelaki itu menjelaskan maksud kedatangannya kemari.


“Terimakasih Umi,” balas Arka, sopan.


“Jadi seperti ini, Mbak. Anak saya sakit, badannya panas dan menggigil dari kemarin. Dia terus memanggil nama Mbak.”


“Ai sakit?” Zea terkejut mendengar kabar Aira sakit. Walaupun dia sudah punya firasat akan hal ini.


Arka mengangguk. “Saya mau minta tolong, maukah Mbak datang ke rumah sakit, menjenguk anak saya?”


Zea tak lekas menjawab. Ia memandangi wajah uminya, meminta persetujuan. Biar bagaimana pun, dia tetap harus mematuhi peraturan pesantren.


“Boleh, Mi?”


“Umi mengizinkan. Pergilah, Nduk.”


“Iya, Mi. Terima kasih.” Tanpa menunggu persetujuan Umi, Zea bergegas bersiap-siap.




“Silakan masuk.” Arka membukakan pintu mobil untuk Zea.


“Terima kasih. Tapi saya bisa sendiri.” Perempuan bergamis cokelat susu itu segera masuk. Lantas duduk di kursi penumpang, juga menutup pintu. Bukan maksud menolak perhatian Arka, tetapi dia tidak mau menimbulkan fitnah.


“Maaf,” gumam Arka, menatap pintu yang tertutup.


Begitu Arka duduk di sampai sopir, mobil hitam itu melaju membelah jalanan yang ramai. Berbeda dengan suasanan di dalam mobil yang begitu sepi. Zea sibuk memandangi jalanan dan beberapa kali mengecek ponsel. Arka dan Pak Sopir juga tak berani memulai percakapan.


“Sudah sampai, Mbak, Pak,” ucap Pak Dadang, selaku sopir, setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit.


Tanpa menunggu lama lagi, Arka dan Zea keluar. Lantas ke duanya berjalan menuju ruangan Aira dirawat, dengan Arka yang memimpin.


“Hua, Ai mau mamah!” Sesampainya mereka di depan kamar rawat bangsal khusus anak, terdengar isak tangis Aira.


“Assalamu’alaikum,” ucap Zea, seraya membuka pintu.


Ajaib.


Begitu mendengar suara Zea, tangis Aira mereda. Apalagi setelah bocah itu melihat sosok yang dirindukannya.


“Wa’alikumsalam,” jawab Mbak Airin.


“Hua, Mamah, tanan acu atit.” Aira langsung mengadu pada Zea.


“Utu utu, sayangnya mamah. Sini-sini sama mamah.” Zea mengambil alih Aira dari gendongan Mbak Airin. Tangan kanannya menghapus sisa-sisa air mata di pipi anak itu.


“Cup-cup, jangan nangis lagi, ya! Kan udah sama mamah.” Dengan penuh kesabaran, Zea menenangkan Aira.


“Padahal pas sama aku, Aira tantrum terus, loh. Kenapa sama kamu nurut banget Ze?” tanya Mbak Airin. Tadi sebelum Zea sampai, dirinya sudah berusaha membujuk Aira. Namun, bukannya tenang, bocah itu malah semakin tantrum, membuat bude dan omanya frustasi.


“Anak kecil, kan tau mana yang tulus apa engga,” seloroh Arka, yang sontak membuat sang kaka perempun melotot.


“Jadi maksudmu mbak ga tulus, gitu?”


“Mungkin.” Arka mengalihkan tatapannya. Tak berani memandang kakaknya.


“Dasar ga tahu terima kasih.” Mbak Airin sewot. “Udahlah, mbak mau pulang.” Perempuan yang mengenakan daster dan rambutnya dicepol asal, menyambar tas di atas meja. Dia harus pulang untuk mengurus anak bungsunya.


“Iya Mbak, silakan. Hati-hati di jalan,” balas Zea.


“Siap, Ze. Kamu juga hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, langsung teriak aja.”


“Maksud Mbak?” Arka yang merasa dirinya sedang disindir, tidak terima. Ia meminta kejelasan maksud ucapan kakaknya.


“Takut kalau adik mbak yang paling ganteng ini, makan orang,” ledek Mbak Airin, seraya berlari pergi.


Zea tertawa melihat tingkah kaka adik yang seperti Tom & Jerry itu. Tanpa sadar, ada yang memperhatikan senyum manisnya.


“Manis sekali,” batin Arka, mengaggumi makhluk Allah, yang begitu manis.


Tanpa sengaja, mata mereka bertemu.


“Matanya tajam, tapi menyimpan begitu banyak rasa sakit,” batin Arka.


Zea sontak mengalihkan pandangan dan tawanya. Tak mau terus menjadi bahan tontonan Arka. Arka justru salah tingkah, membuat suasana di ruangan itu berubah hening. Beruntung ada getaran ponsel yang memecah keheningan.


“Saya mau angkat telpon dulu,” celetuk Arka, canggung.


“Iya silahkan.”


Arka pun keluar dari kamar rawat Aira.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk