BAB 13 — AJIAN SEWUGENI MILIK JAGATPATI

6 dibaca

A

AJIAN SEWUGENI MILIK JAGATPATI

Malam itu, langit di atas kediaman Jagatpati berubah merah.

Para anak buahnya tidak berani mendekati sebuah ruangan tua yang berada di belakang rumah.

Di dalam ruangan itu, Jagatpati duduk bersila.

Di hadapannya terdapat sebuah tungku berisi bara api.

Jagatpati memejamkan mata.

“Sudah terlalu lama aku menyembunyikan kekuatanku.”

Ia membuka kedua matanya.

Api di dalam tungku tiba-tiba membesar.

WUUUSSSHHH!

Jagatpati tersenyum.

“Bangkitlah...”

AJIAN SEWUGENI.

Ilmu hitam kuno yang selama bertahun-tahun dipelajarinya akhirnya dikeluarkan.

Tubuh Jagatpati diselimuti aura panas. Bayangan hitam seperti kobaran api bergerak mengelilinginya.

Namun kekuatan itu bukan tanpa harga.

Setiap kali Ajian Sewugeni digunakan, tubuh Jagatpati perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya.

Tetapi bagi Jagatpati, kekayaan dan kekuasaan jauh lebih penting.

“Aku sudah memberikan semuanya kepada Kudajati.”

Ia berdiri.

“Tak ada seorang pun yang bisa menghentikanku.”


BAB 14 — KEKUATAN SEWUGENI

Keesokan harinya, Jagatpati mendatangi sebuah desa yang menolak bekerja sama dengannya.

Kepala desa berdiri menghadangnya.

“Kami tidak takut kepadamu.”

Jagatpati hanya tersenyum.

Ia mengangkat tangan.

Api hitam muncul di telapak tangannya.

”Sewu Geni...”

Dalam sekejap, hawa panas memenuhi udara.

Beberapa orang mundur ketakutan.

Jagatpati tidak perlu menyentuh siapa pun.

Dengan kekuatan ilmu hitamnya, ia membuat seluruh warga menyadari bahwa kekuasaannya bukan sekadar karena harta.

“Mulai hari ini,” kata Jagatpati, “tidak ada yang boleh menentangku.”

Berita tentang kekuatan Jagatpati akhirnya sampai kepada Ki Patikmanungso.

Wajah sang guru berubah serius.

“Ajian Sewugeni...”

Anto bertanya:

“Guru, apakah ilmu itu sangat kuat?”

Ki Patikmanungso mengangguk.

“Sangat.”

“Seberapa kuat?”

“Jika Ajian Macan Putih adalah kekuatan yang lahir dari keberanian dan pengendalian diri, maka Sewugeni adalah kekuatan yang tumbuh dari keserakahan.”

Anto mengepalkan tangannya.

“Berarti aku harus mengalahkannya.”

Ki Patikmanungso menatap Anto.

“Bukan hanya mengalahkannya.”

“Namun menghentikan sumber kekuatannya.”


BAB 15 — PERTEMUAN MACAN PUTIH DAN SEWUGENI

Malam berikutnya, Anto berdiri di tengah hutan.

Ia tahu Jagatpati akan datang.

Wulandari dan Putri Agreani berada di belakangnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah.

DUG... DUG... DUG...

Jagatpati muncul dari balik kabut.

“Anto Wijaya.”

Anto menatapnya.

“Jagatpati.”

Jagatpati tertawa.

“Kau masih berpikir darah bangsawanmu bisa menyelamatkanmu?”

Anto diam.

Jagatpati mengangkat tangannya.

Api hitam menyala.

“Kenalkan...”

Aura gelap memenuhi hutan.

”Ajian Sewugeni.”

Anto merasakan tubuhnya panas.

Namun ia tidak mundur.

Ia memejamkan mata.

Mengingat semua ajaran Ki Patikmanungso.

”Jangan gunakan kekuatan karena dendam.”

Perlahan, aura putih muncul dari tubuhnya.

Wulandari berbisik:

“Anto...”

Di belakang Anto muncul bayangan Macan Putih.

Jagatpati tersenyum.

“Bagus.”

Ia mengambil posisi bertarung.

“Sudah lama aku menunggu saat ini.”

Anto membuka matanya.

“Kalau begitu...”

Macan putih mengaum.

”Mari kita akhiri semuanya.”

Api hitam dan cahaya putih bertabrakan.

DUAAARRR!

Ledakan energi mengguncang seluruh hutan.

Dan dari kejauhan, Ki Aryo Pangalila menyaksikan pertarungan itu.

Ia tersenyum tipis.

“Pertarungan mereka baru dimulai.”

Lalu ia berbisik:

”Karena rahasia terbesar tentang darah Anto Wijaya belum terungkap.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk