Kumandang azan dzuhur terdengar dari pengeras suara yang ada di masjid rumah sakit. Memanggil setiap insan yang mengaku sebagai muslim untuk menemui Tuhannya.
“Alhamdulillah sudah tidur.” Zea menatap Aira yang sudah tidur di dekapannya. Bocah itu memang sudah tidak tantrum sejak bertemu dengannya, tetapi Aira juga tidak mau melepas pelukannya.
Perlahan Zea membaringkan Aira di atas ranjang.
Krek.
Krek.
Suara tulang yang saling beradu saat Zea meregangkan tubuh yang terasa pegal, akibat menggendong Aira selama 3 jam. Selesai meregangkan badan, Zea berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Bersiap memenuhi panggilan Tuhannya.
Ceklek.
Arka membuka pintu ruangan itu. Berjalan masuk mendekati Aira yang lelap tertidur di atas brankar.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa tidur, Nak.” Arka menatap wajah tenang Aira. Tangan kanannya menyentuh kening bocah itu. Masih panas.
“Ke mana Zea, kenapa tasnya tidak ada, apa dia pulang?” Mata Arka menyisir ruangan. Mencari sosok perempuan yang dipanggil mamah oleh anaknya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Zea melangkah keluar. Wajahnya terlihat basah dan lebih segar. Membuat Arka menatapnya tanpa berkedip.
“Cantik,” gumam Arka. Dia baru menyadari wajah Zea begitu cantik. Alisnya tebal, bulu mata panjang nan lentik alami, dan hidungnya mancung.
“Pak, saya izin mau ke masjid,” ujar Zea.
“Hah, kenapa?” tanya Arka, terkejut.
Zea tersenyum melihat reaksi Arka. Lantas ia mengulangi perkataannya.
“Oh iya, silakan.” Setelah mendapat persetujuan Arka, Zea langsung berlalu.
“Astaghfirullah hal’azim.” Begitu keluar ruangan, perut Zea terasa melilit. Ia langsung meraih kusen pintu agar tidak jatuh. Keringat dingin sebesar biji jagung memenuhi dahinya. Dia memaksakan diri duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan.
Zea duduk di sana. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya memegangi perut yang semakin melilit.
“Ya Allah, pantas saja.” Zea ingat, jika sejak kemarin sore hanya makan sedikit. Seingatnya, hanya makan satu tahu isi dan satu bolu kukus. Sedangkan tadi pagi sama sekali tidak makan.
“Ada apa dengannya?” Arka tak sengaja melihat Zea yang berpegangan pintu. Didorong rasa penasaran tinggi, dia langsung mengecek keadaan perempuan itu. Khawatir terjadi hal buruk.
“Zea, kamu kenapa?” tanya Arka. Dia begitu khawatir melihat Zea yang sedang menahan sakit.
Perlahan kepala Zea mendongak. Matanya berkaca-kaca.
“Sepertinya asam lambung saya naik.”
“Ya Allah. Kemu belum makan? Sebentar.” Tanpa menunggu jawaban Zea, Arka sudah berlari ke dalam. Tak berselang lama, dia kembali dengan membawa sebungkus roti san sebotol air mineral.
“Ini. Makanlah.” Arka menyodorkan air dan roti pada Zea.
“Terima kasih.” Zea langsung menerima pemberian Arka. Kemudian memakannya.
“Maaf, saya tadi lupa bilang kalau di dalam lemari ada roti dan minuman. Kamu boleh memakannya.” Arka benar-benar merasa bersalah, karena teledor membiarkan tamunya kelaparan.
“Ini bukan salah Anda. Saya sendiri yang lalai sampai tidak makan,” balas Zea, tak mau Arka merasa bersalah.
“Iya. Gimana perutmu? Masih sakit atau perlu ke IGD?”
Zea menggeleng. Perutnya sudah mendingan. Ia pun meminta izin untuk solat di kamar rawat Aira, karena iqomah sudah dikumandangkan.
“Iya silakan.”
“Siang, Ka, “ sapa dokter yang menangani Aira, ramah.
Namanya Dokter Iqbal. Dokter spesialis anak, sekaligus sahabat baik Mbak Airin.
“Siang, Bal,” balas Arka, seraya memasukkan ponsel ke saku. Saking akrabnya Arka dan Iqbal, Arka tak segan memanggil sahabt kakaknya itu hanya dengan nama.
“Gimana Aira? Apa panasnya sudah turun?”
“Sudah.”
“Syukurlah. Aku masuk.” Tangan Dokter Iqbal terulur memegang gagang pintu. Hampir saja ia menekannya ke bawah.
“Tunggu bentar lagi! Di dalam ada mamahnya Aira lagi solat,” cegah Arka.
Sebuah senyum terukir di wajah dokter berusia 35 tahun itu. Ia melepas gagang pintu, berbalik badan, lalu menatap Arka penuh selidik.
“Oh ya? Sejak kapan kamu rujuk?”
“Duh, salah ngomong aku,” batin Arka.
“Aku enggak rujuk. Maksudnya ada perempuan yang dipanggil ‘mamah’ oleh Aira.” Arka meralat kalimatnya.
“Oh, aku kira rujuk.”
Arka menarik napas panjang sebelum berkata, “Mana mau aku mengulangi kesalahan yang sama.”
Lima tahun lalu, Arka menikah atas dasar suka sama suka dengan Sarah, si model ternama, setelah berpacaran dua tahun. Awal-awal pernikahan berjalan lancar tanpa banyak drama, karena sifat Sarah masih sama seperti saat pacaran.
Namun, begitu memasuki tahun ke dua, Sarah mulai memunculkan sifat aslinya. Sarah tanpa malu merokok dan minum alkohol di depan Arka. Ia juga tidak mau hamil. Sedangkan Arka berharap mempunyai anak.
Harapan Arka terkabul. Walau Sarah sudah berusaha meminum pil KB, dan memakai pengaman, ia tetap saja hamil. Arka melarang menggugurkannya.
Dalam masa kehamilan, Sarah terus menggerutu tentang perubahan bentuk tubuhnya. Sebagai model, tubuhnya adalah aset berharga. Maka dari itu, dia juga meminta melahirkan dengan metode caesar ERACS di rumah sakit ternama. Arak menyanggupi.
Drama pernikahan masih berlanjut. Setelah melahirkan, Sarah sama sekali tidak mau melihat dan menyusui anaknya. Hal itulah yang membuat amarah Arka memuncak, hingga akhirnya terjadi perpisahan.
“Sip!” Dokter Iqbal mengacungkan ibu jarinya.
“Sepertinya sudah selesai. Ayo masuk.” Arka tak mau membahas lebih lanjut tentang masa lalunya. Biarlah itu menjadi pelajaran berharga baginya.
“Yok.” Keduanya pun mamasuki ruangan. Tak lupa Arka mengucap salam.
“Wa’alikumsalam,” jawab Zea, yang sudah membopong Aira. Tadi bocah itu terbangun tepat saat Zea selesai solat.
“Wah, Aira pinter nih, milih calon mamahnya,” gurau Dokter Iqbal, yang membuat Arka melotot ke arahnya. Tanpa rasa bersalah, ia justru tersenyum jahil.
“Saya izin periksa Airanya, ya?”
“Silahkan, Dok,” jawab Zea. Sedangkan Arka hanya mengangguk.
Dokter Iqbal segera memeriksa Aira, seraya mengajukan beberapa pertanyaan pada Arka.
“Alhamdulillah panasnya udah turun. Kalau nanti sore Ai, sudah mau makan dan kondisinya stabil, insyaallah besok boleh pulang.”
“Beneran, Dok? Beberan, Bal?” tanya Arka dan Zea, kompak.
“Cie kompak, cie,” ledek Dokter Iqbal.
“Aku serius, Bal!” tegas Arka, kesal karena temannya itu kadang tidak tahu kondisi saat bercanda.
“Saya juga serius ....”
“Alhamdulillah.” Lagi-lagi Arka dan Zea berucap bersama.
“Saya juga serius, kalau kalian jodoh,” seloroh Dokter Iqbal seraya berlari keluar. Dia takut mendapat tatapan membunuh dari Arka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!